Suara
Pembaruan
Minggu,
06 Mei 2007
Riwayat
Kehormatan
Cerpen: Fakhrunnas MA
Jabbar
Sedari kecil, aku
percaya, bagi dara belia seperti diriku, kehormatan adalah segalanya.
Kehormatan ini tak sebatas harga diri, lebih-lebih lagi kehormatan seorang
perempuan yang sangat bernilai sebagai mahkota pernikahan. Emak selalu
berhujjah kepada diriku dan adik-adik yang semua berkelamin perempuan, agar
menjaga sepenuh hati kehormatan yang melekat pada diri kami.
Di kampung dulu, aku sering menyaksikan bagaimana anak dara belia yang sudah
tak perawan lagi, begitu tak bernilai. Selain jadi cemoohan berkepanjangan juga
cenderung diketepikan oleh orang-orang sekampung. Aku kasihan juga menatap
mereka yang begitu terhina. Tak berharga sama sekali. Bahkan disebut sebagai barang
tak berguna. Ibarat botol minuman, segelnya sudah rusak. Siapakah yang mau
meminumnya lagi kecuali para lelaki yang sama-sama tak bernilai pula.
Aku begitu kecut bila membayangkan bila hal serupa menimpa diriku. Keperawanan
bagi orang-orang kampung di atas segalanya. Amatlah hinanya bila sebuah
keluarga mempunyai anak dara yang sudah tak perawan lagi. Kenyataan buruk
semacam itu, sindiran orang-orang tua di kampung kami, laksana mengurung maling
dalam rumah. Suatu hal yan teramat sia-sia...
Malam ini, tiba-tiba aku harus mengkaji riwayat kehormatanku sendiri. Sesuatu
yang tak pernah terbayangkan bagi anak dara seperti aku. Usiaku baru 19 tahun.
Sedang ranum-ranumnya. Sedang berminyak dan bercahaya. Aku boleh sedikit
berbangga bila banyak anak bujang yang merasa keciri menatap kemolekanku. Aku
selalu merasakan getaran yang teramat sangat bila melintasi sekumpulan anak
bujangii yang sedang mencari jodoh. Sedang miang-miangiiinya.
Riwayat kehidupanku sama dan sebangun dengan riwayat kehormatanku. Riwayat itu
kini tiba-tiba bergerak berbelok-belok di luar kesadaranku. Segalanya bermula
dari peristiwa nestapa saat ayah yang amat kami cintai berpulang kerahmatullah.
Emak yang paling terkejut karena tak siap menerima kenyataan itu. Tapi bagi
diriku dan dua adik perempuanku justru terasa menusuk jiwa begitu dalam. Kami
semua tiba-tiba kehilangan tempat berteduh. Terasa kehilangan segalanya.
Kepergian ayah yang begitu tiba-tiba setelah kanker paru merenggutnya empat
tahun silam, benar-benar meninggalkan rasa gundah-gulanaiv teramat panjang
dalam kehidupan kami. Begitu berbekasnya, perasaan itu bak aliran setrumv yang
selalu menyengat kehidupan kami empat beranak yang tinggal.
Setrum yang paling kuat kurasakan saat aku harus berhenti melanjutkan kuliah di
kota, tempat
kami kini bertarung menaklukkan kehidupan. Semula aku harus bekerja menjadi
pelayan toko dengan gaji lumayan. Tapi ini tak berlangsung lama. Aku harus
berhenti karena masa kontrak kerjaku berakhir. Setrum-setrum lain terus
menyengat silih-berganti. Adikku yang masih SMP harus berhenti sekolah pula.
Tinggal si bungsu yang melanjutkan sekolahnya di bangku SD dengan
tertatih-tatih karena sering menunggak uang sekolah.
Di tengah pergolakan jiwaku yang meronta di titian hari yang gerah, aku bersama
emak dan dua adikku setiap hari nyaris menahan derita dan lapar. Selaku manusia
biasa, terus terang, kami sudah tak kuat. Setrum nasib yang terus melepuhkanvi
perasaan dan keperihan dalam hidup kami bagai tak akan berakhir jua.
Tubuhku yang sebenarnya molek kini terasa kian kurus saja. Wajahku yang dulu
bercahaya kini terasa buram dan kabusvii bagai diselungkupi asap
ketidakpastian. Sungguh, aku bak bergantung tak bertali, menanti tak berujung.
Kucoba menoleh ke kiri-kanan, ke pihak keluarga yang lain, bukannya tak ada.
Tapi mereka pun hidup dalam tak berkecukupan. Aku bisa memahami mereka.
Sementara kamar kontrakan kecil dan sederhana yang kami tempati berempat harus
dibayar setiap bulan.
Dalam deraan panjang itu, aku merasakan selalu betapa kehormatan masih kami
junjung setingginya. Kami bertekad tak akan pernah menyia-nyiakan. Orang-orang
kampung di negeri Melayu menyebutnya marwahviii. Marwah itulah yang masih kami
punya. Marwah yang megah itu tetap pula kami simpul dengan ajaran agama Islam
yang sudah kami anut turun-temurun. Di kamar kontrakan yang sempit, kami empat
beranak masih selalu membaca Alquran. Emaklah yang selalu membimbing kami
bagaikan bertadarus terutama setiap malam Jumat.
Sajadah lusuh di sudut ruangan yang selalu terbentang masih kami sujudi
bergantian di tiap waktu sholat. Aku sendiri merasakan betapa kehormatanku
selalu pula terjaga. Selalu dipagari ayat-ayat suci dan bacaan sholat yang
memberikan kesejukan dalam hidup kami.
Malam ini, aku berada di puncak kebimbangan yang tiada tara.
Uang kontrakan tiga bulan terakhir tertunggak karena ketiadaan uang. Pemilik
kontrakan sejak beberapa hari lalu sudah mengingatkan agar secepatnya dilunasi.
Bila tak dibayar juga pada batas waktunya, malam ini, kamar kontrakan itu harus
dkosongkan. Ya Allah, cobaan ini terasa kian berat dari waktu ke waktu.
Sejak pagi, aku meninggalkan rumah untuk mencari pilihan-pilihan yang terbaik
untuk mendapatkan pinjaman uang. Sewa kamar kontrakan harus kuperoleh menjelang
malam ini. Aku tak bisa membayangkan bagaimana pakaian dan perkakas rumah kami
yang seadanya akan bertumpukan di halaman rumah. Para
tetangga akan menyaksikannya dengan cibiran yang menyakitkan. Apalagi, perihal
kami yang selalu menunggak sewa sudah jadi buah mulut para tetangga juga.
Aku sudah ke mana-mana sepanjang hari ini. Itu pun harus kulakukan sebagian
besar berjalan kaki. Telapak dan tumit kakiku sudah melepuh dan perih. Tapi
perih di kaki terasa belum seberapa. Ada
yang lebih perih dari itu yakni rasa malu.
Tapi di setiap langkah kakiku, selalu kurasakan kebahagiaan alami. Aku masih
memiliki kehormatan seutuhnya. Bagi anak dara yang bermarwah, hanya kehormatan
itulah yang cerminan harga diri. Aku merasa sepenuhnya jadi raja bagi diriku
sendiri. Tak ada yang boleh memasung. Atau, merenggut kehormatan itu dalam
ketidakberdayaanku sekali pun.
Tapi, firasatku mengatakan, riwayat kehormatanku benar-benar akan berubah
sontak malam ini. Setengah jam lagi, batas waktu pengosongan kamar kontrakan
bakal tiba. Apa yang kucemaskan ternyata sudah berlaku. Saat kuhubungi melalui
telepon umum, pemilik kontrakan memberi tahu, barang-barang kami sudah
dikeluarkan. Emak dan kedua adikku benar-benar jadi pengungsi sambil menunggu
keberhasilanku membayar uang kontrakan sedikitnya satu bulan dulu. Uang yang sebenarnya
kecil bagi ukuran banyak orang, sesungguhnya amat berat bagiku untuk meraihnya
malam ini.
Dalam kebingungan yang tiada tara, di sebuah
perhentian bus, di bawah remang-remang kota,
aku tak tahu berbuat apa. Aku bagai terkepung dalam persoalan yang melingkari
hidupku.
Seorang lelaki setengah baya, bisa jadi seusia almarhum ayahku, juga berdiri di
tempat yang sama. Kelihatannya juga sedang kebingungan. Aku coba mematut-matut
dalam jarak yang tak terlalu dekat. Kutatap wajahnya. Airmukanya terlihat jernih.
Tapi aku belum berani membuat keputusan untuk bertegur sapa. Sebab, banyak
kejadian, wajah innocent (tanpa dosa) justru berperilaku sebaliknya.
Saat kucoba membuang pandang padanya, lelaki itu tersenyum. Aku juga tersenyum.
Tapi seketika itu pula aku jadi ketakutan yang luar biasa. Aku langsung
teringat pada pesan emak agar benar-benar menjaga kehormatanku yang melekat
pada diriku. Jangan-jangan riwayat ini berubah tiba-tiba menjadi malapetaka
ketika aku terjerat dalam perangkap lelaki hidung belang.
Aku berdebat sendiri dengan batinku. Antara percaya dan tiada. Apakah lelaki
ini memang orang baik-baik atau sebaliknya. Aku tak mau terjerat dalam pelukan
lelaki hidung belang yang memperdaya banyak anak dara. Apalagi, aku nyaris
mengalami hal yang amat pahit beberapa bulan lalu. Seorang perempuan muda
merayu-rayuku agar bekerja jadi pelayan restauran dengan gaji yang lumayan
besar. Tapi aku berhasil lepas dari jeratan perempuan yang sesungguhnya ingin
menjual kehormatanku pada lelaki hidung belang lainnya. Ini kusadari setelah
kusaksikan di TV soal tipu-helahix para perempuan mucikari yang banyak
memperdaya anak-anak dara dari kampung-kampung yang lugu.
Kuputuskan saja untuk bertegur sapa dengan lelaki itu.
"Maaf, sudah pukul berapa?" tanyaku memulai pembicaraan. Padahal aku
sudah tahu pasti saat itu sudah pukul sembilan malam saat kulihat di jam besar
sebuah iklan tepi jalan.
"Pukul sembilan. Sedang menunggu jemputan atau bis kota?" lelaki itu balik bertanya.
Aku menggeleng. Kebingunganku memang tak dapat kusembunyikan lagi. Sebab,
wajahku saat itu begitu lesu dan kuyu.
"Kita bisa bicara di tempat yang lebih tenang?" pintaku penuh harap.
Lelaki itu terdiam sejenak. Tapi cepat-cepat memutuskan dengan mengajakku ke
sebuah restauran tak jauh dari tempat itu. Aku coba menyembunyikan kegundahanku
bahwa lelaki ini tidak akan memperdayaku. Biasa, banyak lelaki yang
menyembunyikan sifat jahatnya dengan cara beramah-tamah agar bisa memerangkap
perempuan muda seperti diriku.
Kami duduk berhadapan. Saling tersenyum. Tapi terus terang, sekali lagi, aku
tak bisa menyembunyikan kecemasanku. Bayangan secepat kilat teringat pada emak
dan dua adikku yang terlantar. Mereka pasti sudah diusir dari kamar kontrakan.
Perasaanku semakin galau.
Sambil menikmati makanan dan minuman, kami mulai terlibat pembicaraan yang
serius. Aku mengungkapkan masalah yang kuhadapi dengan linangan airmata. Lelaki
itu tampak tersengat juga. Wajahnya berubah jadi lembab mencerminkan ikut
prihatin.
"Posisiku benar-benar sulit. Tak banyak pilihan yang tersedia. Andai saja
aku bisa dibantu, aku akan melakukan apa saja untuk kamu,," suaraku terasa
berat dan terbata-bata.
Lelaki itu tersentak.
"Maksud kamu? Kamu akan melakukan segalanya untukku?" lelaki yang tak
pernah menyebutkan namanya itu balik bertanya.
Aku tertunduk lesu. Tapi pikiranku hanya tertuju pada diriku sendiri.
Berulang-ulang, di kelopak mataku hanya terdedah apakah riwayat kehormatanku
akan berubah seketika malam ini.
"Aku,..aku siap menyerahkan diriku padamu..Inilah pengorbanan terbesar
yang harus kulakukan seumur hidupku. Ini semua kulakukan demi emak dan
adik-adikku..." Airmataku tak henti mengalir di kelopak mata yang kian
memerah.
"Aku bisa memahami persoalan kamu. Aku akan membantu semampuku.
Tapi..." Suara lelaki itu terhenti tiba-tiba.
"Maksudmu? Aku harus membayar segala hutang-hutangku...?"
"Bukan...bukan begitu. Pokoknya kamu selesaikan saja pelunasan tunggakan
kontrakanmu...Kalau kamu sudi, datanglah lagi..." kata lelaki itu tampak
pasrah saja. Tampaknya, ia mulai meyakini bahwa aku memang perempuan baik-baik.
Sebaliknya aku mulai percayai kalau lelaki itu bukan orang jahat yang akan
menambah siksaan baru atas nasibku.
Aku pamit pada lelaki itu setelah menerima pemberian uang yang cukup membayar
tunggakan kamar dan keperluan lain. Satu sisi, hatiku benar-benar lapang karena
dapat menyelamatkan nasib emak dan adik-adik. Di sisi lain, aku belum bisa
memastikan bagaimana keberadaan diriku setelah urusan keluarga sebentar lagi
selesai.
Lelaki itu memang tak pernah memaksakan agar aku datang lagi menjumpainya. Ia
terkesan tulus. Tak ada tanda-tanda paksaan dalam kebaikan yang diulurkannya
padaku.
Menjelang tengah malam, segala urusan keluarga dapat kurampungkan. Perasaanku
mulai lapang. Beban yang menyesak di liang paru-paruku terasa lebih ringan. Aku
mencoba menghela napas dalam-dalam. Sekelabat terbayang juga bagaimana riwayat
kehormatanku malam ini bisa berubah tiba-tiba.
Lelaki baik hati itu masih duduk sendirian di restauran yang sudah kutinggalkan
cukup lama. Ia terkejut melihat kedatanganku kembali. Ia tersenyum lepas padaku.
"Di luar dugaan, kamu kembali lagi ke sini.." suaranya datar sambil
menatapku dalam-dalam.
"Aku sudah berjanji sedari tadi...Terlalu lancang bila aku mengabaikan
kebaikan sesorang begitu saja.."
"Terus...kamu mau kemana?" desaknya membuat aku kian tersudut.
Aku tertunduk. Pikiranku benar-benar jadi tak beraturan.
"Aku sudah katakan..aku hanya ingin berterimakasih. Kamu telah
menyelamatkanku dan keluargaku malam ini. Mereka amat berterimakasih..Aku tak
tahu harus melakukan apa untuk membalas segala kebaikan kamu..." tanggapku
gugup.
Hening bertahta beberapa lama. Aku hanya tertunduk. Lelaki itu juga tampak
mulai kelelahan di tengah malam yang kian larut.
"Aku mau kembali ke hotel saja... Kamu mau di antar ke mana?"
tiba-tiba lelaki itu buka suara.
Aku bangkit dan menatap bolamata lelaki yang kian sayu itu. Ia jelas kelelahan.
"Aku..aku...ikut kamu.." aku menanggap tanpa ragu.
"Aku mau kembali ke hotel.."
"Aku ikut kamu.."
"Tapi...aku tak pernah minta apa-apa atas segala bantuan yang sudah
kuberikan.."
"Aku tahu. Aku sudah berbulat hati untuk memberikan segalanya buat kamu
malam ini.."
"Ya, tapi aku tak mengharapkan hal itu dari kamu.. Aku ikhlas saja.."
Aku tetap saja memaksakan diri untuk ikut ketika lelaki itu naik taksi menuju
hotel. Boleh jadi, aku terlalu berani atau terkesan berani di mata lelaki itu.
Di kamar hotel, kami lebih banyak diam. Lelaki itu begitu bingung dan canggung
yang tersirat begitu jelas dari wajahnya yang galau.
"Sering kamu tidur bersama lelaki?" selidik lelaki itu.
Aku menggeleng pasti.
"Tak pernah..Aku perempuan baik-baik..."
Lelaki itu menatapku dalam-dalam. Tersenyum bangga. Tapi aku masih saja
mematung. Mematut diri. Hening malam menyelimuti hingga sinar mentari
membangunkan tidur kami di esok pagi.
***
Pangkalan Kerinci,
Pelalawan - Februari
2006
Catatan Kaki
i ngiler,
mengharap sesuatu sampai menitik air liur
ii anak muda
yang masih lajang, siap hendak menikah
iii Tabiat gatal
mencari lawan jenis
iv sedih dan
gelisah yang luar biasa
v aliran listrik
vi kulit yang
meriang akibat terbakar atau kena bisa binatang
vii tak bercahaya,
berkabut
viii seuatu yang
lebih tinggi dari harkat dan kehormatan
ix tipu daya
dengan segala cara