Rabu, 25 Januari 2012

Fei Cerpen: Jusuf AN


Seputar Indonesia
Minggu, 03 Februari 2008

Fei
Cerpen: Jusuf AN

Sebulan silam, kau tentu masih ingat, ketika kepala perusahaan menugaskan kita berdua ke luar kota, di atas kereta yang melaju, entah kenapa tiba-tiba kau ceritakan tentang kekasihmu, calon suamimu. Katamu, ia lima senti lebih tinggi darimu, tubuhnya tegap dan lehernya gempal padat. Mukanya bulat dengan kulit sedikit gelap. “Entah kenapa aku tertarik dengan lelaki black sweet, ” jelasmu. Aku diam saja, sesekali menoleh ke jendela memandangi pohon-pohon lari terbirit.

Entah apa maksudmu mendadak bercerita perihal lelakimu. Mungkin sebenarnya kau ingin mengatakan, “Aku mawar sudah ada yang punya, jadi kau tidak boleh terlalu dekat, apalagi memetiknya. ”

Kenapa tidak katakan terus terang? Atau kau sedang memancingku, menjebakku, mengetes kelelakianku? Ya, siapa tahu. Tentu lelakimu bahagia bisa mendapatkan perempuan seperti kau, Fei. Perempuan energik. Pintar. Dan baik. Baik? Ah, barangkali aku salah menilai jika kau perempuan yang baik. Kau memang ramah, murah senyum, dan tubuhmu selalu menebar aroma harum.

Di kantor, kita satu ruangan, kau perempuan satu-satunya dari tujuh karyawan termasuk aku. Tetapi kau bisa mengakrabi semua rekan. Tak jarang kau menawari kawan-kawan kopi sebelum jam istirahat resmi tiba. Kau memang cukup nakal. Suka mencuri waktu diam-diam.

“Betapa lelah lima jam berhadapan dengan kertas kerja, ” begitu kau sering menjelaskan. Maka, sering kali sekitar jam sepuluh kau menawari kami kopi dengan suara setengah berbisik. Setelah kami mengangguk kau keluar ruangan dan kembali bersama seorang petugas dapur yang membawakan delapan cangkir kopi hitam. Kau tak pernah tahu jika rekanrekan kerja seruangan kita sering diam-diam membincangkanmu.

Dari mulai pinggulmu, dadamu, senyummu, sampai mengira-ngira bagaimana suara desahmu ketika bercinta. Ah! Aku sering hanya diam dan tersenyum- senyum saja. Aku memang jarang bicara dan lebih menutup diri. Dan payahnya, semua rekan kerja memaklumi sikap pendiamku sehingga aku merasa tenteram dan tak berpikir untuk mengubahnya. Termasuk kau, semua rekan akan bertanya hal yang penting saja kepadaku, khususnya seputar pekerjaan.

Aku lebih senang mendengar dan jarang bercerita jika tidak ditanya. Ketika ada yang bertanya, aku sering menjawab sekenanya, seperlunya. Dan kau, juga yang lain seolah menjadi malas untuk bertanya banyak hal kepadaku. Mulanya aku juga seperti rekanrekan yang lain, menganggapmu perempuan yang baik, sebelum kita kembali ditugaskan ke luar kota untuk ketiga kalinya.

Kadang aku heran, selalu saja kepala perusahaan menugaskan kita berdua untuk pergi ke luar kota. Seolah-olah ada tangan gaib yang merencanakan ini semua. Demikianlah, perjalanan selalu saja menyediakan jeda antara keberangkatan dan kepulangan yang kadang membosankan dan terasa sunyi.

Mungkin dengan bercerita kau bermaksud membunuh kesunyian, mempercepat roda kereta sampai tujuan. Di atas kereta yang melaju, kau memuntahkan isi hatimu. Ya, aku tak pernah memintamu bercerita. Selalu kau sendiri yang memulai. Tidak adakah orang lain yang bersedia mendengar keluhmu, Fei?

“Ternyata penampilannya saja yang nampak dewasa. Gayanya pakai jas dan dasi. Tapi otaknya, pikirannya, sifatnya, masih kekanak-kanakan. ” “Maksudmu, dia manja?” “Dia terlalu posesif. Pencuriga. Memang dia cukup uang. Tapi aku tak suka sifat borosnya. Setiap hari isi SMS-nya selalu sama, ‘Kamu lagi ngapain? Dengan siapa? Aku kangen. Apa kamu juga kangen? Kenapa waktu berjalan lambat?’ Menghabiskan pulsa saja! Betapa bosan aku menjawab pertanyaan yang tidak kreatif macam itu. ” “Itu tandanya dia cinta sama kamu. ”

“Tapi aku tak senang dengan caranya mengungkapkan. Aku jadi tahu kalau dia orangnya tidak sabaran. Padahal tinggal tiga minggu lagi pernikahan kami. Ini cincinnya, masih kupakai, dan selalu kutunjukkan padanya setiap kali kami bertemu, pertanda aku masih setia. ” Kau diam sejenak, memasukkan ponsel ke dalam tas dengan gerak sewot. “Sebelum kami jauh melangkah, mungkin lebih baik…. ” “Tak boleh kau begitu. Aku lelaki, Fei. Membayangkan diriku berposisi sebagai lelakimu, barangkali aku juga akan melakukan hal yang sama. . . . ”

Entah kenapa, saat itu aku serius menanggapimu. Kalimatmu meluncur deras. Mati-matian kubela lelakimu, kusalahkan dirimu. Kau balik membela dirimu dan menyalahkannya. Sampai kemudian kita sama-sama mendesah. Mata kita bertemu sejenak sebelum kau menunduk lama. Aku menelan ludah. Benar kata orang, perempuan yang hendak menikah terlihat lebih segar dan cantik. Sungguh, aku mengakuinya sekarang, setelah mengamatimu diam-diam.

Kau menundukkan kepala terlalu lama. Menangis? Adakah yang salah dengan ucapanku? “Maaf, jika ada kata yang kasar. ” Kau tertegun. Membersihkan air mata dan ingusmu dengan tisu. “Tidak, aku justru senang kau bersikap demikian. Ternyata kau begitu baik dan jujur. ” Aku kembali menelan ludah, menghindar dari tatapan tajam matamu. Apa yang kau tahu tentang diriku, Fei?

Tak pernah kau bertanya atau memintaku bercerita tentang keseharianku, keluargaku, dan lain-lainnya. Dan kau tentu paham, aku tak begitu pandai membuka cerita, kecuali jika ada yang bertanya. Aku lebih memilih diam. Kisah hidupku biarlah kupendam dalam-dalam. Dalam perjalanan pulang, mungkin karena kau terlalu lelah (mungkin rasa marah memang bisa membuat orang lebih cepat lelah) dan kehabisan bahan cerita, kau lebih banyak diam. Dan aku malas bertanya. Ah, barangkali lebih tepatnya aku hanya tak tahu apa yang mesti aku tanyakan. Kau tertidur.

Entah sadar atau tidak, kau sandarkan kepalamu di bahuku. Aku tak bisa menolak. Tepatnya, terlalu sia-sia jika aku menolaknya. Kubiarkan kau terlelap dan kupuaskan mata memandang wajahmu yang tengadah pulas. Hujan deras menjilati kaca jendela kereta, seolah ingin membelaimu juga.

Sejak perjalanan itu, tiap kali jam istirahat tiba, di kantin kantor, kau memilih duduk satu meja denganku. Semakin mendekati hari perkawinan air mukamu kian jelas menampakkan kegelisahan. Tapi masih kulihat cincin tunanganmu, berkilau setiap kau menggerak-gerakkan garpu. Meski acap kali kau tiba-tiba memuntahkan kekesalan atas sikap calon suamimu.

Ketika kau bersikap begitu, aku mengambil sikap seperti dulu: kubela mati-matian calon suamimu, dan kuperingati kau untuk hati-hati. Kukatakan padamu bahwa lelaki cenderung lebih stres daripada perempuan menjelang hari perkawinan. Ya, aku sangat tahu tentang hal itu. Aku sangat paham. Tetapi kau malah tertawa keras dan panjang mendengar penjelasanku. Bisa jadi sebaliknya, katamu, lalu tertawa lagi. Entahlah. Tapi kau kemudian membuktikan ucapanmu.

Betapa aku tertegak saat hari berikutnya, di suatu siang yang hujan kau mengatakan akan membatalkan rencana perkawinanmu. Meski begitu, aku tidak begitu percaya dengan rencanamu selama masih kulihat cincin di jari manismu itu. Cincin emas bermata biru. Melambangkan kedamaian, atau kesedihan, kegalauan, kesenduan. Entah, aku tak begitu tahu dengan lambang warna-warna. Yang terang, aku masih melihat cincin itu bersamamu hingga beberapa hari ke depan setelah kau mengatakan hal gila itu. Andai kau tahu, Fei, dengan tetap memakai cincin itu, kau sebenarnya telah menyelamatkanku. ***

“Tempat ini terlalu sepi, Fei. ” “Banyak persoalan sering kuputuskan di tepi danau ini. Di sini seperti ada yang setia membantuku memutuskan setiap persoalan. Entah angin, entah kemerlap air danau yang kupandang. ” Entah ke mana pula arah pem-bicaraanmu. Aku hanya diam. Angin mendesau di antara pohonan cemara. Kita duduk di atas batu besar memandang danau berkilau merah oleh cahaya senja yang tumpah. Begitu memukau. Beberapa pemancing kulihat tekun menanti umpan nun di tebing sana.

Cukup lama kutunggu kau kembali bicara. Kulihat cincinmu masih melingkar di tempat semula. Di jari manismu. Sesekali kau mengamati cincin itu lekat-lekat. Aku pura-pura tak melihat. Aku biarkan kau bertingkah. Sungguh, aku benar-benar tak tahu dengan diriku. Ada yang berkecamuk di dadaku, dan kau tak pernah tahu, tak perlu tahu. Kau memandangku, tepatnya pada dua belah mataku, jendela jiwaku. Ah, tidak, tak kuizinkan kau membaca isi pikiranku.

Aku berpaling ke arah beberapa pemancing. Ketika menoleh lagi ke arahmu, kulihat kau sudah melepas cincin. “Heh, untuk apa kau melepanya?!” Kau hanya tersenyum. Seakan baru menerima jawaban atas gamang yang melingkupi jiwamu. Adakah angin telah memberikan jawaban untukmu, aku membatin. “Hati inilah yang menyuruhku melepas benda tidak berguna ini.

”Tanpa berpikir dan berkata-kata lagi kau melempar cincin itu ke danau. Aku terlambat mencegahmu dan tak tahu mesti berbuat apa kecuali mengatakan, bahwa kau benar-benar sudah gila! “Mungkin kaulah yang telah membuatku gila, ” balasmu lantang, membuat jantungku sejenak berhenti berdetak. Lalu kita kembali diam, sampai kau membisikkan kata yang sebelumnya tak pernah aku duga. Kata yang membuatku terpaku, teringat istriku. ***

Wonosobo, April 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar