Kamis, 26 Januari 2012

Kutukan Cinta Cerpen: Anton Septian


Seputar Indonesia
Minggu, 26 Agustus 2007
Kutukan Cinta
Cerpen: Anton Septian

Sebelum ia bertemu Martin, psikolognya,barangkali ia adalah perempuan yang paling patut dikasihani.Ia senantiasa menderita oleh api cemburu yang membakar dirinya. Jika ia mau jujur,tentu saja rasa cemburunya terlalu mengada-ada.

Namun demikianlah cara kutukan cinta itu bekerja. Ia selalu mencemburui setiap perempuan yang dekat dengan suaminya, bahkan dengan alasan yang paling tak masuk akal sekalipun. Terakhir kali adalah ketika ia menyangka suaminya selingkuh dengan Mila, namanya baru ia ketahui belakangan, kolega suaminya di perusahaan advertising. Ia menceritakan hal itu kepada Martin.

Beberapa waktu lalu ia menemukan sandek yang mencurigakan di kotak pesan Nokia suaminya, tak bernama, tapi intuisi perempuannya mengatakan, si pengirim adalah seorang perempuan. Sebelumnya ia pernah menemukan sandek bernada serupa dari perempuan lain. Ia cemburu saat menemukan sandek ulang tahun yang manis dari Maria, sejawat suaminya di kantor, sebagaimana ia cemburu kepada Yuni, karib suaminya saat kuliah, yang mengirimkan sandek kangen secara terangterangan.

Dan Wati,kenalan suaminya di klub tenis, tak lepas ia cemburui. Perempuan itu kerap mengirim sandek ajakan main tenis dengan kata-kata yang kelewat intim. Suaminya memang punya banyak sejawat perempuan,termasuk Ira.Tempo hari Ira juga melayangkan sandek semacam itu kepada suaminya.

Ia telah lama tahu Ira adalah rekan sekantor suaminya, sama-sama duduk di Bagian Marketing, tapi tak pernah sekali pun bertemu. Beberapa kali pula suaminya pernah menyebut nama itu saat bercerita masalah kantor pada waktu makan malam.

Pada sebuah acara makan-makan untuk merayakan promosi seorang rekan kerja suaminya beberapa minggu kemudian, akhirnya ia tahu Ira seorang perempuan berumur kepala empat, tujuh-delapan tahun lebih tua dari umurnya. Ira datang bersama suami dan kedua putranya yang sudah SMP,kelas satu dan kelas tiga.Wajahnya biasa saja, tapi seseorang akan melihat sifat keibuan pada kedua bola matanya.

Tak mungkin suamiku selingkuh dengan perempuan ini, pikirnya waktu itu. Dan memang begitulah kenyataannya. Sifat Ira yang ngemong terhadap rekanrekannya yang lebih muda sering disalahtafsirkan oleh para istri dan kekasih mereka.Suaminya telah mencoba menjelaskan hal itu sebelum ia bertemu Ira.Namun ia tak percaya. Rasa cemburu telah menyumbat telinganya untuk seluruh penjelasan suaminya.

Dikatakannya pula hal itu kepada Martin. Dan lelaki itu tampak betul menguasai profesinya. Dengan seksama ia mendengarkan unek-unek kliennya dan secara cermat pula ia mengulas analisisnya tanpa membuat kliennya tersinggung. Itu memudahkan kliennya berterus terang dan mengutarakan lebih jauh masalah yang merongrongnya. ***

Sore ketika ia menemukan sandek itu di Nokia suaminya, ia langsung diburu pertanyaan: siapa perempuan itu? Namanya tak tertulis di daftar telepon. Kecurigaannya seketika meruyak. Suaminya pasti sengaja tak mencatat nama si perempuan misterius itu untuk menyembunyikan identitasnya. Untunglah ia menemukan sandek itu sebelum suaminya menghapusnya.

Dengan leluasa ia membuka-buka kotak pesan sewaktu suaminya sedang mandi saat baru pulang dari kantor. Saat makan malam ia tak lantas menanyakan perkara itu. Suaminya pasti punya dalih yang masuk akal meski itu dibuat-buat. Ia berniat mengumpulkan bukti lebih dahulu. Kalau perlu, sampai mereka kepergok sedang berdua-duaan, tidak hanya nama perempuan itu saja yang mesti dicari tahu.

Sehari kemudian, sewaktu suaminya mandi sesaat baru pulang dari kantor, sandek itu telah hilang dari kotak pesan. Sial! Aku belum mencatat nomornya, serapahnya dalam hati.Lantas ia mengutuki kebodohannya kemarin. Bahkan tidak hanya pada perubahan yang mencolok, ia juga jeli mengamati perubahan yang detil pada suaminya. Ia langsung menaruh curiga sewaktu wangi parfum dan potongan rambut suaminya berubah, sebagaimana ia curiga seumpama lelaki itu pulang agak telat dari jam biasa.

Alasan tugas ke luar kota tentu saja sulit ia terima, jangan-jangan suaminya ada perempuan simpanan di luar kota. Sebuah sandek dari seorang perempuan yang saat itu masih misterius tentu menggodanya untuk berprasangka demikian. ”Suamiku betul selingkuh.” Ia meyakinkan dirinya berulang-ulang serupa itu. ”Siapa dia?”Akhirnya ia bertanya setelah bisu seharian, mengingkari niatnya untuk mengumpulkan bukti terlebih dahulu.

”Dia. Dia yang kerap mengirimkan SMS romantis itu?” Ia melanjutkan ketika suaminya mengernyitkan dahi, membikin kedua alisnya nyaris menyambung. ”Oh, itu,” kata suaminya setelah beberapa saat. ”Bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang kolega di advertising.” Keduanya kembali melanjutkan makan malam dengan bisu. Telur balado yang dimasaknya sendiri kini terasa hambar di lidah, meski rasa-rasanya, semua bumbu telah komplit masuk ke wajan.

Suaminya sendiri tampak masyuk menyantap makanannya, seolah ia belum makan selama dua hari. Kini ia menambah porsinya dan bersiap hendak melahapnya. ”Siapa dia?” Ia mengulang pertanyaannya. ”Ia, Mila,” jawab suaminya sambil terus mengunyah nasi.”Masih muda dan belum nikah.” Tiba-tiba sendok dan garpu di tangannya jatuh ke piring, membuat bunyi ‘prang’,ia sendiri lantas bangkit meninggalkan meja makan dan berlari ke kamar.

Suaminya terus melahap sisa isi piringnya seakan tak terganggu oleh insiden itu. Ia menandaskannya tak lama kemudian. Setelah minum dan menyeka mulutnya yang belepotan bumbu dengan tisu, ia beranjak ke ruang tengah, menyalakan televisi dan membakar Gudang Garam sebagaimana kebiasaannya seusai makan. Belum lagi rokoknya habis, ia sudah membunuhnya di asbak, lantas beranjak ke kamar, menyusul istrinya yang tengah terisak seraya memeluk guling.

”Kenapa? Kau cemburu? Sudahlah. Jangan kekanak-kanakan. Ia hanya seorang kolega biasa. Aku tak ada apa-apa dengannya,”suaminya berkata perlahan. Ia masih membelakangi suaminya yang duduk di tepi ranjang.Wajahnya dibenamkan pada guling yang dipeluknya, membuat air matanya tumpah ke sana. ”Aku tak percaya. Kalian pasti ada apa-apa,”tuduhnya dengan nada tinggi.

”Kita tak ada apa-apa. Demi Tuhan. Sungguh!” Perlahan tangan suaminya bergerak menuju rambutnya. Dibelainya rambut hitam itu dengan lembut. ”Jangan sentuh aku,” katanya sambil menepis tangan suaminya. Suaminya tahu belaka ia seorang pencemburu yang keras kepala, sulit menerima penjelasan yang paling benar sekali pun. Itulah yang menyebabkan suaminya memilih menghabiskan makan dan mencuci mulutnya dengan rokok terlebih dahulu ketimbang lekaslekas menyusulnya ke kamar.

”Besok akan kukenalkan kau pada Mila. Biar kau percaya aku tak ada apaapa.” Suaminya berkata terakhir kali sebelum kembali ke ruang tengah, meninggalkannya yang sekalipun tak pernah menoleh selama percakapan barusan. Barangkali ia berpikir menonton acara komedi di sebuah saluran lebih berguna ketimbang bertengkar dengan istrinya.

Esoknya ia diajak suaminya ke restoran Jepang. Suaminya menelepon Mila untuk bertemu di sana. ”Kau mesti bertemu istriku.Kau suka masak ‘kan? Istriku pandai memasak. Ia bisa memasak makanan apapun dari seluruh dunia.”Tentu saja ia tak berkata mereka sedang bertengkar dan perlu bertemu dengan Mila untuk menguraikan benang yang bergulung ruwet. Mila datang bersama kekasihnya. Mereka rekan satu kantor. Sudah tiga tahun berhubungan dan kini telah bertunangan. Sebulan lagi akan menikah, lantas bulan madu ke Bali.

Seharian ia bisu dan kini ia asyik mengobrol dengan Mila tentang resep masakan. Mereka bertukar resep favorit. Sebagaimana ketika bertemu dengan Ira, sesaat setelah berkenalan dengan Mila, punah pula rasa cemburunya tak ada sisa. ”Kalau menikah,jangan lupa undang kami,” katanya kepada pasangan yang sedang berbahagia itu di akhir percakapan. Malam itu mereka kembali tidur seranjang. Ia telah berhenti marah.

Di mobil, sewaktu pulang dari restoran, ia sudah minta maaf sebab telah salah tuduh. Sebelum keduanya terlelap, suaminya berkata sesuatu,sepertinya bercanda. ”Apa sebaiknya kau pergi ke psikolog? Biar rasa cemburumu tak meluapluap. Repot juga kalau begini tiap hari.” Ia menanggapinya dengan tertawa kecil, lalu mendekap tangan suaminya sebelum benar-benar jatuh tidur.

Siang saat suaminya di kantor, ia menimang-nimang kata-kata suaminya semalam. Gagasan itu tampak masuk akal.Ia tahu suaminya asal berkata belaka. Tapi apa yang dikatakannya rasarasanya betul juga. Beberapa kali ia dibakar rasa cemburu yang ngawurhingga merasa sangat tersiksa. Terutama ketika ia dengar selentingan bahwa suaminya macam-macam sama perempuan lain. Tapi bahkan sejak mereka mulai pacaran di bangku sekolah dulu, tak sekalipun terbukti suaminya punya hubungan dengan perempuan lain.

Dulu ia menerima cintanya pada kesempatan keempat lelaki itu mengungkapkan cinta padanya. Itulah mula kutukan cinta menimpa dirinya. Rasa cinta yang terlambat datang itu berbalik menyerangnya lebih hebat. Ia yang awalnya kemalu-maluan berpacaran malah terang-terangan terlihat sangat mencintai bakal suaminya itu setelah beberapa kali keluar bersama. Meski tak terlalu manja, tapi ia akan mendamprat gadis manapun yang terlampau akrab dengan bakal suaminya. ”Aku terlalu mencintainya,” katanya kepada Martin pada kali pertama konsultasi dua hari kemudian. ***

Psikolog itu, Martin, seumuran suaminya. Penampilannya menarik dan pembawaannya tenang. Ia suka ceruk matanya yang dalam, membuat mata psikolog itu lebih nyalang meski terhalang kacamata bergagang hitam tebal yang menyangkut di hidungnya yang bangir. Giginya yang putih cemerlang berjajar rapi serupa tuts piano.

Setelah mendengarkan seluruh unek-unek kliennya itu, Martin senantiasa tersenyum sebelum memberikan analisisnya. Berangsur-angsur api cemburu yang kerap membakar dirinya lenyap.Sebulan sudah ia konsultasi dengan Martin. Kini suaminya bisa melihat dirinya jauh lebih ceria ketimbang empat-lima minggu lalu.

”Berhasil?” tanya suaminya suatu kali saat ia tertangkap basah sedang bersenandung kecil.Ia mengangguk. Pada pekan terakhir di bulan itu, ia menemukan sapu tangan yang bukan milik suaminya di saku celana lelaki itu. Dari motif dan wanginya ia tahu itu milik seorang perempuan. Suaminya mestilah punya hubungan serius dengan seseorang.

Namun kini ia tak lantas menyeka air matanya dengan bantal dan mengurung diri seharian di dalam kamar. Ia bersikap biasa seolah tak terjadi suatu apa pada hubungan mereka. Suaminya tidak selingkuh. Suaminya betul selingkuh. Ia tak ambil peduli. Kini di ruang tunggu itu ia duduk, menanti giliran konsultasi dengan Martin.

Telah berulangkali majalah yang ada di tangannya ia bolak-balik, tak dibaca tapi hanya dilihat gambarnya selintasselintas. Ada perasaan tidak sabar setiap kali ia menanti jadwal konsultasi. Ia tak mengatakan itu kepada suaminya. Pun suaminya tak dapat lagi menebak isi hatinya.

Dulu ia tak bisa menutupi rasa cemburunya, kini ia pandai menyembunyikan perasaan rahasianya. Ia telah tahu cara membebaskan dirinya dari kutukan cinta yang kerap menyiksanya. Bukan, bukan Martin yang mengatakannya, tapi ia sendiri yang menemukan caranya: Mengurangi cinta untuk suaminya dengan membaginya kepada lelaki lain. *** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar