Kamis, 26 Januari 2012

IBU Cerpen: Herman


Republika
Minggu, 18 Mei 2008

IBU
Cerpen: Herman

"Setiap hari kau pegang kertas dan pensil itu, siang, malam, tiada hentinya. Untuk apa? Apa kau kira kertas itu dapat kau makan? Kau katakan kau bisa mencari makan dengan pensilmu, mana?! Yang kulihat masih nasi yang kutanak juga yang kau makan."
Begitulah Ibu menggurutu setiap melihat aku mencoret-coret kertas. Aku tak marah, tidak sekali pun. Meski terkadang Ibu merepet ketika aku sedang menghadap piring nasi. Padahal ayah pernah melarang, jangan memarahi anak ketika dia sedang makan. Tapi Ibu tetap melakukannya padaku. Bahkan pernah lebih pedas lagi kepadaku. Ibu pernah mengancam akan mengusirku jika masih saja menulis dari pada mencari kerja.
"Lebih baik kau cari kerja untuk menabung agar kau bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi dari pada membuat tumpukan kertas dalam kamar. Lebih baik kau tulis surat lamaran kerja. Kalau kau masih juga menulis yang tiada artinya, lebih baik kau pergi saja dari rumah ini, karena kau tidak lagi mendengar kata-kataku, ibumu, untuk apa kau kuberi makan!"
"Ibu, kelak jika aku jadi penulis besar, aku akan dapat uang banyak." "Kelak! Kelak...! Kelak...! Kapan!? Sampai kelak kau menyusul ayahmu ke liang kubur?! Terus kau akan mencoret-coret kafanmu?! Apa itu yang kau harapkan dari tulisanmu?!"
"Ibu, aku memang tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha. Dan aku percaya kelak akan berhasil."
"Berhasil." Suara Ibu mengejekku.
"Iya, Ibu."
"Hei, kau bermimpi menjadi penulis. Orang sepertimu, mau jadi penulis?" Ibu menyindirku. "Tunggu saja tumbuh tanduk di kepala kucing betina. Kau kira ada yang membaca coretan jelekmu itu?! Pantas saja sudah beribu koran yang terbit, semua tertera namamu."
"Ibu, jangan mengejekku. Aku memang selalu mengirimkan tulisanku ke media massa, tak perduli mereka memuatnya atau tidak. Tetapi aku yakin mereka pasti membacanya, hanya saja mungkin belum sesuai dengan misi media itu. Bagiku, mereka sudah membaca tulisanku, sudah cukup.
Dan ketika aku dapat menulis sesuatu, aku puas. Karena hanya dengan menulis kita dapat mengingat, ibu. Andaikan hari ini aku menulis tentang Ibu ketika marah, kelak jika Ibu tak marah lagi, aku pasti sangat merindukannya. Tetapi jika aku menulis bagaimana Ibu memarahiku, muka Ibu, kata-kata Ibu, tangan Ibu, langkah kaki Ibu, mata Ibu, bibir Ibu, semuanya tentang Ibu ketika marah, akan ada yang aku ingat. Jika aku rindu Ibu marah, aku tinggal melihat tulisanku tentang Ibu marah. Bukankah menulis itu sesuatu yang mengasyikkan, Ibu?"
"Tak usah kau mengajari ibumu."
"Aku tidak mengajari Ibu. Aku hanya katakan yang sebenarnya. Nah, coba Ibu ingat tentang kenangan Ibu bersama ayah semasa sekolah dulu. Sukar 'kan? Kalau Ibu masih menyimpan surat ayah, Ibu pasti mudah mengingat semua kata-kata ayah. Jika Ibu ingat ayah, Ibu tinggal membuka suratnya, paling tidak rasa rindu Ibu pasti berkurang," ujarku manja seraya memeluk Ibu.
Saat itulah Ibu diam. Kulihat mata Ibu bening. Tapi Ibu masih marah, karena kegemaran Ibu memang memarahiku, apalagi setelah ayah meninggal. Kegemaran Ibu marah padaku semakin bertambah. Tapi aku tak membalas marah, malahan aku akan berkata manja sambil membawa nama ayah. Dan aku tahu, marah Ibu sebenarnya hanya karena ingin mendengar aku menyebut masa-masa Ibu bersama ayah. Setiap selesai aku mengungkit masalah Ibu dengan ayah, Ibu langsung diam.
Pandanganku seluas laut. Di hadapanku hanya ada kehancuran. Gersang dan fana. Pohon-pohon kayu yang tercabut dari akarnya, rumah-rumah dan gedung yang hanya terlihat pondasi, bangkai mobil yang hitam dan karatan, lumpur dan kotoran yang mulai mengering. Daratan yang telah menyatu dengan laut. Semua tampak seperti laut yang luas. Bau busuk yang sama sekali tak pernah tercium, melintas di hidungku. Satu dua mayat masih tersangkut di balik lumpur hitam.
Ibu, batinku, aku baru saja kembali melihat kampung kita. Tapi tak kudapati kampung kita yang dahulu. Laut telah menyulap kampung kita menjadi datar seluruhnya. Kemana engkau, Ibu? Selamatkah dirimu? Atau adakah Ibu diantara mayat-mayat yang belum sempat diangkat para relawan itu? Aku telah mencarimu di pos-pos pengungsian, tapi tak kudapati namamu dalam daftar orang yang selamat.
Sekarang aku berdiri tepat di rumah kita, Ibu. Tapi rumah kita hanya tersisa lantainya. Tak ada atap, tak ada dinding, tak ada meja dan kursi kecil tempat aku makan dahulu. Juga tak ada kursi panjang tempat Ibu duduk menampi beras sambil marah-marah kepadaku. Semuanya hanya lumpur hitam. Ibu, lihat, di sebelah kamarmu itu. Seekor bangau sebesar elang berdiri di reruntuhan jendela kamarmu. Bangau itu menatap ke arahku, Ibu. Dia mengepakkan sayapnya. Bukankah engkau pernah bercerita tentang seorang ibu yang berubah menjadi seekor bangau karena ingin melihat anaknya? Kata Ibu cerita itu pernah terjadi zaman dahulu.
Lihat, Ibu, bangau itu menatapku terus. Marahkah dia? Tapi bangau itu tak bersayap merah seperti dalam ceritamu. Apakah dia tidak marah lagi? Sayapnya sangat putih, bersih. Ibu, engkaukah itu? Jika benar, mengapa engkau tidak marah? Aku ingin Ibu marah. Aku rindu makian Ibu. Mana suara Ibu yang selalu mengejekku dahulu? Atau Ibu sudah tahu kabar yang kubawa pulang?
Ya, memang benar, aku baru pulang dari Belanda. Sebulan yang lalu aku diundang oleh negeri Belanda karena tulisanku yang menurut penilaian mereka berhak mendapat penghargaan. Menurut mereka tulisanku sangat merdeka. Entah apa maksudnya, aku tidak mengerti. Mereka berpendapat, tulisanku mampu mewakili suara orang-orang kampung kita, bahkan mampu mewakili daerah kita keseluruhan. Karena itulah aku diundang ke negerinya dan diberi penghargaan Free Word Award.
Sebulan yang lalu engkau lepas kepergianku di Bandara dengan senyum. "Semoga kau berhasil, Nak." Katamu waktu itu. Itu kali pertama Ibu memanggilku 'Nak' dengan kelembutan. Menurutmu aku telah berhasil merubah coretan menjadi tulisan. Kala itu pula aku melihat Ibu tersenyum manis ke arahku. Mungkin selama aku besar, itu adalah senyum pertamamu yang kurasakan hangat. Aku tak pernah mengira jika juga menjadi senyum terakhir Ibu.
Ibu, lihat bangau itu, dia mengepakkan sayapnya ke arahku. Persis seperti lambaianmu ketika melepasku di Bandara. Aku mendekati bangau itu, dia tak terbang. Kubelai sayapnya yang putih, kudekap dalam pelukanku. Kurasakan sejuk sayapnya. Dan aku tertidur di sampingnya. Perlahan kurasakan tubuhku terangkat sambil sayup-sayup terdengar suara, "Dia masih hidup, sebaiknya kita bawa saja ke markas PMI." Setelah itu aku tak tahu lagi. *** Untuk Azhari, penerima Free Word Award dari Belanda, don't cry.

2 komentar: