Sabtu, 28 Januari 2012

Perempuan Bernama N Cerpen: Hermawan Aksan


Seputar Indonesia
Minggu, 15 April 2007

Perempuan Bernama N
Cerpen: Hermawan Aksan

"KAU janji akan bercerita tentang sebuah kisah cinta. "Ah, kisah cinta sudah begitu banyak diceritakan orang." "Ceritakanlah.Aku tak pernah bosan membaca kisah cinta."
"Baiklah. Mungkin ini akan menjadi bahan cerita pendekku. Aku ingin bercerita tentang seorang tokoh wanita. Tapi tak perlulah kau tahu nama lengkapnya, ya. Aku memang sengaja menyebutnya begitu, demi privasinya. Kalau aku menyebut inisialnya yang benar, bukan tak mungkin rahasianya akan terbongkar. Bisa saja namanya berhuruf awal A atau S.Aku pilih N karena perempuan kita banyak sekali yang namanya berhuruf awal N.
Bukankah kita mengenal nama Nani, Nina, Neneng, Novi, dan yang seperti itu? Tapi aku juga memilih N karena bisa menjadi singkatan no name, bukan siapasiapa, atau bisa siapa saja. Kalau aku memilih huruf Z, misalnya, tentu akan lekas ketahuan karena nama yang berawal huruf Z sangat sedikit.Aku tak mau memilih huruf P karena kok kesannya negatif atau apalah. Dia perempuan biasa-biasa saja, pada mulanya. Maksudku, dia bukan perempuan yang dalam pandangan pertama membuat lelaki jatuh cinta kalau kau masih percaya ada cinta pada pandangan pertama atau yang seperti itu. Dia perempuan yang sederhana, sungguh.
Pakaiannya sederhana. Aku memang tak paham tentang macam-macam harga busana, tapi aku yakin bajunya sederhana. Dia suka mengenakan celana jins dan baju kaus lengan panjang. Tapi model celananya bukanlah model yang memberikan kesempatan bagi sebagian pinggang bawah untuk menyembul menyambut tatapan tak senonoh lelaki. Rambutnya selalu dibiarkan tergerai hingga melewati bahu dan ada warna sedikit kemerahan di sana.
Aku sangat menyukai rambutnya. Sedikit warna merah itu memberikan semacam kesan eksotis.Apa pun artinya itu. Nah, lelaki itu ‘biarkan aku tak memberinya nama’ mengenal si perempuan pada sebuah acara diskusi buku di CCF, pusat kebudayaan Prancis, Jalan Purnawarman, ketika di luar turun gerimis yang membasah. Ia tidak dengan sengaja berkenalan, atau yang seperti itu. Lelaki itu bukan macam lelaki yang senang menggoda perempuan,atau bisa dengan segera memikat lawan jenisnya, atau apalah.
Mereka kebetulan saja duduk bersebelahan di barisan paling belakang. Namun, apakah benar-benar sebuah kebetulan, entahlah. Mungkin Tuhan sudah mengatur semua sisi kehidupan sampai sekecil-kecilnya sehingga ketika lelaki itu duduk, di sebelahnya sudah duduk seorang perempuan. Waktu itu berlangsung diskusi buku karya Andrea Hirata.Sebuah novel baru oleh pengarang baru yang menggemparkan. Kontroversial, sekaligus laris di pasaran.
Pembicaranya adalah dua orang kritikus yang tak asing lagi di jagat sastra kita: Jakob Sumardjo, mewakili generasi senior, dan Hawe Setiawan, mewakili generasi (yang lebih) muda. Moderatornya adalah perempuan pengarang yang cantik dengan rambut yang selalu berkerudung anggun, Nenden Lilis Aisyah. Tidak seperti diskusi-diskusi buku selama ini, diskusi buku yang satu ini dipadati pengunjung. Aneh juga. Biasanya diskusi buku apa pun ‘bahkan buku hebat macam The Name of the Rose karya Umberto Eco’ hanya dihadiri tak lebih dua puluh orang.
Kali ini pengunjung banyak yang sampai berdiri. Kursi yang berjumlah lebih dari seratus semuanya terisi. Mungkin karena di sana berkumpul juga para dewa sastra yang selama ini memenuhi halaman-halaman media massa situs-situs sastra. Sebutlah nama yang ada di kepalamu, semuanya ada di sana. Kurnia Effendi, Sapardi Djoko Damono, Nirwan Dewanto, Soni Farid Maulana, Akmal Nasery Basral, Eka Kurniawan, Aam Amilia, Tetet Cahyati, Senny Alwasilah, Lan Fang, Endah Sulwesi, Hernadi Tanzil, dan sebagainya.
Karena lelaki itu bukanlah siapasiapa, melainkan seorang penulis yang sedang-sedang saja, ia lebih suka duduk di deretan belakang.Namun ternyata ia bersebelahan dengan perempuan yang bukan sembarangan. Ia yakin usia perempuan itu sudah lewat empat puluh. Paling tidak mendekati. Lima atau enam tahun lebih tua darinya, kirakira. Namun sekilas perempuan itu kelihatan beberapa tahun lebih muda.Entah apakah dia memang awet muda, entah karena penerangan di gedung CCF tak bisa membuat wajahnya tampak jelas.
Keremangan memang selalu menyamarkan garis-garis usia. Ia langsung mengenal si perempuan karena,sekali lagi kukatakan,dia bukan perempuan biasa. Dia penulis terkenal dan si lelaki,yang juga penggemar buku, sudah membaca beberapa bukunya. Juga beberapa cerita pendeknya yang kerap menghiasi halaman-halaman budaya media massa. "Saya suka karya-karya Mbak N," kata lelaki itu. "O ya? Terima kasih sudah mau baca. Apa yang kau suka?" "Cerita-cerita yang Mbak bikin selalu berkisah tentang indahnya cinta dari sudut yang tak terduga."
"Ah, kamu mengada-ada. Karyaku belum apa-apa, bahkan dibanding pengarang baru macam Andrea." "Mbak suka karya Andrea?" "Dia memang mengagumkan.Setidaknya kalau dilihat bahwa ini buku pertamanya. Juga kalau pengakuannya benar bahwa ia sebelumnya tak pernah menulis apa pun, bahkan cerita pendek." "Tapi kata orang buku ini kontroversial." "Ya, ada sejumlah data dan deskripsi yang tak masuk akal, terutama karena si pengarang menyebut novelnya sebagai sebuah memoar berdasarkan kisah nyata."
Si lelaki dan perempuan berinisial N itu kemudian saling bertukar nomor telepon seluler. Kau tahu, seperti hasil kemajuan teknologi macam apa pun, ponsel memang seperti pisau bermata ganda. Ponsel memberi kita dua macam kemudahan: untuk berbuat baik dan berbuat tidak baik. Lewat pesan singkat, N dan lelaki itu kerap berdiskusi tentang sastra, tentang buku, tentang pergelaran seni. Tapi kemudian isi pesan bergeser ke arah yang lebih pribadi. + Blh sy undang Mbak ktmu di Potluck? D sana kt bs diskusi bnyk ttg sastra. Di SMS rsnya tlalu t’batas. - Knp tdk? Lalu keduanya bertemu di kafe yang sekaligus perpustakaan itu.
Si lelaki memesan espresso dan si perempuan cukup capuccino. Tak kurang dari tiga jam mereka bercakap-cakap di sudut dekat jendela kaca. Mereka bercakap-cakap tentang buku yang tengah mereka baca.Kebetulan, keduanya sama-sama tengah membaca Snow Flower karya Lisa See. "Buku yang luar biasa.Untung di sini tak pernah ada tradisi mengecilkan kaki seperti itu," kata si perempuan berinisial N. "Saya nyaris tak bisa melanjutkan baca. Ngeri membayangkannya," timpal si lelaki.
Pada kesempatan lain, keduanya bertemu di BMC, Jalan Aceh. Kali ini, entah siapa yang memulai, si lelaki berani memegang jemari N. Mengeluselusnya. Pada saat-saat berikutnya, mereka bertemu di Dakken, CCF, RM Ikan Bakar, dan lain-lain. Sesuatu tumbuh di dada si lelaki. Sebuah perasaan yang telah lama hilang. Maksudku,telah lama tak dirasakannya. Ia selalu mengingat perempuan berinisial N itu, setiap saat, setiap bangun tidur, tiap berangkat ke kantor, tiap menjelang tidur, bahkan ia seperti selalu ingat meski dalam mimpi. + Sy spt remaja lg. - Aku jg. + Mgkn sy jatuh cinta. - J + kt org ,jth cnt bs mmbuat kt produktif brkarya. - ktk jth cnt, trcipta karya2 sastra. + sy ign jth cnt tiap hr. - jth cnt lah. + sy jth cnt tiap hr pdmu. - J Dan begitulah, si lelaki menjadi banyak menciptakan karya baru.
Meski pemicunya adalah rasa jatuh cinta, karyanya tidak mendayu-dayu. Sebab, ia sebenarnya memiliki bakat yang memadai untuk menjadi penulis yang baik. Namun, hubungan mereka tidak bisa abadi seperti dalam syair-syair. Entah siapa yang memulai, mereka makin lama makin jarang mengirim SMS, dan tentu saja kian jarang bertemu. Apa alasannya, entahlah, sebab tak ada hubungannya dengan sebuah peristiwa penting, misalnya tepergok oleh suami perempuan berinisial N itu. Yang pasti, hubungan mereka baikbaik saja. Kadang-kadang mereka masih bertemu secara tak sengaja, misalnya dalam sebuah diskusi. Biasanya, mereka duduk berdekatan, tetap berbincang akrab, dan masih senang berpegangan tangan.
Apakah keduanya kemudian tak produktif lagi? Ternyata, keduanya masih tetap menghasilkan karya kreatif yang baru. - kau msh jth cnt? + apkh itu pntng? - J Nah, begitulah kisahku tentang cinta." "Aku bisa menebak siapa perempuan itu." "Benarkah?" "Siapa lagi perempuan penulis terkenal berambut kemerahan berinisial N?" "Tapi dia belum tentu berinisial N." "Dia berinisial N," katanya dengan bibir bergetar. Aku menatap istriku. Matanya basah. "Bukankah itu sebuah pengakuan selingkuh? Bukankah lelaki itu adalah kau?" "Sayang, itu tadi hanyalah sebuah cerita pendek." Dia menggeleng. Air matanya menderas.***
Bandung,Maret 2007

Perahu yang Lelah Cerpen: Agustinus Wahyono


Batam Pos
Minggu, 03 Juni 2007

Perahu yang Lelah
Cerpen: Agustinus Wahyono

Senja telah menutup kilau layar kuning-jingganya sejak delapan jam lampau, Kekasihku. Mataku tak kuasa mengelak putaran pikiranku, meski masih teringat pesan nyonya majikanku pada empat jam lalu, ?Tidurlah, Mel, sudah jam dua, kamu harus istirahat lalu jam tujuh mengantarkan Aken ke sekolah.?

Sampai dini hari aku masih duduk sendiri di sofa samping jendela apartemen ini, Kekasihku. Tak bisa kuhitung berapa lama aku di situ sambil menatap perahu-perahu yang bersandar dan bergoyang gemulai di dermaga nun tampak di sana, beberapa kilometer dari apartemen majikanku ini. Ombak kecil memukul-mukul badannya. Siluet berbedak kunang-kunang elektrik gedung-gedung jangkung bergoyang-goyang. Separoh rembulan dan gemintang tergantung di atasnya. Sedang suara-suara geliat malam tak mampu menembus jendela kaca yang berada di lantai tujuh belas ini. Malam pun melarut dalam kesunyian, sesunyi hatiku kini, Kekasihku.

Tapi suara-suara tadi masih mengiang-ngiang? ah, semakin sunyi hatiku. Suara-suara dalam kotak kaca yang menayangkan film yang pernah menggetarkan hati anak-anak muda beberapa tahun silam, dan tadi diputar oleh keluarga majikanku. Kisah cinta yang dilerai malapetaka yang berujung pada kematian si lelaki, dibintangi oleh Leonardo de Caprio, meski keduanya berhasil menyelamatkan diri dari kecelakaan yang menenggelamkan kapal congkak Tytanic. Ajal telah menjemput lelaki yang kelelahan dan terlalu lelap di permukaan samudera. Tragis. Namun sang perempuan tetap setia pada cintanya, walau helai-helai salju telah memahkotainya. Kesetiaan yang tergenggam dalam kalung yang kekal.
Kesetiaan? Masih adakah?

Sebuah fatamorgana cinta yang kembali menampar kesadaranku tentang cinta. Apakah cinta itu, Kekasihku?

Masih ingat, nona sulungku, Kekasihku? Dia kini sudah punya pacar. Perempuan lagi? Bukan. Kini pacarnya laki-laki. Dia sudah tidak mau lagi berpacaran dengan sesama jenisnya. Tadi sore kekasihnya datang, lalu mengantar si bungsu ke sekolah. Ada kegiatan semacam pramuka. Ingat si bungsu, Aken, cowok kecil yang selalu merasa diri Spyderman tapi tiba-tiba bergaya kayak gadis di sofa panjang dan sedang dilukis dalam film itu? Pangeran kecilku itu pernah pulang dari kemping dengan mengaku tidak gosok gigi selama tiga hari. Bau naga! Sedangkan yang tengah, nona cantikku, kini berambisi jadi artis remaja, mentang-mentang umurnya sudah empat belas tahun. Aku sayang mereka, Kekasihku. Kecuali kau datang dengan perahu cinta, membawaku?

Cinta? Kekasihku, jujur saja, aku tidak sepenuhnya lagi percaya pada cinta semenjak pernikahanku hancur-lebur dalam hitungan dua tahun saja. Pernikahan yang memang tak kupersiapkan dengan cinta selayaknya, kecuali kuingin suamiku dulu mau membiayai kuliahku yang mengambil jurusan tanpa restu kedua orang tuaku.

Ya, mantan suamiku dulu anak orang kaya, namun ternyata tak bisa apa-apa. Waktu itu usianya baru 19 tahun, terbiasa manja. Sedangkan umurku waktu itu sudah 22 tahun. Kalau toh pernikahan itu kemudian membuahkan seorang anak, cinta sejati tidak jua hadir di tengah-tengah kami. Bahtera kami akhirnya karam. Kuliahku terlanjur kandas. Cita-cita menjadi sarjana sastra pun terkubur.

Aku memilih pergi ke luar negeri. Kutinggalkan anakku di rumah ibuku. Kutinggalkan taman anggrek kami. Kutinggalkan sawah ayahku yang cuma enam petak. Kutinggalkan koor katak-katak. Kini terhitung sudah tiga belas tahun aku di Negeri Naga. Baru dua kali aku mudik. Belum lama ini kuterima kabar, istri mantan suamiku telah melahirkan anak mereka. Terserahlah. Toh kini aku sudah menemukan laki-laki yang?
Apakah engkau juga pernah menonton film itu, Kekasihku? Apakah engkau juga bisa menangkap kesetiaan perempuan yang duduk di sofa panjang itu, Kekasihku?

Kesetiaan cinta? Masihkah kesetiaan merupakan mutiara hati setiap insan? Jika hanya kematian adalah pedang pemisah kesatuan jiwa, kenapa ketidaksetiaan begitu semena-mena mendiktekan suatu perpisahan? Di manakah cinta? Di manakah mutiara?

Mungkin engkau kini sedang menyimpan mutiara cinta itu, yang belasan tahun kupinta dari Tuhan. Belasan tahun, sejak tenggelamnya bahtera rumah tanggaku! Dalam usiaku yang berangka empat puluh, masih kucari mutiara itu di antara pria-pria yang kujumpai di dunia internet milik anak majikanku. Ingin kutunjukkan pada bekas suamiku bahwa aku bukan janda jelek yang selalu merana, merengek-rengek rujuk bersyarat tetek-bengek. Gigi-gigi depanku yang gondrong bukan kendala memalukan apalagi memilukan. Aku masih mampu mendapatkan penggantinya. Cara berpikirku pun lebih maju darinya. Dia wajib sadari itu!

Tapi, masihkah ada cinta sejati di dunia maya semacam itu, Kekasihku? Bilang cinta membabi buta lewat chatting tapi berkencan pula dengan gadis-gadis internet lainnya? Apakah asmara maya terakhirku ini denganmu layak kupercaya kesetiaanmu, Kekasihku?

Engkau tampan dan pintar, Kekasihku. Usiamu belum sampai dua lima. Pasti banyak gadis yang terpikat olehmu. Apakah kesetiaanmu bisa kuandalkan dan menjamin kesembuhan luka lara lamaku yang menanahi hari-hariku akhir-akhir ini? Bagaimana pula dengan laki-laki lainnya yang belum lama ini begitu nekat hendak melamarku ke rumah orangtuaku, termasuk seorang laki-laki berusia enam puluh tahun dan masih beristri?

Pernah kubaca sebuah puisi pendek di sebuah antologi puisi semasa aku masih mahasiswi belia. Biarlah cinta bercahaya / Sinari jejalan hati percaya. Perceraian kami memudarkan cahaya cinta itu. Kepercayaanku pada cinta pun entah ke mana hingga kita bertemu di dunia maya. Kuingin kembali menyusun puing-puing kepercayaanku pada cahaya cinta, meski tak akan segemerlap Kota Naga tatkala kelambu kelam malam membungkusnya.

Dan kesetiaan. Masihkah ada pada saat layar kaca dijejali oleh pemandangan para perempuan serba molek, serba binal, dan pertempuran birahi yang berapi-api? Apakah laki-laki masih berpegang pada kesetiaannya, meski kekasih atau istrinya sudah tak lagi jelita, apalagi aku, janda beranak satu serta wajahku tak cantik dan tak sesegar bunga baru mekar nan cerah-ceria. Kakek-kakek saja masih suka menggoda perempuan muda dengan bahasa gula dan janji madu, bagaimana dengan engkau, Kekasihku, yang masih segar-bugar?

Aku memang egois; menuntut kesetiaanmu, sedangkan aku masih mengais-ngais perhatian dari laki-laki lainnya di belakangmu. Tapi, walau lebih muda, engkau bisa mengerti kondisi jiwaku. Sekian tahun menjanda, sebatang kara di perantauan, dan malam-malam tertentu sepi hasratku dicekik oleh cekikikan kedua majikanku di kamar intim mereka.

Bukankah lumrah bila aku pun menginginkan suara cekikikan semacam itu, Kekasihku? Bukankah aku pernah merasakan hangatnya sentuhan jemari dan asinnya tetesan keringat laki-laki? Wajar, kan, kalau kini aku merindukan itu? Ingin kudapatkan itu lagi dari?

Aaah? Selama kita menjalin kasih di dunia maya, hanya bisa kudengar deru nafas dan erangmu. Itu pun harus kupancing dengan rengekan manjaku menembus telpon genggammu.
Kemarin pagi aku menelpon ibuku di udik sana, Kekasihku. Beliau menyuruhku segera pulang, dan menikah lagi. Menikah lagi? Semudah itu? Siapkah engkau? Siapkah keluargamu menerima kehadiranku, Kekasihku?

Aku belum berani lagi mengambil resiko, meski kusadari usiaku semakin rawan. Orangtuaku bertambah renta. Ayahku berumur lebih tujuh puluh tahun, daya dengarnya kian menurun. Ibuku sudah kewalahan membagi perhatian, apalagi mengawasi anakku yang kini sudah SMA. Untungnya anakku itu laki-laki. Bukan perempuan. Sehingga kalau aku menikah lagi, aku tak usah was-was atas perilaku suami baruku alias papa tirinya. Tak jarang di media massa online kubaca berita ayah tiri memperkosa atau mencabuli anak tirinya. Ah, laki-laki?

Tapi, kapan aku akan menikah lagi? Kapan aku akan menetap di udik bersama keluarga baru dan anakku itu? Jika gagal dan gagal lagi? Sejujurnya kuakui, aku malu jadi janda di udik. Berkeluarga di usia muda dan muda pula usia pernikahanku. Apa pula kata tetanggaku kelak? Apalagi kalau tiba-tiba aku bertemu dengan mantan suamiku dan keluarga barunya.

Aaah? di negeri orang ini aku bisa lebih tenang, Kekasih. Kita pun bisa bebas bercinta kapan saja kendati cuma lewat kata-kata dan suara-suara. Namun tak mungkin selamanya aku di sini dan begini. Ibuku juga sempat menanyakan, kelak siapa mengurus anak semata wayang itu, Mul. Oh iya, ya, siapa? Masak sih keluargaku lainnya? Bukankah aku ini mama kandungnya, kendati tak kurasa lagi ada ikatan batin dengannya?

Lantas, apakah aku harus memaksamu untuk menikahiku dalam waktu dekat? Sudikah engkau menjadi ayah untuk seorang remaja?
Ah, engkau masih harus menyelesaikan skripsimu, Kekasihku. Belum lagi bagaimana tanggapan orangtuamu, keluargamu, kawan-kawanmu. Aaaah?

Memang salahku dulu. Berjumpa dirimu di internet, aku langsung tertarik, kudekati terus, dan kutelpon engkau setiap hari hingga pernah tiga kali sehari demi kelegaan hasrat sepiku. Lalu kita terlibat asmara membara. Engkau kian mencintaiku. Begitu katamu, dan sering begitu di saat kita mulai mendesah-desah.
Aku percaya padamu, Kekasihku. Karena memang selama setengah tahun lebih ini tidak pernah kudengar obrolan orang-orang internet tentang perselingkuhanmu, atau suara merdu perempuan yang mengangkat telponmu. Engkau tipe laki-laki setia, kayaknya. Pernah pula beberapa kali kutelpon orangtuamu di pulau sana, walaupun tidak pernah kuberi tahu usia dan statusku. Suara ayahmu, ibumu, kakakmu, istri kakakmu, adikmu, dan pacar adikmu pernah mencandai telingaku. Sebuah keluarga ramah, sederhana nan setia. Mereka sangat percaya padaku, pada cinta kita. Mungkin karena mereka belum tahu asliku. Mungkin pula lantaran kau mahir merangkai cerita romantika meyakinkan.

Tapi, sekali lagi, apakah engkau itu sudi kuajak menikah dalam waktu dekat ini? Aaah? Aku tak berani bertaruh dengan angan. Kenyataan tidak segampang bicara via telpon. Apalagi kaubilang, tunggu gelar sarjana berhasil kau raih.

Atau aku menikah dengan laki-laki lain saja? Dengan yang sudah beristri tapi tidak peduli keluarganya? Atau, yang kini menduda setelah menceraikan istri keduanya dan meninggalkan bayi yang belum genap satu bulan? Bukankah mereka jelas berpengalaman dalam banyak hal jika dibandingkan denganmu? Tapi bagaimana dengan kesetiaan mereka?

Lagi-lagi kesetiaan, sebuah penghormatan terhadap kesakralan akad pernikahan? ?
Terus kupandangi perahu-perahu dan siluetnya bersandar di dermaga. Perahu-perahu di dermaga sana digoyang-goyang gelombang kecil. Tak jarang aku merasa diriku seperti dermaga itu, Kekasihku. Kapal demi kapal singgah, bersandar. Satu per satu lainnya bertolak, meninggalkan dermaga. Datang dan pergi. Terus dan terus. Tiada yang sudi menetap dan merapat dengan dermaga itu. Setiap ada kapal yang singgah, bukan hanya bahagia serta semarak kurasa, tetapi juga perih, perih sekali.

Tak pelak aku bertanya pada diriku sendiri, apakah dermagaku ini adalah pula akuarium atau ruang-ruang kaca semacam di mega mal. Mereka yang datang hanya melongok barang pameran, lantas pergi setelah mengangkat bahu dengan garis bibir cembung. Sebab aku yang buruk rupa dan makin tua ini memang tidak pantas menjadi barang pajangan. Kuyakin, engkau pun akan malu membawaku pada acara-acaramu, reuni-reuni sekolah dan ulang tahun kolegamu kelak.

Tidak. Aku bukan dermaga itu, Kekasihku. Melainkan seorang perempuan yang berdiri di dermaga cinta. Aku sedang menunggu perahumu datang dan membawaku pergi dari kesunyian di pulau kehidupanku sendiri. Perahu jiwaku telah lama kutambatkan di dermaga itu. Perahuku makin lusuh dilupakan waktu. Waktu melaju tanpa mau tahu. Bianglala yang semula membalut tubuhnya, tak lagi cerah.

Warna-warnanya berangsur gugur, terkelupas oleh masa dan jeritan batinku. Sedikit demi sedikit tampak kayu aslinya yang melapuk dan rapuh dirajah alam serta unsur-unsurnya secara membabi buta.
Kini, sepanjang hari, sungguh-sungguh kunantikan sang waktu menggiring perahumu singgah semenjak kaunyalakan sinyal-sinyal jiwamu berlabuh di dermaga rindu, berjanji menjemputku. Sepanjang hari, sejak waktu itu, sejak kita bersepakat dalam cinta.

Entah sudah berapa kali sang ratu malam mengangkangi angkasa. Entah sudah berapa ratus pangeran fajar bergantian menyuguhkan segenggam harapan demi harapan. Entah sudah berapa banyak putri senja menghibur diriku di jendela beku gedung jangkung ini sembari berbisik bahwa esok selalu ada fajar berpijar dan senja kencana memancar kegemilangan di penghujung usiaku.

Kekasihku, apakah engkau benar-benar akan berikan fajar serta senja bagi hari-hariku dan menyinari jalanku melintasi sisa-sisa usiaku hingga kelak kujawab sepenuhnya panggilan Sang Kekal? Apakah engkau pun mampu melukis pelangi di pekat kelam malam-malamku supaya segenap hari-hariku adalah kesemarakan cahaya puji-syukur ke Hadirat Ilahi?

Di dermaga cinta, perahu jiwaku tak henti bergoyang-goyang, sedikit terombang-ambing oleh masa penantian yang sepi serta tak jelas kapan akan berakhir. Kuakui, diriku mulai jenuh, jengah dan lelah bersetia di dermaga cinta ini, Kekasihku. Aku ingin perahumu muncul di kaki langit Laut Cina Selatan, singgah, kau keluar dari perahu, tersenyum, membentangkan kedua lengan berototmu, datang, menggendong dan membelaiku secara nyata.

Tapi, ketahuilah olehmu, Kekasihku, di perantauan ini aku, Mulyani, meski keluarga majikanku dan orang-orang di sini memanggilku Meliani karena kelenturan lidah mereka berbeda dengan kita, mati-matian menahan diri agar kelak aku tidak mengoleh-olehi aib ke udik, tidak mempermalukan keluargaku dan anakku satu-satunya. Aku tidak mau seperti Atun, Oneng, Iyem, atau lain-lain yang sangat bebas mengumbar birahi bersama pria-pria asing di luar negeri, terutama dari negeri berkulit aspal. Juga aku tidak mau seperti Wati dan Tinah yang pulang ke Indonesia membawa oleh-oleh anak haram jadah. Padahal aku pun perempuan normal, apalagi aku janda yang dahaga sentuhan laki-laki seperti yang pernah kurasakan. ?

Kekasih, bilamanakah perahumu melawat untuk merapat? Bilamanakah engkau akan menjemputku, menggendongku turun dari gedung jangkung ini, masuki perahumu dan ajakku arungi samudera kehidupan? Mungkin perahumu diam-diam, oh, merapat di dermaga lain yang menjanjikan kegairahan siang-malamnya dengan aroma kemudaan yang menyenangkan. Haruskah kualami terus dan selalu kualami kelelahan menunggu perahu pujaanku?

Kesunyian kian menghasut kesepianku. Keluarga majikanku telah bermimpi sampai entah di mana seusai menonton film tadi. Sebentar lagi aku mau membereskan cucian keluarga majikanku yang tersisa. Sebentar lagi. Tidak apa-apa. Nyonyaku tak akan mengomeliku sebab seharusnya tugasku ini nanti siang kukerjakan. Keluarga majikanku memang baik. Aku jadi betah sejak pertama ikut mereka, biarpun aku tak lebih dari seorang babu. Nanti aku mau membereskan cucian itu. Aku belum ingin tidur. Belum mengantuk, Kekasihku. Kisah film tadi mengajakku melayari angan-angan tentang cinta, kesetiaan, dan dirimu yang pada saat dingin dini hari ini entah sedang melakukan apa.

Dan seperti waktu-waktu lampau, setia kunanti perahu kasih sayangmu datang. Di ujung teluk sana mercu suar berkedap-kedip menggoda kerinduanku, menggoda harapanku itu. Kapal-kapal selalu hilir-mudik. Bila mentari membuka lebar-lebar jendela cakrawala, burung-burung camar kian menerbangkan anganku ke ranjang angkasa dan busa awan-gemawan bersamamu, menikmati keindahan langit biru sebiru cinta kita.

Aku sungguh-sungguh mengharapkan perahumu segera melawat, merapat di dermaga itu, Kekasihku, lalu engkau melihatku duduk di sofa dekat jendela ini seperti perahu yang lelah di dermaga itu, engkau mengenaliku dengan daster ungu, gerai rambut panjang, dan kilau gigi gondrong lalu engkau melambaikan tanda hadir, tanda panggil.

O Kekasihku, lihatlah aku di dekat jendela ini. Sengaja kubuka kordennya lebar-lebar. Kunyalakan lampu terang-benderang. Lihatlah rambut panjang bergerai, gigi gondrongku memantulkan cahaya mercu suar, melambai-lambai, memanggil, hendak menggapai sejatimu.

Datanglah, duhai Dambaanku. Segeralah. Aku telah lelah. Letih batinku. Bawalah aku dengan perahu baru kita. Bawalah aku bersamamu, layari samudera hidup beserta berlaksa asa selagi nafas kita masih mampu meniupkan angin yang akan menggiring perahu kita tiba di pulau kebahagiaan abadi seperti impian muda-mudi. Oh, lelah kian dalam menderaku.

Angin dini hari menggigilkan belantara beton berkaca. Kupeluk hangat diriku sambil pandanganku tak lepas dari lampu-lampu di sekitar dermaga. Kekasih, andai perahumu tak juga datang beserta selembar surat lamaran yang ditandatangani oleh orangtua kita, dan memang akhirnya harus kusadari bahwa kata-kata cintamu hanya halusinasi, mungkin harus kuterima ajakan naik perahu laki-laki lainnya yang betul-betul sudi segera membawaku berlayar, pulang, dan cinta kudapatkan pula. Sungguh, aku sudah tak tahan berlama-lama berlelah-lelah dalam kesetiaan penantian sepi ini, Kekasihku. ***

Perahu Kertas Cerpen: Maryam Bachmid


Seputar Indonesia
Minggu, 22 Juli 2007

Perahu Kertas
Cerpen: Maryam Bachmid

Surat dari Yu Rin tersimpan dalam sakuku. Isinya membuat aku memutuskan cepat-cepat pulang. Menumpang kereta pertama aku sekarang sudah duduk di bangku dekat jendela.

Bunyi benturan besi roda dengan rel menimbulkan suara yang sangat akrab di telingaku. Suara yang mengiringi aku dan Yu Rin tumbuh menjadi dua gadis dari dusun kecil tak jauh dari rel kereta. Mataku tak lepas memandang keluar jendela.Aku dan Yu Rin besar di tengahtengah alam seperti itu. Beberapa kilometer saja jaraknya dari rumah kami yang sederhana,di situlah,di kebun tebu aku dan Yu Rin biasa menghabiskan waktu bermain. Selain di kebun tebu, kami biasa bermain perahu kertas.

Perahu kecil-kecil yang kami buat dari kertas bekas, lalu dilepas di selokan kecil berair jernih. Sementara yang satu melepas perahunya, kawan yang lain menunggunya di tempat yang agak jauh. Begitu seterusnya sampai pada tempat yang kami anggap pelabuhan. Tanganku kembali menyentuh surat Yu Rin di saku. Ingatanku melayang. Sedari kecil,Yu Rin sudah menjadi perhatian banyak orang.Kakakku itu tercipta saat Gusti Allah sedang bersukacita membentuk segala sesuatu yang indah. Bukan saja cantik, Yu Rin tumbuh menjadi gadis berani dan cerdas.

Aku yang berselisih usia dua tahun dengannya selalu ke sekolah bersama.Tubuhnya yang jangkung berisi selalu melindungi aku dari teman laki-laki yang kadang usil mengganggu. Mereka biasanya sengaja menggoda aku agar mendapat perhatian Yu Rin. Mereka suka dipelototi mata Yu Rin yang berbola hitam indah. Dan Yu Rin tahu itu. Dia sangat sadar dirinya memiliki sesuatu yang menjadi impian terdalam kaum lelaki.Daya tarik fisiknya sangat kuat. Sayang, Emak dan Bapak tak punya cukup penghasilan untuk membiayai Yu Rin melanjutkan sekolah sampai tingkat atas.

Bapak yang hanya memiliki beberapa petak sawah dan kebun tebu tak bisa berbuat banyak. Saat orangtua kami menyerah,Yu Rin tak patah semangat. Dia bahkan mengharapkan aku yang dapat melanjutkan sekolah, menjadi bidan seperti cita-citaku. ”De Mar saja yang melanjutkan sekolah. Biar aku di desa membantu dan menjaga Emak dan Bapak,”ujarnya saat aku bersiap-siap ujian sekolah menengah pertama. Aku sungguh terharu.Yu Rin rela berhenti sekolah dan menyerahkan masa depannya padaku. Aku tak mau menyia-nyiakan pengorbanannya.

Gadis cantik, kembang desa seperti Yu Rin tentu banyak didekati lelaki.Tapi hati Yu Rin sudah telanjur diberikan pada Mas Jati, tetangga kami sendiri yang sejak kecil menjadi teman main kami.Aku sering melihat keduanya mencuri- curi pandang atau saling bercengkerama sampai akhirnya tertawa berdua. Mas Jati pemuda yang baik, juga di mataku dan di depan Emak dan Bapak. Seperti keluarga kami, keluarga Mas Jati juga sangat sederhana. Dari Yu Rin, aku dengar Mas Jati ingin sekali membahagiakan kakakku itu, juga kami sekeluarga.

Cita-citanya tinggi,ia ingin melanjutkan sekolah di kota kabupaten, lalu bekerja dan memiliki usaha sendiri. Aku ikut mendukung niat pemuda yang sangat mencintai kakakku itu. ”Dengan cinta dan kesabaran, semoga apa yang Mas Jati cita-citakan bisa berhasil De Mar. Kau pun harus begitu De,” Yu Rin pernah mengatakan itu padaku.Aku membuktikan semuanya. *** Kereta berhenti di Stasiun Kertosono. Beberapa penumpang turun membeli makanan.

Dua potong roti dan segelas teh manis sudah cukup mengganjal perutku. Kukeluarkan surat Yu Rin dari saku jaketku. Tulisannya rapi terbaca. Disusun dalam kata dan kalimatkalimat indah. Itu memang ciri khas Yu Rin, dia sangat berbakat menulis. ”De Mar, pada awalnya aku pikir cinta saja tak cukup untuk membuat kitabahagia. Kata orang kesenangan harus selalu dibarengi dengan harta benda atau kekuasaan. Tapi De Mar, kebahagiaan yang seperti itu ternyata sangat kering.Kau ingat,selokan kecil tempat kita sering melayarkan perahu kertas kita? Kau masih ingat kan, pernah suatu kali kemarau airnya kering berbulan- bulan.

Tanahnya menjadi keras, retak dan berdebu. Ya, seperti itu De Mar, kebahagiaan yang tak diiringi dengan cinta,” tulis Yu Rin di suratnya. Aku menahan air mata yang hampir meleleh di pipiku. Mbakyuku yang cantik menulis seperti itu.Aku sungguh ikut merasakan kegalauan hatinya. Gusti Allah telah menciptakan kasih sayang hampir sempurna buat Yu Rin dan Mas Jati. Namun, dunia dan manusia membelokkan arahnya karena sebuah peristiwa. Takdir yang tak mampu kami tolak. Semua berawal saat tebu kami jatuh harga. Entah kenapa pabrik gula tak lagi dapat membayar dengan harga yang bagus seperti sebelumnya.

Dengar-dengar ada yang tak beres dalam pengelolaan pabrik yang sudah beroperasi sejak puluhan tahun lalu itu.Kami petani hanya bisa pasrah. Itu artinya Bapak tak punya cukup uang untuk mengirim aku sekolah ke kota kabupaten dan membiayai pemondokan dan makanku.Sebenarnya aku tak ada masalah, tapi Yu Rin yang matimatian mendorong aku untuk tetap melanjutkan sekolah. Tak lama kemudian, petak sawah yang di sebelah selatan berpindah pemilik, namun hasilnya belum juga mencukupi. Akhirnya Bapak dan Yu Rin mengusahakan pinjaman. Satu-satunya orang di desaku yang paling berpunya adalah mandor pabrik gula.Ke sanalah Bapak dan Yu Rin pergi.Tak sulit,Bapak diberi sejumlah uang yang sangat cukup untuk membiayaiku. Kami sekeluarga lega, aku jadi melanjutkan sekolah ke kota kabupaten.

Namun, jauh di dalam hati sebenarnya aku heran angin apa yang membuat mandor pabrik gula sedemikian cepat mau meminjamkan uangnya. Rupanya diam-diam Yu Rin telah membuat sebuah hati terpikat habis-habisan padanya.Mas Jarot, anak sulung mandor pabrik gula jatuh hati padanya. Memang bukan hanya sekali aku melihat Mas Jarot memandang Yu Rin lekat-lekat seperti ingin menelan dirinya. Pandangan yang membuatku menggigil, apalagi bila kilatan di matanya menikmati tubuh indah Yu Rin dari jauh.Aku menyimpan hal ini untuk diriku sendiri. Baru enam bulan melanjutkan sekolah, aku dikejutkan sepucuk surat Yu Rin.

Isinya membuatku menangis semalaman. Kalimat-kalimat yang dirangkainya terasa seperti suara Yu Rin sendiri yang berbicara di depanku. Penuh kepedihan dan kehancuran namun sangat tegar untuk hati seorang perempuan. ”De Mar,adikku terkasih,sebelumnya aku harus mengatakan padamu terlebih dahulu, bahwa apa yang kita harapkan dalam hidup tak selamanya harus terjadi demikian. Itulah hidup, De. Aku juga belajar banyak bahwa takdir memang telah dirancang Gusti Allah buat masing-masing orang. Sekali lagi, jangan pernah engkau merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi padaku ini. Engkau hanya ada di tepian itu semua,aku yang berada di dalamnya dan aku siap mengambil semua risiko itu. Aku ikhlas De.

Adikku, kita harus legawa, meskipun batin berontak dan terkoyak habis karena kepedihan yang ditimbulkan. Aku harus mengubur semua cintaku pada Mas Jati. Selebihnya aku merasa sangat bersalah padanya. Aku harus meninggalkan dirinya tanpa kesalahan apapun yang telah diperbuatnya. Emak dan Bapak sendiri bahkan telah berbicara langsung pada Mas Jati,memohon maaf untuk menikahkan aku dengan Mas Jarot. Kami tak mampu membayar semua pinjaman berikut bunganya. De Mar, engkau kan tahu, kita tak memiliki apaapa lagi.

Jadi, dengan pernikahanku ini kita bisa terbebas dari semua yang menjerat. Adikku,sekali lagi ingat,ini semua bukan disebabkan dirimu. De Mar, tak perlu pulang untuk menghadiri pernikahanku. Doakan saja aku dari jauh. Juga doakanlah Mas Jati. Ia sudah pergi sejak sebulan lalu.Kabarnya tak pernah datang lagi. Adikku, biar aku simpan cinta ini untuknya,mungkin saja pada suatu waktu cinta itu akan datang kembali mencari jalannya sendiri.” *** Aku memang tak mau pulang menghadiri pernikahan Yu Rin. Aku tak sanggup melihatnya disandingkan dengan Mas Jarot. Sungguh, aku yang paling merasa bersalah. Aku sangat tahu bagaimana dalamnya cinta Yu Rin pada Mas Jati, begitu juga sebaliknya.Lantas kenapa aku yang ditakdirkan menjadi api yang menghanguskan pucuk-pucuk cinta mereka berdua?

Sekolahku selesai pada waktunya. Aku pulang sebentar mengabarkan kegembiraan ini. Aku bahkan tak pernah merasa benar-benar bahagia dengan kelulusanku. Beda dengan kakakku, ia menyambutku seperti seorang ibu yang telah lama menanti kepulangan buah hatinya.Yu Rin sangat membanggakan aku di depan kerabat sedesa, juga di hadapan keluarga suaminya. Aku mencari- cari sinar indah di mata kakakku itu. Sepandai-pandainya ia memperlihatkan kegembiraannya, aku tahu sinar di bola mata hitam itu tak lagi berkilau. Cahaya berpendar itu telah lama mati. Air muka kakakku tak mampu menyembunyikan kegetiran hatinya. ”Engkau menyembunyikan sesuatu Yu,” kataku keesokan harinya saat kami berdua jalan-jalan di kebun tebu.

Langkah kakakku terhenti. Ia berjingkat, tangannya memetik bunga tebu lalu disematkannya di telingaku. Seperti yang sering ia lakukan saat kami kecil. Aku tertawa. Ia tersenyum. ”Apa perlunya aku menyembunyikan sesuatu De? Hidupku berjalan seperti biasa, aku sudah punya anak, dan tak kurang apa pun.Mari kita bicara tentang kau, bagaimana selanjutnya? Kapan engkau akan berumah tangga?” ”Aku akan kembali ke kota,Yu. Ada seorang pemilik klinik bersalin mengajakku bekerja di tempatnya.Aku mohon doa restumu Yu. Biarkan aku menjalani ini dulu untuk menebus semua yang sudah engkau korbankan.

” Mata kakakku berkaca-kaca.Aku memeluknya erat.Yu Rin mungkin tak tahu bahwa aku sudah mendengar semuanya. Mas Jarot tak lagi setia. Ia sudah punya wanita baru di desa tetangga sehingga jarang pulang ke rumah. Setahun sejak aku tinggal dan bekerja di kota, datang surat Yu Rin untukku. ”De Mar, tentu engkau masih ingat perahu kertas yang kita lepas di selokan sawah? Itu hanya perumpamaan De. Seperti halnya perahu yang menemukan pelabuhan, aku sudah menemukan cintaku yang dulu. Sedalam apa pun aku menguburnya, ia muncul kembali dalam kehidupanku. Gusti Allah tak pernah menutup telinga saat mendengar doaku.

Mata-Nya tak pernah buta melihatku meneteskan air mata saat rindu datang menghantam. Gusti Allah hadirkan kebahagiaan untukku. De Mar, ternyata Mas Jati merasakan hal yang sama. Cinta kami tak pernah mati. Begitu bunyi surat Yu Rin. Kereta berhenti di stasiun Madiun. Aku bergegas turun. Langkahku ringan menenteng tas sepanjang peron. Bibirku tak henti mengulum senyum.Aku datang Yu Rin, aku ingin turut menikmati kebahagiaan yang engkau rasakan. Seakan pupus semua rasa bersalah yang selama ini mengganjal hatiku. Kakakku telah menemukan cinta sejatinya. Setelah menemui Emak dan Bapak, aku tak mau berlama-lama di rumah.Aku harus segera menemui Yu Rin.Rumahnya memang tidak terlalu dekat dengan rumah kami.

Aku mengambil jalan pintas. Lewat belakang, menerobos kebun tebu lalu melintas jembatan kecil di atas selokan tempat kami biasa bermainmain. Langit sore mulai memerah, sebentar lagi malam tiba. Aku menengadah, mendung rupanya. Gerimis mulai turun, kakiku melangkah ke gardu jaga kereta yang sudah tak digunakan lagi. Dulu bila hari hujan, biasanya kami menepi dan berteduh di dalamnya.Beberapa meter sebelum mencapai gardu langkahku terhenti. Dua bayangan manusia berkelebat di dalamnya. Sungguh aku tak pernah lupa pada sosok kakakku dan Mas Jati.

Itu pasti mereka berdua. Seketika itu pula aku berdiri mematung sendirian di antara kebun tebu, rel kereta, dan petak sawah, menyaksikan dua anak manusia saling melepas rindu. Rambut ikal Yu Rin tergerai di genggaman Mas Jati. Cinta dan kegairahan yang menyeruak dari tubuh keduanya membuat badanku kaku. Aku mengalihkan pandang dari tubuh Yu Rin dan Mas Jati yang tengah berpelukan erat. Aku menghela napas, wangi rumput lamat-lamat tercium. Gerimis sudah reda. Aku menatap langit yang kian memerah. Aku sungguh mengerti apa yang tengah terjadi. Tiba-tiba mataku basah, aku menangis bahagia. Cinta sejati memang tak pernah mati. ***
2 Mei 2007 Antara Surabaya-Yogyakarta

Penyesalan Marni Cerpen: Humam S. Chudori


Republika
Minggu, 16 September 2007

Penyesalan Marni
Cerpen: Humam S. Chudori

Sejak di-pehaka, Himawan sering sekali dirawat di rumah sakit. Penyakit asma yang dideritanya sering kambuh. Padahal, sebelum kena pehaka, ia jarang dirawat di rumah sakit kendati tiap bulan mesti mengunjungi dokter. Tragisnya, setelah empat kali dirawat di rumah sakit, Marni mengalami nasib serupa dengan suaminya -- kena pehaka. Sejak itu neraca keuangan keluarga Himawan mulai goncang.

"Jadi orang itu jangan penyakitan," kata Marni, tatkala suaminya pulang dari rumah sakit, setelah kesekian kalinya ia dirawat. Himawan diam. Betapa tidak, baru dua langkah pasangan suami-istri itu masuk ke dalam rumah, Marni sudah melontarkan kalimat ketus. "Kalau sudah begini, apalagi yang harus dijual?" kata Marni lagi.

Himawan tak menyahut. Hatinya terasa sakit mendengar kalimat yang dilontarkan istrinya. Rasanya ia ingin mendaratkan tamparan ke muka perempuan itu jika tidak ingat tubuhnya sendiri masih lemah.

Sebetulnya ia ingin langsung ke kamar, tiduran. Namun, setelah mendengar kata-kata istrinya itu tubuhnya langsung lemas. Gemetar. Limbung. Matanya seperti berkunang-kunang. Kepalanya terasa nyut-nyutan. Ia kehilangan tenaga untuk melangkah ke kamar. Karena itu, ia langsung duduk di atas tikar. Di ruang tamu.

Rumah itu memang sudah lama tak punya kursi tamu lagi, sudah mereka dijual. Sebelumnya beberapa perabotan rumah lain -- televisi, kulkas, dan bupet -- juga sudah mereka jual.

Sejak tak ada meja kursi tamu, di ruangan yang tidak terlalu luas itu hanya ada selembar tikar plastik yang tak pernah digulung.

Watak asli Marni baru disadari Himawan setelah anak pertama mereka lahir. Semula sifat buruk istrinya dianggap Himawan sebagai bawaan jabang bayi, lantaran istrinya nyaris tidak mengalami kekosongan. Setelah dua bulan dinikahi Himawan. Sikap dan kelakuan Marni mulai berubah.

Ketika pertama kali berhenti haid, Himawan menganggap kelakuan perempuan itu berubah karena mengalami fase ngidam. Himawan menyadari orang yang sedang ngidam -- seperti yang sering didengarnya dari orang lain -- emosinya labil. Itulah sebabnya lelaki itu berusaha untuk tidak tersinggung. Dia sendiri sangat berharap secepatnya mempunyai keturunan, lantaran terlambat menikah.

Bukan sekali dua kali Himawan mendengar cerita tentang kelakuan orang ngidam yang berubah nyleneh. Menjadi manja, gampang cemberut, bahkan serba ingin menang sendiri. Meski pada umumnya orang ngidam cuma ingin makan yang serba pedas atau masam. Kebiasaan orang ngidam seringkali menjadi aneh, kolokan, bahkan tidak jarang membuat suaminya kesal.

Ketika Erna -- adik Himawan -- ngidam bukan hanya sekali menyuruh suaminya membelikan bakso di tengah malam. Widodo pun mengabulkan permintaan Erna. Ia terpaksa mencari makanan yang diminta 'jabang bayi'.

Namun, alangkah kesalnya lelaki itu setelah sampai di rumah. Erna hanya mencoba sesendok kuahnya. Dan, makanan yang diperoleh dengan susah payah itu tidak disentuh sama sekali. Celakanya jika permintaan Erna tidak dituruti, ia akan marah-marah kepada suaminya. Meskipun demikian, Widodo tak berani menolak permintaan 'sang jabang bayi'.

Memang tidak sedikit orang ngidam yang tidak berubah kelakuannya. Tidak ada perubahan perilaku atau kebiasaan, kecuali menjadi sering muntah karena perutnya terasa mual.

Andaikata tak pernah memikirkan masa depan anak, barangkali, Himawan sudah menceraikan istrinya. Ia sudah merasakan sendiri betapa tidak enaknya menjadi korban perceraian orangtua. Lantaran ia dan dua orang adiknya memang produk rumahtangga yang berantakan alias broken home.

Ketika masih bekerja, Marni acapkali berkata kepada Rita -- tetangga depan rumahnya -- kalau dirinya tidak bekerja, kebutuhan rumah tangganya pasti takkan pernah bisa tercukupi.

"Berapa sih gaji seorang sopir seperti suami saya?" kata Marni, tatkala mereka belum di-pehaka, mengeluh kepada Rita usai menceritakan penghasilannya.

"Sama saja, Mbak," kata Rita jika tetangga depan rumahnya sudah berkata demikian, "Suami saya juga sopir." "Kalau suami Dik Rita lain. Biar sopir tapi sopir kedutaan besar. Pasti gajinya besar. Karena itu, kamu tidak perlu bekerja lagi seperti saya."

Apabila Marni sudah mulai membicarakan penghasilan suaminya, Rita berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Waktu itu mereka -- baik Himawan maupun Marni -- masih aktif bekerja. Mereka masih punya penghasilan. Namun, setelah di-pehaka Marni tak berani lagi membicarakan gajinya. Ia tak pernah membanggakan penghasilannya.

Walaupun demikian, toh ternyata Marni masih merasa lebih hebat dari para tetangganya yang tidak bekerja. Ia memang sering melecehkan wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga. Itu sebabnya tak ada tetangga yang mau dekat dengan Marni, kecuali Rita.

Sejak di-pehaka, Marni tidak pernah melamar kerja lagi. Karena, ia sudah tak mungkin bekerja lagi. Pertama, karena usianya sudah di atas kepala empat. Kedua, pendidikannya pas-pasan. Hanya berijazah slta dan tidak punya ijazah lain. Ijazah dari kursus ketrampilan, misalnya.

Dan, ketiga, pengalaman kerjanya tidak bisa digunakan sebagai referensi mencari pekerjaan lain. Sebab pekerjaannya hanya sebagai pemandu penonton bioskop. Ya, tugas Marni di tempat kerjanya hanyalah mengantar penonton ke kursi sesuai dengan nomor karcisnya. Sementara itu, sudah banyak bioskop yang tidak mampu bertahan. Menghentikan usahanya. Tidak beroperasi. Gulung tikar.

Untungnya, Hendy, ayah Himawan, meninggalkan warisan kepada anak-anknya, termasuk Himawan. Sebuah rumah yang kini dikontrakkan. Dari hasil kontrakan itulah keluarga Himawan berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari selama belum mendapatkan pekerjaan lagi, meski tidak cukup juga.

"Kalau sudah begini apalagi yang masih bisa dijual, Mas?" Marni mengulang pertanyaan sebelumnya, setelah lama Himawan tak melontarkan sepatah kata pun.

Himawan masih duduk mematung. Mengatur napasnya yang tak teratur. "Orang ditanya istri kok diam saja."

"Rumah warisan bapak masih ada," kata Himawan, pelan. Nyaris tak terdengar. Setelah ia berhasil menepis rasa galau yang memenuhi benaknya.

"Sudah gila kamu, Mas?"

"Tadi kamu tanya barang apalagi yang masih bisa dijual. Rumah peninggalan bapak masih laku dijual. Kalau laku dijual masih cukup untuk biaya hidup kita. Paling tidak dalam waktu beberapa tahun ke depan," jawab Himawan lemah. "Jika nanti kurang ya rumah ini yang kita jual."

Marni diam.

"Kalau bukan rumah itu apalagi, coba pikir? Jual perabotan? Perabotan apa yang masih bisa di jual? Tikar atau bantal? Atau jual tenaga? Nyatanya kita juga sudah tidak bisa bekerja? Bukankah ini artinya tenaga kita juga sudah tak laku?" kali ini Himawan sudah tidak kuasa untuk menahan kekesalannya. Suaranya gemetar.

"Mas!"

"Atau kamu mau jual diri? Jual diri kamu juga sudah tidak laku. Kamu su... sudah tua...."
Himawan tak mampu melanjutkan kalimatnya. Nafasnya sesak. Dia terjatuh. Tidak kuat duduk. Tubuhnya mendadak kejang-kejang. Mulutnya terkatup rapat. Nafasnya berhenti.

Dengan terbata-bata Marni menceritakan kematian suaminya kepada Rita, tetangga depan rumahnya. Ada nada sesal, tatkala ia menceritakan peristiwa yang telah menyebabkan Himawan menghembuskan napas terakhirnya.

"Andaikata akan begini jadinya...." Marni tak melanjutkan kalimatnya.

"Ya, sabar saja, Mbak. Barangkali sudah menjadi suratan takdir."

"Masalahnya bukan itu, Rita," Marni memotong kalimat Rita, "Almarhum masih meninggalkan utang sama saudara-saudara saya. Ya, selama ini biaya rumah sakit sudah tidak ditanggung kantor. Lha wong Mas Himawan sudah tidak kerja."

Rita masih diam.

"Untungnya, dulu saya juga kerja. Kalau tidak, mungkin utang almarhum bisa dua kali lipat lebih. Selama ini saya yang menanggung biaya keluarga. Gaji suami selama ini sudah habis buat biaya berobat. Di kantornya, Mas Himawan hanya mendapat ganti sebagian dari biaya yang dikeluarkan. Itu pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan biaya yang harus kami tanggung selama ini. Sebab, tiap bulan Mas Himawan, tidak bisa tidak, harus tetap berobat. Terlambat berobat, ia harus dirawat," lanjutnya berapi-api. Rita tetap diam.

"Coba kalau saya tidak pernah bekerja, apa tidak...."

"Maaf," Rita memotong kalimat yang belum usai dilontarkan Marni, "Perut saya sakit. Ingin buang air."

Dengan tergopoh-gopoh Rita pulang. Ia tidak ingin mendengar kalimat Marni selanjutnya. Kedatangan Rita ke rumah Marni, malam itu, semula hendak menghibur sang tetangga yang belum genap seminggu ditinggal suaminya. Namun, setelah mendengar ceritanya Rita justru merasa muak. Bahkan kesal.

Yang disesalkan Mbak Marni ternyata bukan karena kematian suaminya, tapi karena almarhum masih meninggalkan utang, pikir Rita.***

Penyair Muda, Istri Muda Cerpen: Leo Kelana


Batam Pos
Minggu, 02 Desember 2007

Penyair Muda, Istri Muda
Cerpen: Leo Kelana

Jika aku bertemu Tuhan, maka yang pertama kulakukan adalah memprotesNya. MenyalahkanNya. MenggugatNya. Aku kecewa karena doaku puluhan tahun lalu Ia kabulkan. Aku sungguh terluka. Karena saat itu aku tak sungguh-sungguh berdoa. Aku tak serius. Hanya bercanda. Seperti kata penyair yang tegak berteriak. Seakan suaranya membelah langit. Meluluh-lantak bumi.

"Aku bergurau dengan Tuhan ketika malam menjadi kelam. Ketika hujan turun dari langit seperti kaki-kaki merpati yang bermain di seng rumah. Ketika halilintar menyambar lalu cicak di pohon kelapa gemetar. Ketika sepi mencekam lalu aku mulai berpikir bunuh diri. Tuhan menuntunku mandi ke kali, bermain air yang keruh karena hujan belum reda sejak pagi dan aku menjadi lupa bunuh diri."

Aku kecewa karena cita-citaku menjadi penyair Ia kabulkan. Apa enaknya jadi penyair? Dan sialnya ini menjadi semacam garis takdir yang tak mungkin kutolak. Tak bisa kusiasati. Ideku seakan mati.
Puluhan perempuan menolak cintaku karena kebetulan aku penyair. Mereka tahu karena sering melihat namaku muncul di koran hari Minggu dan beberapa buku antologi puisi. Mereka membaca puisi-puisiku seakan membaca alur hidupku sendiri. Mereka kemudian sepakat mengatakan aku tukang gombal. Tukang tipu. Pembohong. Bahkan lebih dari itu, mereka menuduh pekerjaanku hanya menghayal belaka.
"Apa yang bisa kuandalkan darimu. Cinta tidak butuh puisi. Cinta tak memerlukan hayalan. Apa bisa kenyang dengan puisi?"
Siapa tidak kecewa disemprot seperti itu. Siapa tidak jengkel diremehkan seperti tai keledai yang bikin sengak jalanan. Tapi, apa benar aku hanya berhayal? Tidak! Aku tidak berhayal. Aku hanya bermimpi. Lalu apa bedanya hayal dan mimpi? Entahlah!

Menjadi penyair layaknya sebuah kutukan bagiku. Cita-citaku waktu kecil menjadi presiden. Tapi ketika kulihat presiden di negeriku tidak ada yang becus dan sunguh-sungguh serius mengurusi bangsa, aku jadi takut. Aku tak lagi bercita-cita menjadi presiden. Aku tak mau menjadi seonggok daging yang dicaci-maki karena gagal memberi kesejahteraan bagi rakyatnya. Apalagi jika kelak setelah aku menjabat, negeriku diliputi malapetaka karena hartanya kucuri, kukorupsi, kumakan sendiri, tentunya dengan mengeluarkan berbagai macam proposal fiksi. Maka cita-citaku kuubah menjadi pilot.
Aku sering membayangkan terbang ke mana-mana. Melihat dunia dari kaki langit. Jalan-jalan ke Eropa dan Amerika. Menunaikan ibadah haji ke Mekah setiap tahun. Atau sesekali mampir di Taj Mahal, tembok raksasa di Cina, bahkan ke Casablanca, sebuah kota di benua Afrika yang membuatku berdecak kagum karena nama itu menjadi nama parfum kesukaanku. Tentu enak bukan? Apalagi itu semua kulakukan gratis. Cuma-cuma!
Tapi cita-citaku menjadi pilot kugagalkan. Aku ngeri melihat belakangan ini di negeriku pesawat berjatuhan seperti daun di musim gugur. Ada yang hilang tanpa ketahuan rimbanya. Ada yang gagal take off karena mesin rusak parah. Bahkan ada yang jungkir balik ketika landing. Roda pesawat copot karena baut lupa dipasang. Belum lagi anganku jalan-jalan ke Eropa terancam gagal. Pesawat dari negeriku tidak diperkenankan terbang ke sana karena alasan keselamatan. Orang-orang Eropa tidak mau ambil risiko jika suatu saat hal-hal yang sangat ngeri terjadi. Misalnya saja, pesawat dari negeriku jatuh di kota Paris atau London karena mesin tiba-tiba mati.
Begitu juga keinginanku beribadah haji tiap tahun. Arab Saudi, sahabat terbaik negeriku, tiba-tiba berubah. Aku tak mengerti mengapa dia ikut-ikutan mem-black list pesawat dari negeriku. Burung Garuda mendapat lampu merah.
Membuat Menteri Goda Gado belingsatan seperti cacing kepanasan. Ratusan ribu jamaah haji akan ia gagalkan jika burung Garuda benar-benar tak diijinkan terbang ke Arab Saudi. Terang saja karena haji adalah area bisnis paling basah. Tak perlu keringat tapi uang akan melimpah. Begitulah barangkali. Karena hidup di negeriku sebagian besar diliputi oleh kata barangkali. Ah!
Lalu dalam keadaan seperti itu, menjadi pilot sama saja mimpi buruk. Tidak ada enaknya! O...aku mau jadi tentara saja. Oh...tidak! Aku tak mau jadi tentara. Dulu aku sering melihat mereka membunuhi mahasiswa. Entah mengapa, menyebut kata tentara saja bulu kudukku berdiri. Terang karena berita yang kudengar tentang mereka adalah yang jelek-jelek melulu. Mereka membunuh saudara sendiri di mana-mana. Bahkan baru-baru ini, di sebuah pelosok di Jawa Timur, beberapa tentara menyarangkan peluru dengan bangganya ke dada rakyat tak berdosa. Dan konyolnya lagi, itu disanggah sebagai pelanggaran berat hak azasi manusia. Sungguh malang hidup di negeri penuh ironi!
Maka kutukan itu menjelmalah. Aku memilih menjadi penyair. Seorang penyair datang ke sekolahku. Membaca puisi-puisinya. Aku tak sadar bahwa yang dibaca adalah imajinasi bukan cerita hidup sendiri. Dalam puisi itu aku dengar penyair menjadi Dewa Penyelamat. Penyair berpakansi bukan saja ke Eropa atau Amerika. Akan tetapi ke planet Mars bahkan ke surga sekaligus. Penyair tidak hanya bercinta dengan perempuan-perempuan tercantik di dunia. Melainkan dengan Dewi Venus dan bidadari surga sekalian. Penyair bisa bolak-balik ke Mekah tiap hari untuk haji. Kudengar mereka sering bergurau dengan Tuhan ketika malam menjadi kelam. Sungguh enaknya bukan main. Tapi ternyata tidak begitu! Dan itu kusadari setelah aku dikerangkeng dalam dunia penyair dan tak mungkin lari.
Kusadari semua hanya imaji belaka ketika aku sudah benar-benar gila. Semua orang bilang aku tidak waras. Aku terjangkit maniak depresi sangat akut, sindrom bipolar. Suasan hati tak menentu dan berubah-ubah, dari euforia berlebihan menjadi putus asa tak hingga. Aku menjadi sangat tertekan dengan setiap imajinasi dalam puisiku. Dan aku mulai berpikir untuk mengakhiri semuanya dengan bunuh diri. Mengikuti jejak seniman seperti, Vincent Van Gogh, Herman Melville, Edgar Allan Poe, dan Virginia Woolf, yang gagal berperang dengan dirinya kemudian mengakhiri hidup dengan tragis. Seluruh waktu dan tenagaku hampir habis terkuras mencari jalan paling damai menuju mati, selain tanpa henti berpuisi.
Bagiku puisi adalah darah yang jika berhenti mengalir berarti aku telah mati. Nasib sial sungguh! Dalam puisi-puisiku aku bahkan menginginkan mati. "Aku ingin mati, Tuhan/ tuk menemu Mu//mari... mari sudahi sandiwara/ tak tahan kuingin bermesra/ kita bersua//hangus mampus/ diriku padaMu tak berdaya//rapuh lepuh/ diriku padaMu hilang musnah.//"
Detik-detik dalam hidupku adalah sakaratulmaut. Prosesi menuju mati. Aku memesan peti mati dari kayu jati. Melihat ulahku, Ayah mengurungku dalam kamar. Benda-benda tajam dijauhkan dari jangkauanku. Jendela kaca diganti kayu kemudian dipaku dengan keras. Pintu kamar dikunci, digembok. Di kamarku aku nyaris tak berteman. Kecuali dengan spidol hitam, kertas lusuh, pensil yang tintanya mewangi, dan tentu saja bayanganku sendiri yang sering kuajak diskusi.
Maka setiap aku ekstasi untuk mati, tidak ada hal lain kulakukan kecuali menulis puisi. Dinding kamarku adalah sahabat paling setia yang pernah kutemui. Dia diam saja ketika tanganku gatal kemudian menulisi kulitnya yang putih bersih dengan spidol hitam. Yang kutulis bukan hanya puisi sendiri, tapi juga puisi orang-orang terkenal seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan Umar Khayyam.
"Di kamar ini pernah tinggal/ sebuah jiwa yang terus menyala.//Ditemani tawa-tawa palsu/ sambil tangan dan pena/ saling bersiasat untuk menulis apa saja/ di dindingnya;/ dinding tak jadi dicat merah!//"
"Kamar begini,/ 3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!""barangkali hidup adalah/ doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras./ ia merasa tuhan sedang memandangnya dengan curiga;/ ia pun bergegas.//

"Bangunlah, Cintaku, bangun! Fajar cerlang tiba/ Reguk anggur perlahan-lahan dan petik kecapi/ Tak ada nyawa yang abadi di tempat ini/ Di antara mereka yang pergi, tak seorang pun kembali//"
Aku lelah. Aku hilang arah. Aku frustasi. Aku ingin lekas mati.
*****

Jika aku bertemu Tuhan saat ini, maka yang pertama akan kulakukan adalah menciumNya. MemelukNya. Berterima kasih padaNya. Aku sungguh beruntung karena doaku Ia kabulkan. Doa yang tidak serius untuk menjadi penyair. Aku sungguh beruntung. Melebihi apa yang akan kucapai jika aku menjadi presiden, pilot, atau tentara. Anugerah apa pula yang paling berharga bagi lelaki kecuali istri cantik penuh cinta nan setia? Ahai...! Hanya satu perempuan yang sungguh menerima cintaku. Dan aku tak butuh lebih dari itu.
"Mas tahu Anjani jatuh cinta karena apa?" tanya istriku. "Karena Anjani kasihan Mas mau bunuh diri?" jawabku.

"Bukan itu. Anjani jatuh cinta karena puisi-puisi Mas yang menyentuh hati dan menggetarkan jiwa," ucap Anjani tersenyum dan lesung pipitnya menggodaku seketika. "Mas dapat inspirasi dari mana?" lanjutnya lagi.
"Inspirasi tak cukup membuat seorang penyair melahirkan karya. Ia mesti punya motivasi."
Anjani mengernyitkan dahi. Pandangnya yang serupa cahaya bening bintang kejora mengarah padaku. Ia menunggu lanjutan kalimatku.

"Hidup yang direnungkan adalah inspirasi terbesarku. Dan senyummu adalah motivasi yang paling nyata," terangku dengan mimik sangat serius. Di luar malam makin lelap.
Cinta membuat perang dunia kelihatan sederhana!***

Kairo, Buus Indah Permai; Senin 11:40 23062007


Penantian Ibu Saat 21 Mei 2006 Cerpen: Iqbal Latief


Pontianak Post
Minggu, 27 Mei 2007

Penantian Ibu Saat 21 Mei 2006
Cerpen: Iqbal Latief

Malam gelap. Sekitar sepuluh meter lagi aku sampai di rumah. Menyusuri gang sempit yang remang-remang karena hanya disinari lampu 5 watt. Perjalanan yang lumayan melelahkan hampir 4 jam akan segera tertunaikan dengan berkumpulnya aku kembali dengan anggota keluarga.

"Assalamu`alaikum!" kubuka perlahan pintu belakang rumahku. Tak terdengar jawaban, hanya suara televisi. Mungkin semua asyik menikmati acara televisi. Langsung saja aku masuk dan menuju ke dapur. Entah apa karena mendengar suara di belakang atau yang lain, seorang mendongak ke arah dapur, memicingkan mata sebentar dan menemukan sosok tubuhku sedang mengunyah tempe goreng kesukaanku. Dialah ibuku.

"Oh kamu Yan, kok nggak bilang mau pulang, kan bisa ibu masakin lebih." Terdengar pelan dan datar, namun aku tahu ada perasaan bahagia pada ibuku.

"Tadi sudah makan kok Bu!" Ujarku ketika menyalami tangannya.

"Ya sudah, cepat temui bapakmu di ruang tamu."

Aku letakkan terlebih dulu tasku di kamar sebelum menghampiri bapak. Di wajahnya terlihat kekagetan ketika aku menghampiri dan menyalaminya.

Mandi pada malam itu menjadi mandi tersegar selama 2 bulan ini. Selama kuliah Surabaya aku mandi dengan air PDAM yang hangat.

Acara televisi malam itu adalah sinetron. Sebenarnya kubenci, tapi berhubung itu acara yang ditonton ibuku terpaksa juga aku ikut nimbrung. Kapan lagi aku bisa duduk-duduk bersama ibuku.

"Beberapa hari lalu ada surat dari kampusmu Yan, tuh di laci yang tengah," lbuku memulai pembicaraan sambil mengarahkan jari manisnya ke arah laci yang ia maksud. "Kayaknya nilai rapormu nggak seperti yang dulu Yan?" ibuku masih tetap saja menamai nilai semesterku dengan istilah rapor seperti SMA dulu.

"He?eh," sahutku. "Kata kakakmu sih nilaimu turun Yan, bener nggak?"

Jantungku berdegup. Walaupun ibuku tidak mengerti huruf-huruf dalam mata kuliah itu, ia selalu bertanya pada kakakku. Ada perasaan bersalah, mengapa aku tidak bisa seperti semasa sekolah. Saat itu ibuku bangga melihat raporku dengan tulisan peringkat ke 1 dari 40 siswa atau peringkat 2 dari 42 siswa. Ingin kujelaskan pada ibuku kuliah berbeda dengan sekolah.

Ya mungkin terlihat tidak adil. Ingin kutegaskan bahwa keberhasilan sewaktu kuliah tidak ditentukan nilai saja. Tapi mana mungkin ibu mengerti. "Ya sudah, kata kakakmu sih kuliah memang sulit, nggak seperti SMA." Kali ini aku terselamatkan oleh kakakku.

Aku terdiam, ibuku juga terdiam. Mungkin ia tahu aku nggak ingin membicarakan masalah itu. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Ada perasaan gusar yang sulit dijelaskan. Aku tahu, itu tentang ibuku.

"Oh ya Yan, minggu depan pulang lagi ya, kan ada peringatan maulid nabi." "Aduh, kayaknya nggak bisa Bu soalnya Ryan harus mengerjakan laporan. Ibu tahu sendiri kan disini nggak ada komputer." "Emhhhh," gumam ibuku pendek. Kulihat ada gurat kekecewaan di wajahnya.

Kurasa ibu memaklumi. Itu terlihat ketika ia mengarahkan pandangannya kembali ke arah televisi. Tapi aku tahu, pikirannya tidak ada dalam sinetron yang ia tonton.

Malam telah larut dan sampai sejauh itu aku belum bisa memejamkan mata. Ada perasan gelisah. Jam dinding di kamar tanpa henti berdetak memecah kesunyian. Aku tak tahu jam berapa sekarang. Tapi yang kuyakini, pasti tengah malam lebih.

Aku bangkit dari tempat tidur, mungkin sholat malam dapat menenangkan pikiranku. Kudengar kentongan kampung tetangga ditabuh dua kali, pertanda waktu menunjukkan pukul dua. Aku tak tahu siapa yang rajin menabuh kentongan tiap malam. Padahal sekarang sudah jarang kampung yang mengadakan siskamling. Orang-orang lebih senang tidur di rumah, menjaga rumahnya masing-masing.

Baru saja akan melangkah ke kamar mandi mengambil air wudhu, aku dikagetkan suara tertahan karena tangis dari mushalla kecil tak jauh dari kamar mandi. Suara ibuku. Aku berhenti sebentar, aku tak ingin suara air mengganggu kekhusukan do?a ibuku.

"Ya Allah puji syukur padamu yang telah memulangkan anakku di hari ulangtahunku. Walaupun ia mungkin lupa hari ini, karena terlalu sibuk belajar dengan kuliahnya. Tapi aku tetap bersyukur padamu ya Allah. Engkau memberi kado terindah di hari ulang tahunku. Ya Allah, sebagaimana engkau pulangkan anakku hari ini dengan indah. Bimbinglah ia dalam menghadapi masa-masa sulit di perkuliahan. Berikan perlindungan-Mu terhadap anakku dalam menjalani aktivitas, yang jauh dariku ya Allah. Hanya itu permintaanku."

Deg. Hatiku hancur remuk. Terjawab kegelisahan yang menghantuiku. Aku menyesali diri yang lupa hari ulangtahun ibuku. Walaupun di keluargaku tak ada kebiasaan merayakan ulang tahun, tapi aku tak pernah lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibuku setiap 21 Mei dengan kado kecil.

Tapi hari ini, bagaimana mungkin aku lupa hari ini 21 Mei 2006, ulang tahun ke 50 ibu. Aku tak bisa menyembunyikan emosiku. Aku menyesal mengapa dua bulan ini tak pernah membuka buku agendaku, dimana 21 Mei kulingkari spidol merah.

Aku terlalu sibuk dengan kuliah. Yang mungkin lebih aku sesalkan mengapa di terminal aku tak membeli sandal seharga 5000 rupiah, sandal yang kupikir cocok dipakai ibu saat di kamar. Mengapa tadi aku lebih memilih membelikan sisa uangku untuk membeli mie goreng di pinggir jalan. ***

Pejuang Cerpen: Maria Magdalena Bhoernomo


Seputar Indonesia
Minggu, 19 Agustus 2007

Pejuang
Cerpen: Maria Magdalena Bhoernomo

Lelaki tua itu selalu suka mengenakan lencana merah putih yang disematkan di bajunya. Di mana saja berada, lencana merah putih selalu menghiasi penampilannya.

Ia memang seorang pejuang yang pernah berperang bersama para pahlawan di masa penjajahan sebelum bangsa dan negara ini merdeka. Kini semua teman seperjuangannya telah tiada. Sering ia bersyukur karena mendapat karunia umur panjang. Ia bisa menyaksikan rakyat hidup dalam kedamaian.

Tak lagi dijajah oleh bangsa lain. Tidak lagi berperang gerilya keluar masuk hutan. Tapi ia juga sering meratap-ratap setiap kali membaca koran yang memberitakan keadaan negara ini semakin miskin akibat korupsi yang telah dianggap wajar bagi semua pengelola negara.

Banyak kekayaan negara juga dikuras habis-habisan oleh perusahaan-perusahaan asing yang berkolaborasi dengan elite politik. Kini, semua elite politik hidup dalam kemewahan, persis seperti para pengkhianat bangsa sebelum negara ini merdeka. Dulu, pada masa penjajahan, para pengkhianat bangsa menjadi mata-mata Kompeni.

Mereka tega mengorbankan anak bangsa sendiri demi keuntungan pribadi. Mereka mendapat berbagai fasilitas mewah. Seperti rumah, mobil dan juga perempuan-perempuan cantik yang dijadikan gundiknya. Ia tiba-tiba teringat pengalamannya membantai sejumlah pengkhianat bangsa di masa penjajahan.

Saat itu ia ditugaskan oleh Jenderal Sudirman untuk membersihkan negara ini dari pengkhianat bangsa yang telah tegamengorbankan siapa saja demi keuntungan pribadi. ”Para pengkhianat bangsa adalah musuh yang lebih berbahaya dibanding Kompeni. Mereka tak pantas hidup di negara sendiri. Kita harus menumpasnya sampai habis. Mereka tak mungkin bisa diajak berjuang karena sudah nyata-nyata berkhianat,” Jenderal Sudirman berbisik di telinganya ketika ia ikut bergerilya di tengah hutan.

Ia kemudian bergerilya ke kota-kota menumpas kaum pengkhianat bangsa. Ia berjuang sendirian menumpas kaum pengkhianat bangsa.Dengan menyamar sebagai penjual tape singkong dan air perasan tape singkong yang bisa diminum sebagai pengganti arak atau tuak,ia mendatangi rumah-rumah kaum pengkhianat bangsa. Banyak pengkhianat bangsa yang gemar membeli air perasan tape singkong.

Mereka bilang, air perasan tape singkong lebih nikmat ditenggak dibanding arak atau tuak.Air perasan tape singkong juga bisa bikin mabuk secara pelan-pelan sehingga nikmat untuk diminum sebelum bercinta dengan istri atau dengan gundik-gundik. Dengan minum air perasan tape singkong, mereka mengaku bisa lebih perkasa sehingga bisa lebih memuaskan istri dan gundik-gundiknya.

Dasar kaum pengkhianat, senangnya hanya mengumbar nafsu saja. Ia begitu dendam kepada kaum penkhianat bangsa. Mereka harus ditumpas habis dengan cara apa saja. Dan ia memilih cara paling mudah tapi sangat ampuh untuk menumpas kaum pengkhianat bangsa. Air perasan tape singkong sengaja dibubuhi racun yang diperoleh dari seorang sahabatnya berkebangsaan Tionghoa yang sangat mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Entah terbuat dari bahan apa, racun itu sangat berbahaya. Jika dicampur dengan air perasan tape singkong, lalu diminum, maka dalam waktu dua jamsetelah meminumnya maka si peminum akan tertidur untuk selamanya. Tak ada yang tahu, betapa kaum pengkhianat bangsa tewas satu persatu setelah menenggak air perasan tape singkong yang telah dicampur dengan racun.

Dokter-dokter yang menolong mereka menduga mereka mati akibat serangan jantung. Dukun-dukun yang mencoba menolong mereka menduga mereka mati akibat terkena santet. Pemuka-pemuka agama yang mencoba menolong mereka menduga mereka mati akibat kutukan Tuhan karena mereka telah banyak berbuat dosa. ***

LELAKI tua itu merasa ingin tetap menjadi pejuang, meski pada saat ini usianya sudah 80 tahun. Meski sudah tua, tubuhnya tetap sehat dan ingatannya masih normal. Sering ia ingin berjuang menumpas kaum pengkhianat bangsa yang kini semakin membuat negara ini miskin tertimbun hutang yang berbunga-bunga.

Ia sering membayangkan sedang menyamar sebagai penjual tape singkong dan air perasan tape singkong yang sudah dicampur dengan racun kepada kaum pengkhianat bangsa yang kini hidup bermewah-mewahan. Mereka pasti sama dengan kaum pengkhianat pada masa penjajahan. Mereka pasti juga suka bersenang-senang dengan istri dan perempuan-perempuan simpanannya.

Cuma bedanya mereka mungkin tidak suka minum air perasan tape singkong karena sekarang sudah banyak minuman keras denganberbagai rasa yang jauh lebih nikmat. ”Zaman telah berubah. Mungkin untuk menumpas kaum pengkhianat pada saat ini tidak lagi bisa dengan air perasan tape singkong bercampur racun. Perlu cara-cara lain”. Ia bergumam sambil duduk di kursi goyang di rumah cucunya.

Sejak istrinya wafat, ia memang diminta tinggal bersama cucunya yang paling kaya. Tanpa sepengetahuannya, cucunya itu adalah seorang pengusaha besar yang diam-diam ikut mengekspor kayu ke negara-negara lain secara ilegal. Cucunya bekerja sama dengan kaum penebang liar yang telah merusak ribuan hektar hutan di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera.

Di depannya, cucunya selalu berpura-pura membenci kaum pengkhianat bangsa yang telah merusak hutan. Dan pagi itu, ia bersama cucunya menikmati sarapan bersama, lalu membaca koran yang baru saja diantar loper. Koran itu memberitakan rusaknya hutan Indonesia akibat kerakusan sekelompok orang yang layak disebut sebagai pengkhianat bangsa dan negara.

Mereka betul-betul telah mengkhianati bangsa dan negara yang telah memberinya kepercayaan untuk menjaga hutan tapi kemudian merusak hutan. ”Pada masa penjajahan, hutan kita tidak rusak padahal tidak ada yang menjaganya. Kini hutan kita semakin rusak padahal dijaga banyak pihak”. Ia bergumam dengan kesal dan sedih. Cucunya tertawa dan menghiburnya dengan kata-kata lembut.

”Jangan sedih, Eyang. Hutan kita pasti akan kembali baik setelah tunastunas pohon tumbuh besar. Tapi kalau hutan kita semakin gundul, lebih baik dibuka untuk lahan pertanian atau berkebunan saja”. Ia tersenyum kecut. Kata-kata cucunya itu membuatnya masygul. Sebab, kenyataannya, lahan pertanian dan lahan perkebunan yang ada semakin sempit akibat pemekaran kampungkampung penduduk.

Banyak perkampungan baru di buka di mana-mana karena banyak orang kaya di negeri ini yang suka mengoleksi rumah mewah. Kaum koruptor juga suka menyembunyikan hasil korupsinya dalam bentuk kepemilikan rumah-rumah mewah di berbagai daerah atas nama keluarga dan kerabatnya agar sulit dilacak setelah kasus korupsinya terbongkar. ”Eyang sudah tua. Lebih baik menikmati kemerdekaan ini dengan sebaik- baiknya tanpa memikirkan bangsa dan negara yang sudah damai ini”.

Cucunya kembali menghiburnya dengan kata-kata lembut. Ia masih saja tersenyum kecut. Rasanya ia ingin tetap berjuang menumpas kaum pengkhianat bangsa dan negara yang saat ini merajalela memperkaya diri sendiri. ***

LELAKI tua itu baru saja habis sarapan bersama cucunya. Dan seperti biasanya, ia lalu membaca koran yang baru saja diantar loper.Tiba-tiba cucunya disergap oleh satu regu aparat penegak hukum dengan tuduhan sebagai penjarah hutan. Mereka juga menggeledah rumah mewah itu untuk mencari barang bukti yang dibutuhkan untuk proses hukum di persidangan nanti.

”Benarkah cucuku ikut merusak hutan?” tanyanya kepada seorang aparat yang sedang sibuk menggeledah kamar tidur. ”Ya, betul,Pak Tua. Cucu Anda sudah lama kami lacak.Semula kami menduga dia tinggal di luar negeri.Tapi ternyata dia tinggal di rumah ini”.

”Dengan siapa saja cucuku merusak hutan?” Seorang aparat itu hanya tersenyum sambil memandangi lencana merah putih yang disematkan di baju lelaki tua itu. Lalu bertanya, ”Maaf, apakah Pak Tua dulu seorang pejuang yang pernah berperang melawan Kompeni?” ”Ya, begitulah. Dan sampai sekarang aku ingin tetap berjuang. Sekali berjuang tetap berjuang sampai mati,” ”Bagaimana perasaan Pak Tua setelah melihat si cucu ternyata telah menjadi pengkhianat bangsa dan negara dengan ikut merusak hutan?” ”Aku sangat kecewa dan sedih. Dan jika ternyata cucuku memang terbukti bersalah, aku akan menghukumnya dengan mengeksekusi mati”.

”Dengan cara apa Pak Tua akan mengeksekusi mati si cucu yang telah ikut merusak ribuan hektar hutan itu?” ”Dengan cara yang sama seperti yang dulu sering kulakukan untuk menumpas kaum pengkhianat bangsa pada masa penjajahan”. ***

LELAKI tua itu menjenguk cucunya yang ditahan di dalam sel khusus.Tampak cucunya sangat murung dan kedinginan. Biasanya tidur di atas kamar tidur mewah, kini terpaksa tidur di sel yang sempit dan dingin. ”Tolong Eyang, kalau datang menjenguk saya lagi, bawakan minuman yang bisa menghangatkan badan,”Cucunya berpesan sambil tersipu malu.

”Kamu mau minum air perasan tape singkong?” tanyanya. Cucunya mengangguk. Esoknnya, ia datang lagi menjenguk cucunya di dalam sel khusus dengan membawa sebotol air perasan tape singkong yang telah dicampur dengan racun tikus. Racun tikus itu mirip dengan racun yang dulu digunakan untuk menghabisi kaum pengkhianat bangsa dan negara. Air perasan tape singkong itu hanya dicampur dengan sedikit racun tikus, agar cucunya tidak langsung mati sehabis meminumnya.

Mungkin dua atau tiga jam kemudian baru tertidur untuk selamanya setelah menenggaknya. ”Sebaiknya air perasan tape singkong ini kamu minum menjelang malam nanti, biar kamu tidak kedinginan, sehingga bisa tidur nyenyak sampai pagi,” ujarnya ketika menyodorkan sebotol air perasan tape singkong bercampur racun tikus kepada cucunya. Dan esoknya, pagi-pagi sekali ada kabar cucunya sudah tewas di dalam sel tahanan. Dokter yang memeriksa jenazah menduga cucunya mati akibat serangan jantung. ***

LELAKI tua itu tersenyum lega sehabis mengikuti prosesi pemakaman cucunya. Sambil berdiri di depan cermin, ia melihat lencana merah putih tersemat di bajunya. Ia merasa semakin bangga karena bisa melanjutkan perjuangan pada saat bangsa dan negara ini sudah merdeka lebih dari setengah abad. Ia yakin, sampai kapan pun pasti selalu ada pengkhianat bangsa dan negara. Dan ia ingin terus berjuang menumpas pengkhianat bangsa dan negaranya. Ia benar-benar seorang pejuang sejati. ***

Griya Pena Kudus, 2007