Sabtu, 28 Januari 2012

Om Budi Cerpen: Lumaksono


Seputar Indonesia
Minggu, 24 Juni 2007

Om Budi
Cerpen: Lumaksono

Lelaki itu bernama Budi, aku biasa memanggilnya Om Budi.Perawakannya pendek dan agak kurus, tetapi memiliki otot-otot kuat di bawah kulitsawo matangnya. Sorot matanya memancarkan semangat kerja keras.

Dan memang kenyataannya,aku jarang melihat Om Budi bermalas-malasan atau pun santai berlama-lama. Walaupun aku memanggilnya dengan sebutan Om, tetapi tidak berarti dia adik dari bapak atau ibuku. Bahkan, asal-usulnya yang pasti aku tidak tahu, siapa orang tuanya dan dari mana asalnya.

Aku dulu pernah menanyakannya, tetapi ia tak mau menjawab, bahkan air mukanya seketika menjadi keruh. Aku tak tega dan sejak saat itu aku tak pernah tanya-tanya lagi tentang hal itu. Aku hanya tahu kalau Om Budi dibawa ayah dari Pasar Langon sepuluh tahun yang lalu. Saat itu aku baru kelas satu SD. Aku tak tahu kenapa aku langsung akrab dengannya.

Mungkin karena aku tidak mempunyai teman bermain di rumah, atau mungkin karena Om Budi yang pintar mengambil hatiku dan sayang kepada anak kecil.Yang pasti, sejak saat itu aku lengket dengannya. Om Budi menempati kamar di samping rumah agak ke belakang bekas gudang yang tak lagi dipakai.Dia sangat berterima kasih kepada keluargaku, terutama kepada ayahku karena memberikan tempat berlindung. Sebelumnya ia tidur di los pasar.

Siang hari pasar itu jadi tempat mencari uang sebagai buruh angkut,malamnya ia gunakan sebagai tempat tidur. Sejak Om Budi tinggal bersama kami,ia tak lagi kerja di pasar,tapi kerja di rumah membantu ayah membuat kacang klitik. Usaha kecil-kecilan yang ditekuni ayah sejak lama ini mampu menghidupi kami sekeluarga. Ayah memang ulet, sehingga kini ia mempunyai lima orang karyawan,termasuk Om Budi. Dan rupanya, kehadiran Om Budi tidak sia-sia.Ia pekerja keras yang cepat belajar.

Kalau semula ia hanya bertugas mengangkut kacang hijau dari pasar ke rumah, kemudian membersihkannya, kini ia sudah mahir mengupas, menggoreng bahkan membumbuinya.Karena itu tak heran jika ayah kemudian mempercayakan proses pengolahan kacang klitik ini kepada Om Budi.Pemuda yang tak kenal lelah bekerja sepanjang hari.

Di sela-sela kerja kerasnya, aku ingat kebiasaan Om Budi saat istirahat makan siang, ia pasti akan berbaring di bangku panjang di bawah pohon jambu yang rindang. Aku sering menemaninya dudukduduk di situ, mendengarkan ceritanya sambil menikmati tiupan angin. Di saat seperti itulah, aku sering bermanjamanja kepada Om Budi. Aku tiduran di sampingnya, sesekali ia membelai kepalaku.Kadang Om Budi melucu,dan ia selalu sanggup membuatku tertawa. * * *

Suatu hari sepulang sekolah, aku tak mendapatkan Om Budi di tempat biasanya. Ternyata ia sedang berada di warung menikmati es campur. Hari-hari berikutnya, ia sering sekali berada di warung itu seakan telah melupakan bangku panjang dan belaian angin di bawah pohon jambu. Beberapa hari kemudian, barulah aku tahu mengapa Om Budi melupakan bangku panjangnya.

Ia menyukai Narti, gadis penjaga warung yang akhirnya ia nikahi setelah mendapat restu ayah. Setelah melampaui upacara pernikahan yang sederhana, mereka tetap tinggal di rumah kami, menempati kamar Om Budi. Kami semua memang telah menganggap Om Budi sebagai keluarga sendiri.Di samping ia memang sebatang kara,kami juga menyukai sifat Om Budi yang pandai membawa diri.

Kulihat mereka sangat bahagia.Wajah Om Budi tampak selalu cerah sehingga lebih bergairah dalam bekerja. Sedangkan Narti begitu sigap melayani Om Budi, suaminya, walaupun masih tetap menjadi penjaga warung. Namun, kebahagiaan mereka sepertinya tak bertahan lama.Tak sempat menikmati bulan madu karena mereka memaksakan terus bekerja. Tak sempat menimang buah cinta mereka karena benih yang mereka tanam tak juga tumbuh.

Tepat setahun mereka bercerai! Kami semua sangat menyayangkan hal ini.Tetapi kami tak bisa berbuat banyak sebab ini adalah putusan Om Budi.Kata ayah, biarlah Om Budi menentukan jalan hidupnya sendiri. Aku tak tahu pasti sebab perceraian mereka, semuanya terasa tiba-tiba sama seperti pernikahan mereka yang juga tiba-tiba.Tetapi kata ayah dan beberapa karyawan teman Om Budi, mungkin Narti diceraikan karena perilaku kehidupannya tak berubah walaupun statusnya telah berubah.

Ia masih saja sering melayani keusilan tamu-tamu pelanggannya. Mungkin Om Budi tak mau menerima hal ini. Namun, Narti berdalih semua dilakukan hanya untuk menarik pembeli. ”Aku sudah tak tahan mendengar igauannya setiap malam!” begitu Oo Budi akhirnya mau bercerita kepadaku, ”Tapi tolong jangan kau katakan rahasia ini kepada siapa pun, termasuk ayahmu!”. ”Memangnya, apa yang diigaukan Mbak Narti, sampai-sampai Om Budi harus menceraikannya?”

”Kata-katanya membuka luka lama. Ah, sebaiknya kau nggak perlu tahu!” ia tak ingin berbagi cerita rupanya. Aku tidak memaksanya. Om Budi memang termasuk pendiam, jarang sekali bercerita, apalagi menyangkut masalah kehidupan pribadinya.Aku hanya menerka, kalau yang diigaukan adalah kejadian siang hari di warung Mbak Narti.Yang menurut cerita orang, apa yang dilakukan Mbak Narti dengan beberapa pelanggannya memang kurang senonoh.Ah,kasihan kau Om Budi!

Sekarang Om Budi makin gila kerja. Seharian ia sibuk dengan pekerjaannya; melupakan istirahat dan melupakan orang-orang di sekitarnya. Mungkin untuk menghilangkan kesedihan hatinya dan melupakan kegagalan perkawinannya. Ia terlihat makin pendiam dan wajahnya terlihat murung, kulit mukanya memucat. Om Budi terkena sakit lever. Ayah menghendaki Om Budi dirawat di rumah sakit,tetapi Om Budi bersikeras untuk tetap di rumah, hanya berobat jalan.

Bahkan ia tetap memaksakan bekerja, walaupun dengan porsi ringan. Lengkaplah deritanya. Hingga senyum tak pernah singgah di bibirnya. Satusatunya hal yang membuatnya ceria adalah saat menonton film silat kegemarannya. Dan setiap malam,dari kamarnya akan terdengar teriakan-teriakan yang riuh, seakan-akan mewakili keriuhan hatinya. Untuk terus membuatnya ceria, setiap Sabtu sore, dengan sepeda motor, aku antarkan Om Budi ke tempat penyewaan VCD.

Kadang aku ajak ia putarputar kota, duduk-duduk di alun-alun atau menikmati matahari tenggelam di pantai. Namun, keramaian kota di sore hari dan keindahan semburat merah matahari di ujung laut tak mampu membuat Om Budi ceria. Ia tetap tenggelam dengan perasaannya. Walaupun demikian, sedikit demi sedikit aku mulai bisa menyelami isi hati Om Budi. Kadang ia pun mulai berani untuk mengungkapkan perasaannya, pikirannya dan membuka sedikit rahasia hatinya yang sebelumnya tertutup rapat.

Ia mulai mengungkapkan sendiri bagaimana perihnya hidup ditinggalkan kedua orangtuanya dalam waktu berdekatan. Saat berumur sepuluh tahun, ayahnya meninggalkan ia dan ibunya karena tersuruk dalam pelukan wanita lain. ”Kata ibuku, sebenarnya bapak sudah punya istri waktu menikahi ibu.” begitu Om Budi mengawali kisahnya. Ia menggigit bibirnya, sambil mengatur nafas memberi ruang paru-parunya, kemudian mulai melanjutkan kisahnya.

”Sebagai sopir truk, bapakku selalu mampir untuk makan di warung ibu, hingga akhirnya ibu menyerah untuk dinikahinya walaupun tahu kalau bapak sudah beristri. Hingga setahun kemudian lahirlah aku.” ”Sebenarnya kehidupan kami normal saja. Sampai pada suatu hari Bapak dan Ibu bertengkar karena Bapak jarang pulang hingga berminggu-minggu.

Padahal, biasanya tiga hari sekali Bapak pulang. Ibu mengira Bapak kembali ke istri lamanya, tetapi Bapak berterus terang bahwa ia sudah mempunyai istri baru lagi. Dan hari itu menjadi hari terakhir aku melihat wajah bapakku.” Om Budi menghirup udara pantai dalamdalam, sementara matanya menikmati merahnya matahari sore yang segera tertelan air laut. ”Apa yang terjadi setelah itu?” ”Ibu menyesali diri, mengapa ia dulu tega merebut suami orang. Hingga ia merasa bahwa kepergian Bapak menikahi perempuan lain sebagai hukum karma yang harus diterimanya. Akhirnya Ibu sakit-sakitan dan meninggal dunia.” tutur Om Budi.

Wajahnya seperti pucuk gunung yang selalu diselimuti kabut, walaupun sinar matahari sering melecut, tetapi tak mampu mengenyahkan kabut itu selamanya. Sejak saat itu dimulailah petualangan Om Budi menyambung hidup. Ia isi perutnya dengan bekerja kasar sebagai buruh angkut di pasar. Ia selalu berpindah dari satu pasar ke pasar yang lain. Dari satu kota ke kota yang lain, tentunya sambil berharap bisa menemukan ayahnya yang hilang. Sampai akhirnya ia terdampar di Pasar Langon dan diajak ayah ke rumah. * * *

Sepulang sekolah, aku mencari Om Budi di bangku panjang di bawah pohon jambu. Kulihat ia terbaring dengan setelan rapi, celana biru dan baju putih. Rambutnya tersisir rapi. Penampilan yang benar-benar baru.Kudekati ia, kulihat matanya terpejam, wajahnya memancarkan senyum. Sangat damai.Tetapi tubuhnya membeku, kuguncang diam saja. Kupegang pergelangan tangan, tak ada denyut! Aku langsung menghambur ke rumah. Kuberi tahu ayah. Menjelang pemakaman, kulihat Narti ikut berduka.

Kuperhatikan ternyata mata Om Budi dan Narti sangat mirip. Mata yang diturunkan oleh benih yang sama. Narti, tahukah kau bahwa igauanmu menyebut nama ayah yang telah meninggalkanmu, membuat Om Budi terpaksa menceraikanmu? Tahukah kau bahwa perkawinan denganmu membuat ia merasa sangat berdosa? Bahwa igauanmu menjadi peneguh kalau kau adalah adiknya?

Ah, semua telah menjadi masa lalu, masa lalu yang telah membungkus penderitaan Om Budi. Sekuntum bunga kamboja tertiup angin menerpa wajahku. Kuambil dan kuletakkan di atas pusara Om Budi, ”Semoga di sana kau akan menemui kebahagiaan.” ***

Tegal, Juni 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar