Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2012

YANG PALING PENTING Cerpen: Lan Fang


Pikiran Rakyat
Sabtu, 17 Mei 2008

YANG PALING PENTING
Cerpen: Lan Fang

Di rumah. Hujan. Di teras. Duduk. Air jatuh satu-satu dari bibir genting. Menciprati lantai. Menggenangi rumput. Susul menyusul. Menjadi bunyi yang paling sepi.
Kamu suka musik klasik atau musik jazz?" tanyamu, seakan-akan itu adalah pertanyaan penting. Padahal, itu tidak penting. Karena aku punya pertanyaan lain yang lebih penting untukmu. "Kamu suka hujan waktu pagi hari atau sore hari?" Ini pertanyaan penting untukku. Tetapi aku tahu bahwa itu pertanyaan yang tidak penting menurutmu.
Karena kira-kira aku sudah tahu apa jawabanmu. "Hujan bikin becek, banjir, dan macet."
Tetapi apakah kau tahu kalau serakan hujan tampak berkilau di ujung lancipnya rerumputan? Aku ragu, kau tahu itu. Aku juga tidak merasa yakin kalau kau pernah mencium wangi cemara yang mengambang di udara sehabis dibasahi hujan. Jadi akulah yang menambang semerbak itu. Harum sunyi paling abadi. Ada di hati manusia yang sendiri.
Tidak ada kamu. Tidak tahu kamu sedang apa.
Mungkin benar bahwa kamu sedang berlatih memainkan musik klasik atau musik jazz. Tetapi aku tidak tahu bagaimana pastinya. Kemudian kamu berkata padaku "kamu memang tidak tahu kalau satu oktaf sebetulnya ada dua belas nada. Terdiri dari tujuh bilah putih. Dan lima bilah hitam. Ini penting! Bukan cuma delapan nada yang seperti kamu katakan. Tidak cuma do re mi fa sol la si do. Kamu tidak tahu."
Ya, aku memang tidak tahu. Seperti aku tidak tahu kenapa pikiranku gentayangan mencarimu. Padahal, aku tahu ada suara langit yang resah. Ada pesawat terbang menerjang hujan. Juga ada burung kecil yang nekat menerabas hujan. Aku tahu pesawat terbang dan burung kecil itu sedang saling bersaing. Pesawat terbang harus mendarat di landasannya. Burung kecil harus mencapai gerombolan cemara. Aku tahu keduanya sedang balapan menghindar dari basah. Tetapi aku tidak tahu yang mana dari mereka yang akan berhasil lebih dahulu. Seperti aku tidak tahu kamu sedang di mana.
Mungkin kamu sedang terjebak macet karena banjir. Maka kamu pasti sedang mengutuk hujan yang tidak berhenti sejak siang tadi. Karena hujan pasti membuat semua rencanamu tertunda. Sudah pasti semua rencana yang penting, menurutmu. Termasuk acaramu, latihan piano. Itu salah satu hal yang penting buatmu. Tetapi itu bukan acara penting untukku. Bagiku yang kulakukan sekarang juga penting. Duduk-duduk menonton hujan. Bukankah seharusnya kulakukan bersamamu? Tetapi kamu menganggapnya tidak penting.
"Ayo, cepat, habiskan baksomu. Sebentar lagi hujan. Nanti kamu kehujanan," katamu. Lagi-lagi aku tidak tahu, yang mana yang penting untukmu. Bakso, hujan, atau aku? Karena yang penting bagiku adalah waktu bersamamu. Tidak ada bakso, tidak mengapa. Kehujanan pun tak apa. Tetapi ada kamu. Ada kamu yang mendengarkan ceritaku tentang bakso. Tentang hujan. Tentang kamu.
Jadi ketika kau melempar aku begitu saja di halaman sebuah toko buku, aku tidak tahu kau kemudian menjadi apa. Apakah kamu menjadi pesawat terbang? Ataukah menjadi burung kecil? Apakah kamu sedang menuju landasan? Ataukah kamu justru sedang tergesa mencari cemara? Yang kelihatannya penting, walaupun aku tidak tahu apakah itu benar-benar penting adalah kau sedang terburu-buru. Mungkin sedang memburu. Atau sedang diburu.
Ah, itu sudah tidak penting lagi bagiku. Karena sudah hujan. Sudah angin. Sudah dingin. Sudah basah.
Masih di rumah. Masih hujan. Masih di teras. Masih duduk. Dan masih saja air jatuh satu-satu dari bibir genting. Juga masih menciprati lantai. Sudah pasti masih menggenangi rumput. Tentu masih susul-menyusul. Benar-benar masih menjadi bunyi yang paling sepi.
"Nanti aku ke rumahmu. Agak malam. Karena sekarang masih hujan. Masih banjir. Masih macet," katamu.
Kali ini kulakukan sesuatu yang penting menurutku. Kubuka pagar lebar-lebar. Agar nanti mobilmu bisa langsung masuk ke car port. Sehingga ketika kau turun dari mobil, kau tidak kehujanan. Tidak kena angin. Tidak dingin. Tidak basah.
Tetapi yang kulakukan ternyata tidak penting untukmu. Kau tetap memarkir mobilmu di jalanan. Di sisi luar pagar. Kamu turun, berlari kecil menembus rintik. Kamu kehujanan. Kamu kena angin. Kamu kedinginan. Kamu basah.
Sekian banyak kita bersisipan di antara yang penting dan tidak penting. Apakah sejenak ada suara hujan menyelinap di antara nada-nada musik klasik dan jazz yang kau mainkan? Sehingga aku tidak tahu, mana yang sungguhan penting dan mana yang tidak penting. Aku juga sudah tidak bisa membedakan irama hujan atau denting piano.
Akhirnya, sampai juga kita kepada satu kata sepakat. Secangkir coklat panas. Kau menyeruputnya. Dan aku bahagia melihat wajahmu mulai memerah. Tidak pias. Tidak pucat. Sudah hangat.
"Kamu suka musik klasik atau musik jazz?" kamu masih saja mengulang pertanyaan yang kamu anggap penting itu.
"Kamu suka hujan waktu pagi hari atau sore hari?" akhirnya kutanyakan juga pertanyaan yang kuanggap penting ini.
"Aku mau bikin lagu untukmu. Lagu tentang hujan," katamu tetapi bukan menjawab pertanyaanku.
"Lagu hujan adalah lagu yang paling aku suka," kurasa kata-kataku juga tidak menjawab pertanyaanmu.
Kemudian seperti biasa kamu berlalu. Tetap terburu-buru. Aku tidak tahu apakah kamu sedang memburu atau sedang diburu hujan. Itu sudah tidak penting lagi.
Tahukah kamu kalau aku ingin menyampaikan ada yang lebih penting?
Bila kamu memeluk hujan, itu aku. Bila kamu menyentuh dingin, itu aku. Bila kamu mencium angin, itu aku. Maka kamu adalah tanah yang begitu tabah menadah basah.
Kurasa ini paling penting!***
Surabaya, di ujung tahun 2007

Yang Liu van Keukenhof Cerpen: Veven Sp Wardhana


Media Indonesia
Minggu, 17 Februari 2002

Yang Liu van Keukenhof
Cerpen: Veven Sp Wardhana

ES di kanal mendadak retak. Sebelum akhirnya es itu meleleh cair, bunyinya gemeretak. Waterhoen1 yang di kolong-kolong jembatan menghindari angin dingin atau satu dua yang bersijingkat mengais-ngais remah-remah di atas air sungai yang membeku itu terkagetkan; serta-merta unggas itu bertemperasan terbang seraya berteriak-teriak serak. Para pejalan kaki yang bergegas di sepanjang pinggiran kanal, juga beberapa pengunjung kafe yang memilih duduk di ruang dalam, mendengar pula suara gemeretak yang mirip-mirip suara kayu yang terbakar api.Hari masih pagi.Mereka, para pengunjung kafe, para pejalan kaki -- juga waterhoen -- tak pernah menyangka bahwa es kanal itu bakal menjadi cair, mengingat musim lente2 belum saatnya tiba. Sekarang, masih Januari. Maart roert zijn staart3 -- bulan yang tak teramalkan cuacanya -- masihlah jauh. Suhu tetap tercatat pada angka empat derajat Celsius minus.Yang meleleh bukan hanya es kanal di Boommarkt. Kanal-kanal sepanjang Aalmarkt, Kaasmarkt, Westhavenstraat, juga Kort Galgewater, Zijlsingel, Wittesingel, Zoeterwoudse Singel, lalu Rapenburg, di bawah jembatan Schuttersveld Molenwerf, bahkan seluruh kanal di Leiden, semuanya mencair; dan waterhoen serabutan mengagetkan para pejalan kaki dan pengunjung kafe yang menghangatkan badan mereka dengan sesloki dua sloki minuman beralkohol.Udara tetap saja menggigilkan sebagaimana musim dingin. Langit juga tak menyemburkan lembayung jingga sebagai penanda musim semi telah datang.Awalnya, para warga hanya mengernyitkan dahi atas kejadian salah musim itu. Tapi, karena esok paginya dan esok lusanya -- pada jam yang senantiasa sama -- kejadian itu kembali terulang, masyarakat menjadi geger."Jangan-jangan armagedon," ucap seseorang dalam hati, yang ternyata juga diikuti oleh seseorang demi seseorang lainnya; ada yang dalam hati, ada yang dijadikan bahan diskusi."Ada lapisan ozon yang tersudet, mungkin," ucap yang lain mencoba menerka.Pada hari keempat, malam hari, seluruh kafe dan resto di segenap Leiden disesaki warga -- bukan untuk semata bersantap, tapi lebih untuk membahas peristiwa salah mangsa itu. Dari laporan beberapa warga, mereka menyimpulkan: es yang pertama kali membelah terpusat di kanal Uiterste Gracht. Beberapa menit, puluhan menit kemudian retakan itu merambat ke kanal-kanal lain hingga beberapa jam setelahnya. Dari pertemuan malam itu, para warga bersepakat menunjuk beberapa wakilnya untuk mengamati proses meretaknya es kanal di Uiterste Gracht itu.Pada hari kelima, esok pagi, mereka memang menyaksikan titik awal merekahnya es kanal itu. Tapi mereka tak pernah bisa memastikan penyebab mencairnya air kanal yang membeku itu. Mereka hanya bisa melaporkan: titik pusat mencairnya air kanal itu persis berada di depan sebuah hotel kecil di pojok Jalan Uiterste Gracht. Kata mereka, di antara jendela-jendela kamar hotel bertingkat empat itu, hanya ada satu jendela, di tingkat dua, yang kacanya tidak diselaputi embun."Penghuni kamar di situ sedang bercinta," simpul mereka."Gelora asmara mereka menguarkan hawa panas yang bisa melelehkan es di kanal," simpul yang lain.Sebatas itu. Mereka tak hendak menyelidiki isi penghuni kamar di lantai dua yang jendelanya menghadap kanal yang membelah jalan itu. Mereka hanya menangkap ada pendaran cahaya lembut dari dalam bilik kamar yang menerobos keluar kaca jendela.Memang, dalam bilik kamar di lantai dua yang jendelanya menghadap kanal yang membelah jalan itu ada sepasang kekasih yang baru berjumpa lagi seminggu lampau seusai sangat lama berpisah. Geletar asmara yang sama-sama mereka gelorakan di atas ranjang yang sudah lama tersimpan dan terpendam itu menghasilkan hawa didih yang menghangatkan udara sekeliling.Sebentar lagi, usai berendam bersama di bathtub di bawah shower, usai sarapan, mereka akan sama-sama berangkulan menyusuri jalanan ke arah Haarlemerstraat, menuju sebuah toko berlian. Yang perempuan membeli sepasang cincin untuk pertunangannya dua pekan mendatang, yang lelaki membelikan sebuah cincin untuk istrinya yang tinggal jauh di seberang lautan.Aku sangat paham perihal mereka berdua, karena salah satu di antara mereka adalah diriku.***PEREMPUAN tercantik di dunia adalah yang dalam tubuhnya teraliri darah Tionghoa. Lelaki itu sangat yakin atas rumusannya sendiri."Perempuan yang dalam dirinya dialiri darah Cina, ibarat pohon yang liu," katanya suatu kali pada beberapa sahabatnya dalam beberapa kesempatan yang berlain-lainan. Juga terutama dalam hatinya."Tumbuhan yang liu itu tinggi ramping, seolah rapuh dan tampak gampang tumbang jika angin badai menerjang," sambungnya."Begitu badai reda, banyak pohon dan tumbuhan memang bertumbangan; hanya yang liu yang bisa kembali tegak menjulang setelah angin semilir bertiup bersamaan."Perjalanan hidup lelaki itulah yang menggariskan perumusan pembandingan yang liu dengan perempuan Tionghoa. Sepanjang riwayatnya, perempuan yang hendak bertunangan dan meresmikan perkawinannya pada Juli mendatang itu -- dalam hidup lelaki itu -- bukanlah perempuan pertama yang dalam tubuhnya teraliri darah Cina. Ada beberapa perempuan sebelumnya yang menjadi kekasihnya, semuanya tercampuri darah dan getah yang liu. Ada yang blasteran Malang-Cina Medan, ada Manado-Tionghoa, ada pula Sunda-Bali-Hong Kong.Kekasih lamanya yang bersamanya membeli cincin pertunangan -- serta cincin oleh-oleh untuk istri di seberang lautan -- juga campur aduk darah yang memendarkan segenap pesona: Spanyol-Belanda-Yahudi-Cina. Tak terinci takaran masing-masingnya.Istri yang memberinya lima anak yang semuanya cantik -- yang kini jauh di seberang samudra -- di matanya dan mata banyak orang adalah juga perempuan yang penuh pesona, sekalipun tiada sama sekali terbasahi darah Sungai Huang Ho. Mungkin karena tiadanya campuran Cina dalam ibu anak-anaknya itulah lelaki itu tetap saja senantiasa menggelepar setiap kali ketemu dan berkenalan dengan perempuan yang berselaput tumbuhan yang liu.Kekasih lamanya yang hendak bertunangan dan kawin itu sangat tahu perilaku lelaki itu. Itu pula sebabnya, kekasih lamanya yang kemudian memperkenalkan seorang perempuan berdarah Cina-Italia-Belgia-Polandia-Maluku itu sangat menyadari perilaku lelaki itu sebagai keniscayaan yang bakal mengikuti."Kau telah menemukan seorang pengganti, meine liebe?" goda kekasih lama itu kepada lelaki itu."Sialan!" umpat lelaki itu dalam hati karena isi hatinya terbaca.Sekalipun banyak darah Eropa ditambah Maluku, perempuan yang baru dikenalnya itu lebih terasa tajam pahatan wajah Tionghoanya.Dialah yang liu yang sesungguhnya, tulis lelaki itu dalam batin."Aku panggil saja kamu Yang Liu, ya," kata lelaki itu."Karena kamulah yang liu yang sejati," sambung lelaki itu tak memberi kesempatan pada perempuan itu untuk membiarkan dirinya disungkup rasa heran."Di antara pesona beragam bunga di taman bunga di Keukenhof, ada sepokok yang liu dalam batin dan hatiku. Kamu!"Lelaki itu tak hendak berhenti mengumbar barisan serdadu kata-kata penuh rayu. Enam bulan kemudian, bersamaan hari perkawinan kekasihnya, lelaki itu sekali lagi mengarungi samudra, menaklukkan gunung dan gelombang, menyibakkan awan dan angin taufan, meninggalkan istri dan anak-anaknya tetap di seberang lautan. Menghadiri upacara pernikahan kekasih lamanya di 'Het Koetshuis' di Balai Kota Leiden hanyalah alasan. Penyebab terutama adalah menemui Yang Liu, kekasih terbaru. Kisah eksodus keluarga Yang Liu ke Eropa akibat peristiwa berdarah tahun 1965/1966 tak begitu penting bagi lelaki itu; apalagi sepengetahuannya, yang tak lagi bisa kembali ke Tanah Air karena peristiwa berdarah itu lebih banyak terdampar di Eropa Timur, dan mereka tidak berdarah Tionghoa.Dalam perhelatan perkawinan, tampak datang Carmen Abels, Doris Jedamski, Els Bogaerts, Jennifer Lindsay, Katinka van Heeren, Klarijn Loven, Krishna Sen, dan Patricia Spyer. Semuanya bukan saja menguarkan aroma wangi, melainkan juga kecantikan sejati. Namun, bagi lelaki itu, mereka adalah bunga tulip, daffodil, atau hyacinth, yang hanya tumbuh dan mekar dalam dua bulan, persis macam bunga-bunga di Keukenhof4. Yang Liu, justru ketika diterjang cuaca yang susah diduga, atau saat de R in de maand,5 tetap saja tegak menjulang semampai.Perhelatan perkawinan belum usai, Yang Liu tak ditemukan di ruangan. Dia telah digelandang lelaki itu menuju sebuah kamar sebuah hotel di pojok Jalan Uiterste Gracht. Tak ada yang tahu itu, kecuali aku -- karena salah satu di antara mereka adalah diriku.***AIR kanal mendadak membeku. Matahari memang tak tampak. Tapi langit masih membuncahkan sisa-sisa cahayanya di langit Leiden. Waterhoen mendadak berteriak dan beterbangan menghindarkan kaki-kakinya dari jepitan air kanal yang mendadak menjadi es. Para pejalan kaki di kanan-kiri kanal dan para pengunjung kafe yang lebih memilih duduk-duduk di teras terbuka baru menyadari kalau air kanal tak lagi berkecipak ketika waterhoen terbang bertemperasan.Sepanjang kanal di Leiden membeku.Cuaca menunjuk angka 20 derajat Celsius."Jangan-jangan holocaust," bisik seseorang."Musim herfst6 baru dua bulan kemudian. Winter masih setengah tahun lagi," ucap yang lain mempertegas.Warga memang geger. Tapi mereka tak pernah tahu letak lokasi kanal yang pertama kali airnya membeku. Peristiwa itu hanya sekali terjadi, sehingga tak ada yang bisa melacak sumber hawa dingin yang menguar menembus jendela kaca sebuah hotel lalu membekukan air yang tadinya beriak mengalir.Tak ada yang sempat melihat sebuah kaca jendela sebuah hotel yang berembun, sementara seluruh kaca jendela hotel di seluruh Leiden tiada yang diselimuti embun.Dalam bilik di balik jendela kaca berembun itu ada seorang lelaki dan seorang perempuan yang sama-sama termangu menganalisis kejadian yang baru mereka jalani. Lelaki dan perempuan itu buru-buru meninggalkan perhelatan perkawinan untuk sama-sama menyongsong gelora asmara yang baru mereka temukan.Dalam udara zomer,7 lelaki dan perempuan itu tak membutuhkan pemanas ruangan. Dalam bara asmara, lelaki dan perempuan itu tak membutuhkan pakaian dan selimut di atas ranjang. Selama ratusan menit mereka menguras keringat, untuk kemudian sama-sama terkapar sehabis sama-sama menggeliat. Sebelumnya, perempuan itu mendorong tubuh lelaki yang menggumuli dan diagumuli."Maaf," desis perempuan yang rebah di samping lelaki itu.Lelaki itu mendadak merasa menggigil. Dia membisikkan sesuatu tapi dia sendiri tak bisa mendengarnya.Perempuan itu menerawang langit-langit ruangan. Dia mendadak juga merasa menggigil.Keringat yang melelehi tubuh mereka telah membeku menjadi es batu. Gigil mereka menerobos kaca jendela sebuah kamar tingkat dua sebuah hotel yang kemudian merambatkan udara beku pada kanal di Uiterste Gracht.Tak jelas, apakah ada rasa kecewa dalam benak lelaki itu.Tak jelas, apakah begitu perlu disesali keberadaan dan identitas Yang Liu sebagai perempuan lesbian.Yang jelas, salah satu di antara mereka adalah diriku. ***Oudt Leyden, 1 April 2001;Kebon Jeruk, 1 November 2001Catatan Kaki:1 Waterhoen: Gallinula Chloropus.2 lente (bahasa Belanda): musim semi.3 Maart roert zijn staart (ungkapan Belanda): Maret mengocok dengan ekornya.4 Taman Keukenhof di Lisse biasanya dibuka pada 22 Maret sampai 24 Mei, dari pukul 8.00 sampai 19.30.5 de R in de maand (ungkapan Belanda): huruf R pada nama bulan (dari September sampai April). R merupakan singkatan untuk regen (Belanda: hujan) atau dalam bahasa Inggris: rain.6 herfst (Belanda): musim gugur.7 zomer (Belanda): musim panas.

Yang Berdiri di Muka Cermin Cerpen: Syafiril Erman


Pikiran Rakyat
Sabtu, 08 September 2007

Yang Berdiri di Muka Cermin
Cerpen: Syafiril Erman

SEORANG lelaki berdiri di muka cermin retak di bawah sebuah bohlam kecil 10 watt yang tergantung di belakangnya. Bulan tampak menyembul separuh di sudut atas jendela yang terbuka selebar-lebarnya; sebagian cahayanya masuk ke dalam. Gubuk tempat tinggal lelaki tersebut tampak begitu murung dan suram, sepadan dengan kesuraman yang tengah melanda hati dan jiwanya.

Ia seorang petani miskin. Lahannya yang terletak tepat di samping gubuknya itu adalah sepetak kecil seluas 25 bata yang hanya mampu menampung 125 ikat benih padi. Apabila alam tengah berbaik hati, ia akan dapat memperoleh 5 karung gabah yang montok saat panen. Namun, musim panen kali ini terlalu kejam. Tak ia sisakan panen kali ini selain 3 karung gabah kurus kering yang teronggok tak jauh dari tempatnya berdiri tersebut.

Istrinya 7 bulan lalu telah berangkat ke Arab Saudi sebagai TKW. Mereka tak beranak, itulah yang membuat mereka tak terlalu berat hati berpisah, sementara untuk mencoba memperbaiki nasib. Nanti, apabila sang istri sudah mulai mapan di sana, ia akan segera dikabari; siapa tahu ia juga dapat menyusulnya ke sana mengikuti jejaknya sebagai TKI, begitu rencana mereka berdua 7 bulan lalu.

Selesai mengikuti serangkaian pelatihan singkat yang diselenggarakan oleh agen PJTKI tempat sang istri mendaftarkan diri, ketika tiba saat pemberangkatan, ia menyempatkan diri untuk turut mengantarkan sang istri hingga menaiki bus yang membawanya ke bandara.

Hari-hari pun berlalu. Bulan pertama sang istri mengirim surat, mengabarkan bahwa kondisi dia di tanah orang relatif baik, artinya semua berjalan dengan lancar. Keluhan yang muncul hanya flu. Bisa dipahami, itu adalah karena perbedaan suhu dan cuaca, toh mulai bulan kedua keluhan tersebut tak muncul lagi. Di bulan kedua itu sang istri juga mengirimkan paket sajadah, kopiah haji, dan selembar foto dirinya di depan Masjid Harram. "Sabar sebentar ya kang mas, saya di sini sedang mencoba mencari celah untuk membawamu kemari", begitu salah satu penggalan surat istrinya tersebut. Hati lelaki itu pun berbunga-bunga.

Lima bulan sudah. Kini ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya lagi, setelah hartanya satu persatu telah ia pindah alamatkan ke pegadaian untuk menyambung hidup. Lima bulan ini ia tak lagi menerima surat dari sang istri. Tak ada kabar sama sekali. Belakangan, ia merasa mendapat firasat buruk setelah malam kemarin ia bermimpi melihat istrinya berpakaian ihram tengah berdiri di depan Kabah. Tersenyum. Wajahnya terlihat sangat bersih dan cantik. Ia merasa bahwa mimpi itu adalah sebuah pertanda. Tadi, bahkan ia sempat berpikir untuk mengirim surat kepada istrinya, mengajaknya untuk kembali saja ke kampung. Ia mulai menyadari bahwa mengurus lahan kecil itu ternyata lebih baik daripada mengejar mimpi di negeri orang. Namun, tentu saja itu tidak bisa dia lakukan. istrinya dulu pernah bilang bahwa ia terikat kontrak selama 2 tahun. Jika ia memutuskan kontrak secara sepihak, ia harus mengganti uang ganti rugi yang jumlahnya sangat besar kepada PJTKI tempat istrinya mendaftarkan diri.

"Kang Welas..., Kang Welas...", teriak seseorang tiba-tiba dari balik pintu. Lelaki itu tersentak.

"Kang Welas..., Buka pintu...!"

"Sopo kuwi?"

"Aku kang, Suminar.... Cepat buka pintu...!" jawab orang dari balik pintu.

"Iyo... sebentar," sahut lelaki itu sambil bergegas menuju pintu.

Seorang hansip berdiri di depan tangga pintu dengan wajah tegang. Belum sempat lelaki itu bertanya, lengannya tiba-tiba digamit. "Sebaiknya Kang Welas ikut saja. Ayo!", kata hansip tersebut. Lelaki itu bahkan tak sempat untuk berpikir saat tiba-tiba saja ia telah berada di halaman rumah Pak Lurah. Ia mulai merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya saat menginjakkan kakinya di teras rumah itu.

"Assalamualaikum...," kata hansip Suminar sambil mengetuk pintu.

"Yo. Pintune ora dikunci", sahut seseorang dari dalam.

Di ruang tamu itu sudah ada empat orang menunggu. Dua orang di antaranya berpakaian seragam polisi lengkap, dan seorang lagi adalah wanita separuh baya yang leher dan pergelangan tangannya dililit rantai emas. Pak Lurah berdiri saat melihat kedatangannya. Sesuatu yang aneh dalam hatinya yang ia tangkap saat di teras tadi kian menggumpal. Lelaki itu diam mematung, memandang kedua lelaki berpakaian seragam polisi tersebut. Aneh, kali ini ia merasa sorot matanya tak bisa fokus.

"Mari, silakan duduk, Pak Welas", kata Pak Lurah. "O iya, sebelumnya kenalkan dulu, beliau-beliau ini adalah petugas dari kepolisian sektor, dan ibu itu adalah perwakilan dari agen PJTKI tempat istri bapak mendaftarkan diri", lanjutnya. Ketiga orang tersebut menganggukkan kepala perlahan. Lelaki itu tak membalas. Kini ia merasa rongga dadanya seperti tak berisi. Hampa. Ia hanya menatap ketiga orang tersebut.

Sejenak suasana terasa lengang. Hening. Semuanya telah duduk di lima kursi yang tersedia di ruang tamu itu.

"Bagaimana dengan hasil panen kemarin pak?", tanya Pak Lurah memecah keheningan. Lelaki itu tak berhasrat untuk menjawab. Menurutnya pertanyaan tersebut adalah basa-basi semata. Pak Lurah tentunya tahu bahwa semua petani di dusunnya tersebut kini mengalami kegagalan panen.

"Bu..., tolong kopinya tambah segelas lagi!", kata Pak Lurah dengan nada agak keras.

"Begini, Pak Welas. Beliau-beliau ini kemari adalah untuk menyampaikan berita penting..", pak Lurah berhenti sejenak. Matanya memandang ketiga tamunya tersebut. "Bagaimana bapak-bapak, ibu, Anda yang akan menyampaikan sendiri, atau...?". Kedua polisi tersebut membuka kedua telapak tangannya. Wanita paruh baya agen PJTKI itu pun turut membuka kedua telapak tangan, bahkan disertai dengan mengangkat bahu. "Silakan, Bapak saja yang menyampaikannya. Bukankah tadi sudah saya sampaikan seluruhnya kepada Bapak?" jawab wanita paruh baya. Pak Lurah mengangguk, lalu menatap dengan hati-hati pada lelaki yang duduk tertunduk itu.

"Anu, Pak Welas, beliau-beliau ini datang kemari membawa berita dari Arab Saudi. Mari, silakan diminum, Pak Welas", kata pak Lurah begitu istrinya selesai meletakkan secangkir kopi di atas meja di hadapannya. Lelaki itu sama sekali tak menunjukkan perubahan raut muka. Perasaan aneh di dalam dadanya itu kian bergumpal. Ia merasa bahwa ketiga orang itu pasti membawa berita buruk perihal istrinya. Tatapan lelaki itu yang kini hampa. Ia sama sekali tak berhasrat untuk menyentuh cangkir kopinya.

"Lima bulan yang lalu, istri Bapak terlibat sebuah pencurian di rumah majikannya, lalu ia dihukum oleh majikannya, kemudian dirawat di rumah-sakit, dan...", begitu berhati-hati Pak Lurah mengucapkan kalimat tersebut. Ia diam sejenak untuk mencoba menangkap ekspresi wajah lelaki itu. Mengherankan. Tak ada sedikit pun perubahan ekspresi; lelaki itu masih dalam diam, mematung, dengan tatap mata hampa yang kali ini lurus ke depan.

"Dan..?" hanya sepotong kata itu yang terlontar dari bibir lelaki itu.

"Dan, minggu lalu beliau didapati telah meninggal dunia di rumah-sakit...", lanjut Pak Lurah sambil menyodorkan selembar amplop besar yang berisi foto-foto.

Lelaki itu mengangkat telapak tangan, mengisyaratkan bahwa ia sama sekali tak berhasrat melihat foto-foto di dalamnya. Keempat orang di ruang itu saling pandang.

Keheningan kembali menyeruak.

"istri Bapak adalah seorang pekerja yang baik. Sebaiknya Bapak mengikhlashkan kepergiannya. Kami sebagai agen pengirimannya mengucapkan rasa bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa istri bapak tersebut. Ini gaji istri bapak selama lima bulan terakhir, kiranya bapak me....", kalimat wanita separuh baya tersebut terpotong ketika lelaki itu tiba-tiba bangkit lalu beranjak meninggalkan pertemuan.

"Pak, Pak, Pak Welas..., hendak kemana? Urusannya belum selesai. Minggu depan jenazah istri bapak akan dikirimkan kemari...", kata Pak Lurah dengan nada kebingungan menyaksikan reaksi lelaki tersebut.

"Uang gaji dan bukti penerimaannya, tolong diteken Pak...", kata wanita paruh baya dari tempat duduknya sambil mengacungkan selembar kertas berikut pena.

Tepat di muka pintu lelaki itu membalikkan badan. Mata yang tadi hampa itu kini menatap tajam seluruh orang yang ada di ruang tersebut.

"Seperti berita-berita di koran itu, kan? istri saya pasti telah dianiaya oleh majikannya. Saya tak mengizinkan jenazah Suratmi dikirimkan kemari. Biarlah ia dimakamkan di sana saja", katanya.

"Lalu?" kata wanita paruh baya masih sambil mengacungkan selembar kertas dan sebatang pena. Lelaki itu tak menjawab, ia menatap tajam berhujam-hujam mata wanita setengah baya pengurus PJTKI itu. Tak ia tengok sedikit pun lembaran kertas yang mencantumkan bilangan yang isinya senilai dengan 5 bulan gaji istrinya sebagai TKW di Arab Saudi.

Sejurus kemudian lelaki itu telah bergerak membelah pekat malam menuju rumah gubuknya.

**

DI hadapan cermin retak, lelaki itu kembali berhadapan dengan bayangan dirinya. Ia melihat wajahnya berkeping-keping di sana. Sempurna sudah musim kemarau kali ini. Lelaki itu telah sampai pada puncak pencapaian keputusasaannya. Pikirannya tak mampu bekerja, hatinya pun tak berasa apa-apa. Nihil. Itulah yang saat ini ada dalam jiwanya. Kakinya pun bahkan tak lagi berpijak di bumi. Bulan telah meninggalkan sudut jendela. Langit hitam terbentang luas di atasnya. Lelaki itu melangkah perlahan. Sesobek koran ia renggut dari atas meja. Dengan sebatang potongan pensil ia mulai membuat tulisan cakar-ayamnya di atas sobekan koran itu.

Untuk Kang Suminar.

Kang, sekarang aku sudah tak punya apa-apa lagi. Keluarga tak punya, istri pun mati di negara orang. Hidupku kok sia-sia begini sih, Kang? Aku merasa percuma menjalani hidup di dunia ini. Sudah, kuikhlaskan gubuk ini buat akang. Akang boleh menempatinya atau hendak akang bakar untuk dijadikan kebun, terserah akang. Aku sudah tidak kuat lagi menanggung beban hidup di dunia ini Kang. Aku akan menyusul Suratmi saja.

Selesai menulis pesan tersebut lelaki itu bangkit perlahan. Di salah satu karung gabah ia tancapkan secarik koran itu, kemudian ia ambil tali bekas pengikat karung goninya lalu ia ikatkan ujung tambang itu di atas kayu blandar atap rumahnya.

Sejurus kemudian lelaki itu telah tegak berdiri di atas kursi. Lehernya berkalung tali tambang. Malam telah benar-benar sempurna. Lelaki itu masih sempat memandang bayangan dirinya yang tercabik-cabik di dalam retak kaca cerminnya.

Esoknya, seluruh kampung di dusun kecil itu gempar. Hansip Suminar yang pertama kali menemukan: Tubuh Welas tergantung di bawah blandar kayu rumah gubuknya. Lidahnya terjulur, bercak sperma menempel di kain sarung yang ia kenakan. Welas bunuh-diri.***

Bandung, Juli 2005

Wajah Cerpen: Sides Sudyarto DS


Republika
Minggu, 01 Juli 2007

Wajah
Cerpen: Sides Sudyarto DS

Durma mempunyai kesadaran yang luar biasa atas kesadarannya sendiri. Ia tahu bagaimana menghadapi orang bodoh, pintar, orang culas, orang jujur, orang miskin atau kaya. Ia bisa jadi orang gila dan gagu, ketika harus naik oplet karena tidak mampu membayar.
Ketika muda ia merantau ke Yogya. Di sana ia membeli buku loakan. Pada halaman awal buku stensilan itu terbaca kalimat: filsafat tidak menanak nasi. Dan kini, dalam hidupnya di perantauan ia mencatat sendiri: ijasah tidak menanak nasi. Ia jadi penarik becak saat baru masuk Jakarta. Posisinya meningkat, saat ia jadi penjual koran.
Lompatan jauh ke depan, yang paling spektakuler, terjadi ketika ia dari tukang koran menjadi wartawan surat kabar paling berpengaruh di Jakarta. Tidak banyak orang tahu proses metamorfosis dahsyat itu. Ia menutup ketat masa lalunya itu. Puncak karirnya, ia menjadi penasihat seorang politikus muda yang sedang naik daun. Ketika kemudian tokoh flamboyan itu menghalalkan semua cara, ia pilih mundur. Antiklimaks terjadi, ia jadi penganggur, hidup lontang-lantung.
Berbeda dengan mereka semua, Durma memilih warna lain. Ia memberikan beban berat kepada mukanya sendiri. Kepada wajahnya. Ia selalu siap menjadikan wajahnya sebagai alat penyamaran, alat berpura-pura, atau sebagai topeng perasaan dan pikirannya. Doktrin hidup pribadinya sekarang ialah: selama aku mampu merendahkan diri, siap dihina orang, aku masih bisa mendapatkan sedikit uang untuk hidup!
Wajahnya selalu menengadah, siap dimaki, dihina, disiksa, dianiaya, ditampar atau bahkan juga diludahi. Karena wajah baginya adalah satu penampang dan simbol kehormatan, maka Durma siap menelan risiko menjadi manusia yang tidak terhormat.
"Mengapa kau memilih bunglon sebagai mahagurumu?" tanya Paron. "Karena saya tidak punya mahaguru dari universitas. Toh ada bedanya. Bunglon berubah warna kulit untuk menyelamatkan dirinya, tanpa sadar. Ketika saya mengubah taktik saya, itu saya lakukan dengan sadar," jawab Durma.
"Apa kau tidak mampu mencari mahaguru yang lebih bermutu?
" ejek Paron.
"Ada, bahkan jauh lebih bermutu."
"Siapa?"
"Kemiskinanku. Penderitaan hidupku adalah guruku yang nomor satu."
"Coba, kasih contoh untukku salah satu bentuk penderitaanmu!"
"Saya pernah disuruh menagih utang oleh seseorang, kepada seseorang. Karena aku menagih di pinggir jalan, orang itu marah dan ia meludahi wajahku."
"Lalu, selanjutnya?"
"Selanjutnya aku menarik garis lurus kesimpulanku. Ternyata dengan bersedia diludahi di wajahku, aku dapat uang. Artinya aku bisa bertahan hidup!"

"Apa tidak ada bisnis lain? Pekerjaan apa yang kau lakukan itu?"
"Aku bisnis muka. Bisnis wajah! Bisnis lain juga banyak kulakukan. Aku mengurus SIM, STNK, BPKB, calo tanah, calo onderdil mobil."
"Dan hasilnya membuat kau bahagia?"
"Walah! Walah! Mas Paron, untuk saya kebahagiaan itu tidak pernah ada!."

Sudah tiga tahun terakhir ini Durma bekerja sebagai sopir pribadi Bu Jonoamijoyo. Ia akrab dipanggil Bu Ami, dikenal sebagai perempuan yang paling galak, kasar, tetapi baik hati. Ia suka memberi uang kepada siapa saja. Tentang Bu Ami orang-orang mengatakan: Ia menghidupi orang dengan uangnya, sekaligus membunuh orang dengan kata-katanya. Semula Durma tidak percaya semua omongan orang itu. Setelah ia bekerja cukup lama barulah ia tahu apa yang sebenarnya.
Sebenarnya, Bu Ami perempuan yang cantik paras muknya, pikir Durma. selalu. Rambutnya yang hanya sebahu panjangnya, bergelombang alami. Memang sudah mulai memutih, tetapi menambah indah parasnya. Wajahnya selalu bersih, tanpa mengenakan bedak. Bibir pun merah asli tanpa gincu. Di zaman anggaran kecantikan mengalahkan anggaran pertahanan, ia sama sekali tidak berdandan.
Sayangnya, badannya terlalu besar karena gemuknya. Hebatnya, meskipun gemuk dengan bokong yang terlalu besar, ia selalu bergerak cekatan dan tidak ada segannya naik turun tangga dalam rumahnya yang berlantai tiga. "Durma, sebulan ini kau bekerja baik sekali. Kau tidak mangkir sehari pun. Kau pantas menerima bonus satu juta rupiah! Ingat, jangan sampai dicuri binimu di rumah. Perempuan kebanyakan hanya bisa mencuri uang suaminya. Rata-rata mereka tidak lebih dari komodo-komodo penghisap darah daging suaminya. Perempuan, juga istrimu, pastilah komodo yang pura-pura setia sebagai modal utamanya," ujar Bu Ami.
Sering kali, Bu Ami dimaki-maki orang di depan rumahnya, karena ia sendiri menghamburkan makian yang luar biasa kotornya. Dua musuh utama Bu Ami adalah pemulung dan peminta sumbangan yang terus tumbuh bagai cendawan di musim hujan.
"Hai maling jahat! Rapikan kembali sampah-sampah itu. Kamu makan dari sampah, tetapi tak tahu aturan. Sampah kau obrak-abrik, berantakan. Baunya ke mana-mana. Jika tidak kau rapikan lagi, makan semua sampah busuk itu biar kenyang perutmu!" maki Bu Ami menghardik pemulung. Suatu hari, datang seorang pemuda gondrong membawa daftar sumbangan. Jumlah sumbangan sudah ditentukan.
"Sumbangan itu suka rela. Jangan maksa begini! Aku tak mau dipaksa. Kalau maksa, namanya rampok! Garong! Kau pikir cari uang mudah?" ujar Bu Ami bergetar. Penarik sumbangan marah luar biasa. Ia menghunus goloknya, lalu mengejar perempuan gembrot yang menghinanya. Durma terpaksa tampil sebagai pahlawan.

Akhir-akhir ini Bu Amijoyo sakita-sakitan. Keluhannya, seringkali, kakinya merasa pegal-pegal dan ngilu, terutama pada bagian-bagian prsendiannya. Dia bilang itu penyakit asam urat. Maka secara periodik ia pun harus ke dokter dan apotek untuk beli obat. Langganannya: Voltaren, silorit. Hingga bosan ia membayar dokter dan membeli obat, tidak juga sembuh. Rasa sakit, nyeri dan ngilu memang lenyap setelah makan obat. Tetapi begitu obat habis, kambuh lagi rasa sakitnya yang sangat menyiksa.
"Durma, sudah seminggu kau tidak bekerja, lantaran aku sakit. Kau makan gaji buta! Sekarang aku sakit, kau tidak peduli. Sekarang kau mau berbuat apa?"
"Apa yang bisa saya lakukan, Ibu?"
"Kau punya otak atau tidak? Mestinya kau berpikir, bagaimana aku cepat sehat. Molor saja kerjamu itu!"
"Saya sudah antar Ibu ke dokter. Saya sudah ke apotek beli obat," jawab Durma.
"E, apa matamu buta? Sudah berapa juta uang dihamburkan untuk beli obat? Dokter mahal, obat mahal. Tidak menyembuhkan! Penipu! Coba cari obat lain, Durma!"
Durma pergi mencari obat tradisional. Di jalan, ia jumpa Mas Paron lagi. "Kau masih bekerja pada Bu Gendut itu?" tanya Mas Paron.
"Masih, Mas. Orangnya baik sekali!"
"Baik sekali katamu? Sopir lain hanya tahan tiga hari! Kau sudah tiga tahun!" "Dia itu orang yang sangat kaya harta, tetapi sangat miskin bahasa. Ia banyak memberi uang kepada orang. Bukan hanya kepada saya saja, Mas!"
"Kau mau ke mana sekarang?"
"Majikan saya sakit asam urat. Sudah lama. Dokter dan obat tidak menyembuhkan, Mas. Kalau kumat, ia nangis jejeritan."
"Dia orang baik, katamu. Harus kita tolong. Nah cari obat tradisional, ini merknya. Adanya di warung jamu Pasar Lama. Harganya hanya seribu perak sebungkus," ujar Mas Paron. Durma pulang dengan sepuluh bungkus jamu.

"Luar biasa. Seperti orang main sulap saja. Sayang langsung sembuh!" ujar Bu Amijoyo kepada Durma. Ia sangat kagum, sebab minum jamu sore, pagi harinya ia langsung bisa jalan normal lagi. Hari itu juga Bu Amijoyo minta diantar ke supermarket, untuk membeli keperluan sehari-hari.
Beberapa waktu kemudian terjadi peristiwa yang paling mengejutkan dalam hidup Durma. Bu Amijoyo menyerahkan surat rumah, surat mobil kepadanya. "Ini mesti saya apakan, Ibu?"
"Pegang saja, simpan. Barang-barang itu semua akan jadi milikmu."
"Saya tidak berhak menerima warisan dari Ibu. Maafkan saya, Ibu!"
"Diam, Durma. Aku tak punya anak, tak ada sanak saudara. Aku akan ke notaris. Itu semua untukmu." ujar Bu Ami. "Tidak lama lagi saya masuk panti jompo. Di sana orang-orang tua yang tidak mau terlantar seperti aku, bakal dirawat dengan baik."

Beberapa bulan kemudian Bu Amijoyo menuju panti jompo, diantarkan Durma dengan mobil mewahnya. Di sana ia menunjukkan nomor kamarnya, tempat untuk menerima jengukan dan sebagainya.
"Saya yakin, Ibu masih punya kerabat dekat," ujar Durma memberanikan diri. "Jangan membuat aku berpikir mundur! Aku hanya ingin hidup bebas. Kebebasan adalah segalanya dalam hidupku!" ujar Bu Ami. Durma terdiam saja.
"Baiklah kalau kau mau pulang. Tengok aku sehari sekali. Jika tidak, seminggu sekali atau sebulan sekali. Jangan lupa, kau akan mengatur pembayaran panti sebulan sekali. Terima kasih, Durma," ujar Bu Ami sambil tegak berdiri.

Durma mohon diri, untuk dengan berat hati meninggalkan majikannya. Bu Amijoyo memeluknya beberapa lama. Setekah renggang rangkulannya, Bu Ami menyeka air matanya. Begitu juga dengan Durma. Ia tak tahan membendung tangisnya yang tanpa suara. Perempuan tambun berwajah cantik dan bersih itu terus menatap langkah-langkah Durma, hingga tak tampak lagi dari pandangannya.***

Sinai Cerpen: Ria Utari


Kompas
Minggu, 17 Juni 2007

Sinai
Cerpen: Ria Utari

Sinai melintas di depanku. Ia terlihat menawan hari ini. Tubuhnya beraroma wangi chamomile dan apricot. Rambutnya dikepang dua. Mantel panjang warna coklat tua membungkus tubuh semampainya dari dinginnya malam. Parasnya yang bulat tampak berias. Mata gemintangnya dibingkai warna ungu pucat. Maskara melentikkan bulu matanya yang panjang. Bibir tipisnya berulas warna shocking pink berkilat tersapu lipgloss. Ia sangat siap untuk tampil di depan umum. Oya, ini Jumat malam. Sudah pasti ia akan pergi ke kelab malam. Menggoyangkan tubuh indahnya di tengah desakan manusia yang berpeluh.

Ia memberiku seulas senyum. Aku begitu terpana melihat garis bibirnya yang menukik ke atas menyerupai bulan sabit. Ingin kuberikan balasan senyum setulus hati, namun ia sudah terburu berlalu. Tak menungguku untuk menanggapi salam senyumnya. Dalam sekejap, Sinai sudah membuka pintu gedung apartemen ini dan menembus angin beku di luar sana.

Dari jauh, kulihat ia berhenti sejenak. Mengeluarkan handphone mungil warna merah darah di dalam genggaman tangannya. Ia tampak mengangguk-angguk sejenak. Kemudian ia memasukkan handphone itu ke dalam tasnya. Lantas segera berjalan cepat setengah menunduk. Sesekali ia tampak menaikkan tudung kepala yang menaungi rambut hitam lurus yang jatuh hingga di atas bahu. Ingin kupeluk dan kubentengi tubuhnya dari tiupan angin. Kubayangkan kepalanya berlindung di dadaku. Oh... betapa indahnya.

Namun Sinai tetap berlalu. Ia berjalan menyusuri 7th Avenue, melintasi 16th Street, 17th Street, kemudian menyeberang menyusuri 19th Street, menuju 6th Avenue. Ia langsung berbelok menuju 20th Street begitu tiba di jalan besar 6th Avenue dan terus melangkah memasuki Avalon, diskotek yang mengambil tempat bekas gereja tua berarsitektur gothic yang terletak tepat di sudut jalan 20th Street dan 6th Avenue.

Tampak antrean panjang di pintu masuk. Ia melewati antrean itu dan langsung mendekati seorang penjaga pintu. Sinai tampak sedikit jinjit dan berbisik di telinga penjaga bersosok gempal itu. Wajah lelaki itu tampak tersenyum. Sinai langsung melintas di depannya dan masuk ke bangunan itu.

Di dalam, dentuman lagu hip hop, latin, dan rap berbaur menjadi satu. Wajah-wajah sarat hasrat hidup meliukkan tubuh mengikuti irama. Sebagian besar berpelukan dan saling mencabik bibir dalam ciuman. Sinai tampak tersenyum. Wajahnya berbinar cerah. Ia tampak tak sabar menunggu giliran penitipan mantel. Barulah aku tahu pakaian yang dikenakannya di balik mantel panjang. Rok pendek warna coklat beludru dan atasan tanpa lengan berkerah shanghai warna lavender. Ia mengenakan sepatu boot yang menutupi betis. Legging hitam tampak membalut kakinya.

Sinai bergegas melintasi lorong yang mengantarkannya menuju ruang balkon. Di bawahnya, ia melihat kerumunan orang-orang yang mengentakkan tubuh seiring dengan detak jantung yang menggema mengikuti suara musik. Kaki jenjang Sinai melangkah menuruni tangga. Dalam beberapa detik, ia sudah membaurkan diri dengan lautan manusia di bawah sana. Aku hanya bisa memandanginya dari balkon. Mengeratkan genggaman tanganku ke pinggiran terali. Dari atas, kulihat Sinai tampak mencium seorang lelaki yang menggamit pinggangnya dan segera menariknya ke dalam pelukannya. Gerahamku mengeras.

DJ memutar lagu My Love dari album terbaru Justin Timberlake. Dentuman beat mengantarkan tubuh Sinai meliuk dalam rengkuhan lelaki itu yang memeluk pinggangnya dari belakang. Tubuh mereka menyatu erat. Mereka bergerak seirama. Kulihat tangan lelaki itu menyusuri perut Sinai dan menyelipkan jemarinya di balik baju lavendernya. Kedua mataku berair melihat Sinai tampak terpejam dan menyunggingkan senyum. Kepalanya mendongak, disandarkan di bahu lelaki itu yang langsung mencium bibir Sinai dari arah belakang. Tubuh mereka terdiam. Yang kini bergerak hanya kedua tangan lelaki itu yang menjelajahi tubuh Sinai.

Tubuhku melorot bersujud di lantai. Kepalaku kusandarkan di jeruji terali. Air di kedua mataku mengalir deras. Membasahi pipi dan memasuki mulutku. Terasa asin. Menyadarkanku kembali untuk membuka mataku yang sedari tadi terpejam. Aku panik saat menyadari Sinai dan lelaki itu tak lagi ada di antara kerumunan orang di bawah sana. Tubuhku bergegas bangkit meski kusadari tak lagi ada tenaga. Namun aku harus mencari Sinai. Menyelamatkannya dari tangan kotor lelaki itu. Kuturuni tangga setengah berlari dan kini kusibak kerumunan orang-orang di lantai dansa yang meloncat-loncat mengangkat tangan mereka seolah ingin menggapai siraman cahaya kerlap-kerlip dari langit di atas sana.

Tak lagi kulihat Sinai di antara mereka. Bergegas kularikan tubuhku memasuki ruangan bar di ujung sana. Kulewati lorong gelap yang dulunya mungkin sebuah koridor menuju tempat perjamuan. Saat itu aku mendengar suara desahan di salah satu sudut yang mengarah menuju bilik kecil bertuliskan restroom. Cahaya remang di dalam ruangan itu tak dapat menyembunyikan sosok tubuh Sinai yang sangat kukenali. Tubuhnya yang kini tampak bergerak dalam desahan panjang yang membuatku mematung. Ia dan lelaki itu telah berdosa.

Aku mengenal Sinai dua tahun silam saat ia memasuki apartemen ini. Tentu saja ia langsung menyita perhatianku. Mungkin karena ia cantik. Tapi banyak penghuni apartemen lainnya yang juga cantik. Bahkan melebihi dirinya. Namun ia berbeda. Sekilas ia terlihat memiliki keraguan akan apa pun yang dilakukannya. Ia sering sekali menggigit bibir bawahnya saat berpikir. Senyum manisnya juga sering diberikannya kepada orang-orang yang kebetulan satu lift dengannya atau berpapasan.

Namun dari semua sikapnya yang menurutku cukup unik bagi orang Manhattan pada umumnya, sisi menarik Sinai adalah namanya. Ia langsung tersenyum melihat ketertegunanku saat ia menyebut namanya.

"Oh, nama itu diambil ayahku dari Injil. Sebuah gunung suci tempat Nabi Musa mendapatkan 10 perintah Allah," ujarnya pelan setengah berbisik. Seolah ia malu menyebutkan sejarah namanya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum menenangkan dirinya. Agaknya ketenanganku mendorongnya untuk bercerita lebih lanjut tentang dirinya. Di pertemuan kami selanjutnya, Sinai mengisahkan betapa ayahnya teramat sangat fanatik untuk menjadikannya suci. Nama telah menjadi kutukan baginya.

Beberapa kali ia memohon kepada ayahnya untuk mengganti namanya. Namun ayahnya tetap bergeming. Ia malah diberi jam malam yang mengharuskannya untuk berdoa dan membaca Injil setiap jam 6 sore. Pergantian waktu siang ke malam menurut ayahnya menandai dimulainya pencobaan bagi hidup manusia untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi kegelapan. Semua itu tak terbantahkan Sinai hingga kematian ayahnya dua tahun silam. Saat itulah Sinai memutuskan pergi ke Manhattan dan memilih malam sebagai hidupnya.

Kini Sinai di depan mataku. Memperlihatkan kegelapan yang menjadi pilihan hidupnya. Melihatnya, aku menjadi teryakinkan akan panggilan hidupku yang sebenarnya. Sesuatu yang kucari selama ini namun tak pernah dapat terdefinisikan hingga aku bertemu Sinai. Gunung suci tempat aku akan menemukan kekudusanku.

Kusiapkan penyambutan yang akan membasuh kesesatannya. Kutaburkan kelopak-kelopak mawar di lantai kamarnya. Kupasang lilin beraroma di setiap sudut ruangan. Dalam gelap, aku menghitung waktu untuk mengantarkannya kepadaku.

Suara kunci diputar. Langkah kaki setengah goyah. Mantel yang tergantung asal di kapstok. Sarung tangan yang terlempar di meja. Tanpa nyala lampu, Sinai mencopot sepatunya. Umpatan kasar menyalak dari bibirnya saat ia menginjakkan kaki telanjang di atas kelopak-kelopak mawar. Ia pasti menginjak duri mawar yang kutebar di antara kelopak. Tubuh berdebam, goyah karena nyeri dan alkohol di kepala.

Kupapah tubuh kurusnya ke sofa. Kujilati telapak kakinya yang berdarah. Kusentuhkan ke pipiku yang dingin. Tubuhnya menggigil. Ketimbang marah, sorot matanya justru terlihat ngeri. Ia terdiam saat kubuka satu per satu baju yang dikenakannya. Aku mengambil handuk dan kucelupkan ke baskom air hangat yang kuletakkan di dekat kakinya. Kubasuh seluruh tubuhnya. Wajahnya yang pias, leher, bahu, kedua payudaranya, perut, paha, hingga kakinya yang tak lagi berdarah.

"Kini kamu sudah bersih, meski tak seluruhnya." Aku berbisik pelan di telinganya sambil menghirup aroma tubuhnya. Kudesakkan kuat-kuat memasuki rongga hidungku untuk tetap berdiam di setiap relung otakku.

Sambil memandangnya menggigil, aku mengingatkannya kembali akan arti penting dirinya. Bukan bagiku. Tapi untuk dunia. Ini salahku. Seharusnya sejak dulu aku menyadarkannya. Sudah cukup waktu bermain-main bagi Sinai. Kini waktunya Sinai untuk kembali ke jalan yang sudah disiapkan Tuhan untuknya.

"Tentunya kamu ingat Sinai, sejak awal Tuhan telah menyucikanmu. Ada tertulis saat Tuhan berfirman kepada Musa untuk menguduskanmu," ujarku sambil membuka Injil. Jari-jariku gemetar, tergesa ingin segera menemukan apa yang kucari. Gerakan jemariku terhenti di Kitab Keluaran Bab 19 Ayat 10. Sambil berlutut di sofa, kubisikkan sejumlah ayat dalam kitab yang mengisahkan perjuangan Musa membawa umat Israel keluar dari Mesir.

"Pergilah kepada bangsa itu dan suruhlah mereka menguduskan diri hari ini dan besok, sebab pada hari ketiga Tuhan akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di Gunung Sinai. Sebab itu haruslah engkau memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapa pun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan dibiarkan hidup. Hanya apabila sangkakala berbunyi panjang, barulah mereka boleh mendaki gunung itu." Aku mengakhiri pembacaanku, menutup Injil dengan bunyi berdebam, kemudian mengelus rambut Sinai.

"Kau tahu artinya itu, Sinai? Tidak sembarangan orang bisa menyentuhmu. Untuk itulah ayahmu menamai dirimu. Dalam dirimulah seharusnya bertakhta kekudusan Tuhan." Sinai menggigil. Ia menggigit bibir bawahnya.

Kuletakkan Injil dengan takzim di meja dekat sofa tempat tubuh Sinai terbaring. Kulintasi ruangan tanpa menghiraukan duri mawar yang juga menusuk telapak kakiku. Aku menuju dapur. Segalanya harus dibersihkan. Sinai harus kembali dikuduskan. Kutarik sebilah pisau yang tertancap di penahan kayu di atas meja dapur. Pisau itu tampak mengkilat di genggamanku. Meski di kegelapan tanpa cahaya di kamar ini.

Sinai tergetar di sofa saat melihatku menghampiri dirinya sambil membawa pisau.

"Tenang Sinai, aku tak akan membunuhmu. Aku hanya akan menguduskanmu. Menyadarkanmu ke dirimu yang dulu. Dirimu yang sebenarnya. Kau terlupa dengan panggilan hidupmu."

Kulihat Sinai meronta. Tubuhnya berpeluh. Terpaksa aku harus menahan tubuhnya. Kedua kakiku menjepit pinggangnya. Kini aku setengah duduk di atas tubuhnya. Tangan kiriku menahan dadanya yang terus bergerak. Tak ada pilihan lain. Aku harus segera melakukan penyucian ini.

Tangan kananku bergerak cepat, menghunjamkan pisau ke dada kirinya. Kurobek cepat dan di sanalah terletak pencarianku. Kugerakkan pisauku memotong urat-urat tak perlu dan kuambil jantungnya dengan tangan kiriku. Kini sepotong jantung berdenyut di telapak kiriku. Merah kehitaman. Ini jantung Sinai. Juga jantungku. Lubang di dada Sinai menganga. Pun dadaku.***

New York, Maret 2007

Si Lugu dan Si Malin Kundang Cerpen: Hamsad Rangkuti


Kompas
Minggu, 28 Oktober 2007

Si Lugu dan Si Malin Kundang
Cerpen: Hamsad Rangkuti

Sekuriti kompleks perumahan mewah menghambat masuk orang tua dengan beban sepikul hasil bumi. Pintu gerbang tidak dia buka. Orang tua itu mengatakan dia berjalan dari stasiun kereta api mencari kompleks perumahan itu. Setandan pisang, dua ikat jagung, satu buah nangka masak, dan seekor ayam. Polisi lalu lintas melihat peristiwa itu dan menghentikan kendaraan roda duanya. Dia ingin tahu walau sebenarnya hal semacam itu bukanlah tugasnya.

”Ada apa ini?" katanya sambil mendekat. Dia lihat orang tua itu meletakkan barang bawaannya di sekitar dirinya yang sangat letih. Ayam jantan itu menjulurkan kepalanya dari dalam sangkar anyaman daun kelapa menghirup udara segar.

"Orang tua ini mau masuk ke dalam. Dia berkeras kalau salah seorang penghuni rumah mewah yang kujaga ini adalah anaknya. Aku tak percaya. Apalagi dia hanya bisa menyebut nama anaknya. Sedang yang lain, yang dibutuhkan untuk mencari sebuah rumah tidak dapat dia sebutkan. Maka aku tidak mempercayainya."

"Bapak tentu datang dari kampung. Barang bawaan ini menunjukkannya."

Polisi itu memerhatikan kepala ayam yang terjulur dari dalam anyaman daun kelapa tidak jauh dari dia berdiri. Dia lihat mata ayam itu merah. Paruh ayam ternganga. Kerongkongan bergerak-gerak mengatur napas. Lidahnya terjulur meneteskan liur.

"Ayam ini tidak boleh dibiarkan hidup di sekitar kita. Kulihat tanda-tanda pembawa virus dimilikinya." Dicabutnya pistol. "Mengorbankan sebutir peluru lebih baik daripada membiarkan virus yang dibawanya menyebar di kompleks perumahan ini." Dia arahkan moncong pistol ke kepala ayam itu. Dia lihat ulang mata ayam itu. Paruhnya yang menganga, kerongkongan yang bergerak terus mengatur napas. Lidah menjulur mengeluarkan liur. "Maaf Pak. Ayam ini harus dimusnahkan. Satu butir peluru...," dia mulai menimbang-nimbang, "sayang juga." Dia balikkan arah pistol. Moncong pistol dia pegang. Dia sangat berbakat dalam hal tak berperasaan. Dia tetak kepala ayam itu dengan gagang pistol. Ayam menggelupur dalam anyaman daun kelapa. Dia menoleh ke sekuriti, "Bawa ke sana. Gali lubang. Bakar!" Sekuriti rumah mewah itu mengambil ayam yang masih menggelepar-gelepar di dalam anyaman daun kelapa. Dia pun menggali lubang, memasukkan ayam yang masih terus menggelepar ke dalam lubang, dan membakarnya dengan ranting-ranting kering dan daun-daun kering. Orang tua itu ternganga melihat semua itu.

"Maaf Bapak. Ini terpaksa saya lakukan." Katanya sambil menggosokkan gagang pistol ke rumput. "Coba Bapak katakan apa yang ingin Bapak lakukan bila kami izinkan Bapak masuk ke dalam kompleks perumahan mewah ini?"

"Aku akan mendatangi rumah anakku di dalam kompleks perumahan yang Engkau katakan mewah ini."

"O, begitu. Tapi itu tidak mungkin. Tidak masuk akal kami. Kami tidak yakin Bapak adalah ayah dari salah seorang penghuni rumah mewah ini."

"Jadi Engkau juga tidak percaya kalau aku adalah ayah dari salah seorang penghuni kompleks perumahan ini? Aku tidak boleh masuk mencari rumah anakku. Aku tidak boleh mengetuk dari pintu ke pintu sampai aku menemukan pintu rumah anakku."

?Tidak boleh." Polisi lalu lintas itu sekarang telah mengambil alih menangani orang tua itu. Dia lupa pada tugasnya sebagi polisi lalu lintas. Dia telah mengambil alih tugas sekuriti rumah mewah itu. Sekarang dia merasa dialah yang harus menangani orang tua itu.

"Di sini tinggal orang-orang kaya. Tidak mungkin dan tidak masuk akal, ayah dari salah seorang penghuni rumah mewah ini adalah Bapak. Pakaian Bapak adalah pakaian orang yang tak berpunya. Hampir sama dengan pakaian fakir miskin. Apa lagi ini."

"Jadi Engkau tidak percaya kalau aku adalah orangtua salah seorang penghuni rumah mewah yang kalian katakan itu? Kalian adalah masyarakat Malin Kundang. Engkau mewakili masyarakat itu! Engkau akan menjadi batu." Orang tua itu menunjuk ke polisi lalu lintas itu. Polisi lalu lintas itu terkejut:

Apa maksud orang tua ini? Aku mewakili masyarakat Malin Kundang? Legenda itu menceritakan orang-orang tidak percaya kalau wanita tua yang mengenakan pakaian yang dia punya adalah ibu si Malin Kundang. Tidaklah mungkin wanita tua terlunta-lunta di tepi pantai menunggu kedatangan anaknya adalah ibu seorang kaya raya. Ibu orang yang bepergian dengan kapal miliknya dari pulau ke pulau, menjalankan usaha di jalur perdagangannya. Dia datang ke pulau itu rindu akan kampung halamannya. Ibunya mendengar kabar kedatangan anaknya. Dia datang menyambut, tetapi orang-orang menertawakannya dan mengejeknya. Malin Kundang tidak mengakuinya sebagai ibu. Jadi, orang tua ini merasa diperlakukan seperti yang dilakukan Malin Kundang terhadap ibunya.

"Ya, betul. Kami tidak percaya. Bapak tidak mungkin ayah dari salah seorang pemilik rumah mewah ini."

"Apa Engkau mau menjadi batu?"

Polisi lalu lintas itu tersenyum. Dia merasa ucapan orang tua itu sebuah lelucon.

Sebuah mobil kelas termahal berbelok ke arah pintu gerbang perumahan mewah itu. Lelaki yang duduk di bangku belakang menyentuh pundak sopir dan meminta kendaraan itu dihentikan. Lelaki itu bersama istrinya sedang pulang dari bepergian.

"Tunggu sebentar," katanya. Dia perhatikan orang tua yang duduk di bendul jalan. Dia menoleh kepada istrinya. "Orang tua itu seperti ayah. Coba kau lihat. Ya..., seperti ayah. Ya! Itu Ayah! Lihat, apa yang dia bawa? Setandan pisang. Dua ikat jagung, dan sebuah nangka."

"Ya, betul. Itu ayahmu. Ayahku juga. Mertuaku!"

"Ya, itu adalah ayah!"

Lelaki itu membuka pintu mobil. Dia turun. Langkahnya diikuti istrinya.

"Ayah!" Kata lelaki itu. Orang tua itu melihat ke lelaki itu. Dia berdiri dan air matanya menetes. Lelaki itu menerkam tubuh orang tua itu dan memasukkannya ke dalam dekapannya. Si istri mencium tangan laki-laki tua itu.

"Ayah!" Katanya.

Si Polisi lalu lintas tercengang menyaksikan peristiwa itu. Penjaga kompleks perumahan mewah itu juga tercengang. Buru-buru dia membuka pintu gerbang.

"Ayo, Ayah!" Kata laki-laki itu membimbing ayahnya masuk ke dalam mobil. Si wanita memeluk ayah suaminya itu dan mendudukkannya di bangku depan. Sebelum pintu tertutup, orang tua itu masih sempat menoleh ke polisi lalu lintas itu.

"Malin Kundang," katanya. Anak dan menantunya tidak mendengar jelas kata-kata itu. Pintu ditutup si anak. Dia masuk menyusul istrinya di kursi belakang. Si sopir membuka pintu dan turun mengambil satu per satu bawaan lelaki tua itu. Mula-mula dia angkat satu tandan pisang, lalu dua ikat jagung, dan kemudian satu buah nangka. Semua dia masukkan ke tempat barang di buntut mobil.

"Ayah juga membawa ayam, tapi ayam itu mereka bunuh dan mereka bakar di dalam lubang."

"Maafkan mereka ayah. Ayam hidup tidak boleh dibawa masuk ke dalam kompleks."

Penjaga kompleks perumahan mewah itu membuka pintu gerbang selebar-lebarnya dan tampak dia terbingung-bingung. Polisi lalu lintas itu terpaku memerhatikan semua kejadian itu. Dia setengah tak percaya dengan apa yang dia lihat.

Polisi lalu lintas itu masih juga terbingung-bingung. Keterpukauannya disentakkan bunyi gerbang yang ditutup. Dia jadi teringat apa yang diucapkan orang tua itu. Malin Kundang. Apa hubungannya dengan aku. Malin Kundang memang menjadi batu dalam lagenda itu. Dia sentakkan kepalanya dari keterpukauannya untuk mengembalikan kesadarannya. Dia naik ke atas kendaraan roda duanya, menghidupkan mesin, dan meneruskan perjalanannya menuju markas kepolisian tempat dia bekerja. Dia terus memacu kendaraannya, lalu membelok ke dalam halaman markas. Dia sampai ke ruang markas. Masuk ke salah satu ruang dan melepas helm. Dia duduk sebentar lalu seperti teringat sesuatu. Dia beranjak dan pergi ke kamar kecil, membasuh popor pistol dari darah ayam yang sudah mengering. Kemudian dia kembali ke ruang tempat dia tadi duduk. Waktu melintas di depan gudang penyimpanan barang-barang, dia lihat pintu gudang tidak tertutup rapat. Lewat pintu yang sedikit renggang dia lihat patung dari bahan semen tersimpan di dalam. Selama ini dia tidak tertarik untuk masuk ke dalam dan memerhatikan patung-patung itu dari dekat. Sekarang tiba-tiba dia tertarik. Apakah setelah mendengar ucapan orang tua itu dia lalu tertarik masuk ke dalam untuk melihat patung-patung itu lebih dekat. Dia tersenyum, lalu dia buka pintu gudang itu lebih lebar. Tampak patung-patung memberi hormat kepadanya. Dia senyum membalas hormat patung-patung itu.

"Mirip betul. Mirip betul dengan diriku kalau aku mengenakan pakaian dinas. Pematung yang terampil. Dia berhasil memindahkan profesi polisi lalu lintas ke dalam diri patung-patung ini." Dia kembali senyum memandang satu per satu patung-patung itu.

Patung-patung polisi lalu lintas itu belum semua terpasang di tempat-tempat strategis di jalan-jalan kota.

Dia tersenyum. Mungkin dia teringat satu pengalaman waktu dia naik taksi bersama keluarga. Waktu itu hujan lebat. Lampu lalu lintas di perempatan jalan dari arah taksi yang dia naiki sedang berwarna merah. Dia coba uji ketaatan si sopir. "Tidak ada kendaraan yang melintas. Aman. Kebut saja, Pak." "Jangan. Saya patuh pada peraturan. Tidak Bapak lihat polisi di bawah hujan lebat itu. Dia memberi hormat kepada kita di bawah guyuran hujan. Lihat di sebelah kiri di depan kita." "Aku lihat. Langgar saja! Itu kan sebuah patung." "Jangan. Tunggu hijau. Hormati Polisi Patung itu. Dia diletakkan untuk mengingatkan para pengguna jalan agar disiplin di jalan raya." Dia sebagai polisi yang sedang tidak mengenakan pakaian dinas puas mendengar apa yang dikatakan sopir taksi itu. "Ada satu lagi Polisi yang berisiko kalau kita tidak mengindahkannya walau sebenarnya dia tidak terjaga. "Polisi apa itu?" "Polisi Tidur."

Lelaki yang didatangi ayahnya itu ingin membawa ayahnya berjalan-jalan melihat-lihat kota. Kali ini lelaki itu membawa langsung mobil mewahnya bersama istrinya yang duduk di sampingnya. Dia puas bisa menyenang-nyenangkan ayahnya. Waktu itu hujan lebat. Lampu lalu lintas tiba-tiba berwarna merah waktu mobil itu sampai di perempatan. Mobil dia hentikan. Setelah menunggu agak lama, si istri berpaling ke kiri dan ke kanan, lalu berkata.

"Aman Pa. Jalan saja."

"Jangan. Kita harus patuh pada peraturan lalu lintas. Coba lihat polisi itu. Dia hormat kepada kita di bawah guyuran hujan lebat."

"Di sebelah mana? Aku tidak melihat ada polisi."

"Sebelah kiri di depan kita."

"O, itu. Itu kan patung."

Orang tua itu mendengar apa yang dibicarakan anak dan menantunya. Dia melihat ke depan, ke arah yang dikatakan anak dan menantunya. Tampak olehnya Polisi Patung di bawah guyuran hujan lebat dalam posisi memberi hormat kepada mereka. Mobil pun berjalan karena lampu telah hijau. Dari jendela orang tua itu melihat ke luar. Dia perhatikan patung polisi itu dalam guyuran hujan. Dia iba melihat Polisi Patung itu. Dia tiba-tiba tersentak.

"Ya Allah. Polisi itu..., menjadi batu...." ***

Serpih Persahabatan Cerpen: Eni Muslihah


Lampung Post
Minggu, 02 Desember 2007

Serpih Persahabatan
Cerpen: Eni Muslihah

PUKUL 06.00, telepon seluler Sari berdering sekali, menandakan pesan singkat masuk ke ponsel-nya. Sari memang punya kebiasaan yang tidak bagus, sehabis salat subuh Sari sering melanjutkan mimpi yang sempat terputus. Tidak jarang ibunya selalu menasihatinya supaya jangan meneruskan kebiasaan buruknya.

"Bangun Nak, katanya kau mau pergi pagi ini," kata ibu Sari, sambil membuka jendela kamar Sari. "Kebiasaan mu ini jangan diteruskan, gimana kalau kamu nanti berumah-rumahan alias berumah tangga kelak. Kasihan suami mu Nak," ujar Ibu Sari. "Tuh, ponsel kamu bunyi," kata ibu Sari, sambil menunjuk ponsel putri bungsunya.

"Makasih ya Bu udah bangunin aku. Tapi Bu, ini kan baru pukul 06.00," jawab Sari sambil meraba-raba mencari ponsel-nya yang baru saja berdering. "Maaf Bu, semalam aku tidur agak malam, jadinya ngantuk berat," sahut Sari, sambil membuka pesan singkat yang mengusik tidur paginya.

Ternyata pesan singkat itu asalnya dari Dea, sahabat Sari. Dea berusia jauh lebih di atas dari Sari dan Dea sudah berkeluarga. Sekarang Dea memiliki tiga anak yang lucu-lucu, Sari pun sangat menyenangi ketiga anaknya itu. Walaupun usia Dea terpaut jauh dengan Sari, Dea bisa mengimbangi pertemanan mereka. Makanya, persahabatan mereka lumayan langgeng.

"Ups, SMS dari Mba Dea," kata Sari sambil menunggu pesan yang ingin disampaikan Dea terbuka. Maklumlah ponsel Sari bukan barang mahal, jadi menunggu pesan terbuka semua membutuhkan waktu beberapa detik.

Betapa terkejutnya Sari membaca pesan yang berisikan ungkapan kekecewaan Dea pada Sari. "Ri, apa perlu aku hadir pada rapat tanggal 17 September itu? Sepertinya Kau sudah bisa jalan tanpa aku. Maaf ya Sar, semaleman aku gak bisa tidur mikirin tabloid. Aku malu namaku masih nampang di situ, sedangkan tak satu pun tulisan maupun konsepku muncul di sana. Kalau kau memang bisa kerjakan sendiri silakan saja," begitu pesan yang disampaikan Dea pada Sari.

Dea dan Sari memang terlibat sebuah organisasi besar. Mereka berdua satu tim. Bidang yang mereka geluti adalah informasi publik. Salah satu produknya Sinar Abadi. Selama ini Dea bertanggung jawab atas penerbitan karena kesibukannya sebagai seorang pekerja di salah satu instansi swasta dan sebagai seorang ibu yang harus mengasuh ketiga anaknya, akhirnya terbitnya Sinar Abadi sering tertunda. Sementara itu, Sari adalah seorang mahasiswi semester akhir di perguruan swasta tempatnya tinggal. Waktu luang yang dimiliki Sari relatif banyak, karena tidak ada lagi jadwal perkuliahan yang harus di tempuh Sari. Makanya, Sari sering muncul dan mengaktualisasikan kegemarannya sebagai penulis di organisasi itu.

Sari terdiam usai membaca pesan dari Dea. Tanpa sadar, Sari telah mengabaikan ibunya yang terus saja berbicara padanya.

"Sar, kamu denger ibu kan?" tanya ibunya.

"Maaf bu. Ibu tadi bilang apa?" Sari balik bertanya pada ibunya, yang baru tersentak dari lamunannya.

"Kamu ini masih pagi udah ngelamun. SMS dari siapa? Ibu tadi bilang buruan cuci piring, tapi ibu sudah nyapu halaman depan," lanjut wanita paro baya itu pada putri bungsunya.

"Tenang Bu, itu udah jadi kewajiban Sari. Pasti aku kerjain. Sari gak bakal pergi sebelum pekerjaan rumah selesai," celoteh Sari pada ibunya, sambil menutup pesan dari Dea. Sari tidak sempat membalas SMS Dea, keburu ibunya bicara panjang lebar. Langsung saja Sari beranjak dari tempat tidurnya, bergegas mengerjakan tugas rutinnya.

***

Seminggu sudah Sari tidak menjalin komunikasi pada Dea lewat SMS. Sari masih bingung harus menjawab bagaimana pesan Dea. Sampai akhirnya mereka harus bertemu. Gadis berkulit hitam manis itu mencoba meraba-raba perkataan dan sikap apa yang membuat Dea jadi marah. Tiba-tiba muncul dalam benak Sari Tabloid Sinar Abadi.

"Ups. Kenapa sewaktu ini terbit, aku gak pernah konfirmasi dengan Mba Dea ya," jujur Sari pada dirinya sendiri. Bahkan, yang membuat Dea lebih kesal, tabloid itu sampai ada di tangannya, tak sepatah kata pun Sari memberi tahu, baik lewat SMS maupun yang lainnya. Padahal, sebelumnya Dea sudah mengirim pesan pancingan. Harapan Dea, Sari akan memberi tahu terbitnya dari mulut Sari.

"Oh Sari! Betapa bodohnya kau ini, kenapa pula gak bilang-bilang kalo Sinar Abadi sudah terbit," keluh Sari pada dirinya sendiri.

Sari bingung bagaimana menjelaskan keteledorannya itu pada Dea. Tak lama kemudian, Sari teringat Arman, atasan Sari dan Dea. Sari berpikir Arman adalah orang yang tepat menyelesaikan masalah uang sedang dihadapinya. SMS yang Dea kirimkan sepekan lalu pun langsung di-forward ke Arman. Arman pun membalas SMS Sari.

"Sar, masalah ini miskomunikasi aja. Kesalahan sepenuhnya tidak cuma di Sari aja, Saya yang tanggung jawab. Nanti saya menghubungi Dea, tetep semangat ya...!" pesan balasan Arman pada Sari.

Kini Sari mulai tenang. Berharap pada Arman masalah ini selesai dengan baik-baik. Tiga hari berikutnya, Sari bertemu Arman di salah satu tempat tanpa sengaja. Sari pun menanyakan kembali perkembangan masalahnya.

"Gimana urusan kita, selesai?" tanya Sari pada Arman, mengawali perjumpaan mereka.

"Oh.. saya belum menghubunginya. Nantilah cari waktu yang tepat. Sekarang saya masih banyak urusan. Sabar ya," jawab Arman dengan meyakinkan Sari.

"Pokoknya saya gak mau masalah ini kelamaan. Saya udah kangen sama anak-anaknya. Saya berharap ending bagus!" pinta Sari.

"Ya dah...tenang Bos," timpal Arman.

Belum sempat Arman menghubungi Dea untuk membicarakan permasalah itu, keesokan harinya Sari dan Dea bertemu di sebuah pesta pernikahan rekan mereka. Sari merasa kikuk. Pertemuan ini tidak seperti biasanya. Ada sekitar setengah jam Sari dan Dea tidak memulai percakapan. Kebekuan suasana itu pun akhirnya menyair karena tangisan anak Dea yang bungsu. Sari sibuk, berusaha menenangkan si kecil. Alhasil anak Dea pun terhenti dari tangisannya.

Barulah tiga menit pertama Sari memulai pembicaraan. "Mba Dea, gimana kesibukanmu sekarang?" tanya Sari yang berusaha mencairkan suasana. "Aku minta maaf, SMS-mu waktu itu gak saya bales. Aku bingung gimana bales-nya," lanjut Sari.

"Saat itu yang ada di pikiranku, gimana caranya Sinar Abadi bisa terbit. Gak satu pun dari temen-temen tim saya beri tahu. Sekali lagi maaf ya," tutur Sari.

Dea pun senyum kecut tanpa melihat Sari. "Menurutku, terbitnya Sinar Abadi tanpa memberi tahu aku, terjawab sudah," jawab Dea. "Kayaknya emang aku dah gak layak lagi berada di organisasi ini," tambahnya. "Tapi demi Allah, aku sudah berusaha meluangkan waktu untuk bisa eksis di sini. Dan kenyataannya aku tidak bisa," keluh Dea pada Sari.

"Mungkin jalan yang terbaik, aku harus memilih mana yang prioritas buat hidupku. Tapi kalau Sari bisa mengerjakan dengan sendirian tabloid itu, ya silakah sajalah," ungkap Dea sambil menahan rasa sedihnya.

Kembali Sari tidak bisa mengutarakan perasaan hatinya. Ia hanya bisa menangis dan menangis. Senja pun mulai menyingsing, dan pertemuan mereka pun harus berakhir tanpa ada penyelesaian yang tegas. Sekali lagi, Sari hanya bisa mengucap kata "maaf", Sari pun berlalu dari Dea.

Usai prtemuan itu, semalaman Sari tidak bisa tidur memikirkan pertemuan mereka berdua. Lagi-lagi, Sari berharap pada Arman untuk bisa menenangkan perasaannya. Kemudian Sari mengirimkan pesan lewat telepon selulernya pada Arman. Sari menyeritakan hasil pertemuannya dengan Dea. Tapi sayang, Arman tidak membalas pesan dari Sari.

Akhirnya Sari pun memutuskan untuk menceritakan permasalahan itu pada Tio, teman Sari. Kebetulan Tio juga banyak tau tentang Dea. Tio memang orang yang bijak, dari Tio lah Sari banyak belajar memetik sebuah hikmah dari sebuah persoalan. Walaupun pada dasarnya Tio punya sifat yang sedikit temperamen. Tapi di satu sisi Tio orangnya cukup baik dan menenangkan hati.

Tak terasa waktu terus berlalu dan malam pun makin larut. Perlahan tapi pasti permasalahan yang tengah Sari hadapi tenggelam menjadi sebuah mimpi yang indah. Sari terbangun lantaran mendengar azan subuh berkumandang. Sedikit banyaknya Sari mulai melupakan kejadian bersama Dea kemarin. Bergegaslah Sari pergi ke kamar mandi, mengambil air wudu dan menunaikan salat subuh.

Kriiiing..., ponsel Sari berdering, tanda ada pesan yang masuk. Sebuah pesan dari Dea. Sari pun buru-buru menuntaskan salat subuhnya. Pesan itu berbunyi pengulangan pesan Dea yang lalu. Ternyata beberapa pesan Dea yang lain tidak bisa terbuka di ponsel Sari. Yahh...maklumlah ponsel Sari sudah lawas.

Dengan percaya diri Sari membalas dengan kata-kata, "SMS-mu ini sudah aku baca, dan sampai kapanpun akan tetap kusimpan. Ini adalah sebuah pelajaran berharga buatku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku ya Mba...," begitu balasan Sari.

Tak lama kemudian, Dea pun membalas dengan pesan yang cukup mengejutkan yang berbunyi, "Aku pun belajar dari orang-orang yang tampak loyal. Ternyata tidak cuma fulan...carilah cara yang lain dik, jangan menikam dari belakang," balasan Dea kembali pada Sari.

Sontak Sari terkejut. Begitu besarkah rasa marah Dea pada Sari sehingga dipenghujung pesannya begitu mengena sasaran. Padahal sepengetahuannya, pesan-pesan seperti itu tidak mungkin keluar dari seorang Dea. Sari tahu persis siapa Dea, karakter menghunjam orang tidak mungkin muncul dari diri seorang Dea.

Sari dengan penuh rasa emosi bercampur sedih, mengirim ulang pesan itu kepada Arman. Arman-lah satu-satunya orang yang berhak membaca pesan Dea. Dengan penuh kemarahan, Sari meminta untuk bertemu sesegera mungkin pada Arman. Sari minta pertanggungjawaban Arman atas persoalan ini. Sepanjang jalan menuju kantor organisasi yang menerbitkan Tabloid Sinar Abadi, Sari menangis. Kepalanya terasa berat. Seperti ada batu besar yang menimpanya.

Dalam hati, Sari selalu berkata, "Aku bukan orang yang seperti ada dalam pikiranmu Dea. Aku adalah Sari yang selalu ingin bersamamu baik dalam senang maupun susah."

Sesampainya di kantor tersebut, Sari langsung meminjam ponsel temannya untuk membuka pesan yang tidak bisa dibaca di pesawat teleponnya. Pesan itu adalah pesan terusan yang berbunyi "Aku agak sulit memaafkan kejadian ini semua, toh maafku tidak begitu berarti bagimu. Ada dan tiadanya aku, kau tetap berprestasi. Teruslah kau berkiprah selagi kau belum berkeluarga dan beranak -inak. Biar Allah saja yang tahu," pesan yang cukup mengguncangkan hati Sari. Wajar kalau Sari memutuskan persoalan ini untuk diketahui Arman dan meminta segera diselesaikan.

Pada akhirnya, Arman pun turun tangan menyelesaikan persoalan yang tampak sepele ini. Pagi sekali Arman berkunjung ke rumah Dea, tapi sayang Dea sudah keburu pergi bekerja. Arman pun bertemu dengan suami Dea dan menyeritakan duduk persoalan ini pada suami Dea. Arman berharap persoalan ini segera berakhir dengan cara yang baik.

Memang apa yang diharapkan Arman terwujud. Keesokannya Dea mendatangi rumah Sari. Membawa buah tangan. Sari pun terheran dengan perlakuan Dea yang tampak tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal kemarin, sempat terjadi ketegangan antara mereka.

Sari menyambut gembira kedatangan Dea walaupun hanya beberapa menit saja. Sari berpikir selesai sudah persoalan antara mereka dan hari-hari berikutnya Sari berharap hubungan mereka tetap seperti sediakala.

Sayang, harapan Sari tidak tercapai. Rupanya Dea masih membutuhkan waktu lama untuk bisa melupakan kejadian yang dialaminya. Akhirnya, walaupun selesai permasalahan mereka, tetap saja masih ada jarak antara mereka, kaca yang sudah pernah pecah tidak mungkin bisa disatukan kembali seperti sedia kala. Enam bulan berikutnya Dea pergi ke Pulau Jawa, menemani sang suami yang sedang bertugas di sana. Empat tahun berikutnya, Dea sudah punya momongan baru dan Sari sudah berkeluarga bersama lelaki yang diharapkannya.***

Serdadu Tua dan Jipnya Cerpen: Wilson Nadeak


Kompas
Minggu, 29 April 2007

Serdadu Tua dan Jipnya
Cerpen: Wilson Nadeak

Sudahlah! Kita hidup dengan gaji kita saja. Tidak perlu pikirkan macam-macam. Usia kepala tujuh bukanlah saat yang tepat untuk merawat mobil tua. Kuno lagi. Onderdil jip itu pun sukar dicari. Biarlah kami menikmati masa tua, Pak. Kulihat kau selalu risau dengan kendaraan itu. Sebentar-sebentar pergi ke tempat anak kita dan memintanya supaya memperbaikinya. Sayang anak kita menghabiskan waktu untuk memperbaiki mobil itu. Mobil adalah beban. Mengapa kau bebani anak kita untuk membuat jip itu dapat berjalan kembali? Bannya saja begitu besar, mahal lagi. Belum lagi keadaan mesinnya yang harus dibongkar pasang, dari awal. Mimpimu pun selalu tentang jip tua itu. Mengapa sih repot-repot dengan kendaraan yang tidak mungkin digunakan lagi? Tanpa surat dan tanpa nomor polisi. Semua serba membingungkan!
Itulah keluhan sang istri mantan Letnan Kolonel Banun. Ketika Banun membeli jip rongsokan buatan tahun empat puluhan itu dengan uang pensiunnya, sang istri amat gemas. Uang pensiun yang tidak seberapa itu harus dibelikan jip tua. "Kita makan dari mana, pak?"
"Rezeki itu selalu ada, Ma. Percayalah, Tuhan akan memberi makanan bagi kita."
"Tuhan? Memberi makan dengan cara yang tidak bijaksana?" tanya istrinya yang sudah berusia kepala tujuh. "Memangnya Tuhan itu kasir? Suka-sukamu mengatur Dia?"
"Nanti akan kaulihat," jawab sang suami.
"Kau yakin betul?"
"Mengapa tidak? Kukira Tuhan yang mengirim jip ini kepada kita."
"Jawab doamu, yang merindukan sebuah kendaraan?"
"Ya."
Istrinya geleng-geleng kepala sambil mengusap dadanya yang belakangan ini sering berdebar-debar entah karena apa. "Tetapi bukan mobil seperti ini yang kauminta kepada Tuhan, bukan? Bukankah mobil yang lengkap surat-suratnya, yang dapat digunakan ke mana-mana?"
"Ya, memangnya begitu. Tetapi Tuhan mengirim jip ini, dan kauterima. Bukan kehendak kita, bukan? Kehendak Tuhanlah yang jadi, Ma."
Lagi-lagi sang istri mengurut dada dan kebetulan sang suami menengoknya.
"Jantungmu jangan sampai kumat gara-gara jip tua ini, Ma. Anggaplah ini hiburan pada masa tua kita. Lihat, itu, mobil Wilys milik anak kita itu. Sudah seratus lima puluh orang yang datang melihat dan menawarnya dengan harga yang tinggi."
"Mengapa tidak dijual saja dan dipakai sebagai modal untuk berdagang?"
"Sampai sekarang anak kita masih bertahan dengan harga yang diinginkannya. Lagi pula, ia senang mengutak-atik Wilys tuanya itu. Terserah dialah."
Mantan Letkol Banun yang selalu mengambil pensiun, tetapi tidak diberikan utuh kepada istrinya, alasannya, ada saja onderdil yang harus dibeli.
Mungkin ia tidak memerhatikan kesehatan istrinya yang kadang-kadang mendadak sakit karena merasa nyeri di bagian dada. Entah karena sesuatu, istrinya sering menampik apabila dibawa ke rumah sakit. "Nanti akan sembuh sendiri," jawabnya kepada suaminya. Sebaliknya, kalau sang suami yang sakit, ia cepat sekali masuk ke rumah sakit militer. Setiap kali suster memberi obat, ia membacanya dengan teliti dan kemudian mengatakan kepada suster bahwa ia tidak mau memakan obat itu.
"Ini obat yang tidak cocok dengan penyakitku, buat apa? Nanti ada efek sampingan!" komentarnya. Suster tidak dapat berbuat apa-apa karena pasiennya malah menceritakan apa akibat kalau makan obat itu. Hanya obat yang murah dan sederhana yang ditelannya. "Perut saya bukan gudang obat dan bukan pula laboratorium percobaan," katanya, yang membuat suster keluar dari ruangan tanpa kata-kata.
Kalau berminggu-minggu ia terbaring sakit di rumah sakit tentara, orang yang menjenguknya selalu terheran-heran karena ia penuh semangat bercerita tentang masa lalunya yang kaya dengan pengalaman derita. Dokter menasihatkan agar ia tidak terlalu banyak bercerita, tetapi ia tidak peduli. "Ah, saya yang lebih tahu mengenai penyakit saya," katanya.
Sekalipun kadang-kadang ia pincang karena borok yang ada di kakinya, ia selalu tampak gembira. "Penyakit harus dilawan! Obat itu racun! Nanti luka ini akan sembuh sendiri."
Barangkali itulah resep hidup yang diyakininya, yang membuatnya melewati ulang tahun pernikahan emas. Anak-anaknya kadang-kadang cemas juga melihat kondisinya kalau jatuh sakit, tetapi dia sendiri tetap optimis. Ia senang bercerita kepada cucu-cucu dan menantunya, mengenai masa lalu yang penuh dengan pergolakan hidup. Ia seorang penutur masa lampau yang menarik, pencerita yang baik dan detail. Ketika ia bercerita, menantu dan cucu-cucunya asyik mendengarkan. Istrinya yang kadang-kadang mengusiknya dengan berkata, "Sudahlah, Pak. Jangan cerita tentang masa lalu saja. Masa lalu dan masa lalu! Sudah bau tanah pula!"
Banun tidak marah. Ia memang kerap kali bertengkar, berbeda pendapat. Bahkan berhari-hari tidak saling menyapa, yang membuat anak-anaknya bertingkah serba salah. Ketika mereka berdamai, ia berkata, "Itulah orang tua. Tinggal menghitung hari-hari tua, dan menerima masa mendatang apa adanya." Mendengar itu, anak-anak mengangguk dan cucunya dengan ringannya bersenandung, "Perdamaian, perdamaian...."
Sang istri mengalah soal jip tuanya. Kalau uang pensiun berkurang, ia bersikap diam. Tampaknya ia tahu bahwa suaminya sering menyurati anak-anak supaya membantu mereka tiap bulan karena uang pensiun tidak cukup untuk kondisi perekonomian sekarang ini. Tentu tanpa menyebut-nyebut jip tua itu. Dan sang istri kenyataannya sering menerima kiriman uang dari anak-anaknya yang sudah bekerja di kota pulau lain.
Sekali iparnya datang berkunjung ke rumahnya. Ia menunjukkan jip tua yang sedang diperbaiki secara total. Ia mengandalkan kemahiran anaknya memperbaiki kendaraan.
"Mengapa Ipar tertarik dengan jip tua ini?"
"Nah, ini pertanyaan yang kusukai. Selama ini istriku selalu ngomel karena aku membelinya. Macam-macam keluhan yang dikatakannya dari hari ke hari, sampai aku menjadi jemu. Dan ia pun berhenti sendiri mengomel. Karena Ipar menanyakan soal ?tertarik? maka aku akan menceritakannya. Begini."
Mantan Letkol Banun bertutur.
Saat itu, sekitar tahun 1947 atau tahun 1948. Ya, persisnya aku tidak tahu. Yang jelas aku berusia kira-kira 17 tahun. Pasukan kami terperangkap di sebuah medan tempur, dekat danau. Kami yang menyergap iring-iringan pasukan Belanda di tikungan, kehabisan peluru. Sebagian lari ke gunung berhutan dan sebagian lagi ada yang tewas tergeletak tanpa ada yang mengangkutnya. Aku sendiri berusaha lari ke kaki bukit. Namun peluru berdesingan di atas kepala sehingga aku tiarap di tanah. Tahu-tahu, sebuah laras senapan sudah diarahkan ke kepalaku sambil terdengar teriakan, "Berdiri! Kalau tidak kutembak!"
Aku berdiri sambil menaruh kedua tangan di kepala bagian belakang. Aku digiring ke kendaraan militer yang ada di tikungan. Aku didorong masuk ke dalam truk militer. Sejam kemudian pasukan itu tiba di barak-barak militer yang tidak jauh dari tepi danau.
Aku segera dibawa ke tempat interogasi. Serang prajurit yang beringas, berkulit lebih gelap dari kulitku, menampar mukaku dan kemudian mendorongku ke dinding. Kedua tanganku terikat ke belakang. Pukulannya menghunjam di perut membuat aku menjerit dan hampir muntah. Dadaku ditonjoknya dengan keras yang membuatku mengerang dan jatuh terduduk.
"Kau ekstremis, ya! Mengaku!" katanya sambil menendang kakiku dengan ujung tumit sepatu larsnya. Aku nyaris rebah. "Jawab! Monyet kamu, ya?"
Rasa sakit terasa di sekujur tubuh. Ia menyiram tubuhku dengan air yang membuat luka di kakiku terasa nyeri dan pedih. "Kau teroris! Ekstremis keparat! Ayo, mengaku!" Ditendangnya tubuhku sampai terbujur di lantai. Tubuhku menjadi basah karena air yang menggenang di lantai. "Kalau kau tidak mengaku, tubuhmu akan disetrom. Ia memutar-mutar baterai di depan mataku, mengambil sebuah engkol dan menyambungkannya dengan kabel yang hendak dibelitkan ke tubuhku. Aku menjadi ngeri dan mengaduh. "Ayo, mengaku!"
Sebelum arus listrik menyentuh sekujur tubuhku dengan perlahan aku mengaku. "Ya," jawabku.
"Nah, bagus!" katanya sambil menyeringai. "Itu lebih baik bagimu."
Ia membuka tali ikatan tanganku. Menarikku supaya berdiri dengan entakkan yang keras sehingga tubuhku terayun dan lenganku terasa nyeri.
Dengan kepala dan tubuh yang basah disuruhnya aku duduk di depan meja tua. Ia duduk di seberang meja dan mulai menulis di atas kertas.
Ia menanyakan namaku, asal, nama orangtua, nama saudara, kawan sekampung, nama pasukan, siapa komandan, siapa yang menyuruh memerangi Belanda, dan masih banyak pertanyaan lainnya.
Kujawab seadanya. Kepalaku masih pusing. Entahkah nama orang yang kusebut betul atau tidak, aku tidak tahu. Sekadar menyebut nama saja. Lalu ia menyodorkan secarik kertas kepadaku untuk ditandatangani.
Aku dimasukkan ke dalam kamar tahanan. Kulihat di sana ada beberapa orang yang babak belur, tergeletak di lantai. Yang lain bersandar di dinding dengan pandang mata yang nanap. Ada yang kukenal dan aku bersikap seperti tidak mengenal. Ia pun bersikap demikian. Aku tidak tahu siapa lawan siapa kawan. Kurasa, di dalam tahanan itu pastilah ada mata-mata, kuduga, mereka yang tidak ada luka di tubuh.
Dalam dua minggu di rumah tahanan itu, aku melihat orang yang dibawa dan tidak pernah kembali. Pada suatu hari, aku dipanggil dan kukira itulah akhir hidupku. Aku dibawa ke rumah komandan pasukan Belanda yang baru saja diganti. Ia baru kembali di negeri Belanda setelah negeri itu dibebaskan dari pasukan penjajahan Jerman.
Prajurit yang membawaku menghadap komandan itu mengatakan bahwa aku adalah ekstremis yang tertangkap dalam pertempuran beberapa minggu yang lalu. Pak Komandan menerima penyerahanku dan menempatkan aku tidak jauh dari barak tempat pengawalnya berjaga.
Akhirnya aku tahu bahwa nama komandan pasukan Belanda itu adalah Kapten Van den Bosch. Setiap hari ia memanggil aku. Hari pertama ia menanyaiku dan yang pertama ditanyakannya bukan siapa namaku, melainkan, "Berapa umurmu." Kujawab bahwa umurku enam belas tahun. Aku menguranginya satu tahun. Ia mengangguk-anggukkan kepala sambil berkata, "Kau masih anak-anak. Anak-anak tidak baik memegang senjata."
Kutahu kemudian bahwa van den Bosch pernah bertugas di Betawi, Pulau Jawa, sebelum Perang Dunia II meletus, dan paham bahasa Melayu.
"Nak," katanya. "Tugasmu setiap hari adalah membersihkan kendaraan di sini. Semua kendaraan yang ada di sini harus kau bersihkan setiap hari. Khusus jip komandan, kau harus bersihkan sampai mengilap, rapi. Ambil air dari danau. Mengerti? Laksanakan!"
Maka tugasku setiap hari mengangkat air dari tepi danau dan mencuci semua kendaraan yang ada. Tentu yang pertama kuurus ialah jip komandan, van den Bosch. Setiap pagi aku ke tepi danau, mengisi ember dan mengikutinya untuk mencuci kendaraan. Kulihat nelayan yang pulang pagi membawa ikan hasil tangkapannya. Sesekali aku ngobrol dengan mereka. Tetapi aku harus hati-hati karena mereka pun pastilah bagian dari kaki tangan Belanda. Tidak ada nelayan yang sebebas mereka bila tidak ada kaitannya dengan tentara Belanda.
Pada suatu sore Kapten van den Bosch memanggilku ke kantornya. Hal itu jarang terjadi. Baru kali ini aku dipanggil secara khusus.
"Nak, aku kasihan padamu. Usiamu masih amat muda. Tidak pantas kau bertempur di medan perang. Karena itu, begini saja. Nanti sore, menjelang hari gelap, kau kempeskan semua ban kendaraan. Semua saja. Lalu kau lari minta tolong kepada nelayan yang selalu berada di dekat pantai itu. Mengerti?"
Aku terkesiap. Apakah ini sebuah jebakan? Van den Bosch mengulang, "Mengerti?"
"Ya," Kataku gugup.
"Laksanakan!"
Aku keluar dan segera mengangkat ember dan kembali mencuci kendaraan yang ada sampai gelap tiba. Satu demi satu ban kendaraan kukempeskan, juga jip komandan. Kemudian aku menyelinap setelah kurasa situasi aman, bergegas ke tepi danau dan betul di sana ada nelayan yang duduk di atas perahu. Kukatakan kepadanya bahwa komandan menyuruhku lari. "Betul?" Jawab nelayan itu. "Ya," jawabku. Dan ia membawa aku menjauh dari pantai dan di tengah kegelapan malam, aku tiba di sebuah perkampungan yang aman dari jangkauan tentara Belanda dan aku bergabung kembali dengan induk pasukan.
Mantan Letkol Banun berhenti sejenak menarik napas.
"Ipar," katanya meneruskan ceritanya, "jip ini mengingatkan aku selalu kepada van den Bosch. Kalau jip ini sudah selesai dilengkapi maka di bagian belakang ini, di atas nomor pelat, akan kutulis besar-besar dari ujung kiri ke ujung kanan: VAN DEN BOSCH, dan di bagian atas akan kukibarkan bendera Merah Putih yang terbuat dari bahan pelat yang sebesar bendera biasa."
Sang Ipar mengangguk mengerti.***
Bandung, 9 Februari 2007