Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2012

Uang Jemputan Cerpen: Farizal Sikumbang


Kompas
Minggu, 06 Januari 2008

Uang Jemputan
Cerpen: Farizal Sikumbang

Aku seperti seonggok batu yang bisu di malam hari. Diam dan kaku. Tubuhku disepuh cahaya bulan. Aku duduk di gubuk sawah milik abak yang tak berdinding dan beratap daun rumbia. Udara dingin menyergap dari berbagai arah. Entah sampai berapa lama aku akan mampu bertahan dari udara malam ini. Udara malam yang mengilu kulit sampai ke semua rusuk tulang. Juga sampai ke hati, karena hati membuka diri untuk membunuh rasa sepi dan pedih tak terperi ini. Sebab bukankah kesedihan hati juga akan membuat suasana akan terkondisi?
Iya. Seperti malam ini rasanya entah apa. Kesedihan menyergap dari berbagai arah. Luka serasa semakin menyiksa karena malam yang sunyi seperti sembilu yang turut melukai hati. Tapi hanya malam dan di gubuk ini aku bisa merenung diri. Menimbang-bimbang nasib. Menyesali diri, mengapa dulu pindah ke kampung halaman ini. Menyepelekan saran sahabat dan kerabat. Kini aku terperangkap dalam keputusan yang digulung adat. Mengunyah harapan dan mematikan keinginan. Di bawah langit yang berbintang, berkali-kali berkelebat wajahmu sambil menusuk sepi ini. Wahai Faraswati, adakah engkau rasakan deritaku ini ?
Semua berawal dari enam bulan yang lalu. Pada sebuah perkenalan yang tak disengaja. Di atas bus ANS pertama kali aku melihatmu. Kala itu aku pulang ke Padang setelah pengajuan surat pindah tugasku dikabulkan. Kutahu engkau naik dari Bukittinggi pada pagi hari. Di kala kedua mataku masih mengantuk dan tubuh terasa penat setelah satu hari aku duduk di kursi bus itu.
Entah sebuah kebetulan atau tidak. Kamu menghempaskan tubuh di tempat duduk di sebelahku. Di antara kantukku yang masih menggantung, aroma tubuhmu berputar-putar menusuk hidungku. Buru-buru aku cepat memperbaiki duduk. Merapikan pakaian yang terlihat kusut. Meraba rambut supaya tidak terlihat semrawut. Faraswati, kau tahu, di masa itu aku sebenarnya begitu gugup. Betapa tidak. Engkau muncul di sisiku seperti bidadari di pagi hari. Tubuhmu ramping. Kulitmu kuning bersih. Pakaian yang kau kenakan memperlihat lekuk tubuhmu.
Maka ketika bus melaju meninggalkan terminal Bukittingi yang sempit itu, aku mulai mencari kata untuk mengenalmu.
Di dalam bus yang melaju. Berlari gegas menyusuri jalan berkelok. Kuperhatikan wajahmu. Kamu seperti memikirkan sesuatu. Tatapanmu lurus ke depan memperhatikan ujung-ujung jalan yang akan dilewati bus itu.
Tepat pada jalan yang agak meluncur, kamu terlihat agak susah payah mengeluarkan handphone di saku celana jeans-mu yang ketat. Lalu kamu mengutak-atik handphone-mu itu. Sepertinya kamu ingin mengirimkan pesan singkat buat seseorang. Setelah selesai kembali kau sorongkan handphone ke dalam celana jeans-mu. Dan di saat itulah, siku tanganmu menyentuh bahuku.
"Maaf," katamu pelan sambil sedikit tersenyum.
"Tak apa," jawabku pula.
Lalu kamu kembali duduk seperti semula. Menatap ke depan.
"Mau ke mana," tanyaku.
"Ke Padang," jawabmu.
Aku terdiam. Mencoba mencari kembali kata untuk mengajakmu berbicara.
"Ke Padang tempat siapa," begitu kataku selanjutnya.
Sejenak engkau diam. Seperti mencari sebuah jawaban.
"Ke rumah orangtua," jawabmu.
"Lalu di Bukittingi tempat siapa?"
"Tempat kakak."
"O."
"Kalau uda dari mana?"
"Dari Medan," jawabku
"Dari Medan," katamu pelan.
Lalu selanjutnya kita terus berbicara berbagai hal. Menghabiskan jam demi jam. Sampai kau ceritakan tentang dirimu yang akan segera diwisuda di Universitas Negeri Padang. Di atas bus yang menderu, kita bagai dua orang yang sudah lama cukup kenal. Aku pun tak mengerti, mengapa kita lekas begitu akrab. Ketika kamu akan turun di tempat tujuan, tidak lupa kuminta nomor handphone-mu.
Esok harinya aku mencari rumahmu lewat SMS yang kau kirim. Seperti seekor kumbang dengan sayap penuh bunga aku terbang menyusuri kampungmu. Kutahu kampungmu masih dipenuhi sawah-sawah membentang. Ada jalan setapak dari simpang tiga yang menuju ke rumahmu seperti yang kau tulis lewat SMS. Setelah terbang cukup lama akhirnya aku menemukan rumahmu.
Rumahmu berupa rumah panggung. Dipagari bilah-bilah bambu yang melingkar. Bunga-bunga mekar di dalamnya. Setumpuk bunga mawar yang tumbuh di dekat anak tangga memperlihatkan bunga-bunganya yang merah hati. Sewaktu kuinjak anak tangga pertama, jantungku berdebar kencang membayangkan kamu akan membukakan pintu dengan tersenyum. Tapi, ternyata tidak. Setelah pintu kuketuk, rupanya bukan kamu yang membukakan pintu. Akhirnya kutahu dia ayahmu. Badannya kekar. Berkumis tebal. Faraswati, di saat itu aku merasa sangat penakut. Namun setelah berbicara dengan ayahmu, nyatanya dia sangat baik.
Kebaikannya itu pulalah yang membuat aku di hari-hari berikutnya kembali ke rumahmu. Menemuimu di setiap aku merasa seekor kumbang yang ingin hinggap pada sekuntum bunga. Hari dan bulan berlalu. Aku seekor kumbang yang semakin mabuk harum bunga. Akhirnya pada suatu malam, kita memutuskan untuk menikah.
"Menikah? Dengan Siapa? Anak siapa dia, ha. Di mana rumahnya," tanya abak setelah kunyatakan keinginanku itu.
"Rumahnya di Air Dingin," jawabku
"Di Air Dingin? Ham. Bagus, berarti masih orang Minang juga. Kutakut, kau bawa pula gadis Batak itu kemari," jawab amak.
"Tidak-lah mak. Sewaktu bertugas di Medan. Sudah kutanamkan bahwa aku tak akan kawin di sana."
"Kalau memang sudah begitu, kau suruhlah orangtuanya ke mari. Biar kita buat kesepakatan."
"Iya bak."
Lalu dua hari selanjutnya kedua orangtuamu datang. Kuingat itu pada suatu malam. Di dalam kamar, di antara hati yang berbunga-bunga aku berusaha mencuri percakapan mereka. Ternyata, di malam itu, semuanya berubah. Semuanya seperti yang tidak kita duga.
"Apa? Sepuluh juta?"
"Ya."
"Bagaimana kalau tiga juta. Karena kami tidak punya uang sebanyak itu. Belum lagi uang untuk pesta dan membeli perlengkapan lain."
"Itu sudah sepantasnya. Kalau tiga juta itu-kan, untuk laki-laki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Tapi anak kami seorang guru pegawai negeri. Kami rasa sepuluh juta itu sudah sepadan."
"Terus terang kami tidak bisa memenuhi uang jemputan sebanyak itu. Untuk saat ini kami mengalah. Uang itu terlalu besar buat kami."
Lalu tidak berapa lama kemudian kudengar kedua orangtuamu minta pamit diri.
"Abak, mengapa jadi begitu. Mengapa harus ada uang jemputan sebanyak itu," tanyaku.
"Sepuluh juta itu sudah biasa buyung. Kau tahu, si Husen anak Apak Kahar yang bekerja sebagai montir Honda dijemput lima juta. Apalagi kau, seorang pegawai negeri."
"Tapi abak, aku tak butuh uang sebanyak itu. Aku punya uang untuk pesta pernikahanku."
"Ini soal adat dan harga diri buyung. Apa kata orang nanti. Masa anak seorang pegawai negeri tidak ada uang jemputan."
"Itu kan lebih bagus abak."
"Tidak. Tidak ada uang jemputan itu lebih tidak bagus. Pokoknya uang jemputannya sebanyak itu. Jika tidak, jangan harap kau bisa menikah dengannya. Kau sudah susah payah aku sekolahkan. Biayamu besar. Kau tahu."
Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku mondar-mandir di kamar seperti orang kesurupan. Hatiku gelisah. Ruangan kamar itu berubah seperti sebuah petakan yang siap hendak menjepit tubuhku. Setelah lelah berputar, aku akhirnya menghempaskan tubuh di atas kasur. Tidak lama kemudian kuterima kiriman SMS-mu.
"Uda, ayah sudah pulang dari rumah uda. Ayah sudah menceritakan semuanya. Katanya ayah tidak punya sebanyak itu. Itu memang benar. Ayah beberapa bulan yang lalu sudah menjual satu ekor sapinya untuk uang wisudaku yang lalu. Kami bukan orang kaya uda. Jadi bagaimana kami bisa memenuhi uang sebanyak itu? Aku bingung uda. Apakah kasih kita akan patah sampai di sini? Aku tunggu jawaban uda"
Begitu bunyi SMS-mu yang semakin membuat mataku tak bisa dipejamkan malam itu.
Kini, di malam ini aku belum juga bisa membalas SMS-mu itu. Aku tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku tak bisa menentang abak. Aku benar-benar menjelma seperti batu. Diam dan kaku. Oh Faraswati, di bawah cahaya bulan, di dalam gubuk tak berdinding ini, kuharap kau mengerti deritaku ini. ***
Padang 2007

Tukang Urut di Tepi Danau Cerpen: Martin Aleida


Kompas
Minggu, 27 Mei 2007

Tukang Urut di Tepi Danau
Cerpen: Martin Aleida

Sudah kusaksikan bagaimana Asikin dibunuh pensiunnya sendiri secara perlahan. Juga Asril. Beberapa bulan sebelum memasuki masa pensiun, mereka mulai berjuang melawan waswas dan perasaan tak berharga, disia-siakan. Perasaan yang terus menyiksa mereka sampai beberapa bulan setelah mereka sudah tidak lagi disambut dengan senang hati di kantor, kalau mereka singgah sekadar melepas rindu. Asikin mengalami gangguan pencernaan. Ambeiennya bertambah parah dan terjadi pendarahan. Setelah konsultasi dengan beberapa dokter, akhirnya dia jatuh ke tangan seorang ahli jantung yang mengirimkannya ke rumah sakit khusus untuk dibedah.

Sementara kawanku Asril memutuskan ikut anak dan menantunya ke pulau seberang. Tetapi, perasaan seperti orang yang dicampakkan tetap menghantuinya, sekalipun dia sudah jauh dari kota. Dia kira rokok dan makan enak, berleha-leha tanpa gerak badan, akan mengatasi kecemasan. Dia dihantam stroke, terpenjara di kursi roda. Begitu hebat tantangan hari-hari pensiun itu baginya, angin selat yang sejuk membelai lembut sekalipun tak kuasa meneduhkan hatinya. Pagi itu, jasadnya ditemukan mengapung di pantai, tak jauh dari kursi rodanya yang menunggu dengan hampa di darat.

Sungguh aku tak mau mati diantar kesia-siaan seperti itu. Tak sudi didera tekanan kehilangan pekerjaan yang sudah kugeluti lebih dari seperempat abad. Karena itu, aku tak mau menunggu sampai usia pensiun memojokkanku. Mendahului lebih baik. Aku sudah siap. Tiga tahun sebelum usia pensiun aku mengajukan permohonan pensiun dini.

Dengan kantorku tak ada masalah. Yang agak runyam, dan tak kusangka, justru reaksi istri. Ketika sambil bergolek-golek di tempat tidur dan dengan berbisik kusampaikan rencana pensiunku ke telinganya, tak kukira dia menjawab begitu cepat: "Ya." Matanya cemerlang. Dia gembira rupanya. Karena buatnya itu berarti aku akan selalu berada di rumah mendampinginya. Selalu dekat dengannya. Ketika dia lihat aku tetap berangkat juga pada hari pertama pensiunku, dengan bersungut, sebagai protes, kukira, dia bertanya: "Lho? ?kan sudah pensiun? Kok berangkat juga?"

Langkahku mantap, walau aku berhenti sejenak dan memandangnya, meminta pengertian.

"Hampir tiga puluh tahun saban hari aku berangkat. Tiba-tiba aku tak boleh pergi. Bagaimana mungkin. Perlu waktu, perlu penyesuaian?," kataku.

Aku tahu jawaban itu tak bisa meredam harapannya yang terluka. Perang perasaan antara dia, yang menghendaki aku supaya tidak lagi meninggalkan bendul rumah, dan aku, yang baru baru saja mengalahkan himpitan pensiun, terus berlarut-larut. Ketika aku berangkat, memandang punggungku sekalipun dia tak mau, dan kalau pulang, aku sendiri yang menggeser grendel pagar dan membuka pintu.

Dia juga menampik ketika kuajak melihat-lihat apa yang kukerjakan di sebuah ruang besar yang disediakan seorang teman. Ruang itu memiliki pintu sendiri, menghadap ke sebuah danau kecil yang diteduhi pohon-pohon mahoni. Di situlah aku bergelut dengan penggal terakhir dari hidupku. Menjadi tukang urut. Satu kemahiran yang dititiskan oleh kakekku, yang sudah terpendam begitu lama. Karena tak pernah kupraktekkan selama aku bekerja sebagai pegawai. Bukan sebagai jalan untuk menjadi kaya. Kemahiran itu semata-mata untuk membuka pintu kebajikan bagi orang banyak. Kalau menerima imbalan, dalam bentuk apa pun, maka kemustajaban yang melekat di jari-jari dan otot tanganku akan terbang. Itulah syarat titisan yang kuterima.

Tak terlalu lama aku menemukan seorang pasien pertama. Suatu siang, sepelemparan batu dari ruang praktekku, seseorang terserempet mobil yang membelok tajam, menyebabkan lututnya terpelintir. Untuk mendapatkan pertolongan pertama, dia dibawa ke ruang praktekku. Hanya dengan urutan tanganku dia tak perlu lagi mendapat bantuan seorang dokter ahli tulang. Pejalan kaki yang malang itulah yang menyebarkan keberadaanku, yang berpraktek tanpa mengharapkan bayaran, dengan ruang yang cukup nyaman menghadap sebuah danau kecil yang teduh.

Sampai sekarang tak terhitung berapa orang yang sudah datang meminta bantuanku. Pedagang, pegawai, juga gelandangan, polisi, juga tentara. Tidak hanya itu. Kemahiranku itu juga membawa kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung. Karena banyaknya pengunjung, banyak pula pedagang kecil yang memperoleh rezeki dari kehadiranku di tepi danau itu. Pasien yang merasa harus memberikan balas jasa kepadaku, sebaliknya membelanjakan uang mereka dengan membeli barang dagangan yang dijajakan para pedagang tersebut. Kue semprong, gandos turi, getuk lindri, keripik singkong, dan macam-macam kue kering. Kalau aku pulang, para pedagang itu mengerumuniku, satu per satu menciumi tanganku dengan bersemangat. Sebagai tanda terima kasih, barangkali. Sesuatu yang tak pernah kuharapkan. Tetapi, menolaknya mentah-mentah juga tak sampai hati.

Kurang dari setengah tahun, tempat praktekku itu menjadi pusat keramaian baru. Sepeda motor dan mobil pasien berderet-deret diparkir di tepi jalan. Suasana yang tidak menyenangkanku sebenarnya. Suatu hari, seseorang yang mengaku tetangga langsung masuk menghampiriku tanpa antre terlebih dulu. Kukatakan, supaya dia menghormati orang yang sudah lama menunggu.

"Saya tidak memerlukan bantuanmu. Saya datang untuk meminta kau menutup praktek ini. Mengganggu ketenangan. Lagi pula, apakah kau membayar kewajiban di sini?" katanya sengit.

Saya cuma diam.

"Saya tinggal tiga rumah dari sini. Saya orang pajak. Dan setahu saya kau tidak membayar kewajiban sebagai wajib pajak."

Kutantang matanya. "Kalau mau ditutup silakan saja," kalem kujawab.

Orang itu langsung keluar.

Dengan perasaan enteng, keesokan harinya kupasang pengumuman di halaman bahwa praktek ditutup. Orang pajak yang tinggal beberapa rumah dari tempat praktek meminta begitu. Karena aku tidak membayar pajak, kataku dalam pengumuman itu.

Banyak yang kecewa. Lebih banyak lagi yang mengumpat kelakuan orang pajak tersebut. Beberapa hari kemudian, kulihat orang-orang berkumpul di tepi danau. Mereka bernyanyi-nyanyi, mengusung spanduk yang bertuliskan, "Orang kerja sukarela kok dipajak?" dan berbaris menuju rumah orang pajak tadi. Polisi sempat datang untuk menenangkan. Tak kuduga, para demonstran itu datang pula ke tempatku.

"Pak, beres. Tolong buka kembali. Orang pajak itu sok tahu. Dia kira semua orang seperti dia mata duitan. Buat dia adalah keajaiban kalau ada orang yang mau menolong orang lain tanpa bayar. Seperti Bapak," bujuk mereka.

Aku kembali sibuk. Kecuali Sabtu dan Minggu yang kunyatakan sebagai hari libur. Namun, pada hari Sabtu aku sendiri tetap masuk. Seharian pekerjaanku memintal sabut untuk dijadikan babut. Tumpukan sabut didatangkan oleh sekelompok bekas penderita kusta, dan babut-babut hasil kerajinan tanganku mereka jugalah yang mengambilnya untuk dipasarkan. Aku senang membantu bekas penderita kusta itu, meskipun tanpa bayaran, karena di balik bantuanku terselip sikap perlawanan.

Ceritanya, selama bekas para penderita kusta tersebut berada di penampungan, manajemen rumah penampungan mengkorupsi jerih payah mereka. Tahu persis mereka berapa babut yang diproduksi dan berapa imbalan yang mereka terima. Lantas, mereka memutuskan untuk melarikan diri dari rumah penampungan itu, dan membuka usaha sendiri dengan susah payah, termasuk harus berhadapan dengan pengejaran yang dilakukan berbagai petugas keamanan dan kebersihan. Tak jarang babut-babut mereka dirampas.

Sabtu pagi itu, aku sedang memilin-milin untaian serat sabut. Terdengar pintu pagar dikuakkan. Aku tak bergerak. Perhatianku tetap pada untaian-untaian serat sabut.

"?Pak, ada yang mau minta tolong diurut." Suara itu mendengung di kupingku. Aku tidak menoleh. Mata tetap pada sabut.

"Pak, ada yang mau minta diurut." Sekarang suara itu kedengaran menekan.

Desakan suara itu membuat daun kupingku seperti kena aliran listrik.

"Apa tidak lihat papan pengumuman di halaman depan? Sabtu dan Minggu libur?" kataku, tetap tak berpaling ke arah datangnya suara.

"Tolong, Pak."

"Apa saya tak boleh istirahat?" Mataku tetap tak bergerak dari sabut di lantai.

Kedengaran orang itu melangkah meninggalkanku dengan sebal.

Beberapa saat kemudian, tapak kaki yang tadi kedengaran mendekat kembali.

Sekarang, tanpa sebut sapa, tangan orang itu tersampir di bahuku.

"Pak, saya pengemudi Jenderal (dia menyebutkan satu nama). Jenderal minta diurut. Dia menunggu di mobil."

"Jenderal?" sambutku dengan nada suara agak tinggi. Melirik pun tidak, dan kepada yang punya tangan yang masih tertumpang di bahuku, kutambahkan dengan mantap: "Ah? sudah segudang Jenderal yang kuurut. Yang belum cuma panser!"

Aku tak tahu bagaimana kata-kata yang kuucapkan dengan spontan itu mendarat di kuping orang itu. Yang terasa, dia melepaskan tangannya dari bahuku, disusul langkah kakinya meninggalkan ruang di mana aku sedang memintal dan memintal terus untuk membantu para penderita kusta. Terdengar suara pintu pagar dirapatkan dengan setengah hati.

Bukan mau melukai hati orang itu benar yang ingin kucapai dengan mengejek seperti itu. Tetapi, lebih karena keinginanku untuk bebas dari kungkungan kekuasaan dan perasaan ingin dihargai. Nilai yang ingin dijunjung seorang pensiunan. Dan aku tak peduli apakah sang Jenderal akan melakukan pembalasan. Tapi, kalau dia datang pada saat aku tidak sedang membaktikan diriku kepada para penderita kusta, tentu aku akan menerimanya dengan tangan terbuka.

Hari Minggu keesokan harinya, ketika sedang tekunnya aku merajut serat sabut kelapa, tiba-tiba kudengar langkah yang terseok-seok mendekat. Di bahuku terasa tersampir pegangan yang ganjil. Terasa jari-jari yang tidak lengkap. Ini hari liburku, kupikir. Aku tak menoleh sampai yang punya tangan yang aneh itu memperkenalkan diri.

"Pak, ini saya."

Dia kemudian jongkok di belakangku.

"Kawan-kawan pada menangis meraung-raung. Tadi malam ada truk yang mendadak sontak merapat ke tempat kami. Orang-orang yang berbadan tegap-tegap berloncatan dari atas. Dengan cepat mereka membongkar ratusan babut dan memindahkannya ke dalam truk itu."

"Lantas?" aku menoleh kepadanya.

"Dari atas truk mereka menyergah seperti harimau lapar, ?Bilang sama tukang pijatmu itu, jangan terlalu congkak! Babut-babutnya ini akan kami bakar!?"

Cepat dia melingkarkan tangannya yang pengkor ke leherku.

"Pak?."

"Kalian ingin membalas?"

"Tidak. Di sana ada Tuhan," katanya dengan geram sambil tangannya yang tidak berjari-jari sempurna itu menunjuk-nunjuk ke langit. "Tuhan yang akan menunaikan dendam kami. Tuhan?," ucapnya lagi, sekarang dengan lebih khidmat.

"Bukan karena barang dirampas dan dibakar yang membuat kami meraung. Kami menjerit, tertangis-tangis, karena kebaikan Bapak jadi sia-sia. Mentang-mentang. Sok kuasa mereka."

Aku bangkit sebelum kekesalannya semakin berkobar. Kupegangi tangannya yang berbalut kulit seperti terkelupas dan tak berdarah, dan dia berdiri menatap mataku. Tak ada alis. Sementara kelopak matanya rombeng. Kemarahan yang sempurna tampak tersendat di situ.

"Sampir, percayalah, tak ada yang sia-sia. Api babut itu tentu akan menambah deretan dosa mereka."

***

Tubuhmu Bukan Tubuhku Cerpen: Frigidanto Agung


Kompas
Minggu, 08 Juli 2007

Tubuhmu Bukan Tubuhku
Cerpen: Frigidanto Agung

Ketika tubuh memersepsikan kejadian yang telah kita alami. Tubuh telah memberi merespons pada apa yang kita lakukan. Tubuh memberi pertanda dengan gaya dan perilaku untuk memuat rangsangan dari luar hingga membentuk identitas kita. Melalui waktu, sekian tahun kita mengerti tubuh kita sendiri tetapi tidak dapat menjawab apakah tubuh sebenarnya? Kekuatan untuk mengerti hingga mencapai obyektivitas yang terdalam dari tubuh terjawab melalui sistematika rasional cara berpikir.

Subyektivitas menggerakkan tubuh dengan dasar keinginan memuat dinamika rasionalitas membentuk tatanannya. Bagaimana tubuh mengerti tentang masa depannya? Seperti meletakan mimpi dalam kegelapan, ruang tanpa cahaya. Tubuh sebagai alat permainan visual menjadi subyektivitas tersendiri sama ketika menyimak obyek lukisan Tommy F Awuy dalam pameran yang berjudul Gelembung yang diselenggarakan di Philo Art Space, Jalan Kemang Timur 90C, Jakarta Selatan. Realitas tubuh sebagai simbol untuk dibuat sebagai obyek permainan visual demikian kuat.

Gerak pada tubuh menjadi alat utama untuk mengerti dinamika obyektif apa yang dilakukan oleh orang lain untuk dimengerti, serta direspons oleh tubuh kita. Tommy memanfaatkan ini untuk membuat visualisasi tubuh dimengerti secara verbal. Melalui judul lukisan Salsa # 1 dan Salsa # 2, ukuran 120 x 90, akrilik di atas kanvas, 2007. Dua orang, laki-laki dan perempuan, menari, saling menempelkan tubuhnya. Membuat gerak langkah tarian salsa yang energik. Dua tubuh yang saling berpagut, seakan tidak dapat terpisahkan. Walaupun terlihat dalam satu judul, misalnya Salsa # 1, sudah menunjukkan satu gerakan bahwa dua orang sedang menari kedua tubuhnya saling menempel, tetapi yang lebih memvisualkan gerak tubuh tarian adalah sang laki-laki menopang tubuh si perempuan yang menggunakan satu kakinya untuk berdiri.

Melalui dua judul lukisan di atas visualisasi terhadap permainan tubuh begitu mendasar. Gerak tubuh memaknai apa yang diinginkan untuk membuat satu identitas yang dapat membuat visualisasi imajinatif. Latar lukisan yang menunjukkan bahwa nuansa imajinatif terhadap ruang yang di dalamnya terdapat tubuh itu tereduksi. Oleh sebab Tommy membuat latar lukisan sebagai permainan bidang warna. Menghadapkan dua penari pada ruang imajiner bentukan yang hadir di tengah nuansa yang riang dan ingar-bingar.

Judul lukisan salsa membawa pada ruang imajiner yang naratif. Simbol warna sebagai pencapaian atas nuansa ruang untuk pengendali dinamika keriangan tampak jelas. Di sana warna-warna yang dipakai Tommy cerah, warna muda yang menuntun pada keceriaan. Cenderung warna-warni membentuk bidang-bidang yang memberi nuansa bahwa jauh di sana masih ada permainan yang perlu diperlihatkan, baik dengan simbol warna atau penanda lain yang dibentuk dari bidang-bidang yang berwarna. Tommy membuat permainan dari lukisannya bukan dengan obyek tubuh-tubuh yang bergerak, tetapi juga warna yang dipakainya. Simbolik, menghadirkan nuansa ruang yang imajinatif.

Sedangkan pada lukisan dengan judul Bubbles #1 dan Bubbles #2 permainan terhadap tubuh sebagai obyek tambah leluasa visualisasinya. Tommy seperti mengajak pada realitas untuk melihat kedalaman tubuh sebagai obyek nyata. Melalui judul ini tubuh hanya menjadi obyek visual dari permainan gelembung sabun. Pada judul Bubbles #1, 280 x 140, akrilik di atas kanvas, 2007. Tommy menunjukkan bahwa dalam gelembung sabun yang ditiupkan dari sebuah pipa atau lingkaran yang terbuat dari benda bulat di tengahnya berlubang jika dimasukkan dalam busa sabun dan ditiup akan keluar gelembung-gelembung sabun. Jumlah gelembung keluar sesuai dengan kekuatan kita meniupkan air sabun itu.

Melalui bulatan-bulatan putih yang merepresentasikan gelembung sabun itu, Tommy memuat kejadian-kejadian gerak tubuh yang dinamis. Mulai dari tangan masuk saku, orang memainkan alat musik, seorang laki-laki sedang berciuman dengan perempuan dan bagian tubuh lainnya, seperti mata, kaki, serta tangan. Visualisasi realistik, tetapi menjadi permainan dalam ruang imajiner ini karena latar belakang yang dipermainkan Tommy melalui warna yang memberi khayalan tersendiri jika melihat obyek lukisan itu.

Pada judul Bubbles #1 Tommy F Awuy, yang juga seorang pengajar filsafat ini, memperlihatkan seorang perempuan dewasa meniup busa-busa sabun untuk membuat gelembung-gelembung sabun beterbangan. Gerak naratif yang nyata ini memperlihatkan bagaimana sesungguhnya tubuh membuat rangsangan pada sekeliling untuk menunjukkan aktivitas yang dimulai dari satu awalan, mengambil sabun dari satu tempat dan meniupkannya.

Lain dengan judul lukisan Bubbles #2, Tommy melukiskan anak-anak sebagai obyek, mulai dari bayi yang mulai merangkak dan bayi yang baru mulai duduk hingga anak-anak yang dapat meniupkan busa-busa sabun hingga membentuk gelembung-gelembung yang beterbangan di udara. Representasi gelembung dengan warna putih itu dipakai Tommy sebagai obyek melukiskan berbagai alat atau satu kejadian. Muatan tentang tubuh dengan berbagai kejadian yang dialaminya begitu kentara.

Begitu juga dengan obyektivitas yang ditunjukkan Tommy F Awuy ini, tubuh sebagai alat untuk membuat lebih kentara melihat kedalaman apa yang dapat dilakukan oleh tubuh itu sendiri adalah wilayah imajiner. Di mana Tommy harus melakukan rekayasa visual tentang tubuh untuk dijadikan obyek lukisannya. Meskipun obyek yang dilukiskannya itu datar, kurang mengentak secara emosional, tetapi simbolik. Memuat satu representasi. Bagaimana tubuh mengisi ruang-ruangnya melalui dinamika gerak.

Di mana letak simbolik dari obyek lukisan Tommy? Permainan terhadap obyek yang bernama tubuh, di sini tubuh hanya simbol untuk menunjukkan identitasnya di tengah lingkungan sosialnya. Tubuh-tubuh Tommy F Awuy juga terasing, berdiri dalam kesendirian. Seperti teralienasi dengan sekeliling. Subyektivitas Tommy dalam melihat tubuh sebagai alat untuk menyimak konsistensi sosialnya di tengah arus sosial yang menyelubungi diri hingga membuat runtuh identitas, dengan kebangkrutan persona baik secara mental atau ideologis dan material. Memuat dinamika tubuh memasuki ruang kendali hidup menjadi nyata. Bahwa tubuh adalah representasi, ada, dalam ruang masing-masing. Hingga menyiratkan tubuhmu bukan tubuhku, secara sosial, tubuh juga membuat alienasi terhadap pengertian tubuh kita sendiri pada lingkungan sosial, alienasi tentang tubuh satu dengan tubuh yang lain begitu kuat dalam karya-karya ini.

Tubuh sebagai pusat kesemestaan gerak hidup dijadikan obyek oleh Tommy F Awuy sebagai permainan visual yang menyiratkan bahwa tubuh dapat menjadi asing dalam hidup, tubuh hanya menyimak sekeliling melalui rangsangan yang ada. Seperti judul lukisannya, Good Morning, Miss... 120 x 90, akrilik di atas kanvas, 2007. Seorang perempuan berdiri sendiri menatap cakrawala yang berwarna-warni dikelilingi kura-kura. ***