Kamis, 02 Februari 2012

Surat Burung Onta Cerpen Beni Setia


Suara Karya
Kamis, 28 Maret 2002

Surat Burung Onta
Cerpen Beni Setia

Assalamu'alaikum wr,wbDinah, yang merasa ditinggalkan, saya sengaja menulis surat ini agar tidak merasa ditinggalkan -- tokh kini ada seorang kawan dari seberang yang ingat kamu dan menulis surat padamu. Saya juga mau bercerita bahwa kami -- saya dan istri mengajar di sekolah yang sama -- telah sampai. Memulai hidup baru (bulan madu?) dengan tetek bengek repot memindahkan barang dari kamar kos bujang dan lajang ke rumah kontrakan keluarga baru. Rumah kami dekat sekolah. Ke pasar sekitar dua kilo, Di depan rumah kami ada pohon cempedak hingga halaman teduh dan selalu disapu anak-anak yang main di sana sepanjang hari. Kamar mandi di luar. Bangunan tembok tanpa atap dengan sumur yang timbanya selalu bergerit bila dipakai mengangkat air. Kamar mandi bersama dengan tetangga. Jamban tanpa atap ada dibelakang kebun. Di atas kali kecil yang tak pernah kering meski musim kemarau. Ndesit -- kampungan. Tapi hidup lebih dari sekadar seting. Maaf kalau surat ini hanya mengganggu ketenanganmu, karena kamu pernah bilang: Sehabis mengajar sembahyang, beristirahat sambil memutar MP3 lagu instrumentalia, lalu sembahyang, dan mengurus halaman -- anggrek-anggrek yang harus selalu dirawat, yang lebih rewel dari anak bayi --lantas mempersiapkan makan malam sebelum sembahyang Magrib dan bablas ke Isya. Setelah itu membaca -- dan MP3 harus selalu bunyi, dan harus instrumentalia -- atau menonton TV, tidur, bangun untuk bersembahyang malam, tidur, untuk sembahyang Shubuh dan mempersiapkan sarapan serta makan siang. Tapi kamu juga bilang, selalu berpuasa, terutama di hari Senin dan Kemis. Saya bertanya, saat itu, untuk apa? Kamu diam saja. Tapi aku tahu motifnya dari omongan banyak kawan -- kawanmu tokh masih kawanku juga, tokh kita hidup dikota yang sama, disekolah yang sama, dan kuliah di PT yang sama, meski kemudian kamu kerja di M kita dan aku di B di seberang. Mereka bilang kamu minta diberi petunjuk jodoh, selain diringankan jodoh. Tapi jodoh itu apa? Apakah semacam kecocokan kamu bertemu dia seperti yang diangankanmu? Atau dia bertemu kamu seperti yang bertemu dengan yang dia angankan? Tapi bagaimana kalau yang diangankan itu tak ditemukan di alamreal dunia ini? Tapi bagaimana kalau yang ditemukan itu cuma mencapai 50% kriteria? Apa kamu berhak menolak atas nama idealisme padahal dia dikirimkan-Nya untuk kamu karena kamu getol puasa dan ngelakoni? Lantas bagaimana tang apan kamu kemungkinan. Anda Istigfarani lajang asal B yang mengajar Tata Buku. Hapsah, gadis setempat yang bekerja sebagai TU. Atau Syamsiah, bekas murid yang kuliah di Jawa dan kini jadi teman diskusi via surat. Atau Rini Haspari, guru Matematika asal Y. Saya berpikir saya harus memilih salah satu dari mereka -- meski sejak awal saya lebih cocok de-ngan Istigfaraini. Saya pun ambil beberapa kali shalat Istikharah. Mendapatkan petunjuk lalu memutuskan. Kami bersekapat meski akan mengkonsultasikannya dengan keluarga terlebih dahulu. Kami pulang bersama-sama di liburan panjang itu. Saya pulang dengan keputusan itu. Ingin omong dengan orang tua dan mengajaknya melamar. Saya bilang tentang si itu pada mereka. Bapak langsung setuju. Ibu agak malas dan menginginkan agar menantu perempuannya orang yang ia kenal dan dari lingkungannya sendiri. Ibu minta supaya aku melamar kamu. Aku tak sreg tapi Ibu minta agar aku mencoba. So just Try it. Saya datang kepadamu sebagai teman, sekaligus langsung menanyakan apa kamu masih single, menyatakan saya masih single, dan mengajakmu rabi. Kamu tertawa, seakan-akan saya ini badut -- kamu ingat kan? Saya tak sakit hati. Saya cuma menjalankan permintaan Ibu, sebagai manifestasi bukti dan kepatuhan kepada Ibu. sunah Rasul itu. Saya datang lagi dan melamarmu lagi -- ya kan? Kamu memaki-maki, menganggap saya ini lelaki yang sok gagah dan ideal dan beranggapan saya mengandaikan dirimu cuma si perempuan asal-asalan. "Ngaca dulu!" katamu. Saya tersenyum. Saya itu cuma menjalankan permintaannya Ibu. Lega karena kehendak itu sudah dilaksanakan dan tak terlaksanakan bukan karena aku tak melaksanakannya. Bahagia karena bisa kembali ke rencana semula. Memikirkannya dan mendapatkan pencerahan ilahiah tentang jodoh yang derajatnya ada di level kelahiran dan kematian, sebagai nasib yang suka atau tak suka harus diterima dan disyukuri, sebagai peneguhan iman kita. Saya OK saat menemuimu -- bukankah kita itu teman semenjak main pasaran di teras rumahmu? Saya tanya apakah kamu masih sendiri. Saya bilang bahwa saya juga masih sendiri. Berterus terang ingin melamar dan mengawinimu. Kamu berteriak marah. Mengusir saya seperti patung jerami me-ngusir burung gagak dalam film kartun. Kamu juga bilang bahwa saya cuma orang udik yang cukup puas jadi guru udik. OK. Benar. Tapi saya ini hidup bersama banyak orang, bertemu banyak orang, dan merasakan manisnya solidaritas dan toleransi serta lucunya kecurangan dan kelicikan banyak orang. Saya menemui banyak orang, saya pun melihat banyak orang, dan berbahagia ketika melihat meeka itu berbahagia dan ikut simpati dengan larut dalam kesedihan mereka. Sedangkan kamu? Dan ketika melamarnya -- nama Istigfaraini -- saya pun disergap semacam kesadaran. Aini itu memang telah menjadi jodoh saya, karena meski setengah ditolak Ibu dan saya mengikuti penolakannya, denan mendekatimu, kamu malah membantu saya meneguhkan Aini itu jodoh saya. Kamu tahu sendiri: Ibu terus mendekatimu dan kamu terus menolak. Alasannya saya itu mengajar di seberang, di sana masih banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, di sana tidak bisa mengejar pendidikan yang lebih tinggi di jenjang S-2, dan banyak lagi. Dan kamu tak pernah mau menyadari bahwa kita ini cuma mahluk, dan Allah SWT sebagai Chalik menciptakan kita dengan segala ketebatasan kita, dengan ketentuan yang tak bisa kita tolak dan harus kita terima, dan memberikan semua itu sebagai cobaan apa kita bahwa dan tawakal hingga lulus ujian -- selain segala ibadah yang wajib itu -- atau lancung seperti Ibliks yang tak mau patuh pada fatwa agar menghormati Nabi Adam As. Menghormatinya seperti menghormati orang yang lebih tua atau dituakan karena jadi si bungsu, dan justru berontak karena beranggapan Allah SWT menciptakan sesembahan lain selain Dirinya yang wajib disembah, dan kemudian jadi laknat yang dendam kepada manusia. Dinah yang baik -- kamu sering muncul di dalam kenangan akan kampung seperti kenangan intim kepada Ayah, Ibu, dan adik serta kakakku, dan mungkin kamu memang cuma cocok jadi adik --, saya marah padamu karena saya sayang. Saya marah karena kamu telah "memperlakukan" Allah SWT Yang Maha Kuasa itu sebagai pelayan yang melayani keinginan-Nya dengan kepatuhan abdi yang mencari ridha-Nya. Kinilah saat bagi kamu untuk bertobat. Minta ampun dan jadi orang yang menyerahkan diri pada pengatur kehendak-Nya. Mencoba mencumbu nasib dan berbahagia dengan manis dan getir cobaan hidup. Bertobat. Berhenti mimpi dan kembali jadi abdi -- abid. OK? Maafkan kalau saya ini nyinyir, Dinah. Terima Kasih atas kesudiannya mau membaca surat yang curat marut ini. Wasalamu'alaikum wr.wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar