Rabu, 25 Januari 2012

Cerpen Buat Saya Cerpen: Sunaryono Basuki Ks


Suara Pembaruan
Minggu, 17 Februari 2008

Cerpen Buat Saya
Cerpen: Sunaryono Basuki Ks

Saat kubuka e-mail sore itu di sebuah warnet kecil dekat rumah, ada kiriman dari alamat yang tak kukenal. Apa benar kiriman e-mail itu untukku sendiri atau sebagaimana biasa aku hanyalah salah seorang penerima dari puluhan alamat yang dituju. Ternyata, kiriman itu memang hanya untukku. Tak tertera alamat lain. Dan nama pegirimnya juga tak kukenal. Ada attachment di situ. Ketika kubuka barulah jelas, bahwa e-mail itu berisi sebuah cerita pendek yang unik, sebab judulnya "Cerpen Buat Saya".

Siapakah saya? Aku? Atau penulisnya sendiri? Terpaksa aku membacanya. Ah, sebaiknya aku membacanya bersama pembaca. Bunyi lampiran itu sebagai berikut:

Cerpen Buat Saya

Oleh Aku


Jangan kaget membaca cerpen yang kutulis khusus untukmu, yang takkan kukirim ke majalah atau koran mana pun, tak juga kupasang di milis cerpen atau apa pun namanya. Cerpen ini mungkin kau sebut surat pribadi saja, atau apa, tetapi, memang tidak memerlukan pembaca selain kamu seorang. Pasti kamu penasaran sebelum membaca cerpen ini, siapakah aku. Apakah memang perlu mengetahui siapa aku, bukankah cerpen ini lebih penting dari siapa aku?

Cerpen akan membawakan sosok pribadi penulisnya, membawa pula gambaran masyarakat di mana penulis itu hidup. Kata orang, sebuah cerpen tak pernah mulai dari vakum. Tidak ada sesuatu pun yang mulai dengan vakum, kecuali ciptaan Tuhan yang memang tidak berasal dari apa-apa. Tuhan hanya menyebutkan, mungkin juga dalam hati: kun fayaku. Maka alam semesta berkembang, sejak milyaran tahun yang lain, dan kalau makhluk hidup mulai ada jutaan tahun lalu, sebenarnya usianya masih sangat muda, dibanding dengan alam semesta.

Di manakah kita dalam tata surya yang disebut bima sakti? The milky way? Bumi kita di mana? Bumi yang kita pijak?

Percuma bicara tentang hal yang sudah jelas, bahwa kita ada di muka bumi, bersama alam, flora dan fauna, dan juga manusia lain, bangunan, mesin-mesin, semuanya yang membuat bumi dan kita semakin tua. Dan makin tua, makin berumur, kita dituntut untuk hidup berpasang-pasangan, seperti pada zaman Nabi Nuh, yang diselamatkan berpasang-pasangan, burung, angsa, semut, gajah. Kenapa, agar, bila banjir sudah lewat, bumi tak kosong, dan dapat segera diisi dengan binatang, manusia, yang sudah bermilyar pasang. Sudah berapa pasang nyamuk sekarang beterbangan sudah berapa juta gajah? Dan aku juga ingin berpasang-pasangan sebagaimana makhluk lain, sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan.

Jadi, kenapa kita tak berpasangan? Apa yang kita tunggu? Apakah ini sebuah surat lamaran? Aku tahu kamu sering sentimentil, kesukaanmu lagu-lagu yang melankolis, yang bisa membuatmu berurai air mata. Lalu kamu terkenang lelaki-lekai yang telah meninggalkanmu. Tetapi, kamu tak pernah mengingat lelaki yang tak pernah meninggalkanmu. Aku tahu, Alvin pacarmu yang berdarah muda, mau mencoba kejantanannya denganmu. Alasannya yang tak bisa kamu terima: semua teman-teman perempuannya sudah pernah mencobanya, dan dia ingin mencobanya. Apa benar mereka sudah pernah melakukannya? Apa hanya alasan saja?

Gara-gara alasan itu tak bisa kamu terima, maka kamu menampar wajahnya saat dia mengunci kamar kosnya. Padahal kamu berada di dalam. Memang mengejutkan, tetapi kamu memang sudah bertindak dengan tepat dan cepat. Kalau tidak, mungkin apa yang kamu alami merupakan mimpi buruk yang akan kamu bawa seumur hidup. Mengapa? Sebab kamu belum siap melakukannya, dan Alvin akan melakukannya dengan alasan yang salah.

Kenapa dia tidak melakukannya karena dia cinta padamu, dan kalau kamu juga cinta padanya, pasti kamu akan menyerahkan dirimu dengan rasa cinta. Sakit? Kamu sering bertanya pada dirimu sendiri. Pengalaman pertama memberimu rasa sakit? Siapa yang bercerita begitu? Apa benar timbul rasa sakit? Kamu pasti sudah siap diajak bicara soal hidup berpasang-pasangan. Kalau kamu mencintai pasanganmu, dan melakukan tugas sebagai makhluk yang harus hidup berpasang-pasangan, kamu akan merasa siap dan melakukannya dengan penuh rasa cinta, dan tubuhmu memang sudah siap untuk melakukannya.

Sekarang berapa usiamu? Berapa lelaki yang sudah meninggalkanmu? Tetapi, berapa pula lelaki yang tak pernah meninggalkanmu? Kenapa mereka meninggalkanmu? Coba renungkan. Rasa takut, bukan? Kamu selalu merasa takut saat berada di samping pacar-pacarmu. Takut pacarmu akan membawamu ke hotel, atau ke kamarnya, atau ke hutan barngkali, dan akan memperkosamu. Apakah pikiran lelaki hanya dipenuhi dengan perkosaan? Pemaksaan? Mungkin dari bacaan kamu belajar, bahwa laki-laki memang suka memaksakan kehendaknya. Kamu bisa terlalu dilindungi, bisa terlalu dipunyai sehingga bahkan disapa oleh lelaki lain pun, dia akan merasa cemburu dan memarahimu bak badai menerjang wajahmu sampai matamu pedih dan mengalirkan air. Ada juga lelaki yang melarangmu ikut aktif dalam berbagai kegiatan yang menyangkut lelaki dan perempuan. Lelaki, menurut yang kamu baca, juga menuntut perempuan pandai memasak, pandai bersolek, dan pandai beranak. Orang bilang: masak, macak, manak. Lalu, di mana wanita yang ingin berkarier sesuai dengan pilihannya. Kamu mau menjadi apa? Guru? Pengarang? Anggota dewan, menteri? Atau selebriti? Wajahmu tidak jelek. Kalau kamu mau akting sedikit, dan nyanyi sedikit, dan beruntung bertemu produser, pasti kamu sudah diorbitkan menjadi bintang sinetron, lalu sekaligus penyanyi, dan uangmu banyak. Lalu, teman-temanmu juga selebriti, sehingga kamu pun akan menikah dengan salah seorang dari mereka.

Sudahkah kamu renungkan, siapakah kamu sekarang? Wanita karier yang sukses tetapi kesepian? Atau ketakutan? Siapa lagi yang sudah meninggalkanmu? Robert, Gung Ardi, Nikelas Syahwin, Ardian Majid, Supono? Semua meninggalkanmu, tetapi siapakah yang tak pernah meninggalkanmu? Lelaki yang selalu berada di dekatmu, namun kehadirannya tak kau sadari? Sekarang, bolehkan aku melamarmu?*

*

Itu yang dapat kubaca dalam cerita pendek misterius, yang tentu lebih mirip sebuah surat pribadi, surat lamaran. Apakah aku harus menanggapinya? Membalas e-mail itu dan mengatakan agar dia unjuk muka sehingga kita bisa bicara. Memang, usiaku merambat sampai ke angka tiga puluh. Franciska sudah punya dua orang anak. Novy sudah beranak satu. Kristiani walau terlambat baru saja melangsungkan pernikahannya yang meriah. Upacara pemberkatan di gereja dipenuhi para sahabat dan kerabat. Lalu aku? Di kota besar seperti Denpasar ini, sibuk dengan tugas-tugasku dalam berbagai proyek, aku tak sempat bernapas untuk memikirkan suami. Benarkah aku tidak memerlukan lelaki? Apakah aku memang ingin hidup sendiri? Ibuku dikhianati ayah sejak aku masih bayi. Ditinggal begitu saja dan menikah lagi dengan seorang gadis remaja. Kakak perempuanku bercerai dari suaminya, dan harus membesarkan bayinya sendirian, seolah kisah ibu terulang kembali. Kalau aku menikah, apakah kisah keluarga juga akan bergulir melindasku?

Tetapi, siapakah yang merasa selalu berada di dekatku? Aku tak pernah merasa ada seorang lelaki yang berada di dekatku dan tak pernah meninggalkanku. Teman-teman lelakiku di tempat kerja hampir semua sudah punya pasangan, pacar atau istri. Aku menyewa rumah sendiri dengan didampingi seorang pembantu Bik Siti dan tukang kebun Mang Komar. Keduanya sering kuserahi apa saja urusan rumah tangga. Urusan mencuci, masak, kebersihan dan keindahan kebun dikerjakan oleh mereka berdua. Bik Siti sudah menikah dan Mang Komar kabarnya juga punya calon di desanya, tetapi aku tak tahu siapa. Sering aku makan di luar karena kesibukanku, dan makanan yang sudah disiapkan dihabiskan mereka berdua. Sering aku minta maaf kepada Bik Siti masalah ini. Pasti dia tak suka kalau masakannya tak kujamah. Tetanggaku? Aku tak begitu kenal dengan mereka karena kesibukanku. Jadi, siapakah yang mengirimiku e-mail dan bagaimana dia tahu alamat e-mail-ku? Mungkin seseorang yang pernah mencuri lihat tumpukan surat-surat elektronik yang sudah dicetak, dari berbagai alamat. Urusan proyek-proyek yang kukerjakan memang sebagian diselesaikan lewat e-mail.

Aku tak tahu. Tak tahu siapa? Sampai pada suatu malam Mang Komar menyapaku:

"Capek, Bu? Kerja keras. Istirahat ya Bu."

Sapaan itu menyambarku. Lelaki itu memang hanyalah seorang tukang kebun. Badanya sehat, wajahnya selalu berkeringat karena kerja. Aku tak tahu persis asal usulnya. Tetapi, apa dia yang mengirim e-mail dan menulis cerpen untukku? Memang, selama aku pergi seharian, komputer di meja kerjaku menganggur, dan surat-surat rapi tersusun dalam map sesuai jenisnya. Bisa saja dia memakai komputerku dan juga memakai disket yang masih kosong. Toh aku tak tahu kalau disket dalam kotak berkurang satu atau dua. Tetapi, apa memang Mang Komar? Aku tak tahu dan tak berani mencari jawaban. Aku memang penakut. ***

Singaraja, 14 Juli 2007


Tidak ada komentar:

Posting Komentar