Sabtu, 28 Januari 2012

Perempuan Kedua Cerpen: Labibah Zain


Pikiran Rakyat
Sabtu, 02 Juni 2007

Perempuan Kedua
Cerpen: Labibah Zain

Perempuan berumah di ujung gang itu benar-benar membuat sekujur tubuhku tegang. Cara bicaranya yang lembut, membuat aku kalang kabut. Sungguh aku tak mengira akan jatuh cinta macam anak-anak SMA.

Aku bertemu perempuan itu, ketika menghindari tabrakan dengan ojek. Motor yang aku kendarai dengan memboncengkan Dina, anak perempuanku itu, terjerembab di salah satu got, dekat rumahnya. Tangis anakku yang meraung-raung, membuat perempuan itu datang menawarkan bantuan. Gini, nama perempuan itu. Dia menggandeng Dina ke rumahnya dengan kasih sayang seorang ibu.

Aroma sabun wangi badan Gini tercium tanpa sengaja olehku, ketika dia memberikan secangkir air putih.

Sejak pertemuan itu, hidupku tak tenang. Aku mulai membanding-bandingkan keadaan perempuan itu dengan Gami, istriku. Seandainya istriku bisa serapi Gini, pastilah aku tambah betah di rumah. Seandainya perut istri serata Gini, pastilah aku tak harus mencari-cari foto-foto wanita setengah telanjang di tabloid jalanan hanya untuk meningkatkan gairahku di kasur. Tetapi, semua membuatku frustrasi. Begitu membuka mata, yang kulihat hanyalah tubuh Gami yang mulai berlemak di sana-sini.

Otakku mulai berputar-putar tak karuan. Bagaimana cara agar aku bisa mengunjungi Gini tanpa ada yang curiga. Sungguh! Dua hari tak bertemu Gini, membuatku seperti orang gila. Mulailah kuatur rencana demi rencana untuk bisa menemuinya.

**

Kucukur habis bulu-bulu yang ada diwajahku. Kusemprotkan minyak wangi di tubuhku. Ah, ternyata aku masih ganteng juga. Kutatap wajahku di cermin. Tak kalahlah dengan Doni Damara, pikirku. Melihat penampilanku, istriku bertanya-tanya. Katanya, aku seperti orang yang sedang puber kedua. Aku bilang saja, semuanya kulakukan karena aku harus foto buat kartu identitas di kantorku besok pagi. Istriku pun tampak paham.

Aku tidak bohong. Memang besok paginya ada acara foto-foto untuk melengkapi kartu identitas perusahaan. Hanya saja, sepulang dari kantor, aku mengajak Dina untuk mengunjungi Gini.

Gini dan dua anaknya, Tono dan Tini menyambut kedatangan kami dengan gembira. Dina langsung bermain sepeda dengan mereka. Aku pun duduk berdua dengan Gini di ruang tamu. Dari percakapan sore itu, aku tahu kalau Gini seorang pengajar bahasa Inggris di salah satu lembaga bahasa. Satu ide melintas. Saat itu, aku meminta Gini untuk memberikan kursus bahasa Inggris buat Dina, karena Dina berumur 4 tahun. Sudah saatnya belajar bahasa Inggris. Gini setuju untuk memberi kursus Dina setiap hari Senin dan Rabu. Ketika pulang ke rumah dan kurundingkan dengan Gami tentang kursus itu, dia tak keberatan sedikit pun.

Sejak itu, hari Senin dan Rabu merupakan hari yang sangat kutunggu-tunggu. Kursus hanya berlangsung selama satu jam saja, tetapi Dina selalu meminta untuk tinggal di rumah Gini agak lama, karena dia ingin bermain bersama Tini dan Tono. Jadilah aku punya alasan untuk ngobrol panjang lebar dengan Gini.

Berbicara dengan Gini, aku serasa menemukan masa mudaku lagi. Ternyata Gini suka puisi. Lantaran bicara puisi-puisi Gibran, kami menjadi semakin akrab dan terbuka.

Gini juga bercerita tentang seorang duda, yang menjadi direktur lembaga bahasa tempat ia bekerja itu, beberapa kali memintanya untuk menjadi istrinya. Bagi Gini, penampilan duda itu tak menarik. Dia lebih suka lelaki yang suka menghadiahinya puisi, seperti almarhum suaminya.

Tahu akan hal itu, aku pun getol menghadiahi satu puisi buat Gini setiap pagi. Puisi itu aku serahkan sebelum aku pergi ke kantor. Sepulang kerja, aku pun sering mampir ke rumahnya hanya untuk mencekoki Gini dengan kata-kata yang menghiba-hiba tentang penderitaanku sejak menikahi Gami.

"Jangankan merawat anak dan suami, merawat diri pun dia tak mampu. Daster kumalnya menjadi pemandanganku sehari-hari. Makanan hambar alakadarnya menjadi menuku sehari-hari. Tempat tidur bau ompol anak, menjadi alas tidurku sepanjang malam. Dengkuran istriku menjadi musik pengantar tidurku. Secangkir teh atau kopi sepulang kerja hanyalah impian. Aku sangat menderita!"

Gini memandangku dengan muka murung. Sepertinya aku sudah berhasil menarik simpatinya dengan rahasia-rahasia rumah tanggaku.

''Seandainya istriku itu adalah kamu, Gini.''

Pipi Gini merona. Matanya berkejapan. Aku merasa terbang ke langit ketujuh. Seperti berdendang, kata-kata itu terus ku ulang-ulang.

Lama-kelamaan, aku punya keyakinan, kalau Gini juga menaruh perhatian terhadapku. Oleh karenanya, dengan mengumpulkan segala keberanian, aku menyatakan cinta di beranda rumahnya! Gini tersentak. Tetapi di wajahnya, aku melihat kebahagiaan yang menggelegak.

Dia berkata, "Mas 'kan sudah punya istri...."

"Tapi kau 'kan tahu kalau aku menderita?"

"Selesaikan baik-baik hubungan Mas dengan Isteri. Kalau memang Mas tak bahagia, Mas harus menceraikannya secara baik-baik atau minta izin kepadanya untuk menikahiku."

Aku bersorak. Masalah dengan istriku? Gampanglah diatur.

Dengan hati berbunga-bunga, aku pulang ke rumah. Begitu malam tiba, kutidurkan Dina sebelum jamnya. Setelah itu, aku mulai mencumbui Gami seperti layaknya pengantin baru. Usai bercinta, kubuatkan istriku mi goreng instant. Sepiring berdua kami makan bersama. Selama dua minggu kami tampak mesra. Gami menatap curiga tetapi dia tampak bahagia.

Pada minggu ketiga, mulailah aku bercerita tentang banyaknya orang-orang yang perlu disantuni. Anak yatim dan janda yang terlunta-lunta. Gami yang mudah tersentuh sangat terharu, tetapi menjadi pilu ketika aku mulai mengemukakan pintu surga bagi istri yang merelakan suaminya menikahi janda miskin.

Dari tatapan matanya, aku tahu hatinya teriris. Tapi tekatku tak terkikis. Kupeluk dia. Di telinganya, kubisikan betapa aku mencintai dia dan berjanji semuanya takkan berubah. Istriku menatapku. Dia bilang, dia ingin bertemu Gini. Aku pun setuju. Kucium keningnya. Kuusap-usap rambutnya sampai dengkurnya terdengar. Malam itu, dia terlelap di pelukanku.

**

Akhirnya di rumahku, kedua perempuan itu bertemu. Dari jendela rumahku, aku bisa melihat kalau istriku tampak tegang dan Gini tampak salah tingkah. Tetapi, beberapa saat kemudian mereka bersalaman, mulai bicara dan akhirnya tertawa-tawa. Sejak itu, keduanya memang tambah akrab. Aku lega. Hajadku ada di depan mata!

**

Pagi ini, ketika aku hendak menyelipkan satu puisi di rumah Gini, aku mendapati rumah Gini lengang. Suara keributan anak-anak Gini karena hendak bersiap-siap berangkat ke sekolah, tak kudengar.

Kuketuk rumahnya berkali-kali. Tak ada yang menjawab. Aku semakin keras mengetuk pintunya. Sepi!

Kugedor dan kugedor lagi pintunya. Kali ini, Ibu Karto, tetangga sebelah rumahnya, muncul dan mengabarkan bahwa Gini dan anak-anaknya pulang ke kampung halaman untuk mempersiapkan pernikahannya dengan direkturnya!

Gini, perempuan ranum yang hendak kujadikan istri keduaku, hendak menikah tanpa memberitahuku sama sekali.

Kurasakan perasaan tersinggung mulai menggelegak di dadaku! Dalam keadaan limbung, aku ingat istriku. Perempuan setia yang selalu menerimaku apa adanya. Boleh jadi tubuhnya menjadi tak terawat, karena waktunya habis buat mengurus rumah tangga dan uang belanja yang kuberikan dihabiskannya buat urusan keluarga daripada untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba, aku ingin memeluk istriku dan meneriakkan betapa tak ada perempuan lain yang lebih aku butuhkan di dalam hidupku selain dirinya.

Sepeda motor pun kukebut dengan kecepatan tak kira-kira. Sampai di rumah, kembali aku terpana. Kudapati rumahku tak berpenghuni. Kuperiksa pot tanaman, tempat Gami biasa menyimpan kunci kalau dia harus pergi. Di situ kutemukan kunci rumahku dan sepucuk surat.

Mas Poly,

Merangkai kata, aku memang tak pandai tetapi semoga yang akan kusampaikan ini bisa kau mengerti.

Beberapa bulan yang lalu, ada seorang pria yang perhatiannya membuatku berbunga-bunga.

Tetapi kemudian aku sadar bahwa cinta itu seperti tanaman. Dia bisa mati kalau kita tak merawatnya. Nah! Cinta yang kita bina sudah layu! Hampir mati! Kalau aku mencoba merawat tanaman lain, bagaimana mungkin aku bisa yakin kalau dua-duanya tak mati? Sedang merawat satu tanaman saja, aku tak bisa?

Oleh karenanya, aku memutuskan untuk merawat cinta kita dan mematikan cinta-cinta yang lain. Bagiku keluarga berada di atas segala-galanya.

Tetapi, takdir bicara lain. Mas memilih hendak membawa tanaman lain dengan cara menikah lagi. Bagiku, dua orang istri terlalu banyak dalam satu pernikahan dan susah bagiku untuk berbagi perasaan. Daripada aku tertekan, akhirnya kuputuskan untuk melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Dengan demikian, kita bisa berbahagia dengan merawat satu cinta di keluarga masing-masing. Mas menikah dengan Gini. Aku pun akan bahagia karena Mas Mono, tetangga kita yang pernah memberikan perhatiannya kepadaku itu, berjanji akan menikahiku begitu selesai masa idahku.

Salam Gami ?


Aku merasa tubuhku dipukul-pukul dengan martil hingga lenyap terkubur rencana-rencanaku sendiri. Kupandangi rumah Mono. Tiba-tiba, aku ingin membunuh perjaka tua itu!***

Januari, 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar