Sabtu, 28 Januari 2012

Pasangan Muda Cerpen: Ni Komang Ariani


Suara Pembaruan
Minggu, 20 Januari 2008

Pasangan Muda
Cerpen: Ni Komang Ariani

Selalu terbetik rasa bangga di hatiku, bila kubayangkan, aku dan istriku barangkali adalah satu dari sekian juta pasangan muda yang menghuni Jakarta. Orang bilang, Jakarta memang surganya pasangan muda. Karena itulah, aku seringkali membenarkan diri untuk membusungkan dada di depan teman-teman seangkatanku di kampung. Mereka yang memilih mengayunkan pacul dan bergelut pada lumpur sawah penghabisan di desa kami.

Lebih-lebih, ibu mertuaku selalu mengatakan, aku adalah menantu yang paling ia sukai. Menurut dia, dari semua rumah tangga anaknya, hanya rumah tangga kamilah yang sederhana namun bahagia. Rumah tangga anaknya yang lain, tidak ada yang bener katanya.

Rumah tangga kakak sulung Laila, Leni, memang jauh lebih mewah daripada kami, namun kabarnya mereka sering bertengkar. Hubungan persaudaraan antaranggota keluarga juga kabarnya tidak hangat. Sementara rumah tangga adik Laila, Ranti malah lebih berantakan lagi. Suaminya pemabuk dan penjudi, sementara Ranti hanya petugas jasa parkir di salah satu mall. Seharian penuh Ranti terkurung dalam boks parkir di lantai basement yang pengap. Tak heran bila ia sering marah-marah tak jelas apalagi dengan kelakuan suaminya yang tidak bertanggungjawab.

Mertuaku itu tinggal bersama kami dan ialah yang memasak masakan terlezat untuk kami. Ia tinggal di salah satu kamar dalam rumah kontrakan sempit yang kami sewa. Maklumlah, kami hanyalah sepasang suami istri yang hanya bisa hidup pas-pasan di ibukota. Aku hanya lulusan STM dan bekerja di bengkel resmi motor merek terkenal. Sementara istriku lulusan SMA yang kini menjadi SPG counter voucher isi ulang. Bila ada rezeki berlebih, kami sekeluarga cukup gembira dengan makan di warung tenda di pinggir jalan besar. Makan sate ayam atau bebek goreng menjadi hiburan tersendiri bagi aku dan istriku tiap Sabtu dan Minggu.

Yah, janganlah membayangkan kami seperti kebanyakan pasangan muda yang menghuni Jakarta. Jangan membayangkan sepasang dokter dengan pegawai bank, sepasang arsitek dengan dosen, sepasang wartawan dengan marketing, yang mempunyai penghasilan jutaan rupiah dan memiliki rumah mungil di kawasan Jabodetabek. Aku dan istriku cukuplah disebut pasangan muda kelas dua saja.

Walau begitu, kami adalah pasangan yang bahagia. Kami adalah pasangan muda yang menikmati manisnya rumah tangga yang harmonis. Aku dan istrinya banyak ngobrol dan tertawa. Selain itu, kami adalah pasangan serasi. Soal yang satu itu, bolehlah aku menyombong. Istriku cantik dan seksi. Tubuhnya langsing dan rambutnya panjang. Ia juga rajin berdandan dengan alis yang dibentuk rapi. Sementara aku bolehlah dibilang cukup tampan. Aku selalu tampak gagah dengan seragam montirku. Oh ya, perkenalkan namaku Setyo dan Laila istriku.

Laila istriku adalah perempuan yang tidak pernah berhenti berpikir. Sejak kami pacaran di kampung dulu, sampai saat-saat menjelang menikah, Laila selalu hadir dengan ide-idenya. Akhir-akhir ini, Laila sering mengeluh prihatin akan nasib adiknya. Beberapa kali kudengar, ia menasehati Ranti agar bercerai saja dengan suaminya yang bajingan. Laila juga berjanji mencarikan pekerjaan sebagai SPG untuk Ranti. Pastilah tidak terlalu susah baginya. Ranti sangat cantik. Kalau saja nasibnya beruntung, ia tidak kalah cantik dengan model-model yang muncul di majalah atau TV. Ia juga cerdas. Sering dapat juara kelas ketika sekolah dulu. Namun otaknya yang cerdas tidak disertai kemampuan bergaul yang baik. Ranti pendiam dan pemurung. Ia yang semestinya bisa menjadi SPG mobil yang digaji mahal, malah hanya bekerja sebagai petugas parkir yang terjebak dalam kotak nerakanya. Ah, nasib orang memang susah ditebak.

Namun usul Laila untuk bercerai itu, tidak pernah disanggupi Ranti. Barangkali karena ia sungguh-sungguh mencintai suaminya atau mungkin ia takut mendapat sebutan janda. Entahlah. Keadaan ini membuat Laila sering terlihat termangu-mangu sambil mencangkung di beranda rumah. Sampai suatu ketika, dari mulutnya meluncur sebuah ide.

"Saya ingin buka warung, Mas!" kata Laila

"Warung kecil yang menjual perlengkapan sehari-hari. Daerah sini terlalu jauh ke toko terdekat, saya pikir bakal laku!" tambahnya lagi tanpa diminta.

"Lalu modalnya?"

"Ibu masih punya sepetak sawah di kampung yang sekarang digarap orang. Menurutnya, lebih baik untuk modal saja. Ibu dan saya juga punya perhiasan peninggalan eyang yang nilainya lumayan. Mungkin bisa kita gadaikan untuk pinjam modal. Begitu warungnya jalan, langsung kita tebus!"

"Wah, pikiranmu sudah sejauh itu. Apa modalnya memang cukup untuk buka warung?"

"Cukup, Mas. Saya sudah hitung semua. Mas setuju?" tanyanya antusias.

"Aku sih setuju saja, Dik. Apalagi untuk kemajuan kita juga. Lalu pekerjaanmu sebagai SPG?"

"Aku sudah minta izin pada bosku agar pekerjaanku digantikan Ranti. Ia setuju setelah Ranti saya bawa menghadapnya. Maaf saya baru bilang ke Mas. Tadinya kalau Mas tidak setuju, saya mau cari pekerjaan baru sebagai SPG. Kasihan Ranti, biar hidupnya lebih senang!" jelas Laila panjang lebar. Aku semakin mengagumi istriku ini. Ia begitu cekatan dan cerdas.

"Tentu saja aku setuju. Cuma saja, aku tidak bisa ikut membantu modalnya. Maklumlah, aku sebatang kara dan tidak punya warisan apapun!" kataku memandang sayu.

Istriku hanya tersenyum mendengar suaraku terdengar sedih. "Nggak apa-apa, Mas. Mas kan sudah bekerja untuk mencari nafkah untuk keluarga." Kata Laila menghibur hatiku. Ah sungguh ia seorang Dewi yang diturunkan untukku. Aku berjanji untuk lebih rajin dan bekerja keras, agar terus dapat memberinya nafkah.

Dan mimpi kamipun diwujudkan Laila dalam sebulan. Waktu terlama adalah menjual sepetak sawah warisan Ibu Laila. Setelah ditawarkan ke sana ke mari, akhirnya seorang kenalan baik bersedia membelinya dengan harga lumayan bagus. Itung-itung membalas jasa Ayah Laila, kata kenalan baik itu. Mereka mengaku banyak berutang jasa pada Ayah Laila yang terkenal murah hati dan ringan tangan.

Dan warung itu buka hari ini. Kami membuat syukuran kecil-kecilan dengan membuat nasi tumpeng mungil untuk kami santap bertiga dan beberapa tetangga dekat. Maklumlah nasi tumpeng biasa terlalu mahal buat kami dan juga rasanya terlalu wah untuk warung sekecil ini. Kami sesaat hening, mensyukuri karunia-Nya.

Hari-hari berikutnya adalah saat kami bicara tentang warung dan warung. Hari ini laku tiga sabun dan dua kilogram beras, beberapa permen dan satu korek api. Atau hari ini hanya laku dua batang rokok. Atau kadangkala dengan gembira Laila bercerita hari itu laku 5 kilogram gula, mi instan 5 biji, 10 kilogram beras dan 3 bungkus rokok. Menurutnya, para tetangga sudah mulai mengenal warungnya. Mereka mulai beralih dari toko yang jauh ke warung Laila yang harganya tidak terpaut jauh. Apalagi Laila yang ramah dan ringan tangan itu pasti gampang membuat pembeli menyukainya.

*


Aku menghirup kopiku dengan nikmat hari itu. Warung istriku telah berkembang dan memberikan penghasilan yang lumayan kepada kami. Kadangkala bahkan lebih besar daripada gajiku. Ia mulai membeli baju-baju kesukaannya dan sesekali membeli blus baru buat Ibu dan Ranti, juga kemeja untukku. Ia juga menabung, katanya untuk anak kami yang akan lahir nanti.

Kami duduk di beranda rumah sore itu. Warung sedang sepi dan aku mendapat jatah libur dua hari. Hidup terasa nikmat betul. Berkali-kali kuhirup kopiku dengan tegukan pelan agar kenikmatannya terasa lama.

Laila memperhatikanku dengan geli.

"Mas Setyo ini, ngopi kok sampai menghayati begitu?" katanya sambil tersenyum lebar.

"Ah kamu Dik, mengganggu saja. Aku kan sedang menikmati hidupku memiliki istri seperti kamu!" kataku dengan nada serius.

Laila meleletkan lidahnya mengejekku. "Ah Mas, istri sendiri kok dipuji-puji. Ntar didengar orang malu!" katanya sambil tersipu. Itulah Laila, amat kental dengan budaya Jawa yang low profile. Ia selalu mengelak bila dipuji, padahal aku sangat bersungguh-sungguh. Ia malah tersipu-sipu bahkan biasanya melangkah pergi meninggalkanku bila aku katakan aku bersungguh-sungguh.

Tapi kali ini ia tidak pergi. Ia malah menatapku serius.

"Mas, mau dengar saya lagi ndak?" Katanya menunggu reaksiku

"Masalah apa Dik? Tentu saja aku mau dengar. Wong aku suamimu dan kamu istriku!"

"Saya ingin mencicil rumah ini."

"Wah...!" kataku tanpa bisa kucegah. "Apa kita mampu dan apa pemiliknya menjualnya?"

"Satu-satu dulu Mas. Saya sudah ngobrol dengan Bu Retno. Saya membujuknya untuk menjual rumah ini. Awalnya dia bingung tapi lama-lama tidak keberatan. Sekarang kan suaminya sudah pensiun. Ia butuh banyak uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ia malah berterima kasih pada saya karena menasihatinya. Sebelumnya ia bingung kemana harus mencari tambahan uang, ia lupa pada rumah ini. Saya bilang kita mau mencicil, sedikit demi sedikit dulu. Maklumlah keuangan kita belum begitu baik. Saya tawarkan cicilannya tiga kali harga sewa setiap bulannya. Lumayan buat dia menutupi biaya hidup sehari-hari. Kalau kita dapat rezeki lebih suatu kali, barulah dibayar cukup besar. Ia setuju. Lagi pula Bu Retno memang baik, mengerti keadaan ekonomi kita.

Aku hanya bengong mendengar penjelasan Laila. "Kamu seperti tau semuanya, apa kamu memang punya ilmu nujum!" kataku dengan kekaguman yang mengental pekat di mataku.

"Ah Mas ini !" Sekali lagi dengan senyum tersipu di wajahnya. "Saya kan hanya memikirkan keluarga. Kelak kita akan punya anak. Rumah sendiri tentu lebih enak daripada ngontrak!" Sekali lagi Laila menunjukkan wawasannya yang memandang jauh ke depan. Ia seperti terus bergerak maju dengan mimpi-mimpi barunya. Ia, lebih daripada aku, benar-benar mewakili semangat pasangan muda, yang terus bergerilya meraih mimpi-mimpinya. Walaupun mimpi-mimpi kami, tentu saja, mimpi-mimpi kecil pasangan muda kelas dua.

"Setelah nyicil rumah, kira- kira apa selanjutnya ya Dik?" kataku menggodanya di penghujung sore itu.

"Ah Mas, pelan-pelan dong. Satu-satu!" katanya. Tapi setelah memalingkan wajah, ia memandang lurus ke depan. Memandang petak-petak rumah kontrakan yang bertebaran di sekeliling kami. Memandang kerlip-kerlip lampu dari gedung-gedung tinggi nun jauh di sana. Mata itu dalam dan berbinar. Aku yakin Laila sedang merangkai satu lagi mimpi baru. Mimpi kecil dari pojok Jakarta. * **


Tidak ada komentar:

Posting Komentar