Kamis, 02 Februari 2012

Rumah Warisan Cerpen: Yonathan Rahardjo


Republika
Minggu, 13 Januari 2008

Rumah Warisan
Cerpen: Yonathan Rahardjo

Kematian perempuan tua itu membangunkan duka. Terik matahari, yang membuat penduduk malas keluar rumah, tak sanggup menahan hati menuju gelap, ditutupi mendung kesedihan. Menantu perempuan tua itu, yang pertama kali menjumpai kematian sang perempuan tua, menjerit pilu.
Tangis janda anak kedua almarhumah itu mengundang cucu-cucu dan keponakan serta tetangga-tetangganya untuk datang. Kabar duka pun menyebar dari mulut ke mulut, memagnet anak-anak jenazah untuk segera berdatangan. Keluarga besar anak pertama, anak ketiga dan anak kelima, melengkapi anak cucu terdekat, menyatu dengan saudara dekat, tetangga-tetangga dan semua pelayat.
Suasana perkabungan bergulir dari satu acara ke acara lain, ditangani mereka yang ada. Sedang anak keempat beserta keluarganya dalam perjalanan dari luar kota.
"Catur sebentar lagi tiba."
"Apa Ragil sudah dalam perjalanan?" tanya anak lelaki ketiga yang paling percaya diri menjadi pemimpin perkabungan.
"Sudah. Namun, ia hanya dikabari bahwa Emak dalam kondisi kritis."
Banjir air mata terus mengalir merata pada diri para anak perempuan tua itu. "Emak menyusul Bapak dan Mas Dwi."
"Kita segera berangkat begitu Catur datang."
Keberangkatan jenazah pun dipastikan ketika dari ujung gang terdengar raung tangis Catur, anak lelaki keempat. Catur berjalan limbung, dipapah oleh istri dan anak-anaknya.

Prosesi harus berkejaran dengan perginya siang. Secepat langkah iring-iringan pengantar jenazah, secepat itu pula pemakaman yang diiringi nyanyian duka pengantar kepergian sang perempuan ke pemakamannya. Baru esok harinya si bungsu, anak perempuan almarhumah, Ragil, tiba, setelah menempuh perjalanan sepanjang Pulau Jawa. Yang menyambut adalah ketiadaan orang tersayang. Saudara-saudaranya tidak mungkin berdusta dengan suasana perkabungan yang begitu jelas. Meski, mereka membiarkannya membuka kain pintu kamar emaknya dan di situ tidak ia jumpai perempuan tua itu di atas pembaringannya.
Tangis kembali memecah hari. Wajah-wajah sedih kembali dibanjiri air mata duka, tidak mampu menahan diri sekaligus mencegah luapan duka cita anak bungsu yang baru tiba.
"Mengapa kalian membohongiku? Emak sudah dikubur! Aku tak boleh memberi penghormatan terakhir padanya?"
"Ragil, jangan salah paham. Sekarang kami antar ke makam Emak."
Di tanah kuburan yang masih basah, perempuan muda itu pingsan. Tangan-tangan saudara-saudaranya mencegahnya tersungkur mencium tanah bertabur bunga yang belum kering.
"Anakku, Emak sudah tenang di sini. Emak sudah bertemu dengan Bapakmu."

"Emak, mengapa lebih sayang Bapak daripada aku, anak kesayanganmu?"
"Sayangku pada Bapakmu sebesar sayangku padamu, anakku."
"Mengapa tidak menungguku datang agar aku mencium Emak sebelum Emak bertemu Bapak?"
"Itu bukan kemauanku, anakku. Saudara-saudaramu yang menginginkan jasad Emakmu ini segera dimakamkan sebelum petang."
"Bukankah Emak masih bisa disemayamkan malamnya, diiringi doa-doa penghiburan, dan baru dimakamkan esok harinya, ketika aku sudah pasti tiba?"

"Ragil, Emak tak kuasa menahan kakak-kakakmu. Sedang mereka bersiteguh dengan adat kebiasaan yang mereka kenal."
Diiring senyum ibunya yang sangat ia kenal, perempuan muda itu tersilaukan oleh cahaya yang begitu terang. Ragil melihat ibunya tak setua yang ia kenal, bergandeng tangan dengan lelaki muda yang rasanya sangat ia kenal.
"Bapak...!"
Ragil, perempuan muda itu, tiba-tiba sadar. Saudara-saudaranya memandangnya dengan penuh rasa heran.

"Adik bungsu, mari kita pulang. Biarkan Emak tenang bersama Bapak dan Mas Dwi di rumah baru ini," ajak saudara-saudaranya ketika Ragil siuman.
"Mas Dwi? Aku tadi tidak berjumpa dengan Mas Dwi. Aku hanya berjumpa dengan Emak dan Bapak."

Saudara-saudara lelaki, kakak-kakak dari anak bungsu itu, terhenyak.
"Mengapa hanya Emak dan Bapak? Mengapa tidak bersama Dwi?"
Perjalanan pulang dari makam digelayuti pikiran-pikiran kusut, suasana duka diracuni hati cemburu.

"Jangan-jangan Emak dan Bapak tidak sayang pada Dwi," pikir si sulung Eko tentang hubungan adik kandungnya dengan kedua orang tuanya yang sama-sama sudah tinggal nama.
"Jangan-jangan Emak dan Bapak juga tidak sayang padaku seperti tidak sayangnya mereka kepada Dwi," pikir Tri, anak ketiga.
"Jangan-jangan.... Ah, biarlah," pikiran gundah tapi pasrah mendera anak ke empat, Catur.

"Wajar kalau Emak paling sayang pada Ragil. Sebab, ia anak bungsu dan satu-satunya perempuan," anak lelaki kelima, Ponco, punya pikiran sendiri.
Bagaimanapun, mereka, empat anak lelaki dan satu perempuan yang masih hidup, bersama istri, suami dan janda anak kedua, beserta semua anak mereka, tak dapat menghindar dari suasana duka. Tidak ada lagi orang tua yang melahirkan dan membesarkan mereka.

Mereka merasa masih melihat kehadiran kedua orang tua terkasih di antara wajah-wajah mereka dalam cermin. Darah yang mengalir dalam tubuh mereka adalah darah orang tua yang sama. Tapi, mengapa harus ada perasaan aneh ini?
"Rumah ini adalah rumah Emak dan Bapak, cermin kehadiran beliau berdua. Pasti beliau berdua pun membagi rumah ini bagi kita berenam," tiba-tiba Tri, anak nomor tiga, berkata dengan suara keras.
"Apa maksudmu, Tri?"
"Kita masih dalam suasana duka!"
"Ya, kita memang berduka. Tapi, kita semua adalah anak-anak Emak dan Bapak."

"Maksudmu?"
"Emak dan Bapak pasti sayang kita semua. Karena sayang kita, pasti Emak dan Bapak mau anaknya yang paling mampu menukar rumah ini dengan harga tertinggi untuk menggantikan hak semua anaknya."

"Berhenti!"
"Karena aku yang paling mampu, maka aku yang akan membeli rumah ini." "Tutup mulutmu, Tri! Soal ini kita bicarakan sesudah seribu hari meninggalnya Emak!"

"Sudah! Sudah! Ngaco, kalian semua! Ngomong tidak berperasaan!" Isak tangis dari Ragil, adik perempuan bungsu mereka, menampar setiap mulut untuk langsung terdiam.
"Tanah kuburan Emak masih basah, kalian sudah ngomong soal warisan."
"Ragil, aku tahu, kamu tidak memikirkan soal duniawi ini, karena kamu memang menjadi perempuan pemimpin umat bersama suamimu. Begitu juga aku. Selain berhasil menjalankan ibadah tertinggi dalam agamaku, aku tetap mengimbangi dengan sukses duniawi seperti usahaku jadi jagal sapi yang sukses bersama mbakyumu, istriku! Tapi, kakak-kakakmu? Lihat, bisa apa mereka? Mencari nafkah saja dengan membesarkan betis. Menghidupi keluarga saja kembang-kempis. Apalagi mau membahagiakan Emak yang baru saja menyusul Bapak. Mana bisa?"

Tidak ada upaya menghentikan celoteh lelaki anak ketiga dari enam bersaudara dan tinggal hidup lima orang itu. Si bungsu diam. Bahkan suaminya yang sedari tadi hanya menjadi penonton 'pergulatan' lima bersaudara itu hanya diam dan menenangkan istrinya dengan meremas telapak tangannya.
Sejak saat itu, sekembali ke kota tempat tinggalnya, Ragil tidak pernah lagi berkunjung ke rumah yang baru saja ditinggalkan emaknya. Sedang kakak-kakaknya, Eko, Tri, Catur dan Ponco, tersekat tenggorokannya. Tri, yang mengumbar hasrat sebelum waktunya itu, meneguk ludah sendiri. Wajahnya merah, menanggung cibiran dan sorotan mata menghina dari siapapun yang terhitung keluarga dan para tetangga.
"Kuburan orang tua masih basah, sudah ribut soal warisan...," celoteh meraka.***


Ruang Bawah Tanah Cerpen: Hampar Puadi Ilyas


Suara Karya
Sabtu, 08 Desember 2007

Ruang Bawah Tanah
Cerpen: Hampar Puadi Ilyas

Di rumahku ada ruang bawah tanah. Tapi aku tidak pernah membuka pintunya, apalagi memasukinya. Entah mengapa aku tidak begitu tertarik. Kupikir paling-paling isinya hanya barang-barang bekas milik ayah - mesin ketik tua, pakaian-pakaian lusuh, sepatu-sepatu kumal, dan barang-barang elektronik yang sudah rusak.

Yang ada di benakku sejak lama adalah semua rumah pasti memiliki tempat seperti itu. Tapi sewaktu bermain dengan anak-anak tetangga, aku baru tahu bahwa tak seorang pun yang memiliki gudang bawah tanah di rumah mereka. Timbul rasa ingin tahu. Malam hari menjelang tidur, aku bertanya tentang ruangan itu pada ayah.

Aku tercengang. Kata ayah ruangan itu dihuni oleh makhluk halus bernama Mbah Suro. Bulu kudukku berdiri, sehingga aku minta kepada ayah agar jangan meninggalkan kamarku sebelum aku pulas. Lampu juga harus tetap menyala. Aku membayangkan sosok lelaki tua renta dengan rambut putih panjang yang menyentuh lantai.

Semenjak mendengar cerita itu pikiranku tak pernah lepas dari ruang bawah tanah dan Mbah Suro. Pernah aku membayangkan Mbah Suro yang sedang mengaduk bejana besar dengan air mendidih. Asap mengepul, menyebarkan aroma daging manusia yang sebentar lagi akan disantapnya.

Suatu hari, ketika hendak menuju dapur, aku seperti mendengar suara perempuan merintih. Rasa penasaran timbul, diselingi rasa ragu. Kudekati pintu ruang bawah tanah, dan kucoba melihat ke dalam melalui lubang kunci. Gelap terlihat. Sambil menarik napas dan berdoa kutekan gagang pintu. Keras. Lalu kulekatkan telinga kananku ke daun pintu untuk mendengarkan suara itu lagi. Sesaat tak terdengar apa-apa, hanya jantungku yang berdentum tak karuan. Tiba-tiba rumah seolah semakin sunyi dan ada angin yang menyapu kudukku. Secepat kilat aku kabur dari tempat itu.

Khayalanku semakin menjadi-jadi. Kepada teman-teman sepermainan aku sering bercerita bahwa di rumahku ada hantu bernama Mbah Suro. Aku juga menambah cerita bahwa makhluk itu memiliki mata hijau yang bisa bersinar dalam gelap. Semua temanku percaya, sehingga tak seorang pun yang mau datang ke rumahku.

Bukan hanya pada teman-teman sepermainan, aku juga bercerita pada semua orang - penjaja es keliling, tukang bakso, penjual kue, pemilik warung di ujung gang, tukang sayuran dan guru-guru di sekolah. Hingga pada suatu malam ayah datang ke kamarku.

"Anakku, kenapa kamu cerita tentang Mbah Suro ke semua orang?"
Aku memandang wajah ayah.
"Kamu terlalu memikirkan cerita ayah."
"Mengapa Mbah Suro ada di rumah kita, Ayah?"
"Ceritanya panjang, Anakku."
"Tolong ceritakan, Ayah."

Ayah menarik napas. "Asal kamu berjanji untuk tidak memikirkan Mbah Suro lagi dan jangan cerita pada siapa pun."
"Aku berjanji."
Ayah kemudian bercerita:

Mbah Suro dulunya adalah dewa yang tinggal di kayangan. Suatu ketika ia ditugaskan ke bumi untuk membuat dunia ini aman. Ia berwujud seorang pria. Wujud inilah yang lambat laun membuat sifat manusia melekat pada dirinya dan ia jatuh cinta dengan gadis cantik berbulu mata lentik. Ini membuat misinya tidak berhasil, dan ia diperintahkan untuk kembali ke kayangan.

Mbah Suro tidak bisa menghapus bayangan gadis itu. Bulu mata lentiknya selalu terbayang. Selama beberapa bulan ia terus memohon agar dikembalikan ke bumi, dan akhirnya keinginan itu dikabulkan. Dengan perasaan berbunga-bunga Mbah Suro segera menemui gadis pujaannya. Tapi ternyata gadis itu sudah menikah.

Mbah Suro sangat kecewa. Ia mencoba menemukan gadis lain. Tapi setelah lima tahun pencarian, tak seorang pun yang menyamai gadis berbulu mata lentik itu. Mbah Suro putus asa, dan akhirnya ia bunuh diri. Karena ia adalah setengah manusia dan dewa, ruhnya tidak bisa langsung kembali ke kayangan. Ia harus menunggu selama seribu tahun. Sejak itulah ia mendiami ruang bawah tanah.

"Itulah kenapa ayah selalu mengunci pintu ruang bawah tanah. Jangan pernah mencoba untuk memasukinya, atau kamu akan menemui makhluk berumur lebih dari tiga ratus tahun. Sangat menyeramkan dengan rona kesedihan abadi."

Aku langsung terpejam. Kutarik selimut hingga menutupi kepalaku.

* * *

Aku berhenti memikirkan ruang bawah tanah dan Mbah Suro saat masuk SMP. Tapi aku merindukan figur seorang ibu. Ketika kutanyakan ayah apa yang sebenarnya terjadi pada ibu, ayah berkata bahwa aku tidak perlu memikirkan ibu karena ia telah berada di suatu tempat yang aman.
"Tempat apa, Ayah?"
"Tempat dimana tak seorang pun bisa melukai perasaannya."
Aku tak mengerti, tapi aku hanya diam.

Ayah kembali bercerita tentang Mbah Suro. Tapi aku sudah tidak tertarik lagi. Cerita ayah yang dulu kuanggap sebagai akal-akalan saja agar aku tidak menjadi anak nakal. Ayah akhirnya tak lagi bercerita tentang ruang bawah tanah dan Mbah Suro. Kisah itu adalah bagian dari masa kecilku yang kuanggap sebagai dongeng sebelum tidur.

Hidupku terasa sepi. Ayah selalu pulang malam hari. Untuk membunuh rasa sepi, aku menghabiskan waktu dengan membaca cerita silat. Aku seperti kecanduan, hingga aku jarang berbicara pada ayah. Tapi ia selalu memberikan apa yang kuminta.

Hari berlalu. Aku mulai naksir teman di sekolah. Setelah sekian lama kupendam perasaan itu, kuberanikan diri untuk berterus terang. Ia menolak cintaku. Aku sangat kecewa. Berjam-jam kupandangi wajahku di cermin. Apakah aku jelek? Tapi pemilik warung di ujung gang bilang bahwa aku tampan seperti ayahku.

Suatu hari aku lewat di depan rumah tetangga yang sangat percaya mistik. Aku terkejut karena tiba-tiba ada yang menarik lenganku. Aku diminta duduk di kursi tamu. Kupandangi wajah kotaknya saat ia berkata bahwa ketampanan dan jiwa mudaku telah diserap oleh ayah. Itulah mengapa sampai saat ini ayah masih tetap muda dan disukai banyak wanita. Sedangkan aku sampai kapan pun tak akan pernah dicintai wanita.

Aku menganggap itu hanya kelakar saja dan ia cemburu melihat ayah yang berwajah tampan. Tapi lambat laun pikiran itu mengusik hatiku karena hampir setiap hari libur ada saja wanita yang bertandang ke rumahku. Mereka selalu bercakap-cakap dengan ayah di ruang tamu. Kadang-kadang kudengar tawa mereka.

Ayah selalu mengenalkan tamu wanitanya kepadaku. Mereka semua bilang bahwa aku juga sangat tampan. Awalnya aku merasa terhibur, tapi lama-kelamaan aku menganggap itu hanya pujian untuk menarik hatiku. Mulai saat itu aku memasang wajah cemberut saat diperkenalkan kepada tamu ayah, meskipun kutahu ayah tidak suka dengan sikapku.

"Anakku, kamu harus sopan dengan tamu-tamu ayah. Siapa tahu salah satu dari mereka akan menjadi ibumu." Kata ayah suatu malam saat aku sedang membaca cerita silat di tempat tidur.
Aku diam saja. Ayah mengusap rambutku sebelum pergi.

* * *

Tamat SMA aku pergi ke ibu kota untuk kuliah. Aku jarang menghubungi ayah karena sibuk dengan pelajaran dan kegiatan kampus. Sesekali ayah menghubungiku, menanyakan tentang kuliah, kesehatan dan biaya hidup. Aku bilang pada ayah untuk tidak khawatir karena aku mendapat beasiswa dan bekerja paruh waktu.

Lima tahun kemudian aku lulus, dan langsung bekerja sebagai reporter di sebuah stasiun televisi. Tugas-tugas peliputan membawaku pergi ke berbagai tempat, hingga ke manca negara. Aku semakin sibuk dan semakin jarang menghubungi ayah. Lambat laun hubungan kami seperti terputus.

Kadang-kadang aku seperti lupa bahwa aku masih memiliki seorang ayah. Kadang pula ingatan akan ayah muncul saat aku sedang tidak sibuk bekerja. Tapi aku seolah merasa bahwa ia sudah menikah lagi dan memiliki beberapa anak. Itulah mengapa ia juga tak pernah lagi menghubungiku.

Aku merasa sudah waktunya untuk berumah tangga. Tapi anehnya setiap wanita yang kuajak menikah selalu menolak, meskipun mereka sangat dekat denganku sehari-hari. Ada-ada saja alasannya. Aku jadi teringat kata-kata tetanggaku. Apakah memang benar ketampananku telah diserap oleh ayah?

Pada saat kesepian semakin memuncak dan aku membutuhkan seorang pendamping di sisiku, tiba-tiba ayah menghubungiku dan memintaku untuk pulang. Setibanya di rumah, kulihat ayah sedang duduk di kursi goyang. Ia masih tampan, tapi tubuhnya terlihat lemah.
"Anakku, maafkan ayah."

"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku telah meninggalkan Ayah begitu lama." Aku hampir menangis melihat tangan ayah yang gemetar.
"Tidak, Anakku. Selama ini ayah telah bersekutu dengan iblis."
"Apa maksud Ayah?"

"Mari kita ke ruang bawah tanah. Akan ayah tunjukkan sebuah rahasia. Ayah ingin mati dengan perasaan tenteram dan damai."
Ruang bawah tanah? Seketika kenangan tentang Mbah Suro mencuat.

Ayah membuka pintu yang selama ini digembok. Aku mengikuti langkah ayah yang sangat pelan. Rupanya ada undakan-undakan seperti anak tangga yang menurun. Aku dapat mendengar napas ayah di kegelapan. Napas itu sudah sangat lemah.

Saat aku menginjak undakan terakhir, ayah menyalakan lampu. Terlihat peti kayu besar di tengah ruangan. Ayah sudah berada di samping peti itu. Ia sekilas memandang ke arahku. Mata ayah seperti mata kucing di kegelapan, tetapi tidak menakutkan.

Aku masih tetap berdiri di undakan terakhir sambil tanganku memegang dinding yang terasa dingin. Aku berada sekitar lima langkah dari ayah yang kulihat sedang membuka gembok peti itu.

"Anakku, inilah rahasia ayah." Kata ayah saat peti itu terbuka. "Kemarilah dan lihat!"

Aku mendekatinya. Tapi tiba-tiba aku mundur lagi beberapa langkah. Jantungku seperti melompat keluar menembus dada. Tubuhku gemetar. Ada kerangka manusia di dalam peti itu.
"Ayah, kerangka siapa itu?"
"Inilah ibumu."
Udara seperti menggumpal di tenggorokanku. "Kenapa Ayah membunuh ibu?"

"Ayah tidak membunuhnya. Ia meninggal saat melahirkanmu. Karena sangat mencintainya, ayah meletakkannya di sini agar selalu dekat dengannya. Ayah telah berusaha untuk mencari penggantinya, tapi tak seorang pun yang mampu mengalahkan kecantikan ibumu."

Ayah berlutut di samping peti. Ia mengusap kerangka ibu. Tubuhku kaku. Mataku tertuju pada kerangka itu. Lalu kupalingkan pandangan ke arah ayah. Ia kini tampak sangat tua dan keriput. Rambut putihnya seperti memanjang dan menyentuh lantai.

Tiba-tiba ayah mengangkat wajahnya, dan melihat padaku. Aku sedikit takut. Apakah ia benar-benar ayahku.
"Ayah," kataku. "Apakah Ayah Mbah Suro?"
Tatapannya penuh kepedihan. Lalu ia mengangguk. ***

Riwayat Kehormatan Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar


Suara Pembaruan
Minggu, 06 Mei 2007

Riwayat Kehormatan
Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar

Sedari kecil, aku percaya, bagi dara belia seperti diriku, kehormatan adalah segalanya. Kehormatan ini tak sebatas harga diri, lebih-lebih lagi kehormatan seorang perempuan yang sangat bernilai sebagai mahkota pernikahan. Emak selalu berhujjah kepada diriku dan adik-adik yang semua berkelamin perempuan, agar menjaga sepenuh hati kehormatan yang melekat pada diri kami.

Di kampung dulu, aku sering menyaksikan bagaimana anak dara belia yang sudah tak perawan lagi, begitu tak bernilai. Selain jadi cemoohan berkepanjangan juga cenderung diketepikan oleh orang-orang sekampung. Aku kasihan juga menatap mereka yang begitu terhina. Tak berharga sama sekali. Bahkan disebut sebagai barang tak berguna. Ibarat botol minuman, segelnya sudah rusak. Siapakah yang mau meminumnya lagi kecuali para lelaki yang sama-sama tak bernilai pula.

Aku begitu kecut bila membayangkan bila hal serupa menimpa diriku. Keperawanan bagi orang-orang kampung di atas segalanya. Amatlah hinanya bila sebuah keluarga mempunyai anak dara yang sudah tak perawan lagi. Kenyataan buruk semacam itu, sindiran orang-orang tua di kampung kami, laksana mengurung maling dalam rumah. Suatu hal yan teramat sia-sia...

Malam ini, tiba-tiba aku harus mengkaji riwayat kehormatanku sendiri. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan bagi anak dara seperti aku. Usiaku baru 19 tahun. Sedang ranum-ranumnya. Sedang berminyak dan bercahaya. Aku boleh sedikit berbangga bila banyak anak bujang yang merasa keciri menatap kemolekanku. Aku selalu merasakan getaran yang teramat sangat bila melintasi sekumpulan anak bujangii yang sedang mencari jodoh. Sedang miang-miangiiinya.

Riwayat kehidupanku sama dan sebangun dengan riwayat kehormatanku. Riwayat itu kini tiba-tiba bergerak berbelok-belok di luar kesadaranku. Segalanya bermula dari peristiwa nestapa saat ayah yang amat kami cintai berpulang kerahmatullah. Emak yang paling terkejut karena tak siap menerima kenyataan itu. Tapi bagi diriku dan dua adik perempuanku justru terasa menusuk jiwa begitu dalam. Kami semua tiba-tiba kehilangan tempat berteduh. Terasa kehilangan segalanya.

Kepergian ayah yang begitu tiba-tiba setelah kanker paru merenggutnya empat tahun silam, benar-benar meninggalkan rasa gundah-gulanaiv teramat panjang dalam kehidupan kami. Begitu berbekasnya, perasaan itu bak aliran setrumv yang selalu menyengat kehidupan kami empat beranak yang tinggal.

Setrum yang paling kuat kurasakan saat aku harus berhenti melanjutkan kuliah di kota, tempat kami kini bertarung menaklukkan kehidupan. Semula aku harus bekerja menjadi pelayan toko dengan gaji lumayan. Tapi ini tak berlangsung lama. Aku harus berhenti karena masa kontrak kerjaku berakhir. Setrum-setrum lain terus menyengat silih-berganti. Adikku yang masih SMP harus berhenti sekolah pula. Tinggal si bungsu yang melanjutkan sekolahnya di bangku SD dengan tertatih-tatih karena sering menunggak uang sekolah.

Di tengah pergolakan jiwaku yang meronta di titian hari yang gerah, aku bersama emak dan dua adikku setiap hari nyaris menahan derita dan lapar. Selaku manusia biasa, terus terang, kami sudah tak kuat. Setrum nasib yang terus melepuhkanvi perasaan dan keperihan dalam hidup kami bagai tak akan berakhir jua.

Tubuhku yang sebenarnya molek kini terasa kian kurus saja. Wajahku yang dulu bercahaya kini terasa buram dan kabusvii bagai diselungkupi asap ketidakpastian. Sungguh, aku bak bergantung tak bertali, menanti tak berujung.

Kucoba menoleh ke kiri-kanan, ke pihak keluarga yang lain, bukannya tak ada. Tapi mereka pun hidup dalam tak berkecukupan. Aku bisa memahami mereka. Sementara kamar kontrakan kecil dan sederhana yang kami tempati berempat harus dibayar setiap bulan.

Dalam deraan panjang itu, aku merasakan selalu betapa kehormatan masih kami junjung setingginya. Kami bertekad tak akan pernah menyia-nyiakan. Orang-orang kampung di negeri Melayu menyebutnya marwahviii. Marwah itulah yang masih kami punya. Marwah yang megah itu tetap pula kami simpul dengan ajaran agama Islam yang sudah kami anut turun-temurun. Di kamar kontrakan yang sempit, kami empat beranak masih selalu membaca Alquran. Emaklah yang selalu membimbing kami bagaikan bertadarus terutama setiap malam Jumat.

Sajadah lusuh di sudut ruangan yang selalu terbentang masih kami sujudi bergantian di tiap waktu sholat. Aku sendiri merasakan betapa kehormatanku selalu pula terjaga. Selalu dipagari ayat-ayat suci dan bacaan sholat yang memberikan kesejukan dalam hidup kami.

Malam ini, aku berada di puncak kebimbangan yang tiada tara. Uang kontrakan tiga bulan terakhir tertunggak karena ketiadaan uang. Pemilik kontrakan sejak beberapa hari lalu sudah mengingatkan agar secepatnya dilunasi. Bila tak dibayar juga pada batas waktunya, malam ini, kamar kontrakan itu harus dkosongkan. Ya Allah, cobaan ini terasa kian berat dari waktu ke waktu.

Sejak pagi, aku meninggalkan rumah untuk mencari pilihan-pilihan yang terbaik untuk mendapatkan pinjaman uang. Sewa kamar kontrakan harus kuperoleh menjelang malam ini. Aku tak bisa membayangkan bagaimana pakaian dan perkakas rumah kami yang seadanya akan bertumpukan di halaman rumah. Para tetangga akan menyaksikannya dengan cibiran yang menyakitkan. Apalagi, perihal kami yang selalu menunggak sewa sudah jadi buah mulut para tetangga juga.

Aku sudah ke mana-mana sepanjang hari ini. Itu pun harus kulakukan sebagian besar berjalan kaki. Telapak dan tumit kakiku sudah melepuh dan perih. Tapi perih di kaki terasa belum seberapa. Ada yang lebih perih dari itu yakni rasa malu.

Tapi di setiap langkah kakiku, selalu kurasakan kebahagiaan alami. Aku masih memiliki kehormatan seutuhnya. Bagi anak dara yang bermarwah, hanya kehormatan itulah yang cerminan harga diri. Aku merasa sepenuhnya jadi raja bagi diriku sendiri. Tak ada yang boleh memasung. Atau, merenggut kehormatan itu dalam ketidakberdayaanku sekali pun.

Tapi, firasatku mengatakan, riwayat kehormatanku benar-benar akan berubah sontak malam ini. Setengah jam lagi, batas waktu pengosongan kamar kontrakan bakal tiba. Apa yang kucemaskan ternyata sudah berlaku. Saat kuhubungi melalui telepon umum, pemilik kontrakan memberi tahu, barang-barang kami sudah dikeluarkan. Emak dan kedua adikku benar-benar jadi pengungsi sambil menunggu keberhasilanku membayar uang kontrakan sedikitnya satu bulan dulu. Uang yang sebenarnya kecil bagi ukuran banyak orang, sesungguhnya amat berat bagiku untuk meraihnya malam ini.

Dalam kebingungan yang tiada tara, di sebuah perhentian bus, di bawah remang-remang kota, aku tak tahu berbuat apa. Aku bagai terkepung dalam persoalan yang melingkari hidupku.

Seorang lelaki setengah baya, bisa jadi seusia almarhum ayahku, juga berdiri di tempat yang sama. Kelihatannya juga sedang kebingungan. Aku coba mematut-matut dalam jarak yang tak terlalu dekat. Kutatap wajahnya. Airmukanya terlihat jernih. Tapi aku belum berani membuat keputusan untuk bertegur sapa. Sebab, banyak kejadian, wajah innocent (tanpa dosa) justru berperilaku sebaliknya.

Saat kucoba membuang pandang padanya, lelaki itu tersenyum. Aku juga tersenyum. Tapi seketika itu pula aku jadi ketakutan yang luar biasa. Aku langsung teringat pada pesan emak agar benar-benar menjaga kehormatanku yang melekat pada diriku. Jangan-jangan riwayat ini berubah tiba-tiba menjadi malapetaka ketika aku terjerat dalam perangkap lelaki hidung belang.

Aku berdebat sendiri dengan batinku. Antara percaya dan tiada. Apakah lelaki ini memang orang baik-baik atau sebaliknya. Aku tak mau terjerat dalam pelukan lelaki hidung belang yang memperdaya banyak anak dara. Apalagi, aku nyaris mengalami hal yang amat pahit beberapa bulan lalu. Seorang perempuan muda merayu-rayuku agar bekerja jadi pelayan restauran dengan gaji yang lumayan besar. Tapi aku berhasil lepas dari jeratan perempuan yang sesungguhnya ingin menjual kehormatanku pada lelaki hidung belang lainnya. Ini kusadari setelah kusaksikan di TV soal tipu-helahix para perempuan mucikari yang banyak memperdaya anak-anak dara dari kampung-kampung yang lugu.

Kuputuskan saja untuk bertegur sapa dengan lelaki itu.

"Maaf, sudah pukul berapa?" tanyaku memulai pembicaraan. Padahal aku sudah tahu pasti saat itu sudah pukul sembilan malam saat kulihat di jam besar sebuah iklan tepi jalan.

"Pukul sembilan. Sedang menunggu jemputan atau bis kota?" lelaki itu balik bertanya.

Aku menggeleng. Kebingunganku memang tak dapat kusembunyikan lagi. Sebab, wajahku saat itu begitu lesu dan kuyu.

"Kita bisa bicara di tempat yang lebih tenang?" pintaku penuh harap.

Lelaki itu terdiam sejenak. Tapi cepat-cepat memutuskan dengan mengajakku ke sebuah restauran tak jauh dari tempat itu. Aku coba menyembunyikan kegundahanku bahwa lelaki ini tidak akan memperdayaku. Biasa, banyak lelaki yang menyembunyikan sifat jahatnya dengan cara beramah-tamah agar bisa memerangkap perempuan muda seperti diriku.

Kami duduk berhadapan. Saling tersenyum. Tapi terus terang, sekali lagi, aku tak bisa menyembunyikan kecemasanku. Bayangan secepat kilat teringat pada emak dan dua adikku yang terlantar. Mereka pasti sudah diusir dari kamar kontrakan. Perasaanku semakin galau.

Sambil menikmati makanan dan minuman, kami mulai terlibat pembicaraan yang serius. Aku mengungkapkan masalah yang kuhadapi dengan linangan airmata. Lelaki itu tampak tersengat juga. Wajahnya berubah jadi lembab mencerminkan ikut prihatin.

"Posisiku benar-benar sulit. Tak banyak pilihan yang tersedia. Andai saja aku bisa dibantu, aku akan melakukan apa saja untuk kamu,," suaraku terasa berat dan terbata-bata.

Lelaki itu tersentak.

"Maksud kamu? Kamu akan melakukan segalanya untukku?" lelaki yang tak pernah menyebutkan namanya itu balik bertanya.

Aku tertunduk lesu. Tapi pikiranku hanya tertuju pada diriku sendiri. Berulang-ulang, di kelopak mataku hanya terdedah apakah riwayat kehormatanku akan berubah seketika malam ini.

"Aku,..aku siap menyerahkan diriku padamu..Inilah pengorbanan terbesar yang harus kulakukan seumur hidupku. Ini semua kulakukan demi emak dan adik-adikku..." Airmataku tak henti mengalir di kelopak mata yang kian memerah.

"Aku bisa memahami persoalan kamu. Aku akan membantu semampuku. Tapi..." Suara lelaki itu terhenti tiba-tiba.

"Maksudmu? Aku harus membayar segala hutang-hutangku...?"

"Bukan...bukan begitu. Pokoknya kamu selesaikan saja pelunasan tunggakan kontrakanmu...Kalau kamu sudi, datanglah lagi..." kata lelaki itu tampak pasrah saja. Tampaknya, ia mulai meyakini bahwa aku memang perempuan baik-baik. Sebaliknya aku mulai percayai kalau lelaki itu bukan orang jahat yang akan menambah siksaan baru atas nasibku.

Aku pamit pada lelaki itu setelah menerima pemberian uang yang cukup membayar tunggakan kamar dan keperluan lain. Satu sisi, hatiku benar-benar lapang karena dapat menyelamatkan nasib emak dan adik-adik. Di sisi lain, aku belum bisa memastikan bagaimana keberadaan diriku setelah urusan keluarga sebentar lagi selesai.

Lelaki itu memang tak pernah memaksakan agar aku datang lagi menjumpainya. Ia terkesan tulus. Tak ada tanda-tanda paksaan dalam kebaikan yang diulurkannya padaku.

Menjelang tengah malam, segala urusan keluarga dapat kurampungkan. Perasaanku mulai lapang. Beban yang menyesak di liang paru-paruku terasa lebih ringan. Aku mencoba menghela napas dalam-dalam. Sekelabat terbayang juga bagaimana riwayat kehormatanku malam ini bisa berubah tiba-tiba.

Lelaki baik hati itu masih duduk sendirian di restauran yang sudah kutinggalkan cukup lama. Ia terkejut melihat kedatanganku kembali. Ia tersenyum lepas padaku.

"Di luar dugaan, kamu kembali lagi ke sini.." suaranya datar sambil menatapku dalam-dalam.

"Aku sudah berjanji sedari tadi...Terlalu lancang bila aku mengabaikan kebaikan sesorang begitu saja.."

"Terus...kamu mau kemana?" desaknya membuat aku kian tersudut.

Aku tertunduk. Pikiranku benar-benar jadi tak beraturan.

"Aku sudah katakan..aku hanya ingin berterimakasih. Kamu telah menyelamatkanku dan keluargaku malam ini. Mereka amat berterimakasih..Aku tak tahu harus melakukan apa untuk membalas segala kebaikan kamu..." tanggapku gugup.

Hening bertahta beberapa lama. Aku hanya tertunduk. Lelaki itu juga tampak mulai kelelahan di tengah malam yang kian larut.

"Aku mau kembali ke hotel saja... Kamu mau di antar ke mana?" tiba-tiba lelaki itu buka suara.

Aku bangkit dan menatap bolamata lelaki yang kian sayu itu. Ia jelas kelelahan.

"Aku..aku...ikut kamu.." aku menanggap tanpa ragu.

"Aku mau kembali ke hotel.."

"Aku ikut kamu.."

"Tapi...aku tak pernah minta apa-apa atas segala bantuan yang sudah kuberikan.."

"Aku tahu. Aku sudah berbulat hati untuk memberikan segalanya buat kamu malam ini.."

"Ya, tapi aku tak mengharapkan hal itu dari kamu.. Aku ikhlas saja.."

Aku tetap saja memaksakan diri untuk ikut ketika lelaki itu naik taksi menuju hotel. Boleh jadi, aku terlalu berani atau terkesan berani di mata lelaki itu.

Di kamar hotel, kami lebih banyak diam. Lelaki itu begitu bingung dan canggung yang tersirat begitu jelas dari wajahnya yang galau.

"Sering kamu tidur bersama lelaki?" selidik lelaki itu.

Aku menggeleng pasti.

"Tak pernah..Aku perempuan baik-baik..."

Lelaki itu menatapku dalam-dalam. Tersenyum bangga. Tapi aku masih saja mematung. Mematut diri. Hening malam menyelimuti hingga sinar mentari membangunkan tidur kami di esok pagi.

***

Pangkalan Kerinci,
Pelalawan - Februari 2006

Catatan Kaki
i      ngiler, mengharap sesuatu sampai menitik air liur
ii     anak muda yang masih lajang, siap hendak menikah
iii    Tabiat gatal mencari lawan jenis
iv    sedih dan gelisah yang luar biasa
v    aliran listrik
vi    kulit yang meriang akibat terbakar atau kena bisa binatang
vii   tak bercahaya, berkabut
viii seuatu yang lebih tinggi dari harkat dan kehormatan
ix    tipu daya dengan segala cara

Riwayat Cerpen: Adek Alwi


Suara Karya
Sabtu, 19 Mei 2007

Riwayat
Cerpen: Adek Alwi

"Ke mana Umi?"
"Ke pasar!" Ayah menjawab, menggelegar.

Tapi sejak siang itu Umi tidak pernah pulang. Berhari-hari berminggu-minggu berbulan-bulan kutunggu, Umi tak muncul. Aku benar-benar kehilangan. Tangan Umi lembut. Suara, mata, senyum Umi lembut. Tak sekalipun Umi membentak, jangankan memukul. Karena itu tegahnya aku turuti, semua suruhnya aku jalankan. Ada sesuatu dalam suara dan mata Umi yang membuatku patuh, sekaligus bangga menuruti suruh dan tegahnya.

Lain dengan Ayah. Ayah adalah batu, dan juga harimau, yang jarang di rumah; sejarang dia bicara padaku. Kata tidak penting baginya. Semua kehendak seolah harus terwujud dalam tindakan, pada perbuatan.

Ayah tidak kerap memukul, kecuali jika aku pulang bermain bau matahari dan tubuh kotor, dan dia kebetulan di rumah. Tapi, cara marah dan sikapnya menyakitkan. Ayah menunggu di ambang pintu, menyeringai, tak berbunyi bak harimau mengintai. Begitu aku mendekat ikat pinggangnya melayang ke kaki. Piu! Piu! Berkali-kali. Aku terjengkang. Bangkit berdiri. Menggerung-gerung. Menghambur masuk rumah. Ayah tetap membatu. Berwajah dingin, kaku.

Suara lembut Umi juga kemudian yang terdengar, meredakan tangisku. "Ayah marah karena tubuhmu kotor. Ayah ingin kau jadi anak yang bersih, tidak lupa waktu kalau bermain. Mandilah. Ganti bajumu. Umi bikin rendang. Habis mandi dan makan, Umi obati kakimu," bujuk Umi sambil menyentuh kakiku.
Dengan masih terisak aku terpincang-pincang ke kamar mandi.

Namun rasa jengkelku terhadap Ayah tidak ikut terbasuh. Bekas lecutan di kakiku hilang keesokan hari, tapi mata hatiku masih melihat bilur-bilur merah di sana. Juga wajah Ayah. Yang dingin, kaku. Dengan mata menyipit. Dan bibir menyeringai bagai harimau. Ada yang meronta-ronta dan terus meradang dalam diriku; tidak tertahankan. Maka begitu Ayah pergi aku pun menghambur ke luar rumah. Berkeliaran sepuas hati, ke mana pun yang aku sukai.

* * *

Setelah Umi pergi dan tanyaku tak berjawab, aku makin sering ke luar rumah. Bukan saja ketika Ayah pergi, waktu ia di rumah pun aku menyelinap. Memang tidak mudah. Tapi selalu ada cara. Misalnya, saat Ayah lengah. Lantas pulang sore hari bau matahari dengan baju dan kaki kotor. Sampai di rumah Ayah membatu di muka pintu. Matanya menyipit, bibirnya menyeringai bak harimau. Dan kakiku dihajar lagi. Piu! Piu! Berkali-kali. Namun esoknya aku berkeliaran lagi, dan terus berkeliaran di luar rumah. Kadang bahkan lewat magrib.

"Dari mana kau!" gelegar suara Ayah memecah senja, suatu kali. Mungkin tak tahan terus-menerus membatu. Atau heran, takjub, dan juga bingung melihat aku tidak pernah jera walau selalu didera dengan ikat pinggang.
"Mencari Umi!" kubilang.

Tiba-tiba ikat pinggang Ayah tak jadi melayang, dan tergantung saja di udara. Kemudian tangannya jatuh terkulai. Ayah juga bergumam tak jelas, lalu melangkah ke beranda. Di sana, dia duduk di muka jendela. Memandang halaman tidak putus-putus. Lama sekali. Bibirnya kelihatan bergerak-gerak, seperti bergetar.

Sepekan kemudian aku dapati seorang perempuan di rumah kami. Lebih muda dari Umi, juga lebih kurus, atau langsing. Serta lebih putih. Bersamanya seorang anak perempuan, baru pandai berjalan, tertawa terus padaku. Ayah menyuruhku memanggil perempuan itu Bibi. "Dan itu adikmu. Jaga dia!" tunjuk Ayah. Setelah itu Ayah hilang lagi, entah ke mana, seperti biasa.

Kenyataannya, justru Bibi yang menjaga dan merawatku. Bibi menyelusupkan aku seusai bermain lewat pintu belakang, sebelum Ayah menyadari ketidakhadiranku, sehingga aku terhindar dari deraan ikat pinggang. Didorong Bibi aku ke kamar mandi, disediakannya baju bersih. Bibi pula yang menyabarkan dan membujuk Ayah bila dia mengaum menggetarkan nyali. Dan jika Ayah tidak terjinakkan, Bibi menangis tanpa suara, sambil mengobati bilur-bilur di kakiku.

Bibi juga menambah peralatan bermain dan sekolahku, yang sebetulnya sudah dicukupi Ayah, melebihi kawan-kawan. Bibi mendampingiku mengerjakan PR. Tidak bosan-bosan Bibi mengatakan aku akan jadi insinyur, atau dokter kelak, jika aku rajin belajar. "Dan kalau Bibi atau Adik sakit, kau yang akan mengobati kami. Mau, kan, kau mengobat Adik dan Bibi?"

Aku seolah mendapat pengganti Umi diperlakukan Bibi seperti itu. Tetapi, aku juga merasa ada yang tak enak tiap kali menyadari kehadiran Bibi dan Adik di rumah. Saat itu usiaku menjelang sepuluh, mulai dapat menduga-duga apa yang terjadi antara Ayah dan Umi. Serta kaitannya dengan Bibi dan Adik.

Dan suatu hari, hampir setahun setelah kepergiannya, Umi muncul di sekolah. Mulanya aku gembira, lalu kesal ketika ingat bahwa dia sudah meninggalkanku begitu lama. Tak berberita lagi. Dan aku makin kesal, juga bingung, karena dalam pertemuan itu Umi malah lebih banyak menanyakan serta memuji-muji Bibi. Umi juga menyuruh aku patuh dan baik kepada Bibi.
"Mengapa begitu?" tanyaku tak mengerti.
"Karena bibimu baik," jawab Umi.
"Tapi aku ingin Umi pulang. Aku ingin ada Umi di rumah, seperti dulu."
"Itu tidak mungkin, Nak."
"Karena ada Bibi?"

Umi bilang, "Bibimu baik. Bahkan, teramat baik, dan menjadi lemah karena kebaikannya. Tapi kau harus baik kepada Bibi. Turuti semua suruh dan tegahnya."
"Mengapa Umi tidak pulang?" aku bertanya lagi.
"Karena itu tidak mungkin, Nak."
"Mengapa tidak mungkin?"
Umi diam saja. Hanya senyum, memandangku.
Aku makin bingung. Tidak mengerti. "Mengapa Umi pergi?" tanyaku.
Umi tetap tidak menjawab. Tampak berpikir-pikir.
"Karena Ayah?" terkaku tak sabar.

Umi kembali kelihatan berpikir-pikir. "Ayahmu baik sebagai ayah. Barangkali juga sebagai laki-laki. Tapi suami" Umi tiba-tiba diam. Ditatapnya aku lekat-lekat, dan lama. "Ah, engkau baru kelas empat," katanya kemudian. "Pada saatnya nanti kau mengerti sendiri." Kemudian diusap-usapnya bahu juga kepalaku, tetapi tangan Umi kurasakan tak lagi selembut dulu. Senyum dan matanya juga tidak. Seakan dia bukan lagi umiku.

Aku masih mencoba memintanya pulang, Umi senyum menggeleng. Aku lalu minta ikut, Umi juga menggeleng, lambat-lambat. "Itu pun tidak mungkin, Nak," dia bilang. "Maksud Umi, itu belum mungkin sekarang. Tunggulah beberapa tahun lagi."

"Kenapa begitu? Kenapa aku harus menunggu?" aku bertanya menahan sambil tangis.
"Karena begitu janji Umi dan ayahmu."

Janji? Apa yang mereka janjikan? Aku tambah bingung. Makin tidak mengerti urusan dan kelakuan orang tua. Tidak mengerti dunia orang dewasa. Aku juga merasa sedih, jengkel. Dan kepada Bibi pun, di rumah, aku merasa jengkel. Juga pada Adik, yang melangkah tertatih-tatih mendekatiku, cengengesan seperti monyet. Serasa ingin kutokok saja kepalanya. Atau kujewer telinganya. Maka selesai makan aku tinggalkan rumah. Aku tulikan telinga waktu Bibi berpesan supaya tidak pulang terlalu sore. Jangankan mematuhi, bahkan malam itu aku sama sekali tidak pulang; berkeliaran dengan anak-anak sebayaku di pasar dan terminal. Pertama kali pula aku merokok, sampai tersedak dan batuk-batuk.

Besoknya, kudapati belum ada Ayah di rumah. Bibi menangis terus, sehingga Adik ikut menangis. Bibi tidak marah, hanya memelukku, menyatakan kecemasannya karena aku tidak pulang. Juga, karena bolos sekolah. "Sekolah itu buatmu, nanti. Buat bekal masa depanmu," kata Bibi. Dia siapkan air hangat untuk mandiku. Dia sediakan makan dengan cekatan. Bibi memang rajin, dan terampil mengurus rumah, tidak kalah dari Umi.

Namun perasaanku justru makin tidak karuan. Aku terharu melihat kebaikan Bibi, tapi tidak suka ada dia dan Adik di rumah. Aku ingin Umi di rumah seperti dulu. Tapi aku sedih, kecewa, jengkel, sebab Umi tidak mau pulang. Juga, karena dia tidak bersedia membawaku bersamanya. Di kota mana gerangan dia tinggal? Di rumah Bibi Marina? Tidak mungkin ia kembali ke rumah Nenek, karena beliau sudah meninggal.

Sepanjang hari aku gelisah, mengurung diri dalam kamar, tidak berangkat ke sekolah. Dan Ayah belum juga pulang. Besoknya juga belum. Entah ke mana, seperti biasa. Pikiranku melayang-layang. Kemudian aku putuskan pergi, kali ini untuk tidak kembali lagi. Bersama kawan-kawan di pasar dan terminal yang telah lama berangan-angan ke Ibu Kota, aku bergabung. Menumpang truk dari kota ke kota. Setelah sekian hari akhirnya sampai juga kami di Ibu Kota. Tapi di sini kami cerai-berai, tercampak ke jalan raya, hanya sesekali bersua. Itu pun tidak bisa lama-lama, kecuali tahan kena tendang atau tempeleng. "Kalian kira di sini buat ngobrol dan main-main, ha!" Plak! Ada juga yang pingsan.

* * *

"He!"
Aku tersentak dari lamunan. Di depanku tegak Bang Balok, bertolak pinggang kasih pengarahan. "Kau jangan melamun lagi kayak tadi. Mengerti! Muka sedihmu justru harus buat cari duit. Mengerti kamu, ha!" Kepalaku diketok dua kali.

Aku mengangguk, tidak dapat tidak. Tadi, sewaktu lampu lalu lintas berwarna merah aku melamun. Tertegun di trotoar, tidak melakukan apa-apa, sementara anak-anak lain sibuk kerja. Aku seperti melihat Umi, Bibi, Adik, dan juga Ayah, di dalam mobil yang berhenti. Kemudian wajah mereka berganti wajah-wajah lain ketika mobil berlalu saat lampu lalu lintas hijau kembali. Kakiku masih terpaku di trotoar. Mataku panas, berkaca-kaca.

Ubun-ubunku terbakar terik matahari Ibu Kota. Untuk kesekian kalinya aku rindu rumah, ingat kota kami yang kecil, dan ramah, betapapun garangnya Ayah, dan peliknya hubungan mereka bertiga: Ayah, Umi, dan Bibi.

***

Respati Telah Mati Cerpen: Sunaryono Basuki Ks


Sinar Harapan
Sabtu, 01 September 2007

Respati Telah Mati
Cerpen: Sunaryono Basuki Ks

Kadang tak kusadari bahwa Respati telah mati. Entah kapan matinya aku sering mau melupakannya, namun kadang dia muncul dalam lintasan ingatan, yang manis tetapi tiba-tiba topan datang, berubah jadi puting beliung, membawa tsunami, membawa Katrina, membawa apapun yang menghancurkan kenangan baikku.

Betulkah Respati sudah mati? Kadang aku juga ragu. Di mana dia dikuburkan? Kapan?

Kami pernah bercinta dalam gelora. Gelombang yang menghempas dada kami, membasahi tubuh kami dalam keringat kepuasan yang kukira tak akan ada batas. Kami bertemu hampir setiap hari. Kami bercinta hampir setiap bertemu. Kami merasa puas pada hampir semua akhir bercinta.

Respati adalah gelora, yang mampu merespons geloraku. Ombak air panas yang saling menjilat, yang saling menghempas pasir pantai yang putih.

Mungkin salahku juga kenapa aku tiba-tiba jatuh hati pada Respati. Dia masih sangat muda, baru dua puluh satu tahun. Tapi, perempuan semuda itu sudah siap untuk menikah, baik fisik maupun mental. Dia bahkan berencana menikah tahun depan, setelah lulus dan sudah bekerja. Sudah pasti, seolah di tangannya semua serba pasti, tahun depan adalah tahun pernikahannya, padahal dia juga diharapkan untuk membiayai adiknya yang baru saja mulai menempuh kuliah di Jakarta.

Dari gajinya sebagai karyawati hotel, dia harus menyisihkan sebagian untuk adiknya. Bukan sebagian, tetapi separuhnya, sebab hidup di Jakarta memang mahal. Namun sebagai mahasiswi Akademi Kebidanan, Komang memang tinggal di asrama dan menerima sekadar uang saku. Dan Kadek Respati harus membayar sisanya untuk keperluan tetek-bengek seorang gadis remaja. Komang juga perlu beli pulsa untuk HPnya, beli bedak, gincu, pensil alis, pelembab, rok baru, celana dalam, sabun mandi, sabun cuci.

Dan aku sudah menjelang empat puluh tahun, tetapi yang kupunya hanya sebuah mobil Toyota Starlet tahun 1997, sebidang tanah seluas empat ratus meter persegi, sedikit uang tabungan, dan keinginan untuk beristri. Di kampus yang ada hanya mahasiswi. Dosen perempuannya yang baru diangkat sudah langsung pula diangkat menjadi istri seseorang. Lingkungan lain aku tak mengenalnya.

Walaupun aku sering bermobil ke Lovina, menikmati pemandangan matahari yang mencelupkan diri ke dalam air laut, memerah seolah bola api merindukan kesegaran air, aku tak bertemu wanita yang dapat menggoda minatku. Kadang aku berbaur dengan anak muda di Kafe Barakuda menikmati lagu-lagu keras, namun pramusaji yang mendekatiku hanya bertanya:

“Minum apa, Pak?

Tak seorang pun yang mengajukan pertanyaan bodoh:

“Sendiri saja, Pak?”

Jadi, aku lebih banyak bertemu Respati tetapi tak pernah mengajaknya dalam mobilku ke Lovina, ke Air Sanih, ke Air Panas Banjar, sebab aku dosen dan Respati mahasiswi. Dia selalu menolak dan aku jarang berusaha mengajaknya. Tapi, rencana pernikahan Respati tahun depan hampir pasti, begitu kesan yang kudapat.

Di tempat lain kami bertemu, bercanda, saling meremas tangan, saling berpelukan, dan saling berciuman. Respati selalu menyambutnya dengan bergelora, kami bagaikan dua pecinta yang merasa pasti tentang masa depan kami.

“Sayangilah daku, Res!” bisikku.

Lalu dengan kasih sayangnya diciumnya pipiku, yang kiri dan kemudian yang kanan. Ciuman di pipi itu selalu merasuk ke dalam jiwaku dan selalu kubisikkan:

“Aku paling suka ciumanmu di pipi.”

“Karena aku melakukannya dengan kasih sayang, Bli.1”

Kukira aku makin merasa pasti dengan Respati. Gadis belia itu mencintaiku, sebagaimana selalu dikirimkannya melalui sms: “L u yang.”2

Tetapi, rencana pernikahan bukan denganku, tetapi dengan Bli Wayan, lelaki yang jauh lebih muda dariku, yang selalu dipujanya. Respati memujanya bagaikan memuja seorang dewa, sosok yang tak lekang di panas, tak basah oleh guyuran hujan. Respati memujanya dengan membabi buta.

“Kenapa aku mencintainya?” dia selalu mengulang pertanyaanku. “Aku ingin menebus kesalahanku di masa lalu.”

“Bukan. Aku tak pernah menyakiti orang lain, tapi kesalahan masa lalu yang membuat kami berpisah. Memang, saat masih di SMA aku punya pacar, lelaki muda seusiaku yang mencintaiku. Tapi kami berpisah lantaran aku tidak bisa memahaminya dan tak mampu memberikan kasihku sepenuhnya.”

“Bukan. Dia bukan satu-satunya orang yang mencintaiku. Wahyudi kukenal ketika aku masih di semester dua. Dia sudah bekerja. Usianya? Waktu aku dua puluh tahun, tepat pada hari ulang tahunku, dia datang bersama temanku. Tetapi dia sudah berusia dua puluh enam tahun dan punya pekerjaan layak di sebuah perusahaan asuransi besar. Dan dia bersedia menungguku sampai tamat. Jadi, tiga tahun, empat tahun. Kami salaing bertemu, menelepon, tetapi kesibukan masing-masing memisahkan kami.

Wahyudi sekarang sudah menikah dan punya seorang putri yang manis. Kadang masih menghubungiku. Mengapa kami berpisah? Mungkin, petemuan yang kurang intens. Aku banyak tugas, dan juga harus bekerja paruh waktu sebab aku harus membiayai studiku. Ayah tak mampu, ibu hanya seorang PNS kecil. Kesalahanku? Sangat mungkin, dia mengharapkan kehangatan yang belum pernah kuberikan.”

“Tapi Wayan? Seusiamu?”

“Tidak. Dia juga lebih tua tiga tahun dariku. Kami bertemu di sebuah forum pertemuan gerakan spiritual. Dan aku menemukan kecocokan, cocok dalam pandangan spiritual. Kami vegetarian.”

Dari teman-temannya aku juga dengar bahwa Respati sangat mencintai dan memuja Bli Wayannya. Tapi, yang mengejutkanku bukan tentang kedekatannya dengan lelaki itu, tetapi tentang sikapnya. Ternyata Bli Wayan sangat pencemburu. Kalau Respati menerima sms dari teman lelakinya, maka dia marah-marah. Padahal, Bli Wayan tidak tinggal sekota dengan kami. Hampir setiap Sabtu dia datang menengok Respati, dan setiap Sabtu pagi Respati selalu meninggalkan pesan lisan:

“Jangan hubungi aku lewat HP. Senin saja kita bertemu di kampus.”

Aku memahaminya. Aku tak ingin mengusik kedamaian Respati dengan Bli Wayan, tetapi yang baru kutahu sesudah itu, ternyata HP milik Respati berada di tangan Bli Wayan. Malah kadang HP itu terbawa pulang ke kotanya dan selama seminggu Respati tak bisa dihubungi lewat HP. Terpaksa aku menghubunginya lewat e-mail bilamana dia tak muncul di kampus. Alamatnya callme-respati@hotmail.com. Aneh. Aku bisa saja datang berkunjung ke kos Respati dan berbicara langsung, tetapi dia tinggal masuk ke dalam di perkampungan dan aku harus memarkir mobilku jauh di jalan raya, dan semua akan tahu kalau aku berjalan masuk gang mencari Respati. Wah, Pak Dosen mencari mangsa!

Lebih mengejutkan lagi, bila marah Bli Wayan tak segan-segan menampar wajah Respati, dan gadis itu menerimanya dengan senang hati. Sebab, sesudah itu Bli Wayan selalu akan minta maaf, lalu peristiwa terulang lagi, lalu, minta maaf lagi.

“Kenapa aku bertahan? Karena aku mencintainya. Dia mencintaiku. Kami saling mencintai. Aneh? Itulah kami,” kata Respati dengan tenang seolah badai tak pernah menerpa kehidupannya.

“Kenapa tak memilihku?” protesku. “Aku mencintaimu. Kau mencintaiku. Kita saling mencintai. Dan aku sudah siap menikah.”

Matanya memandang tak percaya, seolah kata-kataku kosong tak bermakna. Betulkah aku mencintainya? Betulkah kami saling mencintai? Tak ada yang tahu. Bagaimana Respati bisa mendua? Mencintai Bli Wayan tetapi juga mencintaiku? Apakah dia siap melakukan poliandri sebagaimana dalam dunia pewayangan. Jelas aku tak siap, Bli Wayan apalagi, pasti akan menolak.

Dan, sekarang Respati sudah mati, paling tidak bagiku. Begitu lulus menjadi sarjana, dia pergi entah ke mana. Sms ke HP-nya selalu terkirim, tetapi tak pernah dijawab. Apakah dia sudah menikah dengan lelaki yang dipujanya? Apakah HP sudah berada sepenuhnya di tangan Bli Wayan? Apakah Bli Wayan tak lagi menamparnya? Memarahinya?

Aku tak ingin menangis, sebab kepergian Respati sama sekali bukanlah hal baru. Saat masih menempuh kuliah, pacarku sejak SMA kelas I sudah kawin lari dengan seorang pengusaha kaya. Masih juga pada semester akhir, pacar lain, yang siap untuk menikah dan ingin punya banyak anak, tiba-tiba menulis surat: “Kita berpisah di sini saja.” Saat aku sudah mulai bekerja, gadis lain yang berjanji setia menungguku, tiba-tiba menikah juga dengan kepala sebuah perusahaan besar. Tahun-tahun lewat, dan seorang demi seorang juga lewat. Ketika aku memeluk Respati, aku sudah dapat merasakan bahwa pelukan itu akan melonggar dan lepas sama sekali.

Pasti ada yang salah denganku. Dengan karmaku? Apakah aku dulu punya banyak istri, praktisi poligami seperti yang sedang diributkan orang di TV, dan semua istriku ingin membalas dendam dalam hidupku yang sekarang? Buah karmaku: aku akan ditinggalkan oleh wanita, seorang demi seorang. Dan, Respati sudah mati, entah di mana dan entah kapan.

Walaupun sekarang ada seorang gadis cantik yang selalu tak berkeberatan kuajak bermobil ke Lovina, ke Bedugul walau dia seorang mahasiswi, aku sudah merasakan bahwa gadis ini pun akan segera mati dan aku menjadi seorang perjaka tua, benar-benar perjaka karena aku tak berani melakukan persetubuhan kalau tidak dengan istriku, padahal aku tak beristri. Dia pun akan mati sebagaimana Respati.

Mula-mula mencintaiku dengan bergelora, dan kemudian menghilang bagaikan asap. Tapi, bukankah aku juga sudah mati?***

Singaraja, 9 Desember 2006

3 Bli = panggilan untuk kakak lelaki, semacam sebutan Mas di Jawa.
2 Love you, sayang.

REMBULAN Cerpen: Anita Retno Lestari


Republika
Minggu, 04 Mei 2008

REMBULAN
Cerpen: Anita Retno Lestari

GADIS kecil empat tahun itu tiba-tiba berkata-kata kepada teman-teman mainnya di halaman rumah kontrakan yang baru ditempatinya bersama ibunya, "Aku berasal dari rembulan."
Teman-temannya terpana. Mereka seperti meragukan kata-kata aneh itu. Lalu gadis kecil itu melanjutkan kata-katanya, "Dulu ibuku suka keluar rumah malam-malam, lalu duduk di halaman rumah. Tiba-tiba rembulan jatuh dan pecah di pangkuannya. Lalu ibuku mengunyahnya, kemudian ibuku hamil dan melahirkan aku."
Teman-temannya tetap terpana. Mereka seperti tak percaya atau tidak mengerti kata-kata gadis kecil itu. Dan, ketika mereka pulang ke rumah masing-masing, segera bertanya kepada ibu masing-masing.
"Ibunya tidak punya suami."
"Ibunya tidak pernah menikah."
"Ibunya perempuan nakal."
"Jangan main lagi dengan dia."
"Jangan mau diajak bicara ibunya."
Gadis kecil itu kemudian selalu bermain-main sendirian di halaman rumah kontrakan itu, karena teman-temannya tidak sudi lagi menemaninya. "Aku tidak betah tinggal di sini, Bu. Sebab tidak ada teman yang mau kuajak bermain." Gadis itu mengeluh kepada ibunya yang baru saja pulang kerja. Ibunya selalu berangkat kerja pada jam tujuh pagi dan pulang pada jam lima sore. Gadis kecil itu diasuh oleh pembantu yang bisu. Maka gadis kecil itu merasa kesepian meskipun tinggal berdua bersama pembantu.
Gadis kecil itu tidak mengerti kenapa ibunya memilih pembantu yang bisu. "Sebaiknya kamu bermain-main atau nonton teve dengan Bik Ijah saja di dalam rumah. Tak usah main-main di luar rumah," tutur ibunya. "Aku bosan bersama Bik Ijah, karena dia tidak bisa diajak bicara. Sebaiknya Bik Ijah dipulangkan, lalu kita cari pembantu lain yang bisa bicara." "Hus, jangan bicara begitu. Kasihan Bik Ijah. Meskipun bisu, dia bisa mendengar pembicaraan kita. Lagi pula, Bik Ijah itu sangat baik dan sayang padamu. Buktinya, sejak dulu kamu disuapi. Kalau kamu mandi, dimandikan. Kalau kamu tidur, ditemani."
Gadis kecil itu kemudian merengek-rengek minta didaftarkan di sekolah taman kanak-kanak, seperti anak-anak tetangga yang sebaya dengannya. Tapi, ibunya menolak karena iba kepada pembantunya. "Kasihan Bik Ijah kalau setiap hari mengantarkanmu pergi dan pulang sekolah, karena dia sudah capek bekerja di rumah. Besok saja kalau sudah berumur enam tahun kamu masuk SD."
Gadis kecil itu kemudian diam dengan wajah murung. Lalu bertanya kepada ibunya, "Benarkah aku berasal dari rembulan?"
Ibunya tidak menjawab. Wajah perempuan yang tak pernah menikah itu tampak redup. Terbayang masa-masa mudanya yang ceria dan kemudian berakhir kelam setelah pesta ulang tahun temannya yang membuatnya kehilangan keperawanan.
Beberapa teman lelakinya mengajaknya minum-minum sebelum berdansa, lalu dia mabuk dan pingsan. Setelah siuman ia merasakan perih pada kemaluannya, lalu dia terlambat bulan. Sekilas terbayang masa-masa kehamilannya. Betapa kedua orangtua dan saudara-saudaranya mengusirnya dengan sikap jijik dan muak. Lalu dia pergi ke rumah teman-teman kuliahnya, tapi mereka keberatan menampungnya.
Terpaksa dia selalu berpindah dari rumah teman satu ke rumah teman lain, sebelum kemudian ditampung oleh seorang pemilik warung remang-remang. Selama berada di warung remang-remang, dengan perut membuncit, dia terpaksa melayani tamu-tamu pria hidung belang.
Setiap melayani, dia tersiksa jiwa raga, tapi ada harapan jahat betapa janin dalam kandungannya mungkin bisa gugur ketika diperlakukan kasar oleh pria-pria hidung belang itu. Tapi rupanya janin di perutnya sangat sehat dan gemar digoncang-goncang, sebelum kemudian lahir dengan selamat. Dan setelah menjadi ibu, rasa cinta kepada anak gadisnya yang tidak jelas siapa ayahnya itu membuatnya kabur dari warung remang-remang. Terlalu sayang jika anak gadisnya itu terbiasa melihatnya melayani pria-pria hidung belang. Ibu mana yang tega menjerumuskan anak gadisnya sendiri menjadi pelacur?
Maka demi anak gadisnya ia bekerja di pabrik dan tinggal di rumah kontrakan bersama seorang pembantu yang bisu itu. Memang sengaja dicarinya pembantu yang bisu, agar tidak bisa bicara dengan tetangga yang sok ingin tahu dan usil.
GADIS kecil itu menolak didaftarkan menjadi murid SD, karena malu. "Sekolah tak usah malu. Kalau tidak mau jalan kaki, besok beli sepeda baru," ujar ibunya. "Aku malu, karena dianggap anak haram! Aku tidak punya ayah. Ibu tidak pernah menikah!"
"Kata siapa?" tanya ibunya dengan mata berkaca-kaca.
Betapa aib di masa lalu masih juga belum terhapus karena aib itu telah membuatnya hamil dan kemudian memiliki anak perempuan yang akan terus tumbuh menjadi besar dan pasti akan mengerti sejarah hidupnya. Kini rasanya semakin sulit membohongi anak gadisnya itu. Jika dulu gadis kecil itu percaya dirinya berasal dari rembulan, kini kepercayaan itu sudah mulai luntur.
"Kalau tidak mau sekolah, kamu harus belajar di rumah."
Gadis kecil itu tidak menanggapi kata-kata ibunya. Dan ketika anak-anak sebayanya sudah mulai sekolah di SD, ia memilih mengurung diri di dalam kamar. Lalu lama berdiri di ambang jendela kamar, melihat langit luas sambil membayangkan dirinya bisa melayang tinggi di awan untuk melihat kota-kota lain seperti yang sering dilihatnya di layar teve.
Di suatu kota yang pernah dilihatnya di layar teve, banyak anak-anak perempuan bersekolah tanpa seragam, sebelum kemudian dijemput oleh ibunya dan diajak pulang. Tak terlihat seorang ayah yang menjemput anaknya. Mungkinkah aku bisa menikmati sekolah di kota yang entah letaknya di mana itu, pikirnya.
Ibunya dan pembantunya sangat sedih melihat gadis kecil itu semakin suka mengurung diri di kamar seharian. Dan suatu malam, gadis kecil itu keluar kamar lalu duduk bersimpuh di halaman rumah sambil memandangi rembulan bundar di langit kelam. Angin semakin dingin dan jendela-jendela rumah tetangga sudah ditutup, tapi gadis kecil itu masih saja duduk bersimpuh di halaman rumah sambil mendongak menatap rembulan bundar.
"Ayolah masuk dan segera tidur. Udara makin dingin. Kamu bisa masuk angin." Ibunya mendekat dengan wajah tegang. Gadis kecil itu tiba-tiba berkata-kata, "Aku ingin seperti Ibu. Aku ingin rembulan itu jatuh dan pecah di pangkuanku. Lalu aku menyunyahnya." Sang ibu meneteskan airmata, sebelum kemudian memaksa anak gadisnya untuk masuk ke dalam rumah.

Ramadan Ayah Cerpen: Teguh Winarsho AS


Pikiran Rakyat
Sabtu, 15 September 2007

Ramadan Ayah
Cerpen: Teguh Winarsho AS

RAMADAN selalu membuat kampung kami bergairah. Orang-orang seperti berlomba memperbanyak ibadah. Bahkan, banyak di antara mereka yang sebelumnya tak pernah datang ke masjid, tiba-tiba di Bulan Ramadan ini rajin ke masjid. Tapi sayang, Ayah, laki-laki tua yang suka mendengus dan meludah, tetap tidak berubah. Setiap malam Ayah masih suka begadang di gardu ronda dekat pasar, sibuk memelototi kartu ceki dan sedikit minum alkohol; mabuk. Pulang jam lima pagi dengan langkah gontai dan mata merah, berpapasan dengan orang-orang yang baru pulang dari masjid.

Kami, anak-anaknya, sebenarnya malu melihat tingkah laku Ayah. Tapi kami tak berani memperingatkannya. Kecuali kami siap mendapat tamparan di pipi atau tendangan di pantat. Dan begitulah, kami, aku dan kedua adikku, tumbuh sebagai anak-anak yang terkesan pendiam dan patuh pada orang tua. Meski kepatuhan kami terutama pada Ayah karena terpaksa. Tapi, itu tidak masalah. Karena bagi kami, yang terpenting adalah menghindari tamparan dan caci maki Ayah yang sering mengundang perhatian tetangga kanan kiri. Dan itu artinya kami tidak menyakiti perasaan Ibu. Sebab, di antara kami, Ibulah yang paling banyak menanggung malu jika Ayah marah-marah sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan jorok.

Ibu adalah kesejukan embun di pagi hari. Tatapan matanya menentramkan hati kami. Menyegarkan kekeringan jiwa kami. Ibu laksana batu karang yang berdiri kokoh di tengah empasan gelombang. Ibu tak pernah marah meski perlakuan Ayah demikian menyakitkan. Ibu tertunduk diam, dan paling-paling hanya menangis sesenggukan ketika Ayah memarahi, membentak-bentak, bahkan menamparnya. Mungkin bagi Ibu, kepatuhan pada suami merupakan nilai ibadah tersendiri. Entahlah.

Sayang, orang yang sangat kami sayangi itu lebih cepat pulang ke pangkuan-Nya. Ramadan tahun lalu, Ibu meninggalkan kami untuk selama-lamanya ketika sesungguhnya kami masih sangat membutuhkan kehadirannya. Dan mungkin itulah awal petaka yang menimpa keluarga kami. Ayah semakin jarang berada di rumah. Selain menghambur-hamburkan uang di meja judi, Ayah juga mulai berani main perempuan. Bahkan, beberapa kali Ayah sempat membawa perempuan menginap di rumah. Kami sangat tersiksa melihat kelakuan Ayah. Tetangga kanan kiri sepertinya juga jijik melihat keluarga kami.

Sedikit demi sedikit perabotan rumah tangga dijual Ayah. Kami tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menatap hampa ketika Ayah dan beberapa temannya datang dengan membawa truk lalu mengangkut meja, kursi, almari, dan barang-barang berharga lain. Seorang teman Ayah bilang pada saya, bahwa Ayah kalah judi jutaan rupiah sehingga barang-barang tersebut harus disita.

Dulu saya mengira Ayah akan berubah menjadi baik sepeninggalnya Ibu. Saya masih ingat bagaimana pesan terakhir Ibu pada Ayah, hanya beberapa menit sebelum ajal menjemput. Ketika itu, kami anak-anaknya dan juga Ayah ada di samping Ibu yang terbaring lemah di atas ranjang. Dengan terputus-putus Ibu bilang pada Ayah, agar mau menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Ayah diam tak berkutik. Dan baru kali itu saya lihat Ayah yang biasanya garang dan angker mendadak berubah lembut. Sorot matanya redup seperti menyiratkan kesedihan dan penyesalan.
Ternyata kesedihan Ayah tak berlangsung lama. Hanya tiga minggu setelah Lebaran, Ayah mulai pada kebiasaan lamanya. Bahkan semakin bertambah parah.

**

TAK tahan mendengar gunjingan tetangga kanan kiri, saya memberanikan diri mengingatkan Ayah agar mau melaksanakan pesan terakhir Ibu, setidaknya bersikap baik di Bulan Ramadan ini. Tapi Ayah justru tertawa, katanya, "Kamu pikir kalau aku puasa lantas kita akan jadi kaya, heh? Kamu rajin puasa, bahkan puasa Senin-Kamis, tapi apa Tuhan terus ngasih duit sama kamu? Kamu masih tetap miskin. Sudahlah, aku nggak mau ngomong lagi soal itu. Aku mau puasa atau tidak, itu urusanku sendiri. Kamu tidak perlu ikut campur!"

Lain kali pernah juga saya bilang pada Ayah bahwa puasa itu tujuannya bukan untuk mencari rezeki, bukan agar bisa kaya raya, tapi semata-mata untuk mendekatkan diri pada Allah karena dengan begitu akan terhindar dari perbuatan tidak terpuji. Tapi Ayah justru marah-marah. Sambil menggebrak meja, Ayah bilang, "Anak kemarin sore, tahu apa kamu tentang hidup! Hidup itu makan. Dan makan itu perlu duit!"

Sejak itu saya tak pernah bercakap-cakap dengan Ayah. Saya benar-benar muak melihat kelakuannya. Apalagi kalau dia membawa perempuan yang entah dari mana asalnya menginap beberapa hari di rumah. Meski kami masih sering bertatap muka, tapi kami sudah seperti orang asing saja. Dan saya juga tahu ada sorot kebencian di mata Ayah ketika sedang menatap saya. Tapi saya tak acuh, cuek.

Berbeda dengan saya, kepada dua orang adik saya, Ayah bersikap biasa-biasa saja. Apalagi kepada Fiz adik bungsu. Saya sering melihat mereka bertiga asyik ngobrol di teras rumah. Saya tidak tahu dan memang tidak ingin mencari tahu apa yang sedang mereka obrolkan. Karena tiba-tiba saya juga benci pada dua orang adik saya itu. Di mata saya, Fiz dan Burhan yang lugu, polos, dan masih bersih itu, telah berkomplot dengan Ayah. Berkomplot dengan segala kebejatan moral Ayah. Saya benci mereka!
Jadilah saya tak punya orang dekat lagi di rumah.

**

SUATU pagi, saat pulang kerja lembur, saya terkejut mendapati suasana rumah yang lain dari biasanya. Dari pintu depan tiba-tiba Faiz berlari menyongsong saya dan sambil terisak-isak ia bilang bahwa Ayah meninggal dunia. Saya tidak tahu apa yang sesungguhnya ada dalam benak saya, sebab sedikit pun saya tidak terkejut mendengar kabar itu. Saya juga tidak merasa sedih kehilangan Ayah. Biasa-biasa saja seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Saya kemudian masuk ke dalam rumah. Tapi sepi. Tidak seperti layaknya kalau ada kematian. Hanya ada beberapa tetangga dan teman-teman dekat Ayah yang sering mangkal di gardu ronda. Saya maklum, orang-orang tentu banyak yang tidak menyukai Ayah. Karenanya wajar jika ketika meninggal pun mereka enggan datang ke rumah kami.

Jenazah Ayah sudah dimasukkan ke dalam peti. Sedikit pun saya tak ingin melihatnya. "Untuk apa?" jawab saya enteng, sekenanya, yang langsung disambut tatapan aneh beberapa orang di sekitar saya.

Dan entah, tiba-tiba saya merasakan ada seseorang merenggut lengan saya, kuat, ditarik masuk ke dalam kamar.

"Huss! Jangan bikin malu! Ayahmu tertabrak truk ketika sedang menyeberang jalan, mau salat Subuh! Dua hari sebelumnya Ayahmu bilang padaku kalau dirinya sudah tobat!" ucap Haji Biran sampai di dalam kamar.

Salat Subuh? tanya saya dalam hati, kaget, tak percaya. Sementara Haji Biran keluar meninggalkan saya, saya masih terpaku di tempat. Saya bingung, gelisah, sedih, kecewa, dan entah apalagi perasaan yang menyesak dalam benak saya.

Sampai tiba upacara pemberangkatan jenazah, rumah saya masih sepi. Yang hadir hanya itu-itu saja, tidak lebih enam belas orang. Itu pun lebih banyak bekas teman-teman main judi Ayah. Wajah mereka tampak sedih. Entah kesedihan yang bagaimana. Tapi, saya masih sempat mendengar bisik-bisik di antara mereka, "Untuk menghormati Wongso, si mati, tak ada salahnya nanti malam ketika orang-orang tarawih di masjid, kita main kartu di sini!" "Ide bagus!"

Yang lain mengangguk-angguk.***

Depok, 2006