Sabtu, 28 Januari 2012

Pilkada Cerpen: Adek Alwi


Suara Karya
Sabtu, 14 Juli 2007

Pilkada
Cerpen: Adek Alwi

JUSTRU setelah ditempeleng ayah mataku terbuka lebar. Pandangku mulanya memang berkunangkunang. Kepalaku nanar. Dada berdebar-debar. Dan, hatiku sakit. Sudah setua ini masih kena tempeleng. Namun, beberapa waktu berselang, semuanya berubah drastis. Siasat ayah malah seperti buku terbuka di depanku. Mudah dibaca, gampang dicerna. Termasuk jalan pikiran serta perilaku ayah selama ini.

Padahal, sebelumnya, semua itu begitu rumit. Pelik. Dan, selalu menjadi bahan pertikaian atau paling tidak ketidakserasianku dengan ayah. Ibaratnya, ayah ke selatan aku ke utara. Ayah bicara menggebu-gebu, aku justru ingin beliau kalem saja. Tatkala ayah bersikap tenang, justru aku yang mendesak beliau membeberkan semua rencana. "Ini saatnya, Ayah! Ini waktunya yang tepat!" kataku menggebu-gebu.
"Tenang kau!" bentak ayah. "Jangan pula aku diatur-atur!"
"Bukan diatur, Ayah!" Aku tidak henti mendesak; maju terus pantang mundur. "Tetapi memang harus seperti itu!"
"Siapa yang mengharuskan?"
"Tentu saja warga desa. Calon pemilih!" kataku.

"Mana mungkin mereka pilih calon kepala desa yang tidak punya program. Tak punya rencana kerja konkret. Jelas, masuk akal, dan tidak bermanfaat untuk mereka."
"Siapa bilang aku tidak punya program!" ayah menyentak.
"Jadi, sudah ada? Ayo, cepat Ayah sampaikan kepada warga. Cepat, Ayah!"

"Ala, gampang itu," balas ayah. "Sekarang pun seribu program dapat aku buat dan sebutkan. Sejak membangun jembatan, jalan, masjid, sekolah, sampai bikin pasar, serta balai desa. Sejak pembebasan biaya sekolah, santunan orang jompo, yatim-piatu, hingga memberi bibit dan pupuk gratis buat petani. Gampang itu. Mudah!"
Aku terperangah. Hampir-hampir habis kata dan napas. "Itu bukan"
"Ya. Bukan itu yang penting, tahu kau!" sela ayah.

"Yang penting, yang utama sekarang memenangkan pemilihan kepala desa. Jika bukan aku, salah seorang anggota keluarga kita harus jadi kepala desa!"

Aku menggeleng-geleng, benar-benar kehabisan kata. Ayah pun geleng-geleng kepala, menatapku lekat-lekat. Aku tahu kenapa dia menggeleng-geleng. Sebelumnya, kami pun sudah berbantahan. Aku ingin, pada musim pemilihan kepala desa (pilkada) sekarang ayah dan ibu berduet saja sebagai bakal calon dan wakilnya. Namun, ayah menghendaki masing-masing maju sebagai balon kepala desa. "Buat apa?" kubilang. "Lebih baik Ayah dan ibu berpasangan."

"Tolol itu namanya! Menaruh telur saja orang tidak mau dalam satu keranjang. Apalagi jadi calon kepala desa. Percuma kau sekolah tinggi!"

Mukaku panas, merah karena tersinggung. Tetapi, kucoba bertahan. "Dengan begitu Ayah dan ibu saling dukung," kataku menjelaskan. "Karena belum tentu warga yang menyukai ibu pun suka Ayah, atau sebaliknya. Nah, dengan berduet semua suara bisa diharapkan mengalir."
"Lalu, jika tak terpilih, keduanya ambruk. Begitu maksud kau?"
"Malah peluang terpilih makin besar. Sebab, ada dua kekuatan besar, kekuatan Ayah dan ibu yang berkoalisi."
"Ala, tak perlu kau pakai istilah-istilah gagah," ujar ayah. "Tahu kau, kalaupun kami terpilih, tapi sekali salah jalan, kita sekeluarga akan dikeroyok orang sedesa. Tak ada warga di luar keluarga yang akan membela!"

"Karena itu, sebagai pasangan kepala desa serta wakilnya nanti, Ayah dan ibu harus meminimalkan kesalahan. Bilapun terjadi kekeliruan, hanya benar-benar karena ketaksengajaan, kelemahan manusia. Untuk itu harus berani"

"Eh yang berani itu adikmu, si Pajatu!" sela ayah kesal. "Berani kawin. Berani punya anak. Kini, dia berani pula mencalonan diri sebagai kepala desa. Jadi, tahu kau, sekarang tiga calon kepala desa dari keluarga kita. Aku, ibumu, Pajatu. Bagaimana? Berani tidak kau mencalonkan diri?"

Aku menghindar. Tidak muncul-muncul, sampai kemarin. Kemarin, begitu muncul kami berbantahan kembali.

"Kalau Ayah khawatir dijatuhkan setelah terpilih dengan ibu sebagai kepala desa dan wakilnya, kuncinya ialah program. Program yang baik dan jitu tak saja mengundang warga memilih Ayah dan ibu, juga membuat warga tidak berpeluang"
"He, sudah kubilang berkali-kali. Seribu program pun bisa kubuat, tahu!"
"Harus dibuktikan dan diuji, Yah. Harus disampaikan dulu kepada warga."
"Bukan itu yang penting!" Wajah ayah merah-padam.

"Tetapi, memenangkan pemilihan. Bagaimana supaya kepala desa tetap di tangan keluarga kita. Karena itu, sebanyak mungkin anggota keluarga harus mencalonkan diri, kecuali yang pengecut!" Rahang ayah mengeras. Matanya menyambar-nyambar.

Tapi aku tetap mendesak. "Banyak pun tak akan menang jika tidak becus bikin program!" Tangan ayah pun melayang, plak! Mataku langsung berkunang-kunang dan kepalaku nanar bukan kepalang.

* * *

"BAGAIMANA sekarang?" Ayah bertanya setelah beberapa lama.
Aku tiba-tiba terdorong mengangguk-angguk. Mataku memang tak berkunang lagi. Kepalaku juga sudah tak nanar. Sakit hatiku perlahan-lahan hilang. Pandanganku malah terbuka lebar. Dan di hadapanku seolah terhampar jalan pikiran, perilaku, siasat juga keinginan-keinginan ayah. Semua begitu mudah dibaca, justru setelah kepalaku kena tempeleng.

Rupanya, sesudah jadi kepala desa periode lalu, di musim pemilihan sekarang ayah menerapkan strategi para pemancing; karena tidak yakin benar akan terpilih lagi. Maka, pasang saja pancing banyak-banyak dengan mendorong anggota keluarga maju sebagai balon kepala desa. Bukan balon wakil. Dari sekian banyak, mustahil tidak ada yang kena untuk melanjutkan kekuasaan ayah, jika dia tidak terpilih kembali.

Dengan begitu, program memang tak penting dijajakan kepada calon pemilih. Lebih penting mencari dan menyebar dana sembako, kaos, transpor, plus uang saku untuk calon pemilih; agar pilihan mereka tak meleset. Dan juga, mencari pasangan atau balon wakil kepala desa. Tentu dari kalangan berpengaruh serta kaya.
"Bagaimana, paham kau sekarang?" ayah mengulang pertanyaannya.
"Paham, Ayah. Mengerti."

Ayah tersenyum. "Kalau begitu, segera persiapkan diri. Eh, kau akan maju jadi balon kepala desa bukan?"
"Tentu saja."
"Nah, persiapkan dirimu. Cari balon wakil sekarang!"
"Beres," kataku. Di kepalaku melintas bayangan Inyo dan Galadia, dua kawan yang cukup berpengaruh.
"Ayah bagaimana? Sudah ada pasangan?"
"Belum. Agak sulit mencari sekarang, tapi jangan pikirkan. Nanti pasti dapat."
"Calon wakil untuk ibu?"

"Juga belum. Tapi pasti dapat nanti. Adikmu Pajatu sudah punya," sahut ayah. "Kini, pergilah. Cari balon wakil untuk mendampingimu."

Sore itu juga kucari Galadia ke lepau kopi. Tidak jumpa. Dan tadi aku ulangi. Tetap tak bertemu. Inyo juga tidak. Hanya beberapa kawan, penganggur dan preman di lepau kopi, main domino.
"Susah bertemu Inyo sekarang," kata mereka.
"Sibuk!"
"Sibuk?"

"Ah, kau benar-benar ketinggalan kereta." Mereka ketawa. "Inyo maju sebagai balon kepala desa. Kini sibuk cari balon wakil!"
Aku kembali terkejut waktu mendengar Galadia melakukan hal yang sama.
"Jangankan Inyo dan Galadia, si Turiak saja jadi balon!"
"Si Empa juga!" balas yang lain.
"Pokoknya seru pilkada sekarang. Banyak calon. Eh, kau mencari Galadia dan Inyo mau apa?"
"Menurut kalian?"

"Mudah-mudahan tak melamar jadi balon wakil Inyo atau Galadia. Bukan apa-apa. Tahu kita, siapa Galadia dan Inyo bukan? Pengaruh memang besar. Sama dengan nafsunya!" Mereka tertawa lagi. Kali ini aku ikut ketawa.

"Syukur kalian bilang begitu," kataku. "Tadinya, salah seorang mau kujadikan balon wakil!"
Ketawa mereka terhenti. "Jadi, kau"
"Kalian tahu, pengaruhku sama besar dengan Galadia dan Inyo," kataku. "Tapi nafsu kami kan beda. Nah, sampai ketemu di hari pemilihan!" Lalu, kulempar pembeli rokok mereka ke meja lepau. Aku percaya mereka akan memilihku.

* * *

AYAH mertuaku sudah menunggu setiba aku di rumah.
"Sejak magrib Bapak menanti," bisik istriku.
"Ada apa?"
"Mau bicara."
"Soal apa?"
Istriku tersenyum.

Setelah bicara kian kemari, ayah mertuaku menyampaikan niat. Untuk sekian kalinya aku terkejut. Ayah mertuaku, pedagang tembakau itu, rupanya berminat maju jadi balon kepala desa. "Bapak merasa terpanggil, Nak," ujar beliau.

Aku terdiam. Galau. Tak seperti menghadapi ayah sebelum dia tempeleng, ada rasa segan berbantah dengan ayah mertuaku, lelaki uzur itu.

"Sebab itu Bapak kemari," sambung ayah mertuaku. "Bapak ingin melamarmu jadi pasangan, sebagai balon wakil kepala desa, mendampingi Bapak."

Kerongkonganku kering. Aku berpeluh dingin. Aku benar-benar dalam situasi, dan waktu yang sulit. Tetapi, apa pun risikonya tawaran itu harus ditolak. Sejak kena tempeleng, rencana dan siasat ayah sudah jelas benar bagiku.
"Maaf, Pak. Saya juga mencalonkan diri."

Seketika ayah mertuaku bangkit berdiri. Hatiku berdebar. Namun, tiba-tiba dia maju dan dia tepuk-tepuk bahuku. Mukanya pun berubah cerah. "Tidak apa-apa, tidak mengapa," ia bilang. "Bagus! Sebaiknya begitu, kita tak maju berpasangan. Jadi kalau Bapak gagal, kita masih ada harapan. Ya, itu namanya kita tidak menaruh telur di satu keranjang. Tadi, Bapak juga sudah ragu-ragu. Sudahlah. Bapak pergi saja sekarang. Si Karengkang saja Bapak lamar jadi balon wakil!"

Aku terlongo. Banyak pikiran berkelebat. Kalau mataku terbuka ditempeleng ayah, siapa menempeleng ayah mertuaku sehingga dia maju jadi balon kepala desa?
"Eh, tetap mau maju kan?" istriku bertanya melihatku termenung.
"Tentu!"
"Sudah ada balon wakilnya?"

Aku kaget lagi. "Ah, akan kucari sekarang!" Aku loncat ke luar rumah. Istriku mungkin tercengang. Tapi mungkin juga tidak. Karena, ia sendiri tahu betapa sulitnya mencari balon wakil untuk dirinya. ***

Perut Cerpen: Yanusa Nugroho


Jawa Pos
Minggu, 03 Februari 2008
Perut
Cerpen: Yanusa Nugroho

Malam larut, pekat, panas seperti ter. Tak ada udara yang mau bergerak, dan orang-orang itu pun seperti kehilangan pikiran.

Sementara laki-laki itu sendiri bahkan tak punya sebatang rokok pun untuk diisap. Kemarin, istrinya marah besar. Mungkin kesurupan roh Betari Durga. Semua dikutuknya. Bahkan tempayan kosong mereka, yang sudah beberapa bulan ini tak sempat terisi apa-apa itu, dikutuknya habis-habisan. Untunglah, kutukannya tidak manjur, sehingga tempayan itu tetap berujud tempayan.

Sesaat dia hanya melihat sekeliling. Panas yang pengab ini tak memberi harapan apa-apa. Suara orang-orang tadarus di surau dan langgar-langgar, terdengar sayup, menyelusup dari celah-celah udara panas. Sampai malam ini, istrinya masih saja mengomel dan mengutuki apa saja yang bisa dikutukinya. Mungkin itulah yang bisa dilakukannya untuk saat ini. Dan laki-laki itu memilih keluar rumah.

Dilihatnya anaknya duduk diam bertelanjang dada. Umurnya baru 6 tahun, tetapi dia sudah menerima kutukan emaknya. Laki-laki itu tak tahu harus bersikap bagaimana. Akan membelanya atau membenarkan ibunya. Dua-duanya salah sekaligus punya alasan yang bisa membenarkan tindakan masing-masing.

Dipanggilnya anak itu. Dan bocah itu pun berjalan ke arahnya dengan langkah gamang. Pasti di benaknya, bukan mulut sang ayah yang akan bicara, tetapi tangan. Aneh memang, mengapa tiba-tiba laki-laki itu merasa mampu dan fasih bicara dengan tangan. "Sini," tegasnya. Dan dia dengan langkah kecil yang ragu-ragu akhirnya mendekat dan duduk di samping ayahnya.

"Belum tidur?"
"Belum ngantuk."
"Kemarin kenapa?"
"Haus."
"Haus? Kok, emakmu sampai meledak-ledak begitu?"

Dia diam. Sebetulnya laki-laki itu sudah tahu akar masalahnya, tapi dia ingin agar anaknya bicara sendiri kepadanya. Laki-laki itu seolah ingin menguji apakah masih ada kejujuran dari mulut seorang bocah.

"Haus, Pak. Aku bilang sama emak, aku haus. Lantas aku cari yang bisa diminum. Terus yang di botol itu aku minum."

"Tapi, itu kan, minyak tanah."
"Tapi aku haus."
"Kamu minum minyak tanah?"
"Iya. Aku haus."

Sekarang laki-laki itu yang diam. Dia kehilangan kata-kata, sebagaimana biasa. Dan sebagaimana biasa, tangannya ingin segera ambil bagian. Tetapi, entahlah, melihat sosok anaknya yang kecil, dekil itu, dia tak bisa apa-apa. Pantaslah, emaknya mengutuk sepanjang hari. Minyak tanah yang harus dibeli dengan harga selangit itu, dengan antrean hampir setengah hari itu, ditenggak tuyul kecil itu sampai tuntas.

"Kenapa tidak minum air saja."
"Nggak enak, Pak. Air nggak ada rasanya."

Laki-laki itu tersenyum dalam hati. Diam-diam dia pun membenarkan ucapan anaknya. Minyak tanah memang lebih nikmat. Di badan memberikan tenaga luar biasa. Dia sendiri pernah meneguk sesendok --tentu saja diam-diam.
***
Dibiarkan anaknya tertidur di balai-balai luar. Kasihan jika di dalam rumah. Selain pengab, ucapan emak akan membuatnya lebih tersiksa.

Orang-orang yang juga duduk di pelataran menunggu angin lewat itu, mendekatinya. Mereka juga tak jauh beda dari laki-laki itu. Pasti mereka sedang disemprot habis-habisan oleh istri masing-masing.

"Kau tahu Bukit Sungsang?" Tiba-tiba Najib meludahkan kata-katanya.
"Pernah dengar namanya, tapi belum pernah ke sana. Ada apa?" jawab laki-laki itu.
"Di kakinya, katanya, ada sekubangan tanah yang bisa dimakan."

Semua terdiam, sebuah gambaran peluang melintas di benak masing-masing. Nikmat betul jika ada tanah yang bisa dimakan, "Tapi, apa tak perlu dimasak?" tukasnya menegaskan.

"Tidak. Raup dan masukkan mulut. Katanya gurih. Ada garamnya."
"O... aku ngerti. Dulu, mbahku juga bikin campuran kerupuk pakai tanah. Kalau ndak salah namanya bleng," ucap entah siapa.
"Mungkin. Aku ingin ke sana. Ada yang mau ikut?"
"Kapan?"
"Kenapa tunggu besok jika bisa dilakukan sekarang?"
"Iya, tapi Bukit Sungsang itu di mana?"
Semua diam kembali.
***
Bumi melengkung kepanasan. Sawah-sawah meruam, mengelupas, pecah-pecah. Sungai-sungai kecil mati kering dengan lidah-lidah terjulur kehausan. Terik kemarau di bulan Ramadan ini membuat laki-laki itu berpikir keras soal makanan. Maaf bila menyinggung perasaan, tetapi, tolong berikan pokok percakapan lain yang paling baik untuk dibincangkan selain makanan.

Maka melangkahlah kaki-kaki orang sekampung. Tentu semuanya laki-laki. Sekelompok manusia yang hanya bisa berpikir soal makan apa. Ah, apa yang salah dengan itu? Dia harus berpikir hanya soal itu, karena jika bukan dirinya, siapa lagi? Jika saja ucapan Najib benar, maka seisi kampung mendapatkan sorga dunia. Bayangkan, tak perlu minyak tanah, beras, bahkan korek api untuk mengganjal perut. Cukup meraup tanah, memasukkannya ke mulut. Kenyang! Hidup!
Ya, ini harus diperjuangkan dan memang pantas diperjuangkan.
***
Bukit Sungsang. Sebuah nama yang samar-samar tertinggal di kenangannya. Nama yang hanya sering muncul lewat cerita bapak, kakek atau orang-orang tua di kampung ini. Di mana persisnya, dia sendiri belum tahu, dan rasanya, mereka --orang-orang dalam rombongan ini-- juga tak lebih tahu.

Tapi, persetan dengan semua pengetahuan. Perut akan menuntun kita ke mana makanan bisa didapat. Bahkan semut pun mampu mengendus makanan. Juga kumbang, larva dan apa pun yang di muka bumi ini mampu mengendus makanan, mengapa manusia tidak?

"Rasanya itu…," ucap Najib yang berjalan di depan. Dia menghentikan langkah. Semua yang ada di belakangnya pun berhenti. Mata mereka terpaku pada sosok bukit yang entah mengapa menurut mata mereka aneh bentuknya. Seharusnya, bukit mengerucut, mirip gunung dengan ukuran lebih kecil tentu saja. Ini tidak.

"Mirip gada," komentar salah seorang.
"Iya, ya. Kok, kayak ketimun."
"Hus! Ketimun nggak gitu. Itu gada."
"Itu Bukit Sungsang," tandas Najib yang segera melanjutkan langkah.
"Jib, jangan buru-buru ke sana," cegah Ngatiman.
"Kenapa?"
"Biasanya, tempat aneh seperti itu, ada ’penjaganya."

Ucapan Ngatiman menghentikan langkah semuanya, sekali lagi. Tak jelas, sebetulnya, apakah karena takut atau alasan lain. Yang jelas mereka akhirnya berhenti pada jarak tertentu.

Tetapi, tanpa alasan yang jelas pula, tiba-tiba Najib melangkah dan mereka pun ikut melangkah, termasuk Ngatiman. "Tanggung jawab lho Jib," ujarnya cemas.
***
Dunia adalah lempengan tegak lurus, yang harus dititi dengan hati-hati. Mereka merayap perlahan, dan tak boleh ada kesalahan. Kesalahan hanya punya satu muara: kematian. Maka, dengan harap-harap cemas, para lelaki itu mendekati Bukit Sungsang. Kian dekat dengan kaki bukit itu, degup jantung mereka kian menguat.

"Itu... itu…yang menggunduk di tanah lapang itu..."
"Apa mungkin itu tanah yang dimaksud?"
"Mungkin."
"Terus gimana?"
"Ya, kita coba."

Maka bergegaslah kelompok itu mendekati gundukan tanah halus kecoklatan, agak basah di tanah lapang. Mereka kemudian jongkok berkeliling, mengamati gundukan tanah yang sekilas warnanya mirip gula Jawa itu. Seseorang kemudian menutulkan telunjuknya. Yang lain mengawasi. Jari itu masuk mulut. Semua mata mengikuti. Mulut yang komat-kamit, lalu menelan. Semua mata terpaku, jakunnya turun-naik.
"Enak..."

Maka, tanpa komando, para lelaki yang mengepung gundukan tanah itu meraup tanah dan memasukkannya ke mulut. Pipi menggembung, kecap mulut berkeceplak rakus. Keriangan dan kenikmatan membias di wajah mereka. Lidah mereka mencecap rasa gurih yang nikmat.

"Seperti keripik kelapa, ya…"
"Pernah makan, memangnya..?"
"Belum."

Dan mereka pun tak mau tahu lagi jawaban apa yang pantas keluar untuk setiap pertanyaan. Mereka hanya mau makan dan makan.
***
Senja meredup. Merah menembaga. Serombongan lelaki pulang, masing-masing memanggul buntalan tanah di pundak. Mereka berjanji bahwa esok akan kembali dan membawa makanan itu lagi.
Malam itu sekampung kenduri tanah. Tanah makan tanah, sebelum kembali menjadi tanah.
***
Lima hari lagi Lebaran. Para lelaki tak pernah menghitung hari. Mereka sepakat akan ke bukit lagi. Tak perlu minyak tanah. Tak butuh api. Tak usah beras. Perut mereka kenyang makan tanah. Cukup sudah kebutuhan hidup. Maka, berkemaslah mereka membawa pikulan bambu.

Namun, begitu langkah mereka tiba di kaki bukit, betapa terkejut mereka ketika dilihatnya bukit itu dijaga tentara. Senapan mereka laras panjang dan mustahil tanpa peluru. Sebagai penemu, mereka merasa berhak. Meskipun moncong senjata yang mereka ajak bicara, para lelaki itu berkeras mempertahankan isi perut mereka.

"Ini sumber makanan kami," teriak Najib seakan mewakili kawan-kawannya.
"Ini pertambangan negara. Siapa pun dilarang menambang di sini."
"Kami nggak cari apa-apa, cuma tanah itu. Itu makanan kami, Pak."

Komandan penjaga mengerutkan dahi. Dia sadar hanya akan menghadapi orang kurang waras. Kelaparan membuat pikiran terbalik. Dia pun memberi aba-aba agar membiarkan saja orang-orang itu berlalu. "Awas, kalian tidak boleh memasuki batas ini," ucapnya sambil menunjuk pada tanda larangan.

Para lelaki itu tak menjawab. Mereka hanya ingin segera menggali makanan mereka dan membawanya pulang. Tentu saja, setelah sebelumnya mereka berkenduri di kaki bukit itu. Para penjaga itu terlongong-longong ketika mata mereka menyaksikan kenikmatan para lelaki itu menyantap tanah. Ada yang menjilati jari-jari mereka sendiri, layaknya membersihkan sisa bumbu gulai kambing di sela-sela jari. Ada yang besendawa besar, lalu mematahkan lidi, mengorek-ngorek mulut, seolah mencongkel sisa daging terselip di gigi.

Komandan penjaga bergidik. Perlahan dia memerintahkan anak buahnya mundur teratur. Pemandangan yang disaksikannya benar-benar tak masuk akal. Melihat para penjaga itu mundur, salah seorang yang melempar-lemparkan butiran tanah kecil ke mulutnya seakan makan kacang bawang, segera memanggil dan mengajaknya bergabung. Panggilan itu rupanya terdengar lebih menyeramkan daripada lolongan srigala di malam hari, dan itu membuat para penjaga daerah pertambangan itu pontang-panting.

"Hahahahaha... orang bego, diajak makan, malah mabur…," ujar salah seorang.
"Biar saja, perut mereka tak bisa makan tanah."

"Lidah mereka sudah keriting. Hahahaha…biar saja. Yang penting, kita sudah menawari mereka, kalau tak mau, ya, salah dia... Ayo, lho.. jangan malu-malu," ucapnya sambil mencolek tanah dan menjilati layaknya menjilati semangkok gulai kambing.
***
Entah sekarang, apa yang terjadi dengan desa itu, tak ada yang peduli. Para penjaga yang pernah ditugaskan di daerah pertambangan emas milik negara itu dianggap orang gila, lantaran mewartakan ada kelompok manusia yang makan tanah mentah-mentah. Itu sebabnya aku tertarik dengan fenomena ini. Aku justru ingin menemui salah seorang penjaga itu dan mengajaknya ke wilayah itu.

Aku ingin tahu, bagaimanakah struktur jaringan perut mereka, sehingga bisa menerima dan mencerna tanah. Perut yang bisa menghancurkan besi, sudah ada di jurnal-jurnal, tetapi tanah? Ini sebuah fenomena menarik. Aku harus mengambil sampel perut mereka, membawanya ke lab dan menelitinya. Mungkin, ini akan menjadi sebuah solusi penting bagi dunia. Dan, barangkali saja, aku bisa merumuskan dan bahkan memproduksi semacam tablet yang bisa membantu lambung dan pencernakan manusia, sehingga mampu mengonsumsi apa saja; termasuk tanah mentah. Aha, sebuah ide menarik. Perut, pengendali utama ras manusia. Dan, sesungguhnya, inilah yang mengendalikan peradaban. Hahaha… ***
Pinang, 982


Perkawinan Rahasia Cerpen: Evi Idawati


Suara Karya
Minggu 27 Januari 2008
Perkawinan Rahasia
Cerpen: Evi Idawati

"Jika sampai ada satu orang yang tahu, kita cerai!" suara Johansyah menggelegar membelah ruangan. Fee, terdiam. Memandang mata suaminya. Hujan baru saja berhenti. Ingin Fee berdiri dan beranjak dari tempat itu. Meninggalkan Johansyah sendiri. Dia tidak perduli apakah mereka harus bercerai detik itu atau tidak. Fee heran melihat lelaki yang tidak tahu diri itu. Siapa toh perempuan yang mau diperlakukan seperti dia. Perkawinanya dirahasiakan, hanya karena alasan klise. Cinta yang ngawur. Membabi buta. Sehingga Fee menegakan dirinya sendiri terlibat dalam rahasia yang rumit itu.

Johansyah sudah menikah dan keluarganya baik-baik saja. Entah dia yang pecundang, gombal dan buaya. Atau Fee sendiri yang kegatelan sehingga mau saja selingkuh dengan laki-laki yang sudah punya istri dan anak. Entah alasan apa sampai mereka memutuskan untuk menikah tetapi Johansyah membuat persyaratan tidak boleh diketahui siapa pun, kecuali orang-orang yang menjadi saksi pernikahan mereka. O o. dan Fee mau saja dan merasa nyaman dengan itu semua.

Fee, Fee. Laki-laki di dunia ini tidak hanya Johansyah. Cinta tidak harus membuatmu merendahkan diri. Apa yang diberikan Johansyah padamu selama ini sampai kamu mau menjadi istri rahasianya. Rumah? Mobil? Uang? Atau yang lainnya? Apa dia benar-benar mencintaimu? Nonsen! Cinta itu omongkosong. Hati selalu berubah. Sekarang dan besok bisa berbeda. Begitupun hati Johansyah padamu. Sekarang dia bisa bilang mencintaimu sepenuh hati, apa buktinya? Dia hanya ingin bermain dengan kata-kata kosongnya. Dia akan menggunakanmu dengan segala cara untuk kepentingannya. Setelah kamu tidak berguna lagi. Dia akan melemparkanmu. Kamu akan semakin terpuruk dan sakit.

Tidak ada yang melindungimu. karena pernikahanmu tidak jelas. Kamu tidak bisa menuntut dia. Dia dengan gampang akan mengingkari semuanya. Itukah cinta? Lihatlah, apa yang dia lakukan padamu selama ini. Apa yang dia berikan padamu? Atas nama cinta jugakah?Dia ingin kamu mengerti dia. Selalu begitu kan? Tapi dia tidak pernah mengerti kamu. Sudahlah tinggalkan dia. Perempuan seperti dirimu bisa mendapatkan laki-laki mana pun. Jika dia memang tidak tahu diri. Akan terlihat sendiri. Tapi lagi-lagi Fee gemetar saat semuanya hampir berakhir.

"Aku tidak bisa meninggalkan dia. Aku mencintainya" suara Fee begitu lembutnya. Seakan menyakinkan dirinya sendiri bahwa dia memang tidak berdaya.

Aneh! Johansyah bukan laki-laki yang istimewa. Dia pengecut dan suka sekali bersembunyi dalam kata-katanya. Tapi kenapa Fee begitu mencintainya. Sebagai perempuan Fee harus membaca buku tentang laki-laki. Dari Adam sampai Federick. Agar Fee tahu mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan makhluk bernama perempuan. bersyukurlah Fee terlahir sebagai perempuan. Makhluk yang kadang di sikapi tidak adil oleh dunia ini. Tetapi harus tetap tegar dengan seambrek tugas-tugas yang diberikan Tuhan padanya. Dengan sebuah hadiah yang menurut orang-orang sangat istimewa. Surga ditelapak kakinya.

Hati perempuan adalah savanna, samudera dan belantara. Jika dihadapkan pada pilihan hidup yang paling rumit, mereka akan menjelma menjadi angin, air dan udara. Sudah seharusnya Fee tahu itu. Jika dia masih bersikap manja. Tidak berani menerima kesakitan yang biasa bagi sebagian orang itu. Jangan mengaku sebagai perempuan. jadilah orang yang tidak jelas kelaminnya. Meninggalkan pecundang seperti Johansyah saja tidak bisa. Bahkan tidak berani hanya karena takut merasakan luka dan sakit hati.

"Aku tidak bisa meninggalkannya. Aku mencintainya!" sekali lagi suara Fee yang lirih keluar dari mulutnya. Dia berlagak seperti perempuan yang tidak berdaya.

Bersyukurlah Fee, jika Tuhan masih mengijinkanmu menerima rasa sakit. Kesakitan akan membukakan mata batin kita. Kesakitan adalah pupuk untuk membuat kita terus hidup dan menikmati warna dunia. Kenapa takut berada di tempat seperti itu. Yakinlah, jika Johansyah benar-benar mencintaimu seperti yang sering dikatakannya. Dia akan memberikan tempat terhormat padamu. Seperti dia menghormati dirinya sendiri Dia akan menjaga kehormatanmu. Melebihi kehormatan dirinya sendiri. Dia akan melimpahimu dengan cinta dan kebahagiaan. Dia tidak akan melukaimu. Karena kalau dia melukaimu sama saja dia melukai dirinya sendiri. Bahkan dia akan menyediakan dirinya menjadi dirimu. Memberikan yang terbaik buatmu, seperti kamu memberikan yang terbaik untuknya.

Tapi Fee membutakan matanya. Menulikan telinga dan menutup bibirnya. Bahkan setiap malam tak henti-hentinya dia berdoa untuk kebahagiaan Johansyah. Di jaman seperti ini, perempuan memegang kendali atas mimpi dan keinginan sendiri. Bukan untuk dipermainkan dan direndahkan. Tapi untuk menunjukkan pada dunia, kemampuan, kecerdasan dan kelebihan yang mereka punyai. Melihat Fee, seperti kembali ke seratus tahun silam. Mau-maunya dia berdoa, khusuk untuk kebahagiaan orang yang tidak pernah menghargainya. Atas nama cinta.

Menangislah Fee, menangislah karena kamu tidak bisa bersikap tegar, saat Johansyah memutuskan meninggalkanmu. Mengakhiri semua permainan yang diawali dari kata-kata kosong. Bukan karena kamu takut kehilangan dia. Jangan sekali-kali berani merendahkan diri dan hatimu untuk merengek pada laki-laki itu. Angkat dagumu! Lihatlah kedepan. Laki-laki bukan segala-galanya. Rubahlah tujuan hidupmu, bukan mengabdi pada makluk yang bernama laki-laki. Ada banyak tujuan baik yang perlu kamu camkan dan tancapkan pada bumi. Yang berurusan dengan dirimu dan orang lain. Boleh mencintai asal tidak berlebihan. Silahkan membenci asal jangan keterlaluan. Karena hati selalu berubah. Hati bukan tebing kokoh yang memagari laut dari ombak dan deburnya. Bukan pula batu cadas. Hati begitu lunaknya. Dia bisa disentuh dengan kata-kata yang mendayu tetapi juga bisa disulut hingga terbakar dan berkobar.

"Aku tidak perduli. Kita cerai!" suara Johansyah meninggi.

"Aku salah apa? kenapa?" Fee bertanya dengan suara lemah. Akhirnya hubungan suami istri dalam perkawinan yang dirahasiakan itu harus berakhir juga. Tidak lebih dari enam bulan.

"Aku baru saja menerima telpon dari teman-temanku. Ternyata mereka sudah tahu kalau kita menikah. Kamu pasti yang membocorkan semuanya. Dasar perempuan! kenapa sih tidak bisa menyimpan rahasia. Coba kamu bayangkan, kalau istriku sampai tahu. Apa yang terjadi padaku. Aku akan kehilangan segala-galanya."

"Aku tidak pernah berkata- kata pada teman-temanmu. Apalagi soal kita. Karena aku tahu. Jika mereka tahu soal perkawinanku. Maka selesailah kita. Aku menyadari hal itu. Karena aku sangat mencintaimu. Maka aku menjaga mulutku. Jangan menuduhku dengan berkata seperti itu!"

"Aku tidak percaya padamu! Dari dulupun aku tidak percaya padamu! Kamu selalu berbohong!"

"Aku berbohong soal apa? tentang apa? tolong katakana padaku, hal apa saja yang menurutmu aku berbohong?"

"Tidak perlu diceritakan tapi aku yakin kamu berbohong dan aku tidak percaya lagi padamu!"

"Baiklah, karena kamu sudah tidak percaya lagi padaku. Tidak ada gunanya kita teruskan perkawinan kita. Aku selama ini selalu mengalah padamu. Sebagai istri yang kamu rahasiakan, aku tahu diri dan berusaha belajar untuk tahu diri. Aku tidak pernah bisa bersamamu. Harus menunggu sebulan untuk bertemu. Tidak bisa mengganggumu saat kamu bersama keluargamu. Aku sudah menerima semuanya dan menjalaninya sebagaimana kehidupan normal perempuan-perempuan lain. Entah karena aku mencintaimu atau karena soal lain. Buatku tidak penting. Yang paling utama, meski kita berjauhan dan hanya waktu-waktu tertentu ketemu. Aku menempatkan komitmen kita ditempat yang paling tinggi. Selama aku menjadi istrimu, aku tidak pernah menuntut hal-hal yang tidak bisa kamu berikan. Aku bahkan selalu mensyukurinya. Tapi sekarang terserah padamu. Aku sudah capek. Aku seperti berhadapan dengan anak kecil yang tidak tahu diri. Kembalilah pada istrimu. Aku tidak tahu apa dia memerlukanmu atau tidak. Tapi aku yakin kamu memerlukan dia. Jadi berbaik-baiklah pada istrimu, kamu akan kehilangan asset berharga kalau dia sampai tahu soal kita. Jadilah anak yang baik dihadapannya!"

"Kata-katamu menyakitkan!"

"Apa kamu kira kata-katamu melenakan! Sekarang aku jadi tahu dirimu. Tapi biarlah, aku akan mencatatkannya dalam hatiku. Baik dan burukmu."

Begitulah seharusnya dirimu Fee. Bersikaplah tegas pada laki-laki itu. Kamu tahu kenapa dia begitu ketakutan setelah menikahimu. Kamu harus kasihan padanya. Tidak semua laki-laki ditakdirkan mempunyai sifat pemberani. Mereka juga kadang pengecut. Jika dihadapkan pada dua pilihan. Mereka akan memilih yang paling menguntungkan dia. Jangan berharap atas nama cinta dia akan memilihmu. Hidup baginya adalah angka-angka yang harus dijumlahkan. Jika ada sisa lebih besar, dia pasti akan memilihmu. Kalau tidak ada sisa, bahlan dia merasa kamu telah membuat dia bangkrut, meski kamu punya kelebihanpun tak akan dia menetapkan hati padamu. Jadi jangan menyesal telah meninggalkan dia.

"Tapi rasanya sakit. Aku tidak tahan. Rasanya mau mati saja. Aku kurang apa padanya. Aku memberikan seluruh hati dan diriku padanya. Bahkan jika harus mendada kesakitan pun bersamanya aku mau!"

Jangan mati untuk laki-laki seperti dia Fee. Untuk apa kamu mendada kesakitan bersamanya. Nikmatilah hidup sekarang. Jangan terpaku padanya. Kamu bisa mengerjakan hal-hal yang sudah lama ingin kamu lakukan. Mulailah tentukan tujuan hidupmu. Dia akan menyesal melepaskanmu. Tapi mungkin juga tidak. Dia akan mendapatkan ganti perempuan lain yang bisa dibohongi. Maka belajarlah dengan memberi tanda pada setiap peristiwa. Ambillah maknanya. Jangan menjadi bodoh dengan tidak perduli. Jangan pula mengulang kesalahan yang sama. Lihatlah langit yang benderang, purnama kelima telah datang. kata-kata yang disiapkan untuk menyambutnyapun seperti tanah yang merekah. Siap menerima hujan untuk menyuburkannya. Bisikkan pada pohon-pohon untuk menari bersamamu. Lompatlah ke langit jika bisa membuatmu terbang dan nyaman. Tapi jangan berdoa untuk dia. Karena laki-laki itu, pecundang!.

Entah kenapa, muka Fee masih menyulut kesedihan. Berkali-kali dia mengusap airmatanya. Dan mukena yang dikenakannya setiap malam hanya terlepas setelah fajar.

"Aku mencintainya. Aku akan mengguncangkan langit. Menggedornya setiap malam. Sampai doaku terkabulkan!"

Ah! Ah!

Fee!

Perempuan! ***

* Jogjakarta 2006


Perempuan Petelur Cerpen: Iggoy el Fitra


Suara Merdeka
Minggu, 30 Desember 2007

Perempuan Petelur
Cerpen: Iggoy el Fitra

TIADA
yang tahu bagaimana perempuan itu dapat bertelur seperti unggas. Semua bermula dari kedatangannya yang tiba-tiba di sebuah pulau di tengah keheningan Laut Cina Selatan. Entah di mana pulau itu berada, tak setitik pun ia tampak di peta. Lebih jauh dari Kepulauan Paracel, lebih jauh lagi dari Kepulauan Filipina. Pesawat kargo yang terbang rendah menjatuhkannya di tengah lembah bersama sekotak peti yang telah mengurungnya sejak berangkat dari landasan udara di pesisir selatan Borneo. Dari pelabuhan Tanjung Perak, dia digiring bersama beberapa perempuan sebayanya menaiki kapal yang akan memberangkatkan mereka ke Telawang.
Dia tidak tahu bagaimana bisa dipisahkan dari rombongan ketika sampai di pelabuhan. Tentara-tentara Jepang berkali-kali menodong-nodongkan senjata ke wajahnya yang dekil. Di atas kapal, di sebuah kabin, dia diperkosa dengan kasar oleh seorang kuli angkut atas suruhan para tentara itu. Setelah tak berdaya, para tentara beramai-ramai meludahinya, lalu pukulan gagang senjata sekejap membuatnya pingsan.
Dan di lembah ini, dia langsung terbangun setelah seluruh tubuhnya terhempas dengan keras sekali. Peti kayu itu pecah, tetapi tubuhnya tidak apa-apa. Hanya kepalanya yang sedikit pusing. Dia tak menyadari bahwa tiada sehelai benang pun membalut tubuhnya. Sambil merangkak dia menghampiri sebuah air yang terpancur dari balik batu. Dia meminumnya dengan tergesa-gesa.
Barangkali dia terkena amnesia. Atau hanya demensia belaka. Berulang-ulang dia usap belakang kepalanya sambil meringis sakit, kemudian menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah dia baru terjaga dari tidur yang panjang. Dia mulai berjalan menyusuri semak belukar. Ada tebing menuju puncak lembah. Tidak begitu curam, mungkin dapat didaki. Dia mencoba memanjatnya hati-hati.
Telah seharian dia menyusuri hutan, namun pulau ini seperti tiada bertepi. Dia mulai mendekap dadanya. Dingin. Rimbun ilalang juga membuat kulitnya gatal-gatal. Dia menggaruknya sampai memerah dan berdarah. Semak-semak di depannya terlihat semakin sedikit, tanah yang dipijaknya mulai berubah menjadi pasir. Apakah dia telah sampai di sebuah pantai?
"Aku kedinginan dan lapar," gumamnya.
Dia dapat bicara meski sepatah kalimat saja. Sebuah pohon yang dapat dia jangkau buahnya menghentikan langkahnya. Buah itu hanya sebesar kepal, maka dia memakan banyak sekali. Perutnya langsung sakit. Dia buang air besar di atas pasir.
Ternyata di depannya bukanlah pantai, melainkan sebuah gurun yang tak dapat dilihat batasnya. Walaupun begitu, dia menyusurinya tanpa ragu-ragu. Berhari-hari sudah, berlama-lama dia berjalan menyusuri gurun pasir itu. Dia terlalu lelah. Perutnya telah membesar. Bukan karena terlalu banyak makan, tapi mungkin benih-benih orang-orang yang menyetubuhinya telah tumbuh.
Dahaga yang begitu hebat dirasakannya tertuntaskan oleh sebuah oase yang muncul sedikit demi sedikit dari balik gurun. Dia bukan nabi, bukan pula istri seseorang yang sangat mulia, tetapi kolam jernih itu begitu saja ada di depannya seakan-akan memang hanya diciptakan untuknya. Adapun dia hanya pelacur yang belum puas dengan hidupnya sendiri.
Dari orang-orang di desanya, dia mendengar pengumuman bahwa para gadis muda akan dipilih untuk dipekerjakan di Borneo. Sudah lebih dari dua tahun pengiriman itu berulang. Dia tak masuk dalam pilihan, sebab meskipun masih muda, tetapi dia sudah memiliki anak, lagipula kulit hitam dan wajahnya yang burik tidak membuat para agen tertarik. Namun dia bersikeras meyakinkan kepada orang-orang itu kalau dia bersedia bekerja apa saja. Dia berharap dipekerjakan menjadi pelacur, sebab sebelumnya dia telah melacur diam-diam di desanya. Seorang teman pernah melarang. Tapi dia sangat ingin melayani orang-orang Jepang yang banyak uang.
***
PERANG
masih berlangsung. Tentara Belanda memang makin jarang terlihat di Tanah Jawa, tetapi tentara Jepang sepertinya mengambil posisi mereka. Pada 11 Januari 1942, mereka kali pertama mendarat di Indonesia dengan menyerang pasukan Belanda di Tarakan. Dini hari itu terjadi pertempuran besar. Ladang-ladang minyak terbakar. Borneo telah penuh dengan tentara Jepang. Tiga tahun kemudian, ketika perempuan itu dimasukkan ke dalam peti, pesawat yang membawanya hampir saja ditembus rudal dari pesawat tempur Australia. Dia telah menyingkir dari Perang Pasifik yang hampir berakhir.
Ditenggelamkannya kepalanya di dalam kolam. Sambil menyelam, dia meminum airnya. Langit bergemuruh sekali-sekali. Hari tidak mendung, melainkan sangat terik. Agaknya dia benar-benar lupa dengan pesawat-pesawat tempur yang berdesing-desing di atasnya. Dia memang mengalami amnesia.
"Di mana ini? Perutku sakit, siapa yang akan membantuku bersalin?" dia berucap menengadah langit.
Tiba-tiba dia mengerang. Kakinya mengangkang dengan tidur terlentang. Dia mengejan, dia berusaha mengejan sekuat-kuatnya. Sebuah cangkang muncul di liangnya, mulai membesar serupa kepala bayi yang biasa keluar lebih dulu. Perempuan itu berusaha mengeluarkannya.
Dia berusaha kuat mengejan mengeluarkannya. Mungkin saja liangnya sobek, sebab cangkang bulat sebesar kepala orang dewasa itu terlalu besar untuk dikeluarkan seorang perempuan. Napasnya terengah-engah, situasi sulit itu lewat sudah. Tanpa ketuban yang pecah, juga tanpa tali pusar dan plasenta, telur itu tergeletak di atas pasir begitu saja.
Mulanya dia heran dan takut. Tapi dia segera sadar bahwa di dalam telur itu ada buah hatinya yang harus dierami dan dijaga. Diseretnya telur itu ke dalam kolam, dimandikannya. Lalu dia mengambil pelepah-pelepah pohon palem satu-satunya yang menjulang di dekat kolam itu. Dia menjadikannya sebuah tas, tempat telur yang akan dibawanya berkelana.
Telur itu berat sekali.
Dia berjalan lurus, tapi gurun pasir ini sungguh-sungguh luas seperti tak berbatas. Seharian sudah dia berjalan. Dia kembali menemui keajaiban. Di depannya terbentang sungai yang mengaliri gurun. Dan di sanalah, dia mengerami telurnya semalaman. Perutnya kembali sakit, dia kembali mengerang. Dia akan bertelur sekali lagi. Kali ini tampaknya dia tidak lagi kesulitan untuk bertelur lantaran pengalaman yang sebelumnya. Akan tetapi pada saat dia mengejan, berkelebat ingatan-ingatan di kepalanya.
"Abang boleh nyobain saya dulu, deh. Kata orang, dicoba dulu baru dibeli. Iya, kan?" dia berkata kepada seorang agen di sebuah barak.
Lelaki brewok itu terlipat keningnya. Gairahnya tidak ada sama sekali. Namun sebelum ia beranjak pergi dan mengusirnya, perempuan berkulit hitam itu segera menanggalkan baju lalu menggoda si agen. Dengan keadaan demikian, tentu saja si agen tak dapat mengelak. Mereka bercinta di dalam barak, dengan harapan agar perempuan itu bisa ikut dengannya ke Borneo.
Telurnya terguling-guling sebentar.
Dia kelelahan bukan karena bertelur, tapi bayangan-bayangan di kepalanya telah membuatnya pusing. Telur barunya dia dekap, dia cium-ciumi. Telurnya yang satu lagi bergoyang-goyang. Sebuah kaki tiba-tiba menembus cangkang, sementara dia segera membantu telur itu menetas. Cangkangnya tidak lagi mengeras. Dia tak butuh menunggu 30 hari untuk kelahiran anaknya. Cukup semalaman. Tak ada tangisan. Tak ada keramaian seperti orang-orang desa yang bersama-sama menyambut kelahiran anak pertamanya yang lahir tanpa bapak. Hanya senyap, seiring bayang-bayang yang mengganggunya itu lenyap.
Tak lama dia langsung menyusui anaknya. Dia hanya tertawa-tawa sambil mengusap rambut anaknya yang tebal. Ah, barangkali bukan saja amnesia yang mengganggunya, tetapi juga skizofrenia.
***
MAKA
begitulah, perempuan itu bertelur setiap hari dalam perjalanannya. Di pulau itu tak seorang manusia pun dia temui. Tampaknya memang pulau yang tidak berpenghuni. Anak-anaknya satu persatu telah menetas. Tiada yang tahu bagaimana dia dapat bertelur seperti unggas.
Perang telah berakhir. Tak ada lagi pesawat-pesawat lewat di langit yang dia tatap. Dia tidak tahu ada kemenangan, dia tidak tahu ada kemerdekaan. Tetapi baginya, kesempatan untuk bertahan hidup adalah kemenangan yang mutlak. Di pulau itu hanya dialah orang dewasa selain anak-anaknya yang mulai dapat berjalan dan menangkap ular-ular di balik rerumputan.
Dia mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana mencari makan, mengolah daging-daging hewan agar enak dimakan. Sisa-sisa ingatan masih ada di kepalanya, tentang hidup yang pernah dijalaninya bersama orang-orang. Mereka memasak dengan membakar api di dalam tungku, dia ingat hal itu selalu. Tetapi tak ada yang dikenalnya, tak ada satu pun orang yang dia ingat siapa mereka.
Dalam kehidupannya yang baru itu, dia telah menelurkan lima belas anak, tujuh perempuan, delapan laki-laki. Anak yang menetas terakhir bernasib malang, tubuhnya dikoyak-koyak anjing hutan. Jadi semua anaknya berjumlah empat belas. Dengan begitu, dia mengawinkan anaknya berpasang-pasangan.
Pada hidup yang terus berjalan, telur-telur bergeletakan di atas pasir, di tepi sungai, di dalam lembah, bahkan di puncak bukit yang paling tinggi. Mereka telah berkembang biak, telah beranak pinak, bertelur serupa induknya.
Semakin renta, perempuan tua itu semakin sering bertekur di sebuah lembah, tempat di mana dia dijatuhkan, dipisahkan dari dunia yang penuh dengan ledakan, rentetan peluru, dan darah. Tapi dunianya yang baru ini tiada memberikannya kebahagiaan. Telah bertahun-tahun kepalanya diisi oleh pertanyaan-pertanyaan, "Siapakah aku, di manakah diriku berada, apa tujuanku di sini?"
Betapa dia sangat kesepian di pulau ini. Tak ada lagi seorang pun yang dapat diajaknya bercanda, bersenda gurau, dan saling menyayangi.
Anak-anaknya hidup damai di segala penjuru pulau. Perempuan hitam itu telah menjadi nenek bagi cucu-cucunya. Dan di pulau ini, mereka membuat peradaban baru yang ganjil. Membuat rumah, membuat kampung, dan menyebarkan bahasa yang mereka yakini. Tentu saja, mereka jauh lebih cerdas ketimbang Homo Sapiens. Akan tetapi, amnesia yang dibawa induk mereka dahulu telah menjadi sesuatu yang diidap turun-temurun. Mereka hidup berkeluarga, dipisah-pisahkan oleh rumah-rumah, namun seorang ayah dapat masuk begitu saja ke rumah tetangga sebelah. Yang datang tidak tahu bahwa yang dimasuki bukanlah rumahnya, dan yang punya rumah pun tidak tahu siapa yang tiba. Lantas penghuni rumah tiba-tiba saja memanggil laki-laki itu sebagai bapak mereka, dan laki-laki itu seakan-akan sadar kalau rumah itu adalah rumahnya.
Oleh karena itulah, perempuan tua yang memunculkan kehidupan baru di pulau ini sering menjadi sedih. Tak ada satu pun dari anak-anaknya itu yang dia ingat, dan anak-anaknya pun tak mengingat siapa dia. Maka makin seringlah dia menyendiri. Barangkali dia terlalu tua, batinnya.
Dia menatap langit. Ah, andai pesawat-pesawat itu kembali berlalu di atas, dia hendak bertanya. Sudah berpuluh-puluh tahun tak ada suara gemuruh mesin di angkasa. Dia makin nelangsa. Tetapi sekejap saja dia berharap, deru-deru yang dirindukannya terdengar dari balik awan. Pesawat-pesawat jet berlewatan.
Mereka saling menembak. Suara-suara bersipekak, udara meledak-ledak, dia menutup telinganya. Setelah ledakan besar, sesuatu terjatuh di lembah itu. Seorang pilot dengan kursi lontarnya jatuh tanpa parasut. Melihat pilot itu tampak kesulitan membuka sabuk pengaman, perempuan itu tertatih-tatih pergi menghampirinya. Dikeluarkannya belati untuk memotong tali.
Dia mengusap wajah pilot itu yang pucat ketakutan.
"Telah lama aku menunggu seorang laki-laki tanpa istri. Aku ingin bertelur lagi," ucapnya sekonyong-konyong.
Perempuan itu tertawa sambil menutup giginya yang ompong.***
Ilalangsenja, Padang, 2 November 2007

Perempuan Kedua Cerpen: Labibah Zain


Pikiran Rakyat
Sabtu, 02 Juni 2007

Perempuan Kedua
Cerpen: Labibah Zain

Perempuan berumah di ujung gang itu benar-benar membuat sekujur tubuhku tegang. Cara bicaranya yang lembut, membuat aku kalang kabut. Sungguh aku tak mengira akan jatuh cinta macam anak-anak SMA.

Aku bertemu perempuan itu, ketika menghindari tabrakan dengan ojek. Motor yang aku kendarai dengan memboncengkan Dina, anak perempuanku itu, terjerembab di salah satu got, dekat rumahnya. Tangis anakku yang meraung-raung, membuat perempuan itu datang menawarkan bantuan. Gini, nama perempuan itu. Dia menggandeng Dina ke rumahnya dengan kasih sayang seorang ibu.

Aroma sabun wangi badan Gini tercium tanpa sengaja olehku, ketika dia memberikan secangkir air putih.

Sejak pertemuan itu, hidupku tak tenang. Aku mulai membanding-bandingkan keadaan perempuan itu dengan Gami, istriku. Seandainya istriku bisa serapi Gini, pastilah aku tambah betah di rumah. Seandainya perut istri serata Gini, pastilah aku tak harus mencari-cari foto-foto wanita setengah telanjang di tabloid jalanan hanya untuk meningkatkan gairahku di kasur. Tetapi, semua membuatku frustrasi. Begitu membuka mata, yang kulihat hanyalah tubuh Gami yang mulai berlemak di sana-sini.

Otakku mulai berputar-putar tak karuan. Bagaimana cara agar aku bisa mengunjungi Gini tanpa ada yang curiga. Sungguh! Dua hari tak bertemu Gini, membuatku seperti orang gila. Mulailah kuatur rencana demi rencana untuk bisa menemuinya.

**

Kucukur habis bulu-bulu yang ada diwajahku. Kusemprotkan minyak wangi di tubuhku. Ah, ternyata aku masih ganteng juga. Kutatap wajahku di cermin. Tak kalahlah dengan Doni Damara, pikirku. Melihat penampilanku, istriku bertanya-tanya. Katanya, aku seperti orang yang sedang puber kedua. Aku bilang saja, semuanya kulakukan karena aku harus foto buat kartu identitas di kantorku besok pagi. Istriku pun tampak paham.

Aku tidak bohong. Memang besok paginya ada acara foto-foto untuk melengkapi kartu identitas perusahaan. Hanya saja, sepulang dari kantor, aku mengajak Dina untuk mengunjungi Gini.

Gini dan dua anaknya, Tono dan Tini menyambut kedatangan kami dengan gembira. Dina langsung bermain sepeda dengan mereka. Aku pun duduk berdua dengan Gini di ruang tamu. Dari percakapan sore itu, aku tahu kalau Gini seorang pengajar bahasa Inggris di salah satu lembaga bahasa. Satu ide melintas. Saat itu, aku meminta Gini untuk memberikan kursus bahasa Inggris buat Dina, karena Dina berumur 4 tahun. Sudah saatnya belajar bahasa Inggris. Gini setuju untuk memberi kursus Dina setiap hari Senin dan Rabu. Ketika pulang ke rumah dan kurundingkan dengan Gami tentang kursus itu, dia tak keberatan sedikit pun.

Sejak itu, hari Senin dan Rabu merupakan hari yang sangat kutunggu-tunggu. Kursus hanya berlangsung selama satu jam saja, tetapi Dina selalu meminta untuk tinggal di rumah Gini agak lama, karena dia ingin bermain bersama Tini dan Tono. Jadilah aku punya alasan untuk ngobrol panjang lebar dengan Gini.

Berbicara dengan Gini, aku serasa menemukan masa mudaku lagi. Ternyata Gini suka puisi. Lantaran bicara puisi-puisi Gibran, kami menjadi semakin akrab dan terbuka.

Gini juga bercerita tentang seorang duda, yang menjadi direktur lembaga bahasa tempat ia bekerja itu, beberapa kali memintanya untuk menjadi istrinya. Bagi Gini, penampilan duda itu tak menarik. Dia lebih suka lelaki yang suka menghadiahinya puisi, seperti almarhum suaminya.

Tahu akan hal itu, aku pun getol menghadiahi satu puisi buat Gini setiap pagi. Puisi itu aku serahkan sebelum aku pergi ke kantor. Sepulang kerja, aku pun sering mampir ke rumahnya hanya untuk mencekoki Gini dengan kata-kata yang menghiba-hiba tentang penderitaanku sejak menikahi Gami.

"Jangankan merawat anak dan suami, merawat diri pun dia tak mampu. Daster kumalnya menjadi pemandanganku sehari-hari. Makanan hambar alakadarnya menjadi menuku sehari-hari. Tempat tidur bau ompol anak, menjadi alas tidurku sepanjang malam. Dengkuran istriku menjadi musik pengantar tidurku. Secangkir teh atau kopi sepulang kerja hanyalah impian. Aku sangat menderita!"

Gini memandangku dengan muka murung. Sepertinya aku sudah berhasil menarik simpatinya dengan rahasia-rahasia rumah tanggaku.

''Seandainya istriku itu adalah kamu, Gini.''

Pipi Gini merona. Matanya berkejapan. Aku merasa terbang ke langit ketujuh. Seperti berdendang, kata-kata itu terus ku ulang-ulang.

Lama-kelamaan, aku punya keyakinan, kalau Gini juga menaruh perhatian terhadapku. Oleh karenanya, dengan mengumpulkan segala keberanian, aku menyatakan cinta di beranda rumahnya! Gini tersentak. Tetapi di wajahnya, aku melihat kebahagiaan yang menggelegak.

Dia berkata, "Mas 'kan sudah punya istri...."

"Tapi kau 'kan tahu kalau aku menderita?"

"Selesaikan baik-baik hubungan Mas dengan Isteri. Kalau memang Mas tak bahagia, Mas harus menceraikannya secara baik-baik atau minta izin kepadanya untuk menikahiku."

Aku bersorak. Masalah dengan istriku? Gampanglah diatur.

Dengan hati berbunga-bunga, aku pulang ke rumah. Begitu malam tiba, kutidurkan Dina sebelum jamnya. Setelah itu, aku mulai mencumbui Gami seperti layaknya pengantin baru. Usai bercinta, kubuatkan istriku mi goreng instant. Sepiring berdua kami makan bersama. Selama dua minggu kami tampak mesra. Gami menatap curiga tetapi dia tampak bahagia.

Pada minggu ketiga, mulailah aku bercerita tentang banyaknya orang-orang yang perlu disantuni. Anak yatim dan janda yang terlunta-lunta. Gami yang mudah tersentuh sangat terharu, tetapi menjadi pilu ketika aku mulai mengemukakan pintu surga bagi istri yang merelakan suaminya menikahi janda miskin.

Dari tatapan matanya, aku tahu hatinya teriris. Tapi tekatku tak terkikis. Kupeluk dia. Di telinganya, kubisikan betapa aku mencintai dia dan berjanji semuanya takkan berubah. Istriku menatapku. Dia bilang, dia ingin bertemu Gini. Aku pun setuju. Kucium keningnya. Kuusap-usap rambutnya sampai dengkurnya terdengar. Malam itu, dia terlelap di pelukanku.

**

Akhirnya di rumahku, kedua perempuan itu bertemu. Dari jendela rumahku, aku bisa melihat kalau istriku tampak tegang dan Gini tampak salah tingkah. Tetapi, beberapa saat kemudian mereka bersalaman, mulai bicara dan akhirnya tertawa-tawa. Sejak itu, keduanya memang tambah akrab. Aku lega. Hajadku ada di depan mata!

**

Pagi ini, ketika aku hendak menyelipkan satu puisi di rumah Gini, aku mendapati rumah Gini lengang. Suara keributan anak-anak Gini karena hendak bersiap-siap berangkat ke sekolah, tak kudengar.

Kuketuk rumahnya berkali-kali. Tak ada yang menjawab. Aku semakin keras mengetuk pintunya. Sepi!

Kugedor dan kugedor lagi pintunya. Kali ini, Ibu Karto, tetangga sebelah rumahnya, muncul dan mengabarkan bahwa Gini dan anak-anaknya pulang ke kampung halaman untuk mempersiapkan pernikahannya dengan direkturnya!

Gini, perempuan ranum yang hendak kujadikan istri keduaku, hendak menikah tanpa memberitahuku sama sekali.

Kurasakan perasaan tersinggung mulai menggelegak di dadaku! Dalam keadaan limbung, aku ingat istriku. Perempuan setia yang selalu menerimaku apa adanya. Boleh jadi tubuhnya menjadi tak terawat, karena waktunya habis buat mengurus rumah tangga dan uang belanja yang kuberikan dihabiskannya buat urusan keluarga daripada untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba, aku ingin memeluk istriku dan meneriakkan betapa tak ada perempuan lain yang lebih aku butuhkan di dalam hidupku selain dirinya.

Sepeda motor pun kukebut dengan kecepatan tak kira-kira. Sampai di rumah, kembali aku terpana. Kudapati rumahku tak berpenghuni. Kuperiksa pot tanaman, tempat Gami biasa menyimpan kunci kalau dia harus pergi. Di situ kutemukan kunci rumahku dan sepucuk surat.

Mas Poly,

Merangkai kata, aku memang tak pandai tetapi semoga yang akan kusampaikan ini bisa kau mengerti.

Beberapa bulan yang lalu, ada seorang pria yang perhatiannya membuatku berbunga-bunga.

Tetapi kemudian aku sadar bahwa cinta itu seperti tanaman. Dia bisa mati kalau kita tak merawatnya. Nah! Cinta yang kita bina sudah layu! Hampir mati! Kalau aku mencoba merawat tanaman lain, bagaimana mungkin aku bisa yakin kalau dua-duanya tak mati? Sedang merawat satu tanaman saja, aku tak bisa?

Oleh karenanya, aku memutuskan untuk merawat cinta kita dan mematikan cinta-cinta yang lain. Bagiku keluarga berada di atas segala-galanya.

Tetapi, takdir bicara lain. Mas memilih hendak membawa tanaman lain dengan cara menikah lagi. Bagiku, dua orang istri terlalu banyak dalam satu pernikahan dan susah bagiku untuk berbagi perasaan. Daripada aku tertekan, akhirnya kuputuskan untuk melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Dengan demikian, kita bisa berbahagia dengan merawat satu cinta di keluarga masing-masing. Mas menikah dengan Gini. Aku pun akan bahagia karena Mas Mono, tetangga kita yang pernah memberikan perhatiannya kepadaku itu, berjanji akan menikahiku begitu selesai masa idahku.

Salam Gami ?


Aku merasa tubuhku dipukul-pukul dengan martil hingga lenyap terkubur rencana-rencanaku sendiri. Kupandangi rumah Mono. Tiba-tiba, aku ingin membunuh perjaka tua itu!***

Januari, 2007

Perempuan dan Puisi Tuhan Cerpen: Restoe Prawironegoro Ibrahim


Republika
Minggu, 27 Mei 2007

Perempuan dan Puisi Tuhan
Cerpen: Restoe Prawironegoro Ibrahim

Segalanya jadi gelap. Seluruh dinding kamarku terasa menjadi hitam legam. Tiba-tiba saja semuanya menjadi kenyataan yang merampas kebanggaan kecil dan pengabdianku. Berhari lalu hatiku masih membunga, jiwaku masih bersorak tentang suatu kemenangan. Tetapi kini semuanya menjadi kedap.

Tidak!
Mungkin saja berita itu tidak benar. Kurasa semuanya seperti karangan, terpapar di depan mata. Semuanya masih membayang, seperti barusan terjadi. Seperti tadi.

Kaki-kakiku yang kecil serasa masih basah di pematang sawah. Hidupku masih mencium aroma padi. Langit menampakkan keluasan yang mengandung puisi Tuhan. Rasanya segala keremajaanku yang mekar di tengah kedamaian desa membuat aku jadi peka pada kesedihan.

Ya, desaku yang sunyi damai dan mengandung kenang-kenangan hidup bagiku memang telah kutinggalkan. Kehidupan keluarga kami tidak memungkinkan aku mendapatkan kemajuan masa depan. Sebagai anak nelayan, ayahku tidak mungkin menyekolahkan kami -- aku dan adikku lelaki, Lutfirahman -- ke tingkat yang lebih tinggi. Syukur aku dapat lulus es-de.

Apalagi setelah kematian ayahku, ibu yang mendukung hidup kami: kulihat dan kurasakan pundaknya tidak kuat. Sebagai buruh lepas yang mengerjakan apa saja, ia tak mungkin memberikan biaya hidup yang wajar. Hatiku teriris pedih. Beginilah kami: anak desa yang jauh terpencil, hidup dalam kekurangan dan penderitaan. Kepada siapa kami mengadu dan meminta bantuan? Masyarakat dusun sama seperti kami, hidup dalam segala kekurangan.

Keremajaanku yang mekar di tengah segala galau kemiskinan seolah terbangun dari mimpi, karena hadirnya seorang lelaki. Ya, ia cintaku yang pertama. Hatiku berbunga dan bunga itu mekar dengan cepat. Secepat aku dibawa ke kota, untuk mendapatkan pekerjaan.

Pekerjaan!
Satu kata yang seakan bertuah dalam pendengaran telingaku. Kubayangkan, jika aku telah mendapatkan pekerjaan, aku akan bisa membantu ibu dan menyekolahkan adikku. Biarlah aku yang terbelenggu dalam segala kekurangan dan kebodohan, tetapi adikku lelaki, Lutfirahman, harus sekolah. Harus pintar dan kemudian bisa mengangkat hidup kami dari lebuh kemiskinan yang amat sangat dalamnya ini.

Tetapi, jahanam!
Segala milikku yang paling berharga dirampas, digerayangi tanpa hati. Itu saat kami tiba di kota, saat kepasrahanku bulat penuh pada kecintaanku. Rupanya dia lelaki bejat, penggaet dan penjual orang bodoh seperti diriku. Begitulah aku akhirnya tercampak di tempat ini, di rumah pelesir: di kamar berlampu redup.

Kukutuki nasib, hendak kurobek dada. Hendak kucabut napas dan jiwa yang menghuni badan ini. Tetapi, tidak! Saat aku dilemparkan ke timbunan sampai saat ini, tiba-tiba kusadari bahwa aku harus hidup! Ya, aku harus hidup. Aku harus bangkit dari malapetaka ini. Harus kukibarkan bendera di tangan dunia, bahwa aku, gadis desa yang berkubang di lumpur hitam, dapat bangkit dan meneriakkan kemenangan!

Mula-mula, hari-hari kulalui tanpa hati. Kulakukan apa yang harus dilakukan tanpa jiwa. Yang kuharapkan, aku suatu ketika bisa keluar dari tempat ini, membawa kemenangan di tangan. Membawa gumpalan kehidupan. Aku berusaha menyimpan uang sedikit demi sedikit.

Tetapi lama-lama aku terjerat dengan segala sistem, dengan segala liku perjalanan hidup bunga raya. Pemerasan demi pemerasan, intrik dan hasutan, membuat apa yang kudapat harus amblas! Begitulah jadinya, aku seakan kembali seperti bayi, seperti baru lahir. Setiap saat harus memulai dari titik nol.

Ya, kulakukan sebisa yang dapat kulakukan. Sampai aku bertemu dengan seorang lelaki. Ah, mulanya aku memang tidak mungkin menaruh harapan dari tempat semacam ini. Tetapi, pada yang satu ini, anehnya aku bisa luluh dan menyerah penuh pasrah.

"Neng...," katanya di dekat telingaku. "Bila usahaku berhasil, aku akan segera membawamu dari tempat ini. Kita akan menikah secara resmi." "Aku senang mendengarnya, Mas Hen. Tetapi bebanku sungguh berat. Adikku harus sekolah. Ibuku harus pula kubiayai."

"Kita biayai bersama. Aku ingin kau ikut ke desaku. Juga adikmu, sekali waktu ia akan sowan ke tempat kita. Ibu juga kalau ia mau, bisa tinggal bersama kita. Kita bangun rumah kecil yang mungil sebagai istana." "Gagasanmu muluk. Kurasa tidak ada kesempatan tanganku untuk menggapainya."

"Engkau jangan pesimis, Dik Ning. Asal ada kemauan pasti ada jalan." "Tetapi mengapa Mas Hen justru memilih aku. Aku kan manusia rusak, kotor. Mas Hen bebas memilih gadis suci, tidak ternoda seperti aku."

"Aku memilihmu, karena aku tahu kau sangat jujur dan setia. Kau terjerumus ke sini bukan karena kehendakmu sendiri. Kau diseret keadaan."

"Aku tahu. Tetapi aku tak mau ada sesal di hari nanti. Biasanya para lelaki akan segera mencaci, jika dari jenis kami ini naik ke tingkat wanita normal. Kami selalu dianggap punya salah yang lebih berat. Dianggap berlumur dosa. Sedang...."

"Stop!" Tangan Mas Hen menutup mulutku. Aku terpana memandang wajahnya. Suaranya mengalun dalam telingaku. "Sedikit demi sedikit aku telah menyiapkan masa depan kita. Aku sudah punya sedikit tabungan di bank. Jika jumlahnya kukirakan cukup sebagai modal, kita menikah, dan segera kita pulang ke desa. Aku ingin jadi petani. Walau tak selesai, aku pernah kuliah di fakultas pertanian."

"Aku ingin dagang," kataku.
"Ya, kau boleh berdagang. Kita dirikan koperasi. Kita berusaha bersama membangun desa."

Begitu muluknya impian itu kurasa. Dan, seperti kelam yang menelan Mas Hen malam itu, rasanya kelam itu pula yang menyungkup aku kini. Betapa tidak, koran yang kubaca jelas menunjukkan kenyataan itu. "Henri -- seorang residivis -- diketahui dari identitas: dan di tempat lain, terbungkus karung, Henri, mahasiswa, gali.... telah menjadi korban penembakan misterius...."
Mataku benar-benar nanar. Lalu gelap. Tiga tahun kutinggalkan, semuanya sudah berubah. Adikku gali. Mas Henri kecintaanku, residivis! Lalu ibu?
Dalam samar, mataku seakan menangkap sosok ayah yang remuk di hantam bus antarkota. Lalu kulihat diriku, kini remuk redam. Aku benar-benar hancur!***

Jakarta, Januari 2007

Perempuan Bunga Kertas Cerpen: Yetti A KA


Media Indonesia
Minggu, 12 Agustus 2007

Perempuan Bunga Kertas
Cerpen: Yetti A KA

TAHUKAH kau kenapa perempuan bunga kertas itu memecahkan kedua bola matanya hingga membuat dia terdampar dari satu ruas jalan ke ruas jalan lain, dari satu keramaian ke keramaian lain, bahkan dari satu lelaki ke lelaki lain. Akan saya ceritakan segalanya tentang dia, agar kau dan semua orang yang setidak-tidaknya pernah bertemu dan mengingat wajah penuh bekas luka bakar itu tidak perlu salah sangka, lantas menghakiminya sebagai pengemis menyebalkan sekaligus perempuan jalang yang suka mencuri lelaki dari genggaman perempuan lain. Lebih-lebih belakangan ini, ketika udara dingin musim penghujan mulai menghampiri tubuh-tubuh perempuan berbungkus kardus di pinggir jalanan yang sepi tanpa lelaki. Malam-malam keparat yang dapat membuat seseorang menunjukkan rasa cemburu tanpa malu. Dia telah menjadi pusat dari cemburu itu.

***

Perempuan Bunga Kertas. Panggil saja dia demikian. Meskipun, tentu saja, itu bukan nama sebenarnya. Segala sesuatu dalam diri dia memang hampir sepenuhnya palsu setelah suatu tragedi merebut seluruh hidupnya. Dalam kepalsuan itulah dia menyembunyikan diri dalam kotak teka-teki. Kepalsuan yang justru dinilai oleh banyak perempuan, sungguh genit dan menjijikkan. Sebaliknya, bagi banyak lelaki kepalsuan itu serupa rimba gelap yang tengah menanti untuk ditualangi.

Sebelumnya, dia pernah tumbuh sebagai gadis kecil jelita. Rambutnya yang sepinggang sering dia kuncir dua dan dia suka menyelipkan bunga kertas merah muda di ikatan rambut itu. Sore-sore dia suka sekali membaca komik, entah komik apa, di bawah pohon akasia sambil melihat anak lelaki main sepak bola di lapangan, kira-kira seratus meter dari rumahnya. Lalu anak lelaki yang kebetulan menoleh ke arahnya akan bersuit kecil diikuti anak lelaki lain. Layaknya kebanyakan gadis kecil yang baru memasuki masa pubertas, dia sering tertunduk malu-malu, bahkan terkadang berlari ke dalam rumah karena salah tingkah. Salah satu anak lelaki yang menggoda itu, teman sekelasnya, dan diam-diam dia menyukai lelaki itu. Itu rahasia gadis kecil yang dia simpan sendiri saja. Apalagi mamanya selalu bilang: Jangan centil! Kamu sekolah saja! Tidak perlu macam-macam! Dia pasti mengangguk atau berkata iya mendengar nasihat mamanya. Hanya saja siapa pun pasti bisa membaca warna-warna di wajah tembam itu. Betapa tidak, warna cinta begitu sempurna bertengger di sana. Sesuatu yang tidak bisa dia tolak atau hindari.

Setamat SMP, dia tidak lagi satu sekolah dengan lelaki yang dia sukai itu. Namun lelaki itu masih sering main sepak bola dekat rumahnya. Mereka sering bertatapan saat ada kesempatan, misalnya ketika sesekali bola terlempar ke arah rumah gadis kecil jelita, dan kebetulan lelaki yang dia sukai mengejar bola itu. Atau ketika teman-teman lelaki yang dia sukai sengaja mengganggunya dengan suitan kecil, dan membuat lelaki itu punya peluang untuk turut menggoda.

Semua itu terjalin tanpa pembicaraan, tanpa janji apa-apa. Hanya bergerak saja. Ibarat mimpi yang terus bersambung-sambung, dari waktu ke waktu. Dan gadis kecil itu sudah berenang dalam mimpinya sendiri; tentang seorang pemuda tampan yang akan membawa lari seorang gadis yang terkurung dalam rumah tanpa kebahagiaan ke sebuah rumah lain penuh bunga kertas merah muda. Kemudian mereka punya anak-anak yang lucu, dan dia akan berkata pada anaknya: Berceritalah pada Mama tentang teman sekolah yang kau sukai, Sayang. Berbagilah rahasia dengan Mama.

Bukankah dia sering tertawa sendiri jika memikirkan mimpinya itu. Betapa dia bisa menjadi seorang kawan bagi anak-anaknya, sesuatu yang sengaja dia tebus dari hubungan dia dan mamanya yang sangat berjarak dan begitu diam.

Dan mimpinya itu nyaris saja mendekati kenyataan. Ketika itu malam terang bulan, lelaki bekas teman sekolah tiba-tiba datang ke rumahnya, mengajaknya menonton bioskop. Kencan pertama dan hanya berdua saja. Kebetulan pula mamanya tidak di rumah. Belum pulang kerja (mamanya kerja di sebuah kafe, pergi sore hari dan biasanya pulang tengah malam, bahkan pernah hampir Subuh). Gadis kecil melompat-lompat kegirangan, seolah-olah mendapat kesempatan untuk melakukan permainan sangat berbahaya. Dia membayangkan, mamanya akan mati berdiri jika saja tidak mendapati dirinya di kamar saat mamanya pulang kerja nanti. Agar suasana lebih dramatis—karena ini adalah pengkhianatan pertama kali pada mamanya dan barangkali setelah itu mereka tidak akan bertemu lagi dia meninggalkan surat kecil yang dia lipat menyerupai seekor burung: Mama, aku kencan malam ini. Tidak perlu menunggu, mungkin aku tidak pulang.

Kemudian gadis kecil sudah berada dalam bioskop bersama lelaki bekas teman sekolah yang dia harapkan akan membawanya pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan mamanya yang tidak pernah mau mendengar cerita apa-apa darinya, padahal dia selalu membawa banyak kisah setiap pulang sekolah. Dalam sekejap mereka terjebak dalam permainan cinta. Lelaki bekas teman sekolahnya itu telah menciumnya sebelum film pada layar dimulai, dan bahkan tanpa lebih dulu memintanya jadi pacar. Keterlaluan, memang, pikir gadis kecil. Tapi dia tidak peduli lagi, juga ketika lelaki bekas teman sekolahnya itu memintanya untuk melupakan rencana mereka menikmati sebuah film komedi romantis.

Saat mereka keluar gedung bioskop, gadis kecil bertanya karena penasaran: Apa aku akan jadi pacarmu.

Lelaki itu memandang bola mata gadis kecil, menarik tangannya, lalu mereka sudah berciuman lagi di bawah pohon di pinggir jalan.

Bisakah kau membawaku pergi dari mamahku ke tempat yang paling jauh, lalu kita memiliki rumah sendiri yang dipenuhi bunga kertas merah muda, anak-anak yang lucu, dan kita akan berkata pada anak-anak: Berceritalah pada kami tentang teman sekolah yang kau sukai, Sayang. Berbagilah rahasia...

Lelaki bekas teman sekolahnya tertawa ganjil setengah ketakutan, "Ssttt...kita masih kecil, jangan bermimpi macam-macam. Ini semua hanya main-main," katanya lirih.

Gadis kecil menangis sedih. Ia merasa tertipu. Di bawah pohon itu mereka berpisah. Tentu pula lelaki bekas teman sekolahnya itu berlalu tanpa pernah memintanya jadi pacar dan membawanya pergi, atau paling tidak mengantarnya pulang ke rumah, lalu membuat janji kencan menonton bioskop lagi pekan depan. Akhir yang mengerikan, karena itu artinya dia harus kembali ke rumah lalu menemukan mata mamanya sembab dan merah—mata yang sangat dia takuti setiap kali mamanya marah, dan tidak akan sembuh secara cepat dengan hanya mendengar kata maaf darinya. Atau lebih dari itu, mungkin saja mamanya tengah menunggu dengan pisau atau gunting di kedua belah tangan, sementara tidak ada seseorang yang akan menolongnya. Membayangkan semua itu, gadis kecil menggigit bibirnya kuat-kuat sambil melangkah pelan meninggalkan pohon yang lama-lama tampak menakutkan.

Sebentar lagi dia akan berada di pintu rumahnya. Dia tahu mamanya sudah pulang. Dia hanya terlambat beberapa menit dari mamanya. Itu dia ketahui dari lampu ruang depan yang belum sempat dinyalakan. Setiap pulang kerja, hal pertama yang dilakukan mamanya memang pergi ke kamar dia, mengecek apakah dia sudah tidur atau belum. Setelah itu barulah menyalakan lampu ruang depan. Di ruang depan itu, biasanya mamanya duduk di sofa panjang, menghabiskan waktu setengah jam untuk melepas penat atau sedikit bersantai. Tidak jarang, mamanya tertidur sebentar di sana.

Namun, kali itu, dia justru mendengar teriakan parau mamanya dari dalam rumah. Barangkali mamanya baru saja selesai membaca surat kecil yang dia tinggalkan di atas tempat tidur, persis di atas boneka beruang raksasa. Gadis kecil tepat berada di mulut pintu, ketika dalam waktu hampir bersamaan mamanya menghambur keluar, menemukan dia yang gemetar. Mamanya memukul dia. Tiga atau lima kali pukulan, tepat di pantat, sebelum akhirnya dia digiring ke kamar hukuman dan dikunci dari luar. Gadis kecil sangat benci kamar hukuman, sebab ada banyak kecoa dan tikus yang berkeliaran di pikirannya; melubangi kepala, dan merobek-robek segala sesuatu yang dia simpan di sana.

Kemudian mendadak hiruk-pikuk terdengar dari arah luar. Rumah terbakar, sementara gadis kecil berada dalam kamar yang terkunci. Kematian itu sudah dia bayangkan amat dekat ketika mamanya masuk ke kamar itu dan menggendongnya keluar. Mereka berdua pingsan di bawah pohon akasia di kelilingi orang-orang yang mereka kenali samar-samar. Mamanya tidak bisa bertahan dengan luka bakar di seluruh tubuh, sementara dia selamat dengan cacat di wajah dan sebagian tubuh yang dia bawa seumur hidup.

Apakah dia berbahagia sebab terbebas dari kematian, lalu dia bisa lebih mencintai mamanya dalam kenangan sebab mamanya telah menyelamatkan segumpal mimpi di dadanya. Tidak. Dia tidak berpikir begitu. Baginya, mamanya justru tengah memberinya hukuman lebih berat telah membiarkan dia hidup, membuat dia menangis berhari-hari bila teringat lelaki bekas teman sekolah yang tampan, yang telah menciumnya tanpa meminta dia jadi pacar, lalu meninggalkannya tanpa membuat janji bertemu lagi.

Ya. Gadis itu pun menghibur dirinya dengan memelihara cinta dan kebencian hingga dia tumbuh dewasa. Setiap hari dia mengikuti lelaki bekas teman sekolahnya itu, menyaru jadi apa saja. Kadang dia datang sebagai seikat bunga kamboja, kadang sebagai daun-daun yang beterbangan di kala badai. Malah dia juga datang menjelma laut dan ombak-ombak pasang.

Semakin hari perasaannya itu tidak terkendali. Dia dikejar-kejar oleh sesuatu yang sangat gelap dan aneh. Keputusasaan yang bisa membuat seseorang jadi gila.

Maka satu hari orang-orang dikejutkan kenyataan bahwa perempuan itu telah memecahkan kedua bola mata dengan tangannya sendiri tepat setelah lelaki bekas teman sekolahnya bertanya: Maaf, matamu mengingatkan aku pada seseorang. Apakah kita pernah bertemu di masa lalu.

Begitulah, perempuan itu pun mulai hidup di jalanan. Ke mana-mana dia membawa mimpi tentang pemuda tampan yang tidak lain lelaki bekas teman sekolahnya yang telah menciumnya di masa lalu tanpa pernah memintanya jadi pacar. Dalam kebutaan, mimpinya justru hidup dan dekat. Lantas dia pun memberikan tangannya pada satu lelaki ke lelaki lain, dan membayangkan mereka sebagai lelaki bekas teman sekolah yang tengah membawanya pergi menuju rumah yang dipenuhi bunga kertas merah muda.

Adakah itu bisa menjadi alasan seseorang, terutama perempuan-perempuan kesepian yang ditinggalkan lelaki, melemparinya dengan bara kebencian sementara dia tampak begitu malang. Lihatlah mata buta yang setiap saat mengeluarkan air bening itu, seolah-olah ingin menunjukkan betapa dia pernah hidup sebagai gadis kecil jelita dengan senyum semanis jambu, yang seharusnya membuat seseorang tidak mungkin tega meremas-remas perasaannya yang getas, apalagi sampai melukai dengan satu rencana jahat.

***

Sekarang sudah bertahun-tahun kami, saya dan Perempuan Bunga Kertas itu, menjalin persahabatan di jalanan. Jauh sebelum ini, sebenarnya saya sudah mengingatnya sebagai kawan kecil baik hati. Memang awalnya dia tidak ingat saya. Tapi saya tidak mungkin melupakan seorang gadis kecil berkepang dua dan bunga kertas terselip di rambut itu yang memberi saya sekantong permen di hari ulang tahunnya. Kala itu saya lewat di depan rumahnya. Minta sedekah. Dia membuka pintu, menatap lama ke arah saya, kemudian menarik tangan saya untuk masuk ke ruang depan rumahnya yang sudah berhias kertas warna-warni serta kue tar dan lilin berbentuk angka empat belas di atas meja. Dia minta saya menyanyikan satu buah lagu ulang tahun, diikuti acara tiup lilin yang paling mengharukan dalam hidup saya. Betapa tidak, baru sekali itu saya menghadiri acara ulang tahun dan ternyata itu pesta ulang tahun sesunyi kematian. Dia gadis yang sendirian, pun di pesta ulang tahunnya. Menyedihkan bukan? Kau tahu, matanya berkaca-kaca ketika itu. Saat pamit, dia memberi saya sekantong permen rasa anggur. Rasa permen itu masih saya simpan baik-baik dalam hidup saya, sebagaimana saya menyimpan ingatan tentang dia hingga kami bertemu kembali dalam keadaan hati yang lebih basah.

Kejahatan paling berbisa, jatuh cinta di saat kita sedang merasa sangat sendiri. Itu kalimat pertama yang mempertemukan kami saat matahari hampir tenggelam di ujung laut, pada pertengahan tahun di mana musim kadang tidak menentu.

Dia lalu bercerita hingga tengah malam. Segalanya. Mamanya yang tidak benar-benar dia kenal. Lelaki bekas teman sekolah yang dia sukai. Ya. Lelaki itu. Dia berkali-kali menghapus air bening yang keluar dari mata butanya. Seolah-olah lelaki itu pangkal kemalangan sekaligus seseorang yang tetap ingin dia taruh dalam hatinya.

Kenapa tidak dilupakan saja, kata saya.

Dia tertawa. Ah, bukan. Dia cuma meringis kecil. Seakan-akan berkata: Itu sungguh tidak mudah. Percayalah.

Dada saya berdenyut panjang. Saya menahan napas.

Dan lama setelah itu, ketika saya melihat seorang lelaki aroma kayu manis menyelipkan bunga kertas merah muda di balik telinga dia yang tampil amat palsu di satu malam gerimis, barulah saya mengerti betapa tidak mudah memutuskan untuk melupakan seseorang yang sejak dulu ingin kita genggam dalam tangan kecil kita.

Saya cemburu. Namun saya tidak sampai ingin melukai, sebab dia begitu manis dalam kepalsuan, seperti rasa permen yang tetap ingin saya simpan dalam hidup saya. Sementara lelaki aroma kayu manis, si pengemis mata satu, biar saja memilih di palung mana ingin tenggelam.***

Rumah Palung Laut, 30 Juli 2007